
Haaland merenung di dalam kegelapan, hatinya tak pernah merasa tenang. Ingin rasanya diam dan duduk di tempat dengan nyaman walau hanya beberapa detik, tapi tidak bisa.
Dia terus saja berjalan mondar-mandir dari tepi satu ke tepi lainnya di atap sebuah bangunan Galantris. Langkahnya teratur— lima langkah ke kanan dan lima langkah ke kiri, terus seperti itu.
Cahaya yang memancar dari kulitnya seakan berdenyut mengikuti detak jantung yang tidak teratur.
"Kenapa Grock dan Yelda belum kembali juga?" gumam Haaland dalam kegelisahan.
Bahu pemuda itu terluka. Ia terkena serangan dari kaki tangan Rowan yang berusaha menghancurkan Galantrisnya.
"Aku harus bilang hal ini pada Yelda!" lanjut Haaland, kali ini suaranya agak keras dan tegas. "Dia harus tahu jika pamannya berusaha melenyapkan Galantris!"
Pemuda jelmaan naga putih itu terus mondar-mandir, ia tak sadar bahwa seseorang jauh di luar sana tengah mengamati dan berharap bisa mendekap cahayanya.
Tapi akhirnya Haaland menyerah, tidak ada gunanya mondar-mandir tanpa tujuan. Ia kemudian duduk bersandar pada sebuah tiang besar yang dulunya adalah penopang bangunan megah itu.
Haaland sadar, diam baginya adalah kondisi yang sangat berbahaya. Haaland langsung merenungi nasib para Galantrian yang terluka berat karena disiksa oleh Rowan.
Fara gugur. Tidak. Tidak gugur. Fara hanya terluka, luka yang begitu berat hingga untuk bergerak saja rasanya tidak kuasa bagi Fara. Kepalanya hampir terpenggal, dan ia kehilangan satu tangannya.
Mengenaskan.
Haaland menggeleng menyesali dirinya sendiri. "Jika saja aku tepat waktu menyadari penyerbuan, pasti tidak akan terjadi hal seperti itu ... ," kata Haaland dengan penuh sesal.
Hanya tinggal beberapa orang saja yang ada di wilayah kekuasaannya. Beberapa anak-anak, wanita, dan pria yang sudah terluka ringan.
Apakah aku pantas diam saja seperti ini? Batin Haaland yang kesal dengan dirinya. Aku benar-benar pengecut!
Haaland menunduk, melihat pada tempurung lututnya yang menyembul dari celana yang goyak. "Tapi apa yang harus aku lakukan?"
Tiba-tiba, suara gemersik dan erangan sedih terdengar di telinganya. Haaland kembali menegakkan tengkuknya dan memasang kewaspadaan.
Suara itu semakin dekat, seperti seseorang yang tengah berlari ke arahnya. Membawa lendir-lendir lumpur dari seluruh jalanan Galantris yang menimbulkan suara berkecepak.
Haaland berdiri dengan satu tangan bersiap pada gagang pedangnya.
Saat Haaland melakukan itu, dia mengingat betapa konyolnya dia mengayunkan pedang dengan sembarangan dan brutal saat manusia-manusia keji itu berusaha menyiksa dan membakar Galantris. Tapi setidaknya kekonyolan itu berhasil memukul mundur mereka.
Ingatan itu segera kabur.
Siapakah yang datang? Apakah hanya seorang Galantrian yang ingin meminta tolong? Atau malah Galantrian liar? Atau juga manusia itu kembali ke wilayahnya Dian ingin menyerbu di malam hari?
__ADS_1
Haaland tetap bersiap pada pedangnya. Perlahan dia menuruni anak tangga, menuju lantai dasar yang marmer putihnya terlihat terkena noda-noda dari luar.
Ia menoleh pada beberapa Galantrian yang terbaring, menahan sakit, sekaligus menahan lapar. Lahan mereka sudah musnah dibakar dan diinjak-injak manusia tidak beradab dan tidak menghormati alam.
Gemersik itu semakin dekat, Haaland merapatkan dirinya ke dinding dan menyusur setenang mungkin. Merasakan setiap setik yang sulit baginya untuk mengambil udara.
Set ...
Pedang itu teracung saat sebuah bayangan yang terlihat memasuki bangunan.
Haaland hanya bisa mendengar nafas terengah-engah yang berat dan sengsara. Erangan kecil keluar dari kerongkongan sosok itu.
"Haaland ini aku!"
"Grock?" gumam Haaland.
"Ya, ini aku!"
Haaland menurunkan pedangnya yang hampir menusuk mata abu Grock, untung saja hal itu belum terjadi.
"Kamu sudah kembali ... ." Nada bahagia muncul dari kerongkongan Haaland. Dengan segera pemuda itu menjatuhkan pedangnya ke lantai, hingga terdengar bunyi berdenting yang menggema.
Haaland dengan senang menjulurkan tangannya untuk memeluk Grock.
"Di mana Yelda, Grock?" tanya Haaland.
Grock hanya menggeleng, Galantrian itu lalu berkata, "entahlah ... ,"
"Hah!" kejut Haaland. "Apa maksudmu!"
"Ceritanya panjang, Haaland," balas Grock yang masih terengah-engah.
"Apa maksudmu!" Nadanya keras hampir membentak.
"Akan aku ceritakan, ayo kita ke atap," kata Grock yang seolah nafasnya yang tersengal-sengal sudah kembali normal.
Setelah keduanya berada di atap yang tadi digunakan Haaland untuk mondar-mandir, Grock menjatuhkan tubuhnya, membuang nafas lega yang panjang.
Cahaya yang memancar dari tubuh Haaland menerangi wajah dan kulit Grock yang letih lebih jelas, sengsara, abu-abu keriput, kering, dan mengenaskan.
"Ada apa, Grock?" tanya Haaland.
__ADS_1
Grock berbicara, suaranya lebih parau dan hampir habis. Ia menceritakan kisahnya dengan Yelda yang bertemu dengan Roin, Duke Renee yang ternyata adalah seorang pengkhianat.
"Entah bagaimana nasib Yelda sekarang ... ," kata Grock. "Aku harap mereka tidak menghabisi gadis itu,"
Haaland menunduk. Marah, cemas, takut, semua bercampur menjadi satu.
"Begitu Yelda bilang bahwa dia yakin dan percaya padaku, aku langsung berlari, orang-orang itu tentunya mengejar ... ," lanjut Grock.
"... Lalu tanpa berpikir, aku menjatuhkan diri ke permukaan danau, tenggelam dan hanya bisa merasakan air-airnya memenuhi rongga-rongga tubuhku,"
"Aku pun tidak tahu kenapa aku memilih untuk tenggelam. Aku hanya ingin lolos dari mereka, dan tidak mungkin mereka mengambil resiko mengikutiku ke dalam danau,"
"Aku— jika aku tiada, setidaknya batu ini tidak akan mereka rebut kembali ... ." Grock mengulurkan genggaman tangannya yang dari tadi selalu tertutup.
Sebuah kunci emas dan batu bercahaya mengintip dari balik ruas jati yang terkatup. Lalu saat jari-jari itu lepas, batu keseimbangan Galantris dan kunci emas terpampang di atas telapak tangannya yang keriput.
Haaland melongo, jelas ia terpana saat batu itu menyentuh tangannya, untuk sekejap bebannya bebas. "Kamu berhasil, Grock,"
"Kita. Kita berhasil," ucap Grock. "Kita harus cepat-cepat mengembalikan ini ke tempatnya, Haaland ... ,"
"Aku tahu, tapi di mana Yelda? Aku tidak mungkin melakukan ini tanpa Yelda," seru Haaland.
"Aku dengar Roin berkata, bawah jika mereka menyerahkan ke Shandor, pasti Raja Faramis akan membayar mereka dengan uang yang banyak," ujar Grock, matanya sudah terlihat lelah.
Haaland mengangguk.
"Apa yang terjadi pada Galantris? Aku melihat banyak galantrian yang terluka di tanah lapang," tanya Grock yang mengalihkan pembicaraan.
"Anak buah Rowan menyiksa mereka, hampir membakar kota ini, tapi aku menjadi gila kala itu. Untung saja,"
"Untunglah ... ,"
Keheningan membanjiri mereka untuk beberapa saat.
"Grock?" kata Haaland. "Bagaimana kamu bisa naik kepermukaan? Danau itu bukannya sangat berbahaya?"
"Aku juga tidak tahu, Haaland," balas Grock. "Aku hanya memejamkan mataku dan berbicara dalam hati, aku ingin naik, naik, dan naik. Aku merasakan tubuhku semakin ringan, seolah air-airnya mengangkat tubuhku. Dan tanpa sadar aku sudah menghirup udara malam lagi,"
"Itu mustahil! Bagaimana bisa?" Haaland memandang Grock seolah tidak percaya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, mungkin karena batu itu ada padaku, dan sihirnya bekerja." Grock berdiri. "Aku ingin beristirahat, rasanya sakit sekali kakiku,"
__ADS_1
"Ya, sebaiknya memang begitu, Grock," ucap Haaland sambil merenungkan kata-kata terakhir galantrian itu.
Entahlah aku juga tidak tahu, mungkin karena batu itu ada padaku, dan sihirnya bekerja ...