
Sedikit pendakian kecil yang melelahkan terbayar dengan pemandangan yang menakjubkan dari puncak bukit kecil itu. Kilauan air di Danau Root terlihat menyusup dari balik pepohonan yang tumbuh di bukit pegunungan selatan.
Yelda menghentikan langkah hanya untuk menikmati pemandangan memukau itu sebelum dia turun dan kembali masuk ke pondok mencurigakan di tepi danau.
"Benar-benar memukau," kagum Yelda.
"Aku baru pertama kali melihatnya, Putri," sahut Grock di belakang punggung Yelda.
"Benarkah?"
"Ya,"
Mereka berdua duduk di atas rerumputan hijau yang empuk, seakan memang di sediakan untuk siapapun yang ingin menikmati keindahan Root dari bukit kecil itu.
"Putri," kata Grock.
"Ada apa, Grock?"
"Aku rasa kita harus segera turun ke Renee sebelum matahari terbenam, kita pasti bakal kesulitan nanti jika hari sudah sampai gelap," ujar Grock.
Yelda mengangguk, ia baru sadar jika matahari sudah merenda dan sebentar lagi hari akan gelap. "Kamu benar, ayo!"
Yelda kembali meneruskan perjalanannya menuruni bukit dengan mudah. Dengan waspada ia menggerakkan manik matanya ke setiap pojok pepohonan.
"Di mana pondok yang Anda maksud, Putri?" Grock berhenti di kaki bukit, tidak jauh di depannya terdapat sebuah kubangan luas yang mereka kagumi dari puncak bukit tadi.
"Di sana!" Yelda menunjuk sebuah pohon besar, rindang dan berbeda dengan pihon lainnya. Di belakang pohon itu terdapat cahaya-cahaya kuning dari lentera pondok yang sudah menyala. "Kamu lihat, kan?"
"Ya, Putri,"
"Ayo! Kita harus melewati dalam hutan agar tidak terlihat dari pondok, Grock!"
"Baiklah, kamu yang menuntun jalan," ucap Grock.
Yelda mengangguk dan tanpa pikir panjang lansung bergerak menelusup di antara batang-batang pohon. Dia dan Grock menghilang dari tepi danau, tetapi cahaya itu tidak hilang dari pandangan Yelda, dia terus bergerak ke arahnya menelusuri setiap pepohonan yang menghadangnya.
Hari sudah gelap, Yelda memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah batu besar yang ada di tengah-tengah hutan itu.
Yelda berdiri dan kemudian berkata, "Grock, kamu tunggu di sini sebentar, aku ingin mengecek pondok itu."
"Baiklah, hati-hati ... ," balas Grock.
Yelda meninggalkan Galantrian itu dengan langkah lembut dan mengendap. Ia memicingkan mata ketika tiba-tiba mendengar suara yang ramai dari dalam pondok itu. "Ada apa ini?" gumamnya.
Yelda sedikit menjulurkan kepalanya dari balik pohon besar di samping pondok itu. Gadis itu bisa melihat beberapa bayang kepala di ruang tamu, sangat aneh ... .
"Grock, kita tidak bisa masuk ke dalam pondok sekarang," kata Yelda setelah ia kembali pada Grock.
"Mengapa?"
"Di dalam sana ada banyak sekali orang, entah apa yang tengah mereka lakukan, tapi aku rasa sebentar lagi mereka akan keluar, kita tunggu saja dulu,"
"Baiklah,"
__ADS_1
Hari sudah bertambah gelap, namun belum juga ada tanda-tanda bahwa orang-orang di dalam pondok enyah dari sana.
"Beristirahatlah dulu, Grock, aku akan mengintai mereka," kata Yelda yang melihat kejenuhan di mata Grock.
Satu jam, dua jam, dan tiga jam sudah terlewati, malam menjadi semakin larut, Yelda benar-benar sudah tidak kuasa lagi menahan kelelahannya. Tubuh Putri Shandor itu akhirnya menyerah walaupun hatinya masih belum ingin.
"Putri,"
Tubuh Yelda merasa tergoncang, lalu perlahan dia membuka matanya. Cahaya terang menusuk mata yang baru saja terbangun.
Sesaat Yelda merasa kebingungan, di mana dia? Mengapa dia tidur di sini? Lalu —
"Apa! Sudah pagi!" Yelda terperanjat dan langsung bangkit, ia melihat matahari yang sudah naik dengan tinggi.
"Bukan pagi lagi, tapi hampir siang, Putri," balas Grock.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" kesal Yelda dengan suara yang terkontrol.
"Maaf, aku juga terlelap dan baru saja terbangun,"
"Konyol!" Seperti biasa, Yelda memegang gagang pedangnya, masih ada,.lalu tangan gadis itu meraba ke dalam jubah yang ia kenakan, kunci itu— masih ada juga.
"Syukurlah, kita tidak ketahuan di sini," ujap Yelda dengan lega.
Grock mengangguk.
"Kamu tunggu di sini, aku akan mengecek lagi," kata Yelda.
Pergerakannya kali ini tebih waspada dan berhati-hati dari pada kemarin sore, jantungnya berdegup kencang dan hatinya tidak tenang.
Yelda menarik tubuhnya untuk bersembunyi di balik batang pohon saat seseorang terlihat keluar dari pondok itu.
Seorang berambut hitam dan keriting, tubuhnya kurus, tinggi, dan kulitnya hitam.
"Morian—" gumam Yelda.
"Apakah jangan-jangan mereka yang merencanakan ini semua?" Yelda mengepalkan tangannya erat-erat. "Dan Charlos adalah orang Mores? Tapi untuk apa Paman Rowan berhubungan dengan Morian,"
Yelda terus mengawasi Morian itu, ternyata sosok kurus dan hitam itu berhenti di tepi danau untuk mencuci wajah dan tangannya. Lalu terlihat Morian itu menceburkan diri di tepi danau yang dangkal, tempat di mana Yelda dulu sering berenang bersama ibunya.
Yelda melihat kesempatan saat itu juga, kemudian dia menoleh pada Grock yang mengawasinya dari balik batu, ia memberikan isyarat pada Grock untuk pergi menuju ke arahnya.
Grock yang ia lihat berlari dengan kaki yang agak terseret dan lambat, tapi tidak butuh waktu kama untuk Galantrian itu ada di samping Yelda.
"Ikuti aku, aku yakin orang itu tidak akan melihat kita masuk!"
"Bagiamana jika masih ada orang di dalam pondok itu?"
"Tidak, tamu-tamunya mungkin sudah pergi pagi-pagi sekali, aku tidak mendengar lagi suara bercakap-cakap," balas Yelda.
Yelda kemudian melangkah cepat, melompat dari batang satu ke batang lainnya, lalu menyusuri dinding kayu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi sedikitpun. Posisinya sangat diuntungkan dengan Morian yang membelakangi pondok.
"Ini dia!" bisik Yelda pada Grock.
__ADS_1
Bunga lavender yang dulunya tergantung di paku itu sudah tidak ada. Yelda segera menggeser kaitan paku yang kemudian terpampanglah ruang gelap yang di dalamnya terdapat bola keseimbangan yang bercahaya dan bergerak meliuk-liuk dalam jeratan kegelapan.
"Batu keseimbangan ... ," gumam Grock, wajahnya terlihat konyol dengan bibir kering yang melongo saat ia melihat benda itu.
"Ayo masuk, Grock!" Yelda menarik tangan Grock hingga Galantrian itu nyaris tersungkur.
Grock tiba-tiba mendekat dan mengulurkan tangannya untuk mengambil batu itu. Yelda ingin memperingatkannya, tetapj terlambat.
Grock terpental dan tangan-tangan ringkih galantriannya terluka.
"Argh ... ," erang Grock.
"Grock, kamu baik-baik saja kan?"
Grock hanya mengangguk tipis, sambil memejamkan mata untuk menahan sakit di seluruh badannya.
Yelda tahu kata-katanya salah, Galantrian itu pastinya sangat menderita, tapi ia harus segera mengambil batu sebelum Charlos kembali.
Yelda merogoh kantongnya dan mengeluarkan kunci emas. Ia mengulurkan kunci itu ke arah cahaya— tidak ada yang terjadi.
Namun detik berikutnya, asap-asap hitam yang berperan sebagai jeruji cahaya putih itu memudar. Batu keseimbangan lalu bergerak ke atas telapak tangan Yelda, tepat di atas kunci emas.
Dengan tangan satunya Yelda segera mengambil batu itu, tidak ada waktu untuk terkagum-kagum, batinnya.
"Kita berhasil, Grok!" seru Yelda dengan girang. "Aku tahu kita lelah, tapi kita harus segera kembali ke Galantris!"
Grock mengangguk, senyum tipis terlihat mengembang di wajah keriputnya, sepertinya rasa sakit sudah terkalahkan dengan rasa senang.
Saat keduanya berdiri dan hendak keluar dari pintu tiba-tiba Morian itu menghadang mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" ucapnya dengan nada seram.
Yelda terkejut bukan main, untung saja ia sudah mengantongi bagi dan kunci itu. "Bukan urusanmu!"
"Tentu saja ini adalah urusanku, kalian menyeludup ke rumahku!"
"Jangan berani mendekat!" Yelda menarik bilah pedangnya dan mengacungkan ujung tajam itu di depan kerongkongan Si Morian. "Atau aku akan menghabisimu!"
Ingin rasanya Yelda berlari dan oergi dari sana, tapi dia harus membereskan pria jahat ini terlebih dahulu.
"Grock! Ambil tali itu, dan ikatkan pada tangan dan kaki Morian ini!" seru Yelda.
"Galantrian ... ," gumam pria Mores yang sudah terpojok itu.
"Kenapa? Apa kamu terkejut? Kami pikir kami bisa mengalahkan kekuatan kebaikan?" tanya Yelda. "Itu tidak akan pernah terjadi, biadap!"
Setelah Grock mengikat tangan dan kaki Morian itu Yelda segera mengayunkan kakinya untuk menjatuhkan Morian ke pojok ruangan.
"Ayo pergi!"
Yelda dan Grock segera pergi, meninggalkan segala ketakutan yang ada dalam hati mereka.
Selangkah lagi, mereka akan segera bebas. Tetapi —
__ADS_1
"Mau ke mana kalian?" Seseorang tiba-tiba muncul dari luar tepat berhadapan dengan Yelda. Grock sudah ada di luar, tapi Yelda masih ada di dalam.
"Lord Roin ... ," gumam Yelda tidak percaya.