
Yelda bisa melihat mata Duke Renee itu sama terkejutnya dengan dia.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Lord Roin?" tanya Yelda.
"Putri Yelda?" seru Duke Roin seolah tidak percaya dengan sosok yang di hadapannya. "Mustahil!"
"Ini aku, Lord Roin! Tolong selamatkan aku, pemilik pondok ilegal ini benar-benar kejam, dia adalah penyebab runtuhnya sihir Gao dan Kota Galantris!" rintih Yelda berharap Roin bakal menolongnya.
Roin menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukkan raut wajah mengejek.
"Tangkap gadis ini!" lanjut Roin memerintahkan anak buahnya.
Bukan tanpa ekspresi, Yelda benar-benar sangat keget dan tidak menyangka hal itu akan terjadi.
"Apa yang Anda katakan, Lord Roin?" kata Yelda dengan heran. "Anda pasti bercanda bukan!"
Yelda menatap tiga orang yang ada di belakang Roin, sepertinya mereka adalah rakyat Renee. Tiga orang itu bergerak sesuai perintah, mencengkram lengan Yelda dan menjadikannya sandera.
"Lepaskan aku, jangan berani kalian menyentuh diriku!" Yelda meronta dan menyumpahi mereka.
"Tunggu apa lagi?" tanya Duke Renee dengan keras. "Musnahkan Galantrian menjijikkan itu dari pandanganku!"
Yelda menatap Grock yang penuh ketakutan. Dengan kuat gadis itu mengayunkan tangannya untuk melepaskan cengkraman orang-orang tidak tahu adab itu.
Dugh ...
Setelah Yelda berhasil melepaskan tangannya, dia mengayunkan kakinya keras-keras ke bagian bawah perut salah seorang penjaga.
Tanpa reaksi lain, penjaga itu langsung roboh, meringis kesakitan sambil memegangi bagian bawah perutnya.
"Kamu pantas mendapatkannya!" umpat Yelda, kemudan dia segera merogoh kantong jubah untuk mengambil kunci emans dan batu keseimbangan dari sana.
Grock aku yakin kamu bisa melakukan apa yang aku pikirkan! batin Yelda dengan tatapan penuh kepercayaan.
"Grock!" serunya. "Ambil ini!" Yelda melemparkan kedua benda itu bersama-sama.
Watu bagaikan terhenti saat kilauan kunci emas dan batu bersinar itu melayang di udara. Semua mata membulat, menyaksikan benda itu bebas meluncur di udara.
Tap ...
"Bagus!" gumam Yelda. "Sekarang lari! Lakukan apa yang seharusnya kita lakukan!" seru Yelda pada Grock yang sudah menggenggam kantung kunci dan batu keseimbangan.
__ADS_1
"Lari!"
"Sialan! Dia membawa batu keseimbangan!" umpat Roin sambil mengepalkan erat-erat jari-jari tangannya.
"Seret gadis ini ke Shandor! Kita akan mendapatkan bayaran yang banyak dari raja, aku yakin itu!" lanjut Roin dengan kemarahan yang menggebu.
"Dan kalian!" Roin menunjuk dua orang berseragam militer lengkap dengan senjata yang terselip di pinggang mereka. "Bunuh Galantrian itu! Ambil kembali batu keseimbangan!"
Tubuh Yelda terseret-seret menjauh dari Grock. Dia meronta dan ingin sekali rasanya membantu Galantrian itu. "Lari, Grock!"
Grock memandangnya, mengangguk tipis namun Yelda bisa melihat keyakinan dalam wajah itu. Galantrian itu tidak menyerah, dia akan berjuang.
"Lari!" seru Yelda sekali lagi sebum dirinya tenggelam ke dalam kereta kuda berawak hitam yang siap membawanya ke Shandor.
"Aku akan mengadukan kelakuan kalian semua kepada ayahku!" seru Yelda yang tidak mau diam.
"Awas saja kalian! Aku akan membuat kalian membayarnya!"
"Lepaskan aku!"
Dua orang memeganginya erat-erat di bangku penumpang, dan satu orang lagi berada di bangku depan, memacu kuda dengan cepat hingga membuat perut Yelda terasa mual.
"Apa kamu tidak bisa mengemudikan kereta kuda dengan lebih baik! Aku akui kamu memang supir yang konyol! Kamu pasti bakal dipecat jika menjadi supir di Shandor!" oceh Yelda. "Dasar!"
"Wow, kamu berani menyuruhku diam? Lihat saja nanti, aku akan membuatmu bungkam untuk selamanya!" balas Yelda dengan angkuh. "Beruntung sekarang pedangku tidak ada, kalian aman untuk sementara waktu, tapi itu bukan berarti kalian akan selamat!"
Kereta terus bergerak menembus kerumunan di pasar Aoka, Yelda berharap dia bakal melihat seseorang yang sangat ia percaya. Percaya? Tidak! Tidak ada yang dapat di percaya sekarang ini! Hatinya malah bimbang, apakah Lord Lotta juga bersekongkol dengan skandal keruntuhan Galantris? Apakah selama ini dia salah menilai mereka semua?
Yelda tertunduk lesu, memikirkan apa yang bakal ayahnya lakukan saat raja itu melihat putrinya kembali ke hadapannya setelah mengira bahwa dia hanyut di Sungai Gao.
Tidak tidak! Aku tidak boleh sampai di hadapan ayah sebelum membuahkan hasil atas kepergianku. Aku harus kabur dari orang-orang bodoh ini!
Yelda mengangguk.
"Tolong, kali ini biarkan aku turun, aku ingin buang air!" kata Yelda dengan tenang.
"Tidak!" balas salah satu pria.
"Baiklah, kalau begitu aku akan buang air di sini, tidak peduli ini kereta milik Roin Si penghianat, taupun hanya kereta umum yang bobrok!" lanjut Yelda.
"Silahkan saja, Anda bebas buang air di sini," balas pria yang mengemudikan keretanya.
__ADS_1
Sialan!
Sepanjang matanya memandang, orang-orang di jalanan menuju ke Shandor benar-benar asing baginya, hanya ada beberapa petani yang ia tahu, memikul lesu sebilah jagung yang tidak terlalu besar.
Seketika ia teringat dengan Ganlantris, apa yang sedang Haaland hadapi? Apakah ia dan Galantrian lain baik-baik saja?
Tak terasa gerbang istana Shandor sudah terbuka, kereta yang digunakannya masuk tanpa hormat pada penjaga-penjaga gerbang yang berdiri tegak.
Yelda bisa melihat mata para pelayan dan penjaga istana yang terbelalak ketika ia turun dari kereta itu. Memang hal yang mengejutkan ketika orang yang sudah mati tiba-tiba kembali dalam keadaan sehat tanpa cacat.
"Bisakah kalian melepaskan aku?" kata Yelda. "Ini rumahku! Jangan perlakukan aku seperti tahanan!"
Namun penjaga itu belum juga melepaskan lengannya.
"Apa kamu pikir aku akan kabur?" Yelda terkekeh, "konyol sekali!"
Para pelayan dan penjaga istana datang untuk mastika bahwa gadis tawanan itu adalah Yelda, putri mereka.
"Putri?"
"Putri Yelda?"
"Apakah Anda—"
Yelda mengangguk, "benar, penjaga, ini aku Yelda. Bisakah Anda bilang pada orang-orang konyol ini untuk melepaskan aku?"
Penjaga itu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yelda. "Lepaskan gadis ini!"
Kedatangan Yelda di halaman istana itu memicu keributan dan jerit haru dari orang-orang di istana. Yelda merasa dia tidak berguna, dia tidak bisa menolong negaranya sendiri.
"Putri Yelda, syukurlah Anda kembali,"
"Aku pikir Anda benar-benar meninggalkan kami,"
"Ayo, Putri, kita masuk ke dalam," ujar seorang prajurit kerajaan yang dulu menemaninya saat dia bertemu naga untuk pertama kalinya di tepi Sungai Gao.
Yelda memandang sepatunya yang berlapis lumpur Galantris.
Kakiku bahkan tidak pantas menginjak lantai istana ini.
"Mari, Putri, Raja Faramis akan sangat senang melihat Anda ... ,"
__ADS_1
Dua orang menuntun Yelda dengan lembut, menyisihkan tiga kaki tangan Lord Roin yang tidak mereka pedulikan.
Rasanya sudah lama sekali dia tidak menginjakkan kakinya di altar balairung raja. Kakinya terasa bergetar, air matanya hampir terjatuh, dia merasakan kegagalan yang besar untuk pertama kali, namun dalam nuraninya masih ada harapan yang ia tanam pada Grock, Galantrian itu pasti bisa.