Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 22


__ADS_3

Haaland mendorong tubuh Yelda ke belakang dan menjauh darinya dan mendekati sebuah batang pohon yang kokoh untuk berlindung.


"Haaland! Hati-hati!" seru Yelda. Dalam hatinya dia sangat ingin membantu, tapi ketakutan berhasil menaklukkan hatinya. Bagai setetes tinta hitam yang menodai air suci.


Tanpa jawaban Haaland menghindari setiap serangan dari Klox. Makhluk itu secara brutal terus mengayunkan cakarnya dan mencoba meraih Haaland.


"Apa kau yakin ingin bertarung denganku, Klox?" ujar Haaland, seolah pemuda itu bakal menang dalam duelnya.


"Khakhh"


"Jangan merendahkanku seperti itu!" Makhluk itu menggerema marah dan semakin brutal.


Haaland tersenyum mengerikan. "Baiklah jika begitu,"


Srekk


Haaland mengayunkan pedangnya dan melangkah maju untuk menyerang. Pedangnya memotong setiap partikel udara yang saling bergandengan.


"Khhakhh"


Lengan bercakar milik Klox bergerak mengarah pada kepala Haaland, saat itulah Yelda sungguh merasa dia harus membantu Haaland, tapi ia rasa takut terus menarik kakinya untuk tetap bersembunyi, menyaksikan pertarungan dengan segudang rasa khawatir yang menggebu.


Syukurlah Haaland menggerakkan pedang pemberian Yelda dengan cepat untuk menangkis cakar tajam itu.


Srett ...


"Ouh, aku tidak menyangka pedang ini begitu tajam," kata Haaland menyaksikan tiga batang kuku Klox jatuh ke rumput kusam di bawahnya.


"Khakk! Kurang ajar!" Klox mengeluarkan suara nyaring yang khas, semacam bahasa ras.


Suara itu nyaring dan melengking tinggi memecah semua partikel udara.


Haaland terlihat diam mematung dengan wajah tegangnya, seakan ia tahu bakal ada ancaman yang lebih besar datang.


"Ayo, Yelda." Pemuda itu menarik lengan Yelda dengan kasar dan menyeretnya untuk cepat berlari selagi suara nyaring itu menggema di langit Wex.


Yelda tanpa berpikir langung mengikuti tarikan itu dan berlari sekencang yang ia bisa.


"Makhluk— apa — itu?" Dalam pelarian menegangkan itu Yeldaasih sempat meluapkan rasa penasarannya.


"Itu adalah Klox! Dan yang tadi itu adalah pemimpin dari para Klox yang lain," balas Haaland sambil terus menarik lengan Yelda.


Suara gemuruh terdengar di belakang mereka, gemersik semak-semak yang terusik menambah suasana semakin mencekam.

__ADS_1


Geraman mengerikan semakin terdengar saling menumpuk dan bersahutan.


Yelda menengok ke belakang, betapa terkejutnya dia ketika melihat serombongan makhluk bernama Klox itu sudah dalam jarak dekat dengan dirinya.


"Haaland! Apa yang harus kita lakukan?" katanya dengan suara gemetar.


Haaland menoleh ke belakang, ia sudah menduga ini sebelumnya. "Kita tidak bisa terus berlari, Yelda. Pada akhirnya kita akan tertangkap juga, mereka berlari lebih cepat 3 kali lipat dari manusia!"


"Lalu? Apa yang harus kita lakukan?"


Haaland berhenti berlari dan menatapYelda dengan emosi yang membara. "Bertarung! Kita harus bertarung! Kamu siap bukan? Aku yakin kamu itu tangguh!"


Haaland kembali mengangkat pedangnya dan menghadap ke rombongan Klox buruk rupa yang semakin dekat dengannya.


Sementara Yelda tengah berusaha menenggelamkan semua perasaan gugup dan pecundangnya. Ia mencoba mengingat dirinya ketika memenangkan duel atas pelatih militernya.


Set ...


Yelda merasakan lengannya ditarik oleh sesuatu, benda tajam seakan mencoba menembus kulit bahunya yang halus.


Yelda menoleh ke belakang dan ternyata satu makhluk Klox itu tengah menunjukkan gigi taring bersimpah noda merah yang membuat kengiluan di bahu Yelda.


Bugh ...


Ayunan tinju dari kepalan maut Yelda menghantam wajah Klox mengerikan itu. Yelda menendang kuat hingga makhluk itu terpental. Kini Yelda sadar, tidak ada gunanya dia merasa takut karena dia tengah dihadapkan dengan dua pilihan, mati dengan konyol, atau mati dalam pertarungan.


Yelda mengambil pedang cantiknya dan bersiap membantu Haaland memukul mundur para Klox yang semakin membludak.


“Hiak!”


“Rasakan ini!” Yelda mengayunkan pedangnya dengan gerakan gesit dan brutal, melukai setiap Klox yang berani mendekatinya sehingga makhluk-makhluk itu berjatuhan dan bersimpah darah hitam.


Sedang Haaland terlihat kewalahan dengan empat Klox yang menyerangnya secara keroyokan. Pemuda tangguh itu melompat dan menyerang dengan gerakan memukau, tetapi ketua Klox tiba-tiba datang dan menyerang punggungnya.


“Haaland! Di belakangmu!” seru Yelda yang melihat hal itu.


Putri Shandor itu segara berlari ke arah Haaland dan menusuk ketua Klox tepat pada saat taring-taring tajam itu hampir menggerogoti kepala Haaland.


“Mati kamu!” kata Yelda menyumpah.


“Terima kasih, Yelda,” ujar Haaland.


“Nanti saja berterimakasihnya! Kita atasi dulu mereka,”

__ADS_1


Robohnya ketua Klox itu membuat para Klox lain yang masih hidup semakain marah, mereka lebih brutal dan meyerang tanpa ampun.


“Berhenti!” teriak Haaland sambil menancapkan pedangnya ke tanah keras hingga membuat Klox menghentikan serangan mereka.


Yelda pun ikut berhenti mengayunkan pedang yang hanya satu senti lagi berhasil menembus kerongkongan Klox hitam yang ada di depannya.


“Haaland, apa yang kamu laukan?” Yelda benar-benar terlihat bingung, ia masih memasang kida-kuda dan waspada dengan serangan yang bisa datang kapan saa.


“Dengarlah, para Klox! Aku tidak ingin melukai kalian sedikitpun!” seru Haaland. “Aku tidak berniat untuk mengganggu kalian, kami tidak ada satu urusanpun dengan kalian!”


Yelda merasa emosi Haaland itu semain kuat, ia melihat urat-urat leher Haaland yang menonjol saat pemuda itu berseru.


“Aku tidak suka dengan pertarungan, apalagi dengan sesama Galantrian! Aku tidak ingin melukai kalian lebih banyak!”


“Kalian lihat bukan? Kalian bukanlah bandingan kami!” Haaland menunjuk semua bangkai Kolx yang bertumpang tindih di tanah Wex.


Saat itu juga Yelda menyadari betapa bayak Klox yang telah berhasil mereka kalahkan. Putri itu bergidik ngeri, dia melirik pakaiannya yang bersimpah cipratan noda hitam dari darah Klox. “Astaga,”


“Aku sama sekali tidak ingin berbuat jahat di tanah kalian, aku hanya ingin bertemu dengan Yuan!” lanjut Haaland.


“Sekarang aku memberi kesempatan pada kalian untuk mundur dan kembali ke persembunyian kalian! Atau kami terpaksa menghabisi kalian jika kalian terus menyerang kami!”


Haaland yang dilihat Yelda saat ini benar-benar berbeda, mata taam pemuda itu lebih seperti mata buas yang siap mencengkram mangsa. Alisnya tegak dan tajam, kelopaknya yang cekung dan tegas membuat Haaland terlihat memukau di hadapan para Klox.


Yelda sangsi seruan Haaland ini bakal berhasil memubust makhluk Wex itu mundur. Geraman lirih dari kerongkongan Klox masih terdengar simpang siur di telinga Yelda.


Namun hql mengejutkan terjadi, salah satu Klox itu mundur dan mengangkat lengannya sebagai isyarat pada teman-temannya yang tersisa. Tak lama kemudian Klox lain mengikuti isyarat dan mereka mundur dengan perlahan.


Yelda dan Haaland berdiri tegap dan mematung, mereka berusaha mengatur nafas masing-masih sebaik mungkin agar bisa menyembunyikan ketegangan satu sama lain.


Akhirnya para Klox menghilang dari balik semak tinggi. Tubuh menyeramkan mereka bagai ditelan semak dan yang tersisa hanyalah bangkai Klox yang gugur di pertempuran.


“Huh, astaga!” Haaland menjatuhkan diri dan menopang ke gagang pedangnya yang menancap di tanah.


Yelda ikut membuang nafas lega dan kemudian melirik Haaland, mata mereka saling bertemu, senyum tipis saling mengembang dari bibir mereka.


“Kamu sangat hebat, Yelda,” puji Haaland yang terpukau dengan pertarungan Yelda.


“Ouh ... tidak, Haaland, justru kamu yang sangat hebat,” kata Yelda yang pipinya memerah malu. “Mereka semua seakan mematuhimu,”


Haaland terkekeh. “Itu tidak benar, Yelda, mereka hanya takut mati seperti yang lainnya.”


Yelda tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “benar-benar melelahkan,”

__ADS_1


“Jadi, kamu ingn melanjutkan peralanan ini atau,”


“Tentu saja kita lanjutkan, Haaland! Aku menyukai petualangan ini,” balas Yelda.


__ADS_2