Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 32


__ADS_3

Yelda membuka matanya saat ia merasa sesuatu menggoncangkan lengannya dengan perlahan. Hal pertama yang ia lihat— adalah sunggingan bibir manis dari pemuda naga.


"Astaga!" kejut Yelda.


Haaland tertawa geli saat Yelda terkejut. "Matahari sudah naik, Yelda,"


"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Yelda yang suaranya masih parau.


"Tidak, kamu tidak melewatkan apapun, hanya melewatkan beberapa jam saja," balas Haaland.


Yelda menyadari dirinya masih bersandar di dinding ketika merasakan tubuhnya yang kaku dan pegal. "Maafkan aku, aku tidak sengaja tertidur, Haaland,"


"Sudahlah tidak perlu meminta maaf, Yelda." Haaland tersenyum. "Aku tahu ini berat bagimu, kamu pasti lelah sekali setelah beberapa hari tidak beristirahat,"


Yelda mengulurkan tangan dan badannya untuk menghilangkan rasa kaku yang menyerang setiap sendi di tubuhnya. "Ya, Haaland, jujur saja aku sangat letih,"


"Jika kamu ingin istirahat dulu, itu tidak apa-apa, Yelda. Aku akan menjagamu di sini," ujar Haaland.


Namun Yelda segera menggelengkan kepalanya dan bangkit. "Tidak, Haaland, aku rasa sudah cukup, ayo kita cari tahu di mana pusat sihir di kota ini!"


Haaland memandang serius pada Yelda yang semangatnya tiba-tiba menggebu. Lalu beberapa saat kemudian dia terkekeh.


"Kenapa kamu tertawa? Apakah ada yang lucu?" ucap Yelda dengan tatapan sinis.


"Tidak—" Haaland masih tertawa. "Tentu saja tidak,"


"Kalau begitu berhentilah tertawa!"


"Baiklah, aku berhenti—" Haaland mengehentikan tawanya, saat itu juga tidak ada satu suara pun di dalam ruangan itu untuk beberapa saat.


Krak ...


Tiba-tiba bunyi kayu yang patah mengagetkan mereka berdua. Yelda dan Haaland saling berpandangan. Kemudian bunyi itu disusul oleh suara parau yang tidak jelas.


"Apa itu, Haaland?" bisik Yelda.


"a-k-u la-par ... ,"


"Itu Galantrian, Yelda, siapkan dirimu untuk mengelak serangan mereka!" Haaland lalu menarik lengan Yelda dan membawa gadis itu bersembunyi di ruang sebelahnya.


Yelda menahan nafasnya, dia berusaha fokus pada suara parau dan langkah kaki yang kelaparan di luar sana.


"Apakah mereka bakal menyerang kita, Haaland?"


"Itu adalah hal yang pasti, Yelda,"


Namun suara itu bukannya mendekat malah menjauh, meredakan setiap ketegangan dalam saraf mereka.


Haaland mengintip dari balik pintu. "Mereka tidak masuk ke sini, Yelda,"


Yelda membuang nafas leganya, "syukurlah,"


"Ayo, Yelda! Kita pergi ke wilayahku!" bisik Haaland.


Yelda mengangguk dan menurut padan Haaland. Dia mengikuti setiap langkah kaki pemuda itu, sesekali mereka berhenti dan menyembunyikan diri mereka di balik puing-puing bangunan ketika Galantrian gila terlihat.

__ADS_1


Setelah melewati jalanan becek dan berlumpur, akhirnya Yelda dan Haaland sampai di wilayah paling bersih di Galantris.


"Masuklah, Yelda," kata Haaland.


Seperti yang telah ia ketahui, Yelda harus melepas alas kaki yang berlumur lumpur, dan memberikannya pada Joes, asisten Fara yaitu juru kebersihan.


"Grock!" seru Haaland memanggil Galantrian yang dulu pernah Yelda temui saat pertama kali dirinya ke wilayah itu. Wajah Grock semakin mengerikan, tapi energi Galantrian itu tetap tinggi.


"Ada apa, Haaland?" kata Grock dengan suara parau khas Galantriannya.


"Ada yang ingin aku katakan padamu ... ,"


"Katakan saja!"


"Jadi begini—" kata Haaland.


Yelda hanya bisa menyimak dua Galantrian yang berbeda itu mengobrol.


"Aku menemukan pusat kota kita! Sesuatu yang besar ada di sana, Grock! Aku yakin kita bisa mengembalikan Galantris,"


"Memangnya kamu tahu apa penyebabnya runtuhnya kota ini?" tanya Grock sangsi.


"Batu keseimbangan telah dicuri oleh kekuatan jahat!" bisik Haaland agar Galantrian lain tidak mendengarnya.


"Apa! Siapa yang berani melakukan itu?" seru Grock.


Haaland segera menutup mulut kering Grock, "jangan keras-keras!"


"Pokoknya kamu harus ikut dengan kami, nanti kamu bilang pada teman-temanmu untuk mengambil alih tugasmu selagi kamu pergi denganku, kamu mengerti bukan?" jelas Haaland.


"Kenapa aku harus membantumu? Idemu gila! Galantris tidak akan kembali, Haaland, itu mustahil!" ucap Grock.


Grock terlihat memutar matanya yang berwarna kelabu.


"Tidak ada yang mustahil jika kita berusaha, Grock! Ayolah percaya padaku!" kata Haaland dengan semangat pembangkit yang menggebu.


Setelah berpikir untuk beberapa saat, Grock akhirnya mengalah, "Huh— baiklah!"


Yelda tersenyum saat ia menlihat Haaland tersenyum dan memukul ringan pundak Grock.


Saat mereka berada dalam kegembiraan, tiba-tiba salah satu Galantrian bertubuh tinggi dan kurus menghampiri mereka dengan wajah yang panik. "Tuan Haaland!"


Haaland menoleh pada Si kurus itu, "ada apa?"


"Ada beberapa Galantrian luar yang datang ke wilayah kita!"


"Apa!"


Yelda dan Haaland segera bangkit dan mengikuti Si kurus menuju atap sebuah bangunan. Dari atap itu terlihat wilayah-wilayah Galantris yang rusak parah.


"Itu dia!" tunjuk Si kurus pada pergerakan 3 Galantrian gila yang membawa puing-puing tiang bangunan sebagai senjata mereka.


"Biar aku yang menghadapi mereka! Perintahkan semua orang untuk bersembunyi!" ucap Haaland garis rahangnya mengeras.


Yelda melihat ketegangan dan kengerian dalam wajah itu. Apa yang akan terjadi?

__ADS_1


"Yelda! Kamu tetaplah di sini, jangan pergi kemanapun, mereka sangat berbahaya!" ujar Haaland yang kemudian pergi meninggalkan Yelda sendirian di atap itu.


Yelda bisa melihat tiga Galantrian liar itu lebih dekat dengan jalanan yang bersih dan mengkilap. Tiga orang itu masuk dengan wajah seram dan mengancam. Jejak kaki mereka berhasil menodai kebersihan jalan wilayah Haaland.


Beberapa detik kemudian, Ywlda bisa melihat sosok Haaland muncul di depan tiga Galantrian yang memberontak itu.


Dari atas atap, kejadian itu lebih terlihat seperti sebuah film.


"Apa yang kalian inginkan?" seru Haaland.


"Kami ingin semuanya dari kalian! Kami lapar ... !" Seorang yang sepertinya merupakan ketua geng itu menyerbu Haaland dengan mengayunkan potong tiang gangunan ke arah Haaland.


Yelda tersentak dan tidak bisa berteriak, beruntung saat itu Haaland mengelak, pemuda itu berjalan menjauh dari bangunan-bangunan tempat orang-orangnya bersembunyi.


"Dengarkan aku ... ," kata Haaland sambil memberi isyarat dengan kedua tangannya. "Aku akan menerima kalian untuk bergabung bersama kami di wilayah ini, tapi tentu kalian harus bekerja!"


Tiga Galantrian itu menggeram dan berusaha menyerang Haaland lagi, tapi Haaland selalu berhasil menghindar. "Aku tidak akan memberikan makanan atau apapun secara cuma-cuma, apalagi untuk Galantrian rakus seperti kalian, tapi jika kalian ingin berubah— kalian bisa bergabung bersamaku!"


"Kawan-kawan! Serang bangunan mereka!" ucap Si ketua geng.


Kali ini Haaland benar-benar terlihat tidak dapat melakukan apapun, dua oang masuk ke dalam bangunan, sedang dirinya dihadang oleh ketua geng yang ganas.


Yelda mengepalkan jari-jarinya sambil melihat kejadian itu dari atap, dia harus bertindak! Tapi bagaimana jika tindakannya salah?


Bruk ...


Seorang Galantrian wanita didorong hingga menghantam jalanan. Lalu suara-suara keributan dari dalam bangunan bisa Yekda dengar, tapi entah kenapa dirinya terlalu pengecut!


"Aku tidak akan tinggal diam jika kalian menyerang orang-orangku!" Haaland menarik gagang pedangnya, mengayunkan pedangnya itu dengan tiba-tiba ke arah lengan ketua geng.


Sret ...


Kulit Galantrian itu robek, namun tidak mengeluarkan cairan apapun, hanya robek, hingga tulang-tulangnya terlihat.


Dugh ...


Tendangan maut mendarat di perut ketua geng yang telah terluka!


"Apa kalian ingin merasakan hal seperti dia?" seru Haaland dengan ienuh emosi pada dua Galantrian liar yang melongk tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Tubuh ketua geng itu terkapar di jalan yang kini ternoda eh jejak-jejak lumpur dari kaki mereka. Tubuhnya menggeliat kesakitan, dia tidak kuasa untuk bangkit.


"Sudah aku peringatkan pada kalian secara baik-baik!" seru Haaland.


Setelah diam beberapa saat, kedua penyusup itu akhirnya menyerah, dan mereka membuang senjata masing-masing.


"Biarkan kami bergabung dengan Anda," ucap salah satu Galantrian gila itu.


"Apa kalian berjanji akan berubah dan bekerja seperti semua Galantrian di sini?" gertak Haaland.


Dua orang itu mengangguk dan menunduk.


"Kalau begitu, selamat datang ... ,"


Dari atas atap Yelda tidak percaya melihat wajah garang Haaland yang seketika berubah menjadi wajah manis tanpa cela.

__ADS_1


"Kalian ikutlah dengan Grock, dia akan menjelaskan apa saja yang harus kalian kerjakan,"


Lalu Haaland terlihat membantu Galantrian wanita yang masih terkapar di jalanan. Dan bayangannya tenggelam dari tepi atap tempat Yelda menahan nafasnya.


__ADS_2