
Sepanjang orang-orang istana mengenal Yelda, mereka belum pernah melihat Yelda yang sekasar dan semarah saat itu.
Satu lagi, mereka juga tidak pernah melihat Yelda serapuh itu. Gadis yang biasanya periang, tegas, dan lembut, kini berubah 180 derajat menjadi gadis rapuh yang penuh amarah.
Tangis mulai menggema di ruangan Raja Faramis. Selama beberapa saat tidak ada satupun orang yang berani menyentuh ataupun bergerak saat Yelda tengah menumpahkan segala rasa rapuhnya.
"Yelda," kata Dominic memecah ketegangan. "Ayo, jangan menangis di sisi ayahmu, dia pasti akan merasa sedih. Sekarang kita harus mengurus jasadnya." Suara itu lembut, tidak terdengar seperti Dominic yang biasanya. Tapi pemuda itu berhasil melunakkan Yelda.
"Ayo," kata Dominic sambil menyongsong Yelda ke kamarnya. "Jangan biarkan orang-orang melihat sisi rapuhmu," lanjut Dominic dengan berbisik.
Mendengar itu Yelda menghentikan tangisnya, lalu memandang wajah ayahnya yang begitu menyedihkan.
...
Malamnya upacara doa dilakukan hingga tengah malam. Untuk ke dua kalinya dalam sehari ini, istana terasa sesak. Tadi pagi untuk menghadiri pesta kecil pernikahan dan sekarang untuk menghadiri doa kematian.
Semudah itu nasib berbalik.
Orang-orang berbondong menuju istana dengan pakaian serba hitam begitu kabar kematian Raja Faramis lewat di telinga mereka.
Bukan merupakan pemandangan yang asing bagi Yelda saat melihat Lord Lotta, Lord Roin, dan Hazard berdiri berdampingan. Tapi kali ini, Pak Dolken juga terlihat. Jaziel juga datang, dia berdiri di samping Rowan.
Suasana khidmat terasa di atmosfer malam itu. Walaupun banyak orang yang membanjir, tapi mereka semua diam, dan begitu mendalami doa yang menggema di kubah istana.
Begitu juga dengan Yelda, gadis itu diam, tapi tidak dengan pikirannya. Ia memikirkan beberapa hal janggal dalam kematian ayahnya. Entah apa — tapi sesuatu terasa sangat janggal dan begitu tersangkut dengan kematian Faramis.
"Terima kasih, semoga Raja Faramis dapat beristirahat dengan tenang di alam selanjutnya. Semoga Tuhan bersamanya," kata pendeta sebagai kata penutup di malam itu.
Untuk pemakaman akan dilaksanakan besok pada pagi hari. Jadi malam itu semua orang pergi kembali ke desa dan rumah masing-masing. Kecuali Lord Lotta, Lord Roin, Hazard, dan Raja Teano.
__ADS_1
Dengan pakaian serba hitamnya, Yelda menuju kamar dengan didampingi oleh dua dayang dan suaminya.
"Kalian boleh pergi," kata Yelda pada dua wanita yang selalu mematuhinya.
Dua dayang menunduk dan segera pergi dari kamar Yelda dengan menundukkan kepalanya.
"Kamu juga, Dominic!" lanjut Yelda yang melihat Dominic masih tidak bergerak di depannya.
"Tidak, aku akan menemanimu, Yelda," balas Dominic, kali ini nadanya serius.
"Tapi aku ingin sendiri," tegas Yelda.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu sendiri, Yelda!" kata Dominic sambil mencengkram jubahnya.
"Kenapa?" Yelda terkekeh. "Kamu tenang saja, aku tidak akan bunuh diri. Aku masih punya akal sehat, Dominic!" ujar Yelda. "Sekarang aku hanya ingin sendiri!"
Yelda mengangguk ketika Dominic mengalah dan pergi dari kamarnya. Ia benar-benar berubah. Dominic yang sekarang bukanlah Dominic yang dibencinya kemarin.
Tepat pada saat itu juga bayangan hitam merambah dari balik tirai di luar pintu balkon.
Yelda menegakkan tengkuknya.
"Siapa di luar sana!" seru Yelda.
Ketegangan itu bertambah ketika bayangan di luar mengetuk kaca pintu.
Awalnya Yelda tidak terlalu memperhatikan ketukan itu, tapi akhirnya dia menyadari. Entah kebetulan atau apa, irama ketukan itu tiga kali ketukan— seperti kode yang pernah ia bagi dengan Haaland.
Sret ...
__ADS_1
Yekda menarik tirai, sesaat matanya merasa silau dengan mata biru yang terlihat menyala dalam kegelapan.
"Haaland?" pekik Yelda.
Haaland memberi isyarat pada Yekda untuk membukakan pintunya. Bagai terhipnotis oleh gerakan Haaland, Yelda langsung membuka pintu.
Gadis itu langsung memeluk tubuh Haaland ketika pintu itu terbuka.
"Yelda," kata Haaland sambil meletakkan tangannya di pinggang Yelda. "Aku turut berduka,"
Yelda tidak menjawab apapun, gadis itu hanya ingin pelukan Haaland, orang yang ia cintai. Ini adalah anugerah, Tuhan mengirimkan Haaland di saat yang tepat.
"Yelda," tambah Haaland sambil melepaskan pelukan.
Kemudian tangan Haaland tertaut ke wajah Yelda. Matanya menenangkan, kedinginan yang terpancar membuat hati Yelda merasa lebih segar.
"Haaland, kamu tahu jika ayahku tiada?" gumam Yelda.
Haaland berdehem. "Tentu saja,"
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
"Aku harus pergi, aku hanya ingin menyampaikan bela sungkawa saja." Haaland menyentuh pundak Yelda dengan satu tangannya. "Kamu harus kuat, jangan pernah merasa putus asa. Tetaplah menjadi Yelda yang tangguh, aku selalu percaya pada ketangguhan dalam dirimu,"
Yelda terdiam, kata-kata itu bagai obat penenang yang menjadi pelipur hati Yelda.
"Aku harus pergi, maaf ... ,"
Yelda hanya bisa diam, dalam hatinya ia sungguh ingin menahan Haaland agar tetap tinggal. "Haaland, tinggalah di sini, aku membutuhkanmu ... ," Tapi kata-kata itu tidak keluar.
__ADS_1
Terakhir kali Yelda terbang bersama Haaland, itu terasa sudah lama sekali. Ingin rasanya kembali melingkarkan tangan di leher naga itu.
"Aku tidak tahu kamu masih peduli denganku atau tidak, Haaland. Tapi aku sangat membutuhkanmu ... ," gumam Yelda, melihat bayangan putih yang melesat ke arah Galantris.