
Rowan menghentikan tawanya, menoleh ke sebuah ambang pintu yang mengaga lebar menuju ruang bobrok dalam perpustakaan itu.
Dia berjalan mengendap sampai-sampai tidak menimbulkan getaran sedikitpun di udara. Tangan Rowan bersiaga di gagang pedangnya.
Set ...
Rowan bergerak tegas masuk ke ruang bobrok di balik pintu. Tidak ada siapapun, tidak Galantrian gila, maupun hewan liar, benar-benar kosong. Hanya puing langit-langit dan lapisan tembok runtuh saja yang ada di ruangan itu.
"Ada apa, Lord Rowan?" tanya seorang pria berkulit hitam dengan parang besi di tangannya.
"Tidak— tidak ada apapun." Kemudian Rowan berbalik arah, dan segera keluar dari perpustakaan. "Ayo kita cari dan musnahkan para Galantrian bedosa itu!"
Semua bergerak menelusuri jalanan becek dan kumuh dalam setiap lorong gang yang didampingi oleh bangunan-bangunan ringkih.
"Aku rasa kita harus berpencar!" seru Rowan. "Kalian pungut para Galantrian itu dan seret ke tanah lapang yang ada di sana! Nanti kita berkumpul lagi di sana, dan bakar mereka, pasti akan menjadi pesta yang menyenangkan" Rowan menggerakkan jari telunjuknya ke arah sebuah tanah lapang yang luas, tanah itu dahulu adalah sebuah lapangan tempat upacara-upacara besar dilakukan.
"Siap, Lord!" balas orang-orang dengan serentak.
Kelompok itu kemudian memecah menjadi tiga kelompok kecil. Tiga orang Mores bergerak bersama Rowan ke arah timur dimana di sana terdapat wilayah kekuasaan Haaland. Tiga petani dan seorang militer dari Mores bergerak ke arah barat, lima orang warga Shandor bergerak ke utara.
"Lord Rowan, mengapa Anda sangat yakin ingin memusnahkan Galantris?" tanya seorang Morian.
Rowan dengan santai menjawab, "aku sudah muak dengan semua kebohongan Galantris, mereka menyesatkan manusia biasa dengan sihir mereka— sekarang Tuhan mengazab mereka dengan bencana ini, jadi jika Tuhan saja ingin memusnahkan mereka, mengapa kita tidak?"
"Jadi, Anda tidak percaya dengan keajaiban Galantris? Padahal Anda juga selama ini hidup bergantung dengan Galantrian, mengapa Anda begitu benci?"
"Aku ini, memiliki darah orang Mores," balas Rowan.
"Apa! Anda bercanda!" Salah satu Morian itu terkejut bukan main, dia memperhatikan Rowan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sama sekali tidak ada persamaan antara Rowan dengan Morian itu.
"Jangan memandangi aku seperti itu, kakekku adalah orang Mores, dan aku juga tinggal di sana sewaktu kecil. Lalu saat ayahku meninggal, kami pindah ke Renee, Raja Charles (Ayah Raja Faramis) menikahi ibuku yang menjadi wanita paling cantik saat itu, jadi aku tinggal di istana Shandor." Rowan menjelaskan tentang kisah hidupnya sambil melihat kiri kanan berharap ada sosok Galantrian yang ia ingin menyerahkan diri padanya, namun tidak ada satupun Galantrian yang dia temui.
Tiba-tiba salah satu dari orang Mores itu menghentakkan kaki dan berhenti berjalan. "Lord Rowan ... ," bisiknya. "Lihat di sana,"
Rowan mengikuti telunjuk hitam itu, dia hampir-hampir merinding ketika melihat sebuah kaki menjulur dari dalam selokan kumuh di pojok gang. Kaki itu bergerak-gerak.
Dengan perlahan Rowan memimpin tiga Morian itu mendekat pada kaki yang keluar dari dalam selokan.
Sesosok Galantrian tua yang sudah botak tertidur di selokan itu, menggerang kesakitan tanpa suara, tali Rowan bisa merasakannya. Dia memiliki empati tapi jiwa jahatnya lebih besar. "Bawa sampah itu!"
__ADS_1
Dengan segera tiga orang itu menyeret kaki kotor dan busuk hingga tubuh Galantrian itu keluar dari selokan, mereka menyeret tubuh lemahnya di sepanjang jalan.
"Kemana para Galantrian? Mengapa mereka tidak terlihat di sekitar sini?" gumam salah satu Morian yang tidak ikut menyeret mayat hidup itu.
"Entahlah, mungkin mereka sudah lenyap?" timpal salah satu Morian.
Rowan terus melangkahkan kakinya, salah satu pemandangan yang tak biasa menghentikan langkahnya. "Apa itu?" kata Rowan.
"Mustahil!" seru seorang Morian yang menyeret tubuh Galantrian malang.
"Ayo kita lihat, siapa tahu ada kejutan untuk kita," kata Rowan dengan nada licik yang tidak tertutupi.
Sepetak jagung dengan subur tumbuh di tanah Galantris, itu mungkin adalh hal yang mustahil, tapi itu benar-benar ada,
"Lihat, Lord! Di sana!" Morian itu berseru sembari menunjuk pada jejeran bangunan dan jalanan yang berbeda dengan pemandangan Galantris yang telah mereka lewati.
Jalanan bersih yang terbuat dari marmer putih menyilaukan mata Rowan, Bangunan-bangunan di sampingnya terlihat hidup dan terawat. Apa yang sebenarnya terjadi?
Rowan melangkah cepat menyusuri jalan itu, lumpur-lumpur yang menempel di sepatunya menodai setiap kilauan di gang itu.
"Cek semua rumah!" seru Rowan.
Mereka bertiga kemudian mendobrak setiap pintu rumah yang nyatanya telah terkancing, tapi sayang sekali kaitan kancing iu tidak kuat hingga pintu terbanting dalam beberapa tendangan.
Rowan masuk ke sebuah rumah yang paling menarik minatnya, rumah itu memiliki atap tinggi dan pilar-pilarnya masih terlihat kokoh.
Tidak ada siapapun di dalam, hanya ada ruang kosong dengan selembar kain yang tergelar di lantai beningnya.
Bayangan Rowan yang memantul di lantai ruang itu menunjukkan betapa heran, kesal, dan marahnya Rowan. Dia mengepalkan tangannya begitu kuat. "Sialan! Apa yang terjadi? Apa jangan-jangan tidak semua Galantrian berubah menjadi makhluk menyedihkan?"
Krak ...
Suara itu menggema di ruang luas yang kosong. Rowan memutar matanya mengawasi setiap sudut yang bisa ia jangkau.
Sebuah erangan kecil terdengar di telinga tajamnya.
Rowan berjalan ke sudut gelap yang di sampingnya terdapat sebuah tangga, dia menjejaki setiap anak tangga menuju atap.
Dan semuanya jelas! Sekelompok Galantrian itu bersembunyi di atap dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
Rowan terkekeh, "kalian benar-benar cerdas, tak ku sangka ternyata Galantrian masih memiliki jiwa dan akal yang sehat,"
"Kami tidak menganggu manusia, jadi tolong jangan ganggu kami!" seru orang suruhan Grock untuk memimpin mereka.
"Kalian memang tidak menganggu kami, tapi kalian harus musnah, seperti saat ayahku lenyap di tangan kalian!" seru Rowan.
Dia mengayunkan pedangnya, memotong setiap udara tegang yang saling berkaitan. Para wanita dan beberapa anak-anak mendekap ketakutan.
Sedang Galantrian pria berusaha menyerang Rowan dengan alat seadanya, namun tentu saja kekuatan mereka tidak sebesar ketika masih menjadi Gakantrian yang sakti.
"Sudahlah, jangan memberontak— atau kalian bakal merasakan sakit yang luar biasa," kata Rowan. "Menurutlah denganku, aku akan membantu kalian lepas dari semua siksaan ini,"
"Dengan ... membakar kalian ... ," lanjut Rowan dengan masa lirih yang mencekam.
"Morian!" seru Rowan. Suaranya terdengar jelas sampai ke bawah. Beberapa saat kemudian, tiga Morian yang bersamanya muncul dari anak tangga.
"Lihat Galantrian ini! Mereka menyedihkan, mari kita bantu mereka untuk menghilangkan siksaannya," Nada lembut itu keluar dari mulut Rowan yang tajam.
"Seret mereka!"
"Baik, Lord!"
________________________________
Halo teman-teman 👋🏼
Terima kasih sudah membaca karya ini 💕
Btw, author ada karya baru lho ...
Yuk yang suka horor merapat ...
Judulnya "BOCIL KEMATIAN"
Yuk intip, jangan lupa subscribe untuk info update selanjutnya 😊💕
Makasiii ...
__ADS_1