
Yelda dan Haaland bergegas meninggalkan gua kediaman Yuan. Mereka kembali ke tebing saat awal mereka tiba di Pulau Wex. Tebing itu seakan menjadi gerbang setelah ratusan abad lalu.
"Jadi Yuan itu adalah ayah angkatmu?" tanya Yelda. Ia berusaha mengimbangi langkah Haaland.
"Ya— begitulah,"
"Tapi bukankah Galantris utama dan Pulau Wex sangat bertentangan?"
"Kami hanya bertentangan pada fisik dan kekuatan, tapi sejatinya kami ini adalah Galantrian." Haaland mengulurkan tangannya pada Ywlda untuk membantunya mendaki tebing kecil tempatnya kembali.
"Tapi kenapa para Klox menyerang kita?"
Haaland menghempaskan nafasnya, "mereka memang makhluk yang paling serakah, mereka tidak mau menganggap Galantris Gao sebagai kerabat, dari dulu mereka selalu menganggap kami ini musuh, padahal para tetua sudah berkali-kali memperingatkan mereka,"
"Sangat buruk!" balas Yelda dengan nada ironi.
"Yah— lupakan saja, sekarang waktunya kita untuk pergi ke Root, kita lihat apa yang ada di sana!"
"Kamu benar, Haaland,"
Haaland mengubah penampilannya menjadi seekor naga putih gagah. Sayap-sayapnya mengepak hampir menjangkau seluruh bagian tebing.
"Ayo, Putri."
Yelda tanpa ragu kembali melompat ke punggung Haaland, berpegangan pada leher naganya dan kembali menikmati setiap pemandangan dari atas tanah Qwertis.
Aliran Sungai Gao terlihat mengular menuju kubangan besar Danau Root. Lahan pertanian rakyat terlihat hijau dan subur dari pandangan Yelda, membuat gadis itu tersenyum ria.
Namun ada satu pemandangan tidak biasa yang ia lihat dari atas sana. Kerumunan orang terlihat jelas, Yelda mengira ada sesuatu yang tengah terjadi di Shandor, ia tak sadar bahwa kerumunan itu tengah memberikan penghormatan terakhir terhadap dirinya yang dianggap telah mati.
"Haaland apalah kamu melihat itu? sepertinya ada kerumunan di Shandor?"
Haaland memperlambat luncuran terbangnya, ia hanya terus mengepakkan sayapnya agar ia tetap berada di langit.
"Aku rasa kamu benar, Yelda," balas naga itu. "Mungkin saja Pangeran Dominic atau ayahmu tengah membuat sayembara untuk menemukanmu," balas Haaland.
"Mungkin saja," ujar Yelda. "Baiklah, lanjutkan saja perjalanan kita, watunya semakin menipis,"
Haaland mengepakan sayapnya dengan riang, menikmati hangatnya sentuhan tangan Yelda yang melingkar di leher naganya.
"Apakah kamu melihat, Yelda? Danau itu begitu kecil dari atas sini," kata Haaland.
Yelda segeralah mengalihkan matanya ke bawah, sebuah kubangan air membentuk lingkaran tak beraturan, itulah Danau Root. Airnya tampak berwarna hijau kebiruan.
__ADS_1
"Oh, benar sekali, tapi tunggu saja setelah kita sampai di bawah, pasti kita bakal merasa danau itu begitu luas, Haaland."
Yelda samar-samar mulai merasa ketinggiannya berkurang, Haaland memperlambat kepakan sayam dan mulai meluncur ke darat.
Haaland segera mengembalikan wujud manusianya.
"Haaland, apa yang harus kita cari di sini," tanya Yelda. "Aku benar-benar bingung, aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yuan."
"Aku juga tidak mengerti, Yelda. Tapi kita cari saja hal-hal yang mungkin mencurigakan di sekitar danau ini."
Yelda melihat ke sekeliling, ia mencoba menemukan bayangan lamanya ketika ia berkunjung ke danau ini bersama dengan Esthel, ibunya.
Danau itu masih tetap sama, warna hijau kebiruan yang jernih dan tenang, pohon-pohon yang mengelilingi danau itu juga masih kokoh mempertahankan posisi"" mereka.
"Aku rasa tidak ada yang berubah, Haaland." Yelda menoleh pada pemuda di sampingnya.
"Apakah kamu pernah kemari?" tanya Haaland.
"Ya, dulu, tetapi itu sudah sangat lama."
"Berapa lama? Sampai pohon-pohon masih belum berubah?"
"Entahlah, Haaland."
Sebuah pondok kecil terlihat berdiri dengan ringkih di samping pohon besar yang tak jauh dari danau. Pondok itu sepertinya dulu tidak pernah ada di sana. Tapi kenapa sekarang ada? Apakah ada seseorang yang pindah kemari untuk menikmati kesegaran Danau Root akhir-akhir ini?
Haaland menegur Yelda yang terlihat melamun dan memandangi sebiah pondok kecil. "Ada apa, Yelda?"
"Haaland," kata Yelda sambil menepuk bahu Haaland. "Pondok itu dulu tidak ada di sana!"
Haaland mengerutkan keningnya. "Apa kamu yakin?"
"Tentu saja, aku kemari dintahun terakhir Galantris berjaya, dan pondok itu belum ada di sana!"
"Mungkin saja seseorang pensiunan tua ingin menghabiskan waktu tuanya di tepi danau ini, bukankah danau ini begitu indah?" ucap Haaland.
"Kamu benar juga, Haaland, tapi aneh rasanya."
"Tidak ada yang aneh, Yelda." Haaland melangkah maju dan mencelupkan tangannya di permukaan danau. Hawa dingin dan segar terasa masuk ke pori-pori wajahnya saat ia mengusapkan air ke wajah.
Yelda yang penasaran dengan pondok kecil itu secara inisiatif langsung pergi dan menghampiri pondok kayu menyedihkan di samping pohon besar yang tak berbuah.
Ia mengintip dari balik jendela kusam dan penuh debu, menandakan pondok itu sudah lumayan lama berdiri.
__ADS_1
"Ini benar-benar menyegarkan, Yeld ... ," Haaland menoleh di tempat berdirinya Yelda tadi, tapi gadis itu tak ada di sana.
"Oh astaga! Yelda, tunggu aku!" Haaland segera berlari menghampiri Yelda yang engah mengendap-endap mengintip bagai pencuri di pondok kecil itu.
"Apa yang kau lakukan?" bisik Haaland yang kemudian ikut mengendap-endap.
"Aku hanya penasaran saja, Haaland."
Yelda terus melangkah, dan mengintip, sepertinya tidak ada orang di dalam, pondok itu cukup kecil untuk tidak mengetahui ada atau tidaknya penghuni.
"Sepertinya tidak ada orang, bagaimana jika kita masuk saja?" ujar Yelda yang menentang kode etik kebangsawanan, seharusnya dia tidak boleh melakukan hal itu karena perbuatannya akan dianggap rendah dan tidak beretika.
"Apa kamu gila?" ujar Haaland.
"Ayolah, Haaland. Kamu mungkin lupa bahwa kamu pernah menyusup ke kamarku, apakah kamu pikir itu sopan!" kata Yelda yang membuat Haaland bungkam dan mengikuti setiap gerakan Yelda.
Ciit ...
Bahkan pintu pondok itu berderit nyaring hingga Haaland terpaksa menutup telinganya rapat-rapat.
"Permisi? Apa ada orang di dalam?" kata Yelda dengan suara agak nyaring.
Bau apak tercium dari hidung mereka berdua. Rak-rak yang tertata di setiap dinding membuat Yelda teringat dengan ruang kerja tabib istana Shandor.
Botol-botol gelap berisi cairan tergeletak sembarang tetapi tetap beraturan di setiap tingkatan rak.
Rempah-rempah kering dan layu juga terlihat tergeletak di sebuah keranjang anyaman di samping sebuah meja yang penuh dengan alat-alat meramu.
"Apa ini?" kata Haaland.
"Aku rasa pemilik pondok ini adalah seorang peramu obat." Haaland melihat sekeliling dan sesekali mengambil sebuah botol kecil untuk ia amati.
"Tapi ke mana orang itu? Pintunya tidak terkunci,"
"Apa menurutmu akan ada orang mengira di sini ada sebuah pondok? Lagi pula aku rasa tidak ada harta apapun di sini, itulah kenapa pemilik tidak terlalu khawatir rumahnya bakal kemasukan bandit."
"Jangan menatapku seperti itu, kamu ini seolah sedang mengatakan bahwa aku bandit, Haaland!"
"Aku tidak melakukanya." Haaland lalu mengalihkan tatapannya dari Yelda.
Yelda melankah mendekati sebuah meja kecil berbentuk bulat di pojok ruangan. Di atasnya terdapat sebuah mangkuk tinta dan beberapa lembar kertas.
Lalu pandangan Yelda berpaling pada sebuah kertas yang bertumpuk dengan sebuah amplop, kertas itu terlipat rapi, dan sebuah stampel yang ia kenali.
__ADS_1
"Apa ini?" Yelda mengambil surat itu.