Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 33


__ADS_3

Yelda tidak berani turun dari atap bangunan itu, dia sungguh malu terhadap semua Galantrian karena sikap pengecutnya.


"Yelda,"


Yelda mendengar Haaland memanggil di dari balik punggungnya, tetapi Yelda tidak menoleh.


"Yelda," panggil Haaland sekali lagi. "Ada apa?"


Yelda memalingkan wajahnya ketika Haaland berpindah ke sebelahnya. "Tidak apa-apa, Haaland,"


"Kamu bohong, Yelda, aku bisa merasakan kebohongan itu,"


Yelda menunduk, "aku malu pada kalian semua, Haaland. Aku malu terhadap kepengecutanku! Aku sangat pengecut!"


Haaland merangkul pundak Yelda, menarik udara dalam-dalam dan kemudian berkata, "apa maksudmu, Yelda? Apa karena kamu tidak ikut bertarung dengan para Galantrian tadi?" Haaland terkekeh dan menggeleng tipis. "Jika hanya karena hal itu— kamu tidak perlu merasa menjadi pengecut, aku bersumpah kamu adalah wanita paling pemberani yang pernah aku temui,"


"Tentu saja kamu bilang seperti itu, aku adalah satu-satunya wanita yang kamu kenal," balas Yelda.


"Aku tidak bohong, Yelda. Aku sangat mengagumkan dirimu, semangatmu memancing aku untuk bangkit, Yelda, percayalah ... ,"


Yelda masih tidak ingin memalingkan wajahnya pada Haaland.


"Ayolah, lihat mataku, aku tidak berbohong," ujar Haaland sambil mengulurkan tangannya.


Yelda merasa wajahnya ditarik oleh jari-jari kuat hingga membuatnya menatap mata Haaland. Mata biru pemuda itu benar-benar menusuk lembut dalam bayangan yang jatuh di retina Yelda.


"Kamu percaya padaku sekarang?" kata Haaland.


Yelda mengangguk tipis, ia tidak yakin dengan kata-kata itu.


"Ayo, sebentar lagi Grock akan kembali, aku akan menunjukkan sesuatu padamu, Yelda. Kamu pasti akan sangat senang,"


Yelda mengikuti arah rangkulan Haaland yang membawanya kembali ke lantai dasar. Betapa tersayat ltnya hati Yelda ketika dia melihat wanita yang tadi terlempar ke jalanan terbaring di selembar kain di atas lantai, wajah wanita itu bonyok, dan kepalanya teleng ke kiri.


"Apakah dia akan baik-baik saja, Haaland?" tanya Yelda.


"Tentu saja, dia akan segera membaik,"


"Kamu berbohong, Haaland," kata Yelda, gadis itu tahu jika Galantrian tidak akan pernah sembuh dari segala luka yang terlah mengenai tubuh mereka.


"Aku hanya ingin kamu tenang dan fokus pada tujuan kita," balas Haaland.


Detik berikutnya kata-kata Haaland langsung mengembalikan semangat Yelda. "Benar!"


Setelah menunggu beberapa saat, Grock datang dengan wajah terpaksa. "Hm, orang-orang itu sangat sulit diatur!"


"Biarkan mereka menyesuaikan diri dahulu, Grock—" kata Haaland. "Sekarang ikutlah dengan kami,"


Wajah Grock terlihat pasrah. "Baiklah,"


Yelda, Haaland dan juga Grock memulai perjalanan mereka. Melewati gang-gang sempit dan kumuh, Yelda benar-benar menyayangkan keadaan sepatunya yang berselimut lumpur, padahal baru saja dibersihkan oleh Fara.


"Ke mana kamu akan membawa kami, Haaland?" tanya Yelda sambil menyingsing rok kuningnya.

__ADS_1


"Ke pusat Galantris, Yelda," balas Haaland.


"Pusat Galantris?" heran Grock.


"Apakah kamu tidak tahu apa itu pusat Galantris, Grock?" tanya Yelda, dia mengira semua Galantrian tahu tentang letak pusatnyang dimaksud, namun ternyata dugaannya salah.


Dari pertanyaan itu Grock kemudian menjawab, "tidak,"


Yelda membuang nafasnya dengan perlahan. "Jadi, di mana tempat itu,. Haaland? Dan bagaimana kamu menemukannya."


"Tentu saja ada di perpustakaan— kemarin aku beberapa kali membaca buku yang menuliskan bahwa perpustakaan Galantris terletak tepat di titik tengah kota Galantris, jadi aku iseng-iseng untuk menelusuri ruangan yang sudah runtuh, dan—" Haaland berhenti ketika ia melihat Galantrian yang lehernya terkoyak hingga hampir putus, tapi Galantrian itu masih bergerak-gerak, bersandar pada dinding ringkih sebuah bangunan.


"Dan apa, Haaland?"


...


Mereka sudah sampai di perpustakaan Galantris, tempat yang penuh dengan buku yang isinya entah apa. Yelda mengikuti langkah Haaland dan juga Grick yang masuk ke dalam lubang pintu yang di baliknya puing-puing bangunan sudah ada yang roboh.


"Di mana?" tanya Grock yang hanya melihat kebobrokan di ruang itu.


Yelda mengikuti gerakan Haaland dan berjongkok di tantai berlapis puing-puing bangunan yang sepertinya sengaja di hamburkan di atas lantai itu. "Lihat ini!"


Usapan tangan Haaland di atas lantai menyingkirkan batu-batu kecil dan menampakkan sebuah potong lantai yang berukuran gunung Noris dan naga, serta terdapat tulisan dalam bahasa Galantris.


"Apa ini, Haaland?" tanya Yelda meluapkan rasa penasarannya.


"Sebuah ruang rahasia ... ," bisik Haaland dengan memanjangkan kata-katanya.


Gadis itu melihat tanda telapak tangan di pojok kotak papan. Kemudian Haaland meletakkan telapak tangannya di sana.


Cklek ...


Tapi beberapa detik setelah keheningan terjadi, papan-papan lantai itu bergeser ke samping, membelah ukiran dan menampakkan lubang gelap yang membuat Yelda terpaksa mundur.


"Apa ini, Haaland?"


"Ayo ikutlah denganku,"


Ternyata ada sebuah tangga yang berjejer di tepi lubang itu, mereka menyusuri tangga dengan hati-hati karena cahaya yang minim. Haaland berjalan memimpin Helda dan Grock untuk menerangi tangga dengan pendar tipis yang keluar dari tubuhnya.


Lukisan dan ukiran di dinding-dinding ruang bawah tanah itu terlihat begitu mengagumkan. Yelda meraba pada dinding yang belukiskan seorang Galantrian yang tengah bersemedi dengan garis-garis putih yang di isyaratkan sebagai cahaya mereka.


Lalu pandangan Putri Yelda teralihkan kepada sebuah mangkuk besar yang berisi genangan air bersih. Dan yang mengejutkannya adalah sebuah benda melayang-layang di atasnya, benda kecil berwarna biru tanpa cahaya.


Kemudan Yelda menarik bola matanya untuk bergerak perlahan ke bawah, sebuah kotak kristal kecil terlihat menopang mangkuk, dalam kotak itu terlihat jelas sebuah benda berkilauan yang menggiurkan setiap mata yang memandang— kunci emas.


"Haaland," kata Yelda serya ,menepuk pundak pemuda berpendar di sebelahnya.


"Ya, Putri Yelda, inilah yang kita cari,"


"Apa maksud kalian?" Jelas sekali bahwa Grick terlihat kebingunga secara dia tidak tahu apa-apa tentang rencana Yeldandan Haaland.


"Kami akan mengembalikan Galantris yang dulu, Grock!" seru Yelda yang sangat bersemangat.

__ADS_1


Galantrian itu mendecak dan tertawa meremehkan. "Tidak mungkin,"


"Aku mengajakmunbukan untuk tidak mempercayai hal ini, Grock, jadi yakinlah—" ujar Haaland. "Saat ini kekuatanku hanyalah keyakinan yang dalam,"


Grock terlihat mengangguk malas, "rm .... baiklah,"


"Haaland, ayolah kamu ambil kunci itu, kita harus segera kembali ke Danau Root, kan?" kata Yelda.


"Benar." Haaland bergerak mendekati mangkuk yang disebut-sebut sebagai cawan suci. Pemuda itu berjongkok lalu mengamati kotak kristal berisi kunci emas dengan penuh syukur.


Yelda ikut merasakan rasa syukur itu ketika Haaland merogohkan tangannya untuk mengambil kunci, meraba dan merasakan setiap sensasi dari emas yang kini telah ada di telapak tangannya.


Setelah mendapatkan kunci itu mereka bertiga bergegas naik dan kembali ke lantai perpustakaan yang bobrok, lubang masih menganga.


Saat itu juga suara-suara janggal mengagetkan mereka. Gemersik sol sepatu yang menginjak-injak jalanan berlumpur membuat mereka bertiga diam tak bergerak.


Samar-samar Yelda mendengar percakapan orang-orang yang menimbulkan suara itu. Tidak hanya dua, tapi banyak sekali. Hal itu membuat Yelda penasaran, rasanya ganjil sekali Galantrian gila bercakap-cakap dengan santai dan berkelompok sebanyak itu, kecuali Galantrian di bawah pimpinan Haaland.


Suara-suara itu semakin mendekat, menyisakan bisik-bisik mencekam di telinga Yelda.


"Kita harus bakar tanah kotor ini!" seru seseorang dengan lantang.


"Setuju!" balas beberapa orang.


Yelda menoleh pada Haaland, mereka berdua bertatapan saling bertukar perasaan yang sama. "Itu manusia, Haaland!"


Haaland hanya mengangguk.


"Awas!" seru Haaland, sambil menarik pinggul Yelda menjauh dari lubang pintu saat manusia-manusia itu mendekati gedung perpustakaan. "Kamu akan terlihat oleh mereka!"


Lalu Yelda fokus mendengarkan lagi.


Seseorang terdengar memasuki ruangan perpustakaan, dari balik tembok, Yelda, Haaland, dan juga Grock menahan nafas mereka.


"Wah! Buku ajaib Galantris yang menyedihkan!" ujar seseorang.


"Bagaimana jika kita bakar dulu saja buku-buku ini, Lord?" tanya seseorang dengan suara kecil dan parau.


"Tidak, kita kumpulkan dulu semua Galantrian, lalu kita bakar tubuh-tubuh mereka bersama buku ini!" lalu suara ini tertawa.


Yelda mengintip lagi, ia tersentak ketika melihat orang yang ia kenal berdiri di samping sebuah rak buku sambil tertawa dengan riangnya.


"Lord Rowan!"


Cklek ...


Yelda menginjak sebuah puing bangunan hingga patah dan menimbulkan bunyi.


Beruntung Yekda segera menyembunyikan wajahnya saat sosok pamannya menoleh ke arah sumber suara yang ia ciptakan.


"Ayo!" bisik Haaland menarik mereka semua kembali menuruni anak tangga dan masuk ke dalam ruang rahasia.


Yelda melihat sesuatu, "Haaland! Coba letakkan telapak tanganmu di sana!" Jari telunjuk Yelda bergerak menuju sebuah kotak berukiran telapak tangan, seperti kunci papan di atas.

__ADS_1


Tap ...


Papan-papan lantai menggeser perlahan tanpa suara, menutup dan menyembunyikan mereka bertiga dari manusia-manusia di luar sana.


__ADS_2