
Yelda berjalan di atas jalan yang tersusun atas bebatuan yang tertata rapi, menuju ke taman belakang istana.
Prajurit Han yang berjalan mengiringi di belakangnya pun bertanya, "mengapa Anda pergi ke mari, Putri?"
Taman belakang itu terlihat redup dan gelap, hanya ada satu lampu taman yang berdiri tegak di samping pintu menara, dan itu pun dengan cahaya yang sudah redup. Hampir padam.
Derik jangkrik yang bersembunyi di semak-semak mengalun di telinga Yelda. Beberapa kunang-kunang terlihat bersinar dan bergerombol di pojok taman dekat dengan sebuah pohon pinus dan lampu kecil di pinggir kolam.
"Aku hanya ingin melihat-lihat taman ini saja, Han," balas Yelda.
Yelda melankah dan kemudian duduk di bangku besi yang tidak berpindah tempat dari saat ia kecil. Dari bangku itu, Yelda memandang pintu menara yang tersorot oleh lampu taman.
Kemudian pandangan Yelda mulai naik, teus naik, sampai kepalanya mendongak. Melihat betapa tingginya menara itu.
"Ingin rasanya aku ke atas sana, Han, tapi aku masih belum sanggup mendaki setiap anak tangga yang jumlahnya ratusan," Yelda terkekeh.
"Aku setuju, Putri, itu tidak baik untuk Anda, di atas sana pasti sangat dingin," sahut Han.
Kemudian gadis itu mengajak Han untuk berkeliling ke perumahan yang tak jauh dari istana.
Sederet lentera berjajar rapi di depan satu rumah dan rumah lainnya. Di sana hanya ada tiga rumah, yang satu adalah milik kepala pertanian Shandor, satunya lagi adalah milik keluarga kerajaan, dan satu lagi adalah pondok milik Rowan.
"Apakah Anda ingin bertamu, Putri?"
"Tidak, Han— kemarilah, aku ingin bertanya sesuatu padamu," kata Yelda sambil menarik lengan Han dan bersembunyi di balik sebuah petak pohon apel.
"Apa kamu mengetahui sesuatu tentang ... Pamanku? Maksudku ... apakah ada kejadian atau berita selama aku pergi?" tanya Yelda.
"Yang berkaitan dengan Paman Anda?" balas Han. "Ya,"
"Ya? katakanlah padaku, kalau memang firasatku benar, maka kita semua dalam bahaya, Han— tolong kamu bersikap bijaklah,"
Yelda mengangguk dan menatap Han dengan pancaran harapan yang besar. Dan rupanya Han memahami hal itu.
"Baiklah, Putri." Han menarik nafasnya dengan panjang. "Jadi selama Anda tidak ada, banyak hal yang terjadi, mulai dari kedatangan orang-orang Mores yang mengaku melihat naga, hingga pengakuan rakyat yang melihat naga itu saat mereka tengah bekerja di ladang," Nada Han benar-benar rendah, dia berbisik seolah-olah takut akan ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
"Lalu Lord Rowan yang memprovokasi beberapa rakyat untuk membantunya membakar Galantris, tapi aku dengar rencananya di Galantris gagal," lanjut Han.
Yelda mengernyitkan dahinya. "Kapan pembakaran itu terjadi?"
__ADS_1
"Kemarin, Putri,"
"Apa!"
Yelda segera teringat kejadian kemarin saat dirinya, Haaland dan juga Grock yang tengah mengambil kunci emas di ruang rahasia. Suara-suara manusia mengganggu mereka, membuat mereka ketakutan dan bersembunyi di balik lantai.
Entah apa yang terjadi pada Haaland dan Galantris, apakah mereka baik-baik saja? Perasaan Yelda menjadi tak karuan.
Lalu bagaimana nasib Grock yang ditinggalkannya saat ada di pondok tepi danau? Apakah ia berhasil lolos, tau ia malah tertangkap.
Yelda mengusap wajahnya.
"Lalu apa mereka berhasil membakar Galantris?" tanya Yelda.
Han menatap Yelda dengan tekun. "Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, Putri Yelda, tindakan mereka digagalkan oleh seseorang,"
"Oh ... , Kamu sudah bilang begitu?" Yelda kembali mengingat-ingat perkataan Han. "Maaf, aku sangat terkejut dengan berita ini, aku sedikit kacau,"
"Saya memakluminya, Putri,"
Yelda tengah berpikir, entah apa yang ada dipikirannya, semuanya bercampur menjadi satu. Ingin sekali rasanya menjerit saat ini, tapi ia harus menahan diri.
"Raja justru sangat mendukung hal itu, Putri. Apalagi setelah rumor Anda tiada karena terseret arus Sungai Gao, yang jelas-jelas sungai itu adalah bagian dari wilayah Galantris. Mereka menganggap Galantris akan berbahaya bagi manusia,"
Yelda menunduk, jika saja ia tidak kabur, maka Galantris dan Haaland akan baik-baik saja. Grock akan masih bekerja sebagai bawahan Haaland di Galantris, dan lama-kelamaan Galantris akan pulih dengan sendirinya, walaupun keajaiban itu tidak kembali.
"Ini semua salahku, Han ... ," gumam Yelda, air matanya sudah mulai menggenang di garis bawah kelopak mata. Rasa bersalah yang besar membebani hatinya. "Jika saja aku tidak pergi dan memberontak, semuanya pasti akan baik-baik saja,"
"Tidak, Putri, ini semua bukan karena Anda. Aku paham perasaan Anda saat dijodohkan dengan Pangeran Dominic, tapi jikapun Anda tidak kabur, orang-orang Mores itu akan tetap ke mari," tutur Han.
Yelda menegakkan kepalanya saat ia mendengar kata Mores. "Orang Mores, apakah mereka yang menyebarkan kebencian rakyat pada Galantris?" Mulutnya terkatup, menunjukkan garis dagu yang tajam dan tegas.
Han hanya mengangkat kedua bahunya tanpa berkata apapun.
Yelda merenungkan semua hal itu, dia memperhatikan pondok Rowan dengan seksama. Sudut matanya berhasil menangkap beberapa banyangan yang melewati jendela di ruang atas.
"Han?"
"Iya, Putri ... ,"
__ADS_1
"Apakah pamanku kedatangan tamu? Aku melihat beberapa bayangan di sana," Yelda mengacungi jendela atas dengan hati-hati.
"Oh, ya— aku hampir lupa memberi tahu Anda, orang-orang Mores itu menginap di pondok Lord Rowan untuk sementara waktu. Setidaknya sampai kasus Galantris usai,"
"Apa! Bagaimana bisa seperti itu?"
"Lord Rowan sendirilah yang mempersilakan mereka, Putri Yelda,"
Yelda mengernyit, "ada berapa orang di sana?"
"Tiga Morian, Putri Yelda,"
Yelda mengangguk, semuanya terlihat rumit, namun samar-samar Yelda dapat menarik benang yang saling mengaitkan manik satu dengan manik lainnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungan semua ini dengan pamannya? Lalu ia teringat jika dia belum melihat pamannya malam itu.
"Han, Paman Rowan tidak ada di istana, apakah mungkin dia ada di pondok itu?" tanya Yelda.
"Aku tidak tahu, Putri,"
"Ayo ikut aku." Yelda melangkahlan kakinya dengan perlahan di atas rerumputan yang tumbuh mengelilingi batang pohon apel.
"Tunggu, Putri Yelda,"
Yelda berhenti saat ia merasakan tarikan di pergelangan tangannya. "Ada apa, Han?" kata Yekda dengan sedikit kesal.
"Anda mau menguntit?" Nada itu seolah terasa menusuk.
"Memangnya kenapa?" balas Yelda.
"Bukankah itu tindakan yang melanggar etika kerajaan Shandor?"
"Terima kasih sudah mengingatkan aku, Han, tetapi saat ini, persetan dengan semua etika. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, jika kamu tidak ingin ikut, kamu boleh kembali ke istana sekarang," kata Yelda, ia berbicara dengan lembut, namun penekanan tegas dan penuh emosi berhasil menghiasi kata-kata itu.
Yelda menaikkan alisnya sambil menatap Han Si prajurit muda yang terlihat bimbang.
"Baiklah, saya akan menemani Anda,"
Yelda tersenyum dan kemudian meneruskan perjalanannya yang mengendap dari satu batang pohon ke batang yang lain.
__ADS_1