
Di samping dinding batu pondok, Yelda mengintip dan menempelkan daun telinganya di celah kosen jendela.
Beberapa orang terdengar mengobrol, tapi obrolan itu tidak terlalu jelas awalnya. Hingga lama-kelamaan Yelda bisa memfokuskan pendengaran dari celah kecil antara kaca dan esel jendela.
"... Anda akan lakukan selanjutnya, Lord Rowan?" tanya seseorang.
"Aku sudah merencanakannya dari awal, kalian tenang saja, Shandor akan jatuh ke tangan kita," suara itu milik Paman Rowan, parau dan dalam, Yelda sangat paham dengan ritme itu.
Yelda terus mendengarkan sambil melirik pada Han yang akhirnya juga ikut menguping di sisi lain jendela.
"Aku benar-benar tidak menyangka Si bocah ingusan itu ternyata Galantrian!" desah Rowan, suaranya terdengar menyimpan marah.
"Saya juga bingung dengan itu, Lord Rowan, secara semua Galantrian berubah menjadi wujud mengerikan sekaligus mengenaskan, tetapi dia ... ,"
"Entahlah ... ,"
"Apa kamu tahu, Jaziel memberitahuku bahawa keponakanku dan bocah ingusan itu mencuri buku tentang Sihir Gao di Perpustakaan Santheo,"
"Mereka pikir, mereka bisa mengembalikan Galantris!" tawa seseorang yang tidak Yelda kenal.
"Dua orang Renee yang membawa Yelda itu adalah anak buah Roin, kata mereka bocah itu berhasil mematahkan sihir kegelapan milik Charlos dan kembali mengambil batu keseimbangan Galantris! Aku takut jika mereka berhasil," kata Rowan.
Untuk beberapa detik percakapan itu hening.
Otak Yelda langsung melayang kepada Haaland, mereka semua sudah tahu jika Haaland adalah seorang Galantrian. Tapi apakah mereka tahu jika Haaland adalah naga?
Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia dan teman-teman galantriannya baik-baik saja? Apakah mereka sudah memakan jagung dari ladang yang mereka bangun?
Dan,
Apakah Grock berhasil?
Yelda mengepalkan tangannya dengan geram. Sudah jelas sekarang bahwa pamannya ikut dalam skandal pemusnahan Galantris.
"Aku akan menyingkirkan semua orang dalam istana itu," nada itu terdengar kejam dan keras. "Lalu aku akan menguasai Shandor, dan membawa Shandor lebih dekat dengan ajaran Mores,"
Yelda hampir mendengus marah, namun dia dengan segera menutup bibirnya kuat-kuat, menahan nafas, dan meremas kain jubahnya yang menjuntai ke bawah.
"Sudah lama aku menginginkan singgasana itu, tapi ayah tiriku bersikap tidak adil dengan memberikan tahta itu pada adikku!"
__ADS_1
Yelda tahu apa artinya "adikku" itu adalah ayahnya, Raja Faramis. Yelda baru tahu jika Rowan adalah anak tiri dari kakeknya, Faramis maupun ibunya tidak pernah bercerita apapun pada Yelda.
"Sekarang aku akan bertindak apapun untuk bisa menduduki posisi itu!"
Tajam dan menusuk, tangan Yelda bergetar, ingin sekali rasanya menghantamkan kepalan tangan menuju kaca jendela yang menjadi perantaranya mengetahui kebenaran itu.
Namun Yelda tidak melakukanya, Yelda berusaha menahan magnet-magnet kemarahan yang menguasai seluruh darah yang mengalir di tubuhnya.
"Huft ... , aku rasa sudah waktunya aku pergi, orang istana bakal curiga jika aku tidak ada di sana," kata Rowan.
Dia memang benar, dan Yelda sudah berhasil mengetahui niat busuknya.
Yelda menatap mata Han, mengisyaratkan agar mereka tetap di sana sampai Rowan keluar dari pondok itu.
Suara langkah kaki yang berat dan mantap mulai terdengar. Lalu pintu utama terbuka, dan tertutup lagi. Yoda mengendap dan mengintip dari sisi samping pondok.
Itu dia! Pamannya, orang yang berkhianat kepada kerajaannya. Yelda tidak akan mengampuni orang itu jika sesuatu yang buruk terjadi.
Rowan terlihat berjalan kaki, tidak menunggang kuda maupun kereta. Jarak istana sampai ke perumahan itu memang tidak jauh, hanya beberapa ratus meter saja.
Setelah bayangan Rowan menghilang di tikungan jalan, Yelda mengangguk pada Han. "Ayo,"
Sesampainya di istana, Yelda ke menoleh belakang, Han ada di sana.
"Itu sudah tugas saya, Putri."
"Tolong biarkan hal tadi menjadi rahasia di antara kita saja. Kamu boleh pergi sekarang," lanjut Yelda.
"Saya pastikan saya akan menyimpan rahasia itu sampai Anda memerintahkan saya untuk mengatakannya," balas Han dengan patuh, dia benar-benar prajurit setia, walaupun masih muda, pemuda itu benar-benar pengabdi yang patuh.
Yelda mengangguk, mengisyaratkan bahwa tugas Han malam ini sudah selesai, dan Han bisa kembali ke tempatnya.
Yelda melihat kepergian pemuda itu dengan mematung, dalam hatinya ia yakin dengan Han, tapi kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya tidak memiliki kepercayaan pada siapapun.
Yelda berbalik, melangkah mengitari istana dan kembali berada di taman belakang. Kali ini Yelda berjalan terus sampai ke pintu menara.
Dengan perlahan Yelda membuka pintu yang tidak terkunci, kemudian ia melangkah masuk ke dalam ruang gelap yang hanya ada sedikit celah cahaya dari lampu taman yang menelusup masuk. Dan setelah Yelda kembali menutup pintu, ruangan kembali gelap. Sangat gelap.
Yelda mengerjapkan mata beberapa kali. Dan akhirnya garis-garis samar mulai ia rasakan. Mata Yelda sudah menyesuaikan di dalam kegelapan.
__ADS_1
Yelda menarik sebuah batang besi yang tergeletak di bawah tangga, lalu mengganjalkannya ke pintu, hingga pintu itu tidak dapat dibuka dari luar.
Yelda memaksa kakinya naik, menjajaki anak tangga yang berputar-putar sampai ke atap menara yang tingginya 25 meter.
Begitu melelahkan, tapi tidak selelah batinnya.
Yekda menyandarkan diri di tiang tengah menara. Merosot dan meringkuk di sana.
Angin dingin berhembus, sangat dingin. Tapi tidak sedingin jantungnya yang terasa beku dan hampir berhenti berdetak.
Mata gadis itu bergerak liar ke arah garis Gunung Noris, mencari sesuatu yang sangat ia harap bisa ia lihat malam itu.
"Haaland, aku merindukanmu." Yelda memeluk lututnya. "Sangat merindukanmu ... ,"
"Aku tidak tahu harus apa, aku tidak percaya pada siapapun, aku merasa ini bukanlah rumahku, semua orang telah mengkhianatiku,"
Yelda memejamkan matanya, segelincir air mata hangat membasahi pipi kirinya.
"Kamu memang menganggapku wanita pemberani, tapi aku bahkan tidak tahu di mana letak keberanian itu, Haaland." Yelda berdiri.
Hatinya hancur, keberaniannya entah pergi ke mana, dan ketangguhan itu hilang ditelan pengkhianatan yang menyakitkan.
Roin yang sangat ia percaya, bahkan sangat ia harapkan bisa membantunya, ternyata bersekongkol dengan Morian dan penyihir kejam.
Rowan yang benar-benar ia sayangi dan ia patuhi ketika masih kecil juga berkhianat.
Siapa lagi sekarang? Yelda tidak bisa menggantungkan diri pada ayahnya, ia sendiri tidak yakin Faramis bisa diandalkan.
Jaziel? Orang tua penjaga perpustakaan juga bersekongkol dengan Rowan? Sungguh berat untuk Yelda menerima itu, dia sudah Yelda anggap seperti ayahnya sendiri.
Lord Lotta? Apa ia juga bersekongkol? Yelda tidak tahu, dia tidak lagi menyimpan rasa percaya pada semua orang yang hidup di Shandor, Aoka, maupun, Renee.
"Haaland, andai saja kamu di sini, aku pasti akan lebih tenang. Aku tahu yang aku percaya hanyalah dirimu ... ,"
"Aku merindukanmu ... ,"
Sekelebat titik cahaya memggerlip dari sebuah tempat gelap di Galantris. Cahaya itu membuat Yelda diam dan mengusap air matanya. Seluruh tubuhnya kembali tegak dan tulang-tulangnya mengeras.
Sekejap semangat dalam dadanya kembali. "Itu pasti Haaland! Dia masih hidup! Syukurlah ... ,"
__ADS_1
Yelda melihat cahaya itu bergerak.
"Dia bergerak, itu artinya dia baik-baik saja, Terima kasih Tuhan ... ,"