
"Tunggu Haaland!" kata Yelda. Yelda berdiri dan segera menuju laci kecil di mana ia melihat sebuah buku kuno.
Srek ...
Yelda membuka dengan tak sabar. Ia lalu mengambil buku berjudul Batu Hitam yang tergeletak di dalamnya.
"Haaland, lihat ini!" Yelda menyodorkan buku bersampul kulit pada pemuda yang terlihat putus asa itu.
Haaland membelalakkan matanya. "Di mana kamu menemukan buku ini?"
"Aku tidak sengaja melihatnya tadi di laci itu." Yelda mengacung pada lemari kecil tempat ia mengambil buku.
Yelda melihat kobaran kecil dari mata biru Haaland. Semangat pria itu telah kembali, keputusasaan telah enyah dari tubuh pemuda itu.
"Ayo kita cari tahu tentang batu itu, Yelda!" seru Haaland dengan semangat.
"Tentu saja, Haaland!"
Matahari sudah hampir tenggelam, bayangan pepohonan mulai memudar dan langit mulai petang.
Namun Yelda dan Haaland masih terus membuka-buka lembaran buku itu, sayang sekali tidak ada di antara keduanya yang mengerti tentang isi buku itu.
"Sial! Ini Bahasa Mores kuno!" ucap Yelda.
"Bagaimana kamu tahu ini Bahasa Mores kuno?" tanya Haaland yang semangatnya mulai mengendur.
"Aku tahu, Haaland, dulu Pak Jaziel juga mengajarkanku beberapa Bahasa Mores kuno, tapi hanya sedikit saja, itupun aku sudah lupa!" balas Yelda sambil menepuk dahinya, menyadari betapa bodohnya dia.
"Kita harus mencari petunjuk lain, Yelda! Bagaimana jika kita tanya saja pada Pak Jaziel?" usul Haaland.
"Kamu benar, Haaland!"
"Stt ... " Haaland mendesis, pemuda itu tidak bergerak sedikitpun. "Dengarlah ... ," bisik Haaland.
Yelda segera menahan nafasnya dan berfokus pada suara gemersik samar, suara tapal kuda yang berjalan di atas tanah.
Mata keduanya bertemu dengan penuh ketegangan.
"Ada seseorang yang datang!" lirih Yelda yang langsung berkeringat.
"Yelda, ayo cepat keluar dari sini!" Haaland menggandeng Yelda dan menuntunnya keluar, ia tidak lupa menutup pintu rahasia itu, dan juga menggantung lavender kering di pakunya.
"Pelan-pelan ... ," bisik Haaland. Pemuda itu mengintip dari balik tirai tipis jendela samping.
Dua orang berdiri di samping bayangan kereta kuda di depan pintu masuk. Keduanya memakai jubah panjang, dan salah satunya memakai sorban tebal yang menutupi permukaan wajahnya.
"Kita tidak bisa keluar, Yelda!"
__ADS_1
Yelda memegang erat lengan Haaland, dia tahu siapapun yang datang pasti bukanlah orang biasa, karena orang itu menahan batu keseimbangan Galantris dengan batu kristal kegelapan.
"Bagaimana, Haaland." Cengkraman Yelda lebih erat ke lengan baju Haaland.
"Ayo! ke sana!" Haaland berjalan mengendap dan menarik Yelda ke arah tirai kayu di belakang sebuah kursi kasar yang tergeletak di ruang tamu.
Ruang di belakang papan tipis itu lebarnya tidak sampai satu meter, tapi muat untuk Yelda dan Haaland, walaupun keduanya harus berdesakan sampai benar-benar tidak ada jarak sedikitpun.
Punggung yelda menekan pada dada bidang Haaland. Nafas gadis itu tersentak ketika pintu tiba-tiba terbuka. Tetapi dengan sigap Haaland langsung membekap bibir Yelda.
Mereka berdua diam tak berani bergerak sedikitpun, bahkan untuk bernafas pun rasanya benar-benar takut.
"Wow, pondokmu lumayan nyaman, Charlos!" kata seseorang yang suaranya tidak asing bagi Yelda.
"Ah! Maaf, kawan. Ruanganku sangat berantakan,"
Yelda langsung mengira suara kedua itu adalah Charlos. Tapi siapa suara pertama itu? Dia merasa tidak asing dengan suaranya.
"Bagiamana dengan proyek besar kita? Berjalan lancar bukan?" kata pria suara pertama.
"Sangat lancar, kawan."
Yelda mengerutkan keningnya, proyek apa? Apakah yang dimaksud pria itu adalah batu Galantris?
"Tapi bagaimana bisa orang-orang mengaku melihat naga Galantris terbang di atas wilayah Shandor?"
Yelda dan Haaland, jantung mereka sama-sama berdegup kencang, mata mereka saling memandang dan membulat kaget.
Apa! Ada yang melihat Haaland terbang?
Yelda sungguh-sungguh penasaran dengan suara yang tidak asing itu. Dia benar-benar menunggu saat-saat suara Charlos menyebut nama pria itu, tapi Charlos selalu memanggilnya dengan sebutan kawan.
"Aku sudah berbicara dengan beberapa petinggi Mores, mereka akan segera menyiapkan pasukan militer untuk membakar Galantris dan mereka bilang bahwa mereka ingin bekerja sama dengan Shandor, apakah itu benar?"
"Sangat benar, lebih baik Galantris musnah!"
"Aku juga berpikir begitu β Apa kamu ingin melihat batu itu, kawan?"
Suara yang tak asing bagi Yelda menjawab, "tentu!"
"Baiklah, ayo ikut denganku."
Suara langkah kaki menjauh dari ruang tamu tempat Yelda dan Haaland bersembunyi.
Haaland melepaskan dekapannya dari tubuh Yelda, dia perlahan menaikkan tungkainya dan sedikit mengintip dari atas papan. Ia melihat punggung kedua orang berjubah tengah masuk ke dalam ruang rahasia tempat dimana batu Galantris di curi.
Haaland lalu melihat pintu depan yang tidak ditutup. Saat itu juga ia melihat kesempatan untuk keluar dari pondok itu.
__ADS_1
"Haaland ... ," bisik Yelda.
"Sttt ... ."Haaland menempelkan jari telunjuknya di bibir Yelda. "Sekarang bukan waktunya!" bisik Haaland.
Yelda yang masih tengang tetap mengikuti semua yang Haaland lakukan. Ia ikut berdiri Jan berjalan mengendap tanpa menimbulkan suara saat Haaland menarik lengannya utnuk pergi dari pondok itu.
Baru selangkah mereka di luar, Yelda tidak sengaja tersandung ranting kayu hingga menimbulkan suara ranting yang patah. Yelda tidak bisa melihat ada ranting karena keadaan sudah petang.
Dengan wajah panik Yelda merasa pinggangnya titarik oleh Haaland. Puda itu melompat tinggi dan melayang di udara.
Set ...
Lalu Yelda tiba-tiba sudah ada di batang pohon yang lebih tinggi dari atap pondok itu. Haaland terlihat mendekap tubuhnya erat-erat, memastikan agar Yelda tidak terjatuh.
Lalu dari atas dahan itu, ia bisa melihat dua orang berjubah keluar dari pondok dan celingukan ke sana-kemari.
"Tidak ada siapapun di sini," kata Charlos.
"Mungkin hanya tupai yang iseng melompat di ranting hingga patah," balas suara satunya.
Kini Yelda bisa melihat samar-samar postur tubuh pria itu walaupun tidak terlalu jelas. Tapi ia tatap juga belum bisa memastikan siapa wajah di balik tudung jubah itu.
Kenapa aku tidak ingat milik siapa suara itu?
"Dasar!" Pria bersorban terlihat menendang ranting itu jauh-jauh. "Ayo kita masuk!"
Yelda dan Haaland menghembuskan nafas lega setelah dua orang itu masuk kembali ke pondok. Mereka Lalu duduk di dahan pohon, menikmati setiap hembusan nafas yang melegakan, tungkai kaki mereka menggelantung ria di gelapnya malam.
"Mereka bekerja sama dengan Mores, Yelda!" kata Haaland memendam kemarahannya.
Yelda mengangguk, "aku juga sangat terkejut, Haaland. Bagaimanapun, itu berarti ini dia sumber bencana di Galantris!"
"Kamu benar, Yelda."
Suasana hening untuk beberapa saat.
"Haaland, ada yang aneh," ucap Yelda.
"Apa, Yelda?"
"Aku merasa tidak asing dengan suara salah satu pria yang ada di pondok itu," kata Yelda.
"Aku juga begitu, aku seperti pernah mendengarnya walaupun tidak terlalu melekat di ingatanku." Haaland membetulkan posisi duduknya.
"Aku ingin mengawasi mereka dulu, Haaland! Aku ingin tahu siapa orang itu!"
"Begitu juga aku, Yelda."
__ADS_1