Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 30


__ADS_3

Yelda dan Haaland telah berdiri di sebuah ruanh yang kelihatannya adalah dapur. Ruang itu dipenuhi oleh perabot-perabot yang tergantung dan tertata rapi di sebuah rak kecil.


"Ayo, ikuti aku, Haaland!" kata Yelda.


Yelda berjalan menaiki anak tangga kecil di dapur itu, lalu melewati sebuah pintu dan masuk ke ruang keluarga yang penuh dengan perabotan cantik yang terpasang. Yelda terus bergerak menuju tangga berbahan kayu jati, menghentakkan kakinya dengan cepat untuk mencapai ke lantai dua, ia lalu masuk ke ruang kerja Lord Lotta.


Arghk ...


Yelda seketika menjerit saat mendengar jeritan Lord Lotta yang tiba-tiba muncul dari balik lorong sambil membawa gagang sapu.


Di ruang itu ia juga melihat tetua Shandor, Pak Dolken, orang itu duduk dipojok ruangan kerja Lotta.


Lord Lotta terjungkal ke belakang dan jatuh ke lantai. Saat itu juga istri Lord Lotta muncul untuk melihat apa yang terjadi di lorong lantai dua.


Yelda kebingungan sesaat, istri Lord Lotta tiba-tiba berhenti dan menutup mulutnya, wanita itu diam tak bergerak seperti patung, tetapi matanya membelalak seakan tidak percaya dengan yang dilihat matanya.


"Astaga, Lord Lotta!" seru Yelda sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Duke Aoka itu.


Tapi tangan Yelda di tepis begitu saja oleh Duke Lotta, wajah pria tua itu terlihat pucat pasi, mulutnya menganga dan tubuhnya beringsut mundur di alas kayu.


"Ada apa, Lord Lotta? Ini aku Yelda." Yelda memandang Lotta dan istrinya bergantian. "Anda berdua ini kenapa? Seperti melihat hantu saja!"


Duke Lotta masih beringsut mundur, dia bahkan tidak kuasa berdiri, sedang istrinya mencengkram gaunnya erat-erat.


"Lord Lotta?" kata Haaland.


"Ya Tuhan ... , tolong berikanlah ketenangan pada jiwa Putri Yelda dan pemuda ini, Tuhan," rintih Duke Lotta yang ketakutan.


Yelda dan Haaland saling berpandangan, keduanya tentu saja merasa bingung.


"Yelda ... ." Sekali lagi Lotta merintih. "Tolong beristirahatlah dengan tenang di rumah Tuhan, jangan ganggu aku ... ," kata Lotta sambil menyatukan telapak tangannya.


"Apa maksud Anda, Lord Lotta? Aku ini belum meninggal, mengapa Anda berkata seperti itu?" balas Yelda.


"Tidak, Putri, kamu harus menerima kenyataan bahwa kau sudah hanyut di Sungai Gao. Meskipun jasadmu tidak ditemukan, tolong beristirahatlah dengan tenang, aku berjanji akan pergi ke kuil untuk mendoakanmu setiap hari, tapi jangan ganggu aku ... ."

__ADS_1


"Apa!" nada Putri itu terkejut tidak percaya.


" ... Kami semua merasa kehilangan dirimu, Putri. Kami semua — seluruh rakyat Shandor, dari Aoka sampai Renee, sudah memberikan penghormatan terakhir untukmu, jiwamu harus tenang ... ," lanjut Lotta dengan rintihannya yang konyol.


Yelda mengernyit. "Lord Lotta!" seru Yelda.


"Aku belum meninggal!" Yelda menjatuhkan lututnya untuk mendekati Duke Aoka yang masih dalam keadaan jatuh dilantai.


Namun Lord Lotta tetap tidak percaya, Lotta tersentak saat Yelda menarik tangannya.


"Ini! Apa Anda tidak percaya?" Yelda mengarahkan tangan Lotta untuk menyentuh kepalanya. "Aku ini bukan hantu!"


Lotta yang tadinya ketakutan bukan main, ekspresinya berubah ketika ia benar-benar bisa menyentuh gadis itu. Sesaat terlihat Lotta yang kebingungan. "Yelda?" gumam Lotta.


"Lord Lotta, Yelda tidak hanyut, dia masih hidup ... ," kata Haaland yang mencoba meyakinkan Duke Lotta.


Lotta menarik tangannya dari kepala Yelda, lalu ia mengusap wajahnya seakan ia memastikan apa yang dilihatnya benar-benar terjadi.


"Yelda?" gumam Lotta sekali lagi.


"Ah ... Aku tidak percaya ini." Pria itu segera memeluk Yelda yang sudah dianggap anak olehnya. "Istriku, ini Yelda!"


Dengan segera istri Duke Lotta berlari ke arah Yelda, membelai wajahnya dengan tangan gemetar. "Astaga, Nak. Apa ini benar-benar kamu, Yelda?"


"Tentu saja ini aku, Bu,"


Istri Lord Lotta segera mendekap Yelda, suasananya sungguh emosional dan mengharukan.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Nak?" Tanya Lord Lotta setelah Yelda dan Haaland dipersilahkan untuk mengganti pakaian mereka. Haaland terlihat tidak cocok dengan pakaian milik Lord Lotta yang terlalu kecil di tubuh kekarnya. Sedangkan Yelda memakai sebuah gaun milik istri Lotta berwarna kuning yang lengannya sampai kebawah sikunya.


Yelda dan Haaland menceritakan semua kejadian yang telah mereka alami, kecuali tentang jati diri Haaland yang sebenarnya, mereka tidak mengatakan hal itu.


"Ini, Lord Lotta. Buku ini mungkin berisi suatu petunjuk untuk mengalahkan kekuatan gelap itu," kata Yelda sambil menyodorkan buku Batu Hitam yang dia bawa dari pondok di tepi danau. "Sayang sekali buku ini menggunakan bahasa Mores Kuno, jadi kami tidak tahu artinya,"


"Lalu kenapa kalian datang ke mari?" tanya Lotta. "Aku juga tidak bisa Bahasa Mores, Nak,"

__ADS_1


"Rencananya kami ingin bersembunyi di sini, keadaan tidak memungkinkan aku untuk terlihat di Shandor bukan?" balas Yelda. "Dan kami berniat mengundang Pak Jaziel, si penjaga perpustakaan Santheo untuk datang kemari, dia tahu tentang Bahasa Mores,"


"Bolehkah aku melihat bukunya?" kata Dolken yang dari tadi hanya mengamati.


"Tentu saja, Pak Dolken." Yelda memberikan buku itu pada Dolken.


Yelda dan yang lain terus mengobrol, sedang Dolken membaca buku itu seolah-olah dia mengerti apa isi buku itu.


"Kebetulan sekali aku ada di sini," kata Dolken setelah beberapa saat dirinya tenggelam dalam bacaan buku itu. "Lord Lotta sedang mengutarakan kesedihannya, dan dia sangat putus asa saat kamu pergi, Yelda. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk meneruskan ide-idemu," lanjut tetua Dolken.


"Aku sedikit mengerti tentang Bahasa Mores, terutama Mores Kuno, dulu aku tinggal di Renee, dan di sana sering ada orang-orang Mores yang melakukan perdagangan ilegal," jelas Dolken.


"Di sini tertera bahwa, hanya ada satu cara untuk mengalahkan batu kristal hitam itu." Pria itu menyodorkan buku Batu Hitam kembali pada Yelda.


"Apa itu, Pak Dolken?" tanya Haaland tak sabar.


"Kunci emas, " kata Dolken.


Haaland dan Yelda saling berpandangan.


"Tapi kunci emas itu ada di Galantris, kunci emas itu digunakan untuk menjaga sebuah kotak kristal di Galantris," jelas Dolken.


"Kotak kristal?" ucap Yelda.


"Ya, kotak itu ada di pusat kota Galantris, tapi entahlah— aku tidak tahu pastinya di mana pusat yang di maksudkan,"


"Dan cawan suci penyangga batu keseimbangan Galantris adalah penjaga bagi kunci emas itu, jika seperti yang kalian bilang tadi, satu batu telah terbelenggu oleh kekuatan jahat, maka itu akan melemahkan kotak kristal, yang didalamnya terdapat jiwa Galantris."


"Lalu apa yang harus kami lakukan jika kami sudah menemukan kunci emas itu?" tanya Haaland.


"Kunci emas itu seakan menjadi magnet bagi batu keseimbangan, jika diletakkan di dekat batu keseimbangan, maka dengan segera batu akan tertarik pada kunci itu," balas Dolken.


"Bagaimana Anda tahu semua ini?" tanya Yelda yang merasa curiga.


"Aku ini tetua di Shandor, sudah banyak yang aku pelajari dari para tetuaku yang terdahulu," balas Pak Dolken.

__ADS_1


"Baiklah, akan kami coba." Yelda mengangguk pada Haaland.


__ADS_2