
"Haaland, aku rasa mereka sudah pergi," kata Yelda dengan cahaya remang-remang dari tubuh Haaland yang menyinari wajah cantiknya.
Haaland diam dan menahan nafasnya untuk mendengarkan. Benar saja, orang-orang itu sudah tidak ada di sana, suara mereka sudah lenyap.
"Ayo kita keluar, Haaland," kata Yelda.
"Astaga, bagaimana kita bisa keluar? aku tidak tahu cara membuka pintu ini dari dalam,"
"Apa!" seru Grock.
Yelda pun ikut terkejut, ia memandang sekeliling sambil menghentakkan kakinya dengan tipis ke lantai itu.
Kemudian sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah kotak menonjol di permukaan dinding, dan memiliki ukiran telapak tangan yang sama persis seperti yang ada di atas.
"Haaland ... ," panggil Yelda. "Lihatlah! Apakah mungkin itu adalah kunci untuk keluar?"
Haaland memandang mata Yelda, lalu pemuda itu mengikuti benda di tuju gadis itu. "Ya ... , kamu benar!"
Sesuatu terjadi ketika Haaland menapakkan tangannya, papan-papan di atas kepala mereka sedikit demi sedikit bergeser dan terbelakmh, menampakkan sederet tangga sempit dan ruangan runtuh di atasnya.
"Ayo, cepat!" seru Yelda yang mendahului Haaland dan Grock untuk menaiki tangga itu.
"Grock," kata Haaland setelah mereka semua telah sampai di atas.
Galantrian itu menoleh, menampakkan kerutan kecurigaan terhadap Haaland.
"Grock, aku minta kamu menemani Purti Yelda ke Danau Root!" lanjut Haaland dengan nafas terengah-engah.
Yelda memicingkan matanya, "kamu tidak bersamaku ke sana, Haaland?"
"Maaf, Yelda. Aku tidak bisa meninggalkan Galantris bersama manusia asing yang mencurigakan itu, aku akan mengawasi mereka. Jadi, kalian berdua pergilah ke danau Root." Kemudian Haaland mengangguk pada Grock. "Aku percaya padamu, kawan,"
"Tapi, Haal— "
Hampir saja Grock menolak, akan tetapi Haaland memotongnya sebelum kata-kata itu keluar.
"Shh ... ," desisnya. "Lakukan saja, tolonglah, Grock, ini untuk kebaikan kita semua ... ,"
Grock menghembuskan nafas pasrah, "baiklah,"
"Terima kasih," kata Haaland sambil menepuk pundak Grock dengan lembut.
"Tapi, Haaland—" kata Yelda.
"Ini." Haaland memberikan bilah kunci emas ke genggaman Yelda. "Yelda, bawalah batu keseimbangan pulang, aku percaya padamu ... ,"
Yelda menatap garis-garis emas di telapak tangannya. Jari-jari kekar Haaland masih memegang pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aku percaya padamu ... ." Sekali lagi bisikan itu menggema di hatinya, membuat getaran hati yelda yang tidak yakin berbalik seratus delapan puluh derajat.
Mata Yelda kemudian beralih dari telapak tangannya menunju wajah pemuda di depannya. Kedua pasang mata saling memandang, saling bertukar keyakinan dan kekuatan.
Yelda mengangguk, "baik, Haaland, akan aku coba semampuku,"
Kemudian pandangan Yelda tertuju pada Galantrian berkulit menyedihkan di sampingnya. "Grock, aku yakin kamu bisa! Ayo kita lakukan,"
"Baiklah, akan aku coba," balas Grock dengan malas.
"Sekarang apa yang harus kami lakukan?" tanya Yelda.
"Baiklah, kalian pergi pergilah terus ke selatan, sampai melewati pegunungan selatan, nanti akan langsung sampai ke danau Root," jelas Haaland. "Aku yakin kamu sudah tahu rute jalannya, Grock, carilah jalan yang teraman dan tercepat, tapi jangan melewati tepi sungai, itu sangat berbahaya, bisa saja para penjaga di luar sana melihat kalian,"
Grock mengangguk.
"Sekarang pergilah, jaga diri kalian baik-baik ... ,"
Yelda menatap Haaland tanpa celah kedip sedetikpun. "Kamu juga, Haaland ... jaga dirimu baik-baik,"
Yelda bergerak maju, menjulurkan kedua lengannya dan melingkar di leher Haaland. Pelukan itu benar-benar ia resapi, ia merasakan pelukan hangat yang menjulur di setiap syaraf tubuhnya.
"Mengapa kamu memelukku begitu lama, Putri? Apa kamu sudah mengakui bahwa kamu jatuh cinta terhadap diriku?" bisik Haaland di telinga Yelda.
"Entahlah—" gumam Yelda. "Aku berharap ini bukanlah pertemuan terakhirku denganmu,"
"Tentu saja, kita akan bertemu lagi, aku yakin kamu bisa, Yelda, kamu adalah gadis paling pemberani yang ada di dunia ini,"
Akhirnya Yelda tersenyum dan melepaskan dekapannya.
"Ayo, Putri, kita harus segera pergi dari sini," lanjut Grock.
Yelda mengangguk pada Grock dan berkata, "kamu benar, Grock,"
"Haaland, kami pergi," kata Yelda sambil menyelipkan kunci itu di kantong dalam jubahnya.
Yelda mengikuti langkah Grock yang terseret-seret di atas gumpalan lumpur Galantris. Mereka terus bergerak di balik bayang-bayang bangunan ringkih yang bisa menyembunyikan mereka dari para Galantrian liar maupun manusia asing yang berkeliaran di Galantris.
"Kamu yakin dengan jalannya, kan?" tanya Yelda.
"Jangan ragukan aku, Putri!"
"Em, baiklah, aku percaya padamu,"
"Begitu lebih bagus,"
Yelda terus bergerak, tangannya berpegangan pada gagang pedang yang terselip di pinggangnya.
__ADS_1
Saat tengah berjangan dengan cepat di sebelah gerbang Galantris tiba-tiba muncul dua orang berambut merah menyeret seorang Galantrian lemah ke arah tanah lapang.
"Grock!" bisik Yelda sambil menarik Galantrian itu bersembunyi di balik pilar berlapis debu.
"Lihat itu!" lanjut Yelda masih dengan suara lirihnya.
Grock mengikuti arah pandangan Yelda.
"Apa yang mereka lakukan, Grock?" tanya Yelda.
"Entahlah—"
Yelda melihat erangan yang benar-benar membuatnyanya tak tahan, Galantrian itu butuh bantuan. Lagi pula mengapa orang-orang Shandor itu ada di Galantris? Ia harus menegur mereka!
Baru selangkah Yelda ingin melancarkan aksinya, Grock menarik lengannya. "Jangan, Putri,"
"Mengapa?"
"Fokuslah pada tugas kita, Haaland akan mengatasi mereka,"
"Tapi mereka itu Galantrian juga sepertimu, apakah kamu tidak peduli dengan mereka?"
"Apakah wajahku terlihat tidak peduli, Putri?" balas Grock. "Aku bahkan sangat takut, tapi aku menyembunyikan ketakutanku. Aku percaya pada kata-kata Haaland, itu semua karena dia telah menolong aku dan Galantrian lain. Sekarang aku ingin mendengarkan kata-katanya, aku akan pergi ke Danau Root, dan aku percaya dia bisa mengatasi orang-orang Shandor itu!"
Yelda menatap Galantrian di depannya dengan mata penuh empati.
"Ayo kita lakukan, Yelda. Kita buktikan bahwa ide gila Haaland untuk mengembalikan kejayaan Galantris itu benar," lanjut Grock. "Percayalah pada Haaland, dia akan mengatasi ini,"
Yelda diam sejenak, kata-kata Galantrian itu ada benarnya juga. "Baiklah,"
"Ayo, mwrka sudah jauh di depan, kita melewati jalan ini dengan cepat dan langsung ke gang itu,"
Yelda melihat arah jari abu-abu Grock yang menunjukkan sebuah gang kecil yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka. "Ayo,"
"Ke mana para Galantrian?" tanya Yelda setelah dia sadar bahwa selama perjalanannya, ia tidak melihat Galantrian yang terkapar lemah maupun Galantrian yang berlari untuk menyerang.
"Mungkin mereka bersembunyi dari orang-orang asing itu, mereka hanya liar, tapi mereka juga memiliki jiwa waspada,"
...
Hari sudah mulai sore, Yelda dan Grock akhirnya bisa sampai di hutan pegunungan selatan. Mereka menyusuri bayang-bayang pepohonan yang memanjang.
"Kita sudah hampir sampai di Danau Root, hanya perlu mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi, dan kita akan sampai di Renee, tempat di mana pondok yang kamu bicarakan berdiri,"
Yelda mengangguk mendengar penjelasan Grock. Dia sudah bisa mendengar aliran Sungai Gao yang menjadi sumber Danau Root.
Namun satu yang membuat Yelda heran, mengapa Galantrian ini tidak juga lelah, padahal kakinya sudah merasa sangat berat. "Apa kamu tidak lelah, Grock?"
__ADS_1
"Untuk apa lelah disaat sekarang?" balas Grock dengan sinis.
"Kamu benar,"