Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 29


__ADS_3

"Haaland, mereka bilang ada beberapa orang yang melapor bahwa mereka melihat naga?" Raut khawatir Yelda terlihat jelas di remang-remang cahaya malam.


"Aku benar-benar tidak memikirkan hal itu sebelumnya, Yelda. Sekarang pasti semua orang tengah berusaha memburuku,"


Yelda menyentuh bahu Haaland, berusaha untuk menenangkannya. "Tidak ada yang tahu jika naga itu adalah kamu, Haaland. Kamu tenang saja,"


Haaland mengangguk, "satu-satunya cara adalah dengan mengembalikan sihir Gao dan kejayaan Galantris secepatnya, Yelda."


Kini Yelda mengangguk, setuju dengan pernyataan pemuda Galantrian itu.


"Baiklah, Haaland. Ayo kita pergi ke Shandor sebelum matahari terbit agar orang yang ada di pondok itu tidak melihat kita,"


"Kamu benar, Yelda, ayo!" Haaland melingkarkan lengannya di pinggang Yelda dan bersiap untuk turun dari dahan pohon. "Tapi, Yelda." Raut wajah Haaland berubah. "Jika kita ke Shandor, maka pihak istana pasti bakal menangkapmu dan mereka juga pasti tidak akan membiarkan aku hidup, menurutku itu terlalu beresiko,"


"Tapi kita harus ke sana, Haaland." Yelda diam sejenak, menggerak-gerakkan bola matanya yang berarti tandanya dia tengah memikirkan suatu ide.


"Ahβ€” bagaimana jika kita pergi ke rumah Lord Lotta, dia adalah satu-satunya orang yang aku percaya di wilayah Shandor, dia sangat baik dan selalu mendukung seluruh ideku, Haaland."


Haaland mengangguk kecil, sepertinya pemuda itu agak sangsi, tapi dia menurut saja pada Putri Yelda.


Haaland tersenyum lalu berkata, "bersiaplah,"


"Jangan jatuhkan aku, Haaland!" kata Yelda saat Haaland sudah siap untuk meluncur turun.


"Aku akan menjatuhkanmu, Yelda." Haaland menyeringai seram.


"Apa!" Wajah konyol Yelda terpasang membuat Haaland tak kuasa menahan tawanya.


"Menjatuhkanmu ke dalam hatiku, Putri." Sekali lagi pemuda itu tersenyum.


Yelda merasa wajahnya panas, untung saja hari itu sedang malam jadi pipi merahnya tidak terlihat. "Bukan waktunya bercanda, Haaland,"


Haaland memandang Yelda yang sudah ada dalam dekapannya. "Jangan berteriak," kata Haaland untuk memperingati.


"Ya! Tentu saja!" Nada yang keluar dari mulut Yelda terdengar kesal. Putri itu masih belum juga menyadari dan menerima kenyataan bahawa dia menyukai Haaland.


Sedetik kemudian Yelda merasa tubuhnya meluncur mengikuti tarikan gravitasi bumi yang membuat rohnya seakan tertahan di udara.


Matanya tertutup rapat, sedang kedua tangannya melingkar di leher Haaland dengan erat.


Set ...


"Buka matamu, atau kamu ingin berjalan dengan mata tertutup?" bisik Haaland di daun telinga Yelda.


Yelda yang masuk mendekap erat Haaland belum sadar bahwa mereka sudah di ada di ats tanah.


Perlahan Yelda membuak matanya. "Syukurlah ... ," ucap Yelda sambil menghembuskan nafas panjangnya.

__ADS_1


"Ayolah, Putri Yelda. Tolong lepaskan, atau kamu bakal aku gendong," kata Haaland.


Yelda yang sadar bahwa dirinya masih memeluk Haaland segera melepaskan tangannya dari leher pemuda itu. "Maaf, aksimu benar-benar membuatku takut," kata Yelda dengan gigu.


"Stt ... , jangan terlalu keras!" bisik Haaland.


"Ayo," lanjut Haaland.


Yelda mengikuti Haaland yang menarik tangannya, mereka berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Yelda juga dengan penuh kewaspadaan memperhatikan langkahnya, ia tak mau kejadian seperti tadi terulang lagi.


Setelah dirasa mereka cukup jauh dari pondok itu kemudian Haaland berkata, "aku akan berubah menjadi naga lagi, Yelda."


"Apa!" Yelda membulatkan matanya. "Apa kamu sudah gila! Jika ada yang melihatmu bagaimana?"


"Aku melakukannya agar kita sampai di Aoka malam ini juga, agar tidak ada orang lain yang melihat dirimu dan juga diriku,"


Yelda berpikir sejenak, ia tahu ide itu sangatlah konyol. Apalagi saat orang-orang sudah tahu tentang naga Galantris yang masih hidup, tapi di sisi lain perkataan Haaland ada benarnya.


"Baiklah, Haaland. Tapi aku sarankan agar kamu berubah kembali menjadi wujud manusia di hutan barat Aoka, lalu kita akan berjalan kaki menuju rumah Lord Lotta," ujar Yelda.


Haaland mengangguk, "siap, Putri Yelda!"


Terbang di malam hari, benar-benar sangat terpaksa. Udara dingin yang terbelah oleh kepakan sayap Haaland benar-benar berhasil menusuk tulang Yelda. Tetapi putri itu diam saja, ia tak mau banyak mengeluh.


"Yelda, apa kamu tahu prajurit kerajaan Shandor membuangku di mana?" Tiba-tiba Haaland berbicara dengan suara parau wujud naganya.


"Mereka menenggelamkan aku di Danau Root, tapi tentu saja mereka tidak bisa membunuhku."


"Apa! Mereka menenggelamkanu di Danau Root!" Amarah gadis itu keluar, entah mengapa tapi gadis itu tidak terima.


"Ya ... seperti yang kamu dengar dari orang-orang tadi,"


"Kurang ajar! Aku akan memarahi mereka habis-habisan!" geram Yelda.


Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai. Haaland mendarat di sebuah hutan di sebelah barat wilayah Aoka.


"Apa aku masih tampan, Putri Yelda?" tanya Haaland dengan percaya diri.


"Tidak sama sekali!" ketus Yelda yang tidak sesuai dengan suara nuraninya. "Ayo kita mulai berjalan!"


Kali ini Yelda memimpin jalan, menyusui pepohonan rindang dan jalanan lembab. Yelda berjalan terus ke arah timur hingga hutan tadi tertinggal di belakangnya.


Jalanan yang terbuat dari susunan batu yang tak beraturan menyambut mereka. Kini sudah mulai terlihat gemerlap lentera dari rumah warga Aoka.


"Syukurlah, sepertinya orang-orang sudah tidur," kata Haaland.


"Sepertinya hanya kita yang berjalan-jalan di malam hari, Haaland," balas Yelda.

__ADS_1


Yelda terus berjalan mengikuti jalan dan kemudian mengambil arah kiri di persimpangan jalan.


Sebuah rumah besar dan halaman luas nyatanya lebih mencolok saat malam tiba. Lentera-lentera yang menerangi taman menyambut kedatangan dua sosok itu.


"Tunggu, Haaland." Yelda mengulurkan lehernya untuk melihat sebuah ruangan lantai dua yang masih tersinari dengan terang. "Sepertinya Lord Lotta masih terjaga,"


Haaland mengangguk kecil.


"Ayo, Haaland, ikuti aku!" Kini Yelda yang menarik lengan pemuda tampan itu.


"Kita lewat sini!" kata Yelda di depan sebuah gorong-gorong lebar dan kering.


"Apa?"


Yelda melihat wajah Haaland yang tidak percaya. "Ya, Haaland ini pintu rahasia."


"Tapi bagaimana kamu tahu?"


"Aku sering keluar lewat sini ketika para prajurit istana datang dengan dalih mencari keberadaanku," kata Yelda. "Ayah selalu saja menyuruh mereka untuk mencariku, dan sialnya para prajurit seolah-olah tahu jika aku ada di rumah ini! Menyebalkan sekali!"


Haaland terlihat menahan tawanya, tapi tidak bisa, senyuman itu keluar lagi.


"Jangan menertawakan aku! Ayo!"


Yelda memasukkan tubuhnya ke gorong-gorong sedalam 1 meter dan lebar yang juga kurang lebih 1 meter. Hadir itu merangkak dan memasuki mulut gorong-gorong yang terhubung dengan rumah Lotta.


Cklek ...


Pintu terbuka, kini mereka sudah berada di rumah bawah yang kosong dan tanpa cahaya. Mata mereka tidak bisa melihat di kapasitas gelap yang seperti itu.


"Tunggu," ucap Haaland.


Yelda bahkan tidak tahu di mana pemuda itu berdiri.


Tiba-tiba percik cahaya mengalahkan kegelapan di ruangan itu. Yelda bisa melihat bola cahaya yang kecil meliuk-liuk dari atas telapak tangan Haaland.


"Tidak perlu melongo seperti itu, Yelda, kamu terlihat konyol!" ledek Haaland.


Bagaimana tidak terpukau, ia menyaksikan sihir Gao bekerja di tangan pemuda itu, sihir yang sudah sirna sejak Galantris runtuh.


"Wow!"


"Ayo tunjukkan pintu masuknya sebelum sihir ini lenyap, kekuatanku sangat lemah!" ujar Haaland.


Yelda hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Dengan cahaya putih yang menerangi sebagian ruangan, Yelda segera berlari menuju pintu kayu dan membukanya.


Pintu itu tidak pernah di kunci, karena memang tidak ada yang tahu selain Lord Lotta, istrinya, dan Yelda.

__ADS_1


__ADS_2