Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 24


__ADS_3

Pagi itu suasana di Shandor begitu mendung di bawah hangatnya cahaya surya yang mulai mengintip dari balik Gunung Noris. Orang-orang berbondong hadir ke kuil untuk memberikan penghormatan terakhir pada putri pewaris tahta yang amat mereka sayangi.


Suasana riuh tangisan ratusan penduduk menggema di kubah kuil. Karangan bunga-bunga segar membanjiri pinggiran jalan utama di Kota Shandor.


Rowan berdiri di antara para petinggi dan bangsawan dari seluruh wilayah Shandor yang ikut dalam upacara itu, termasuk Duke Lotta dari Aoka dan istrinya, Duke Roin dari Renee dan juga Haazard, mantan barisan militer dari Aoka.


“Aku tidak menyangka Yelda telah tiada, Lord Faramis,” ucap Lotta. Duke Aoka itu memberikan bela sungkawanya pada raja yang terduduk diam di depan lonceng kuil.


Faramis hanya diam tanpa ekspresi, ia memendam segalanya. Matanya yang cekung teralihkan pada pendeta kuil yang mulai memanjatkan doa pada Tuhan mereka.


“Kami juga tida meyangkanya, Lord Lotta,” balas Rowan. Tetapi Lord Lotta tidak menggubris lagi, ia tahu betul seperti apa Rowan itu, bagaimanapun Rowan memiliki hubungan darah dengan orang Mores.


Beberapa barisan prajurit berdiri tegap di tengah-tengah kerumunan rakyat yang juga ingin ikut memberikan penghormatan terakhir bagi Sang putri.


Pangeran Dominic juga terlihat di antara barisan-barisan itu, mengenakan setelan hitam, seperti semua pengunjung yang hadir. Bagaimanapun juga ia adalah tunangan dari Putri Yelda, kesedihan jelas terlihat di matanya.

__ADS_1


Upacara berjalan dengan mulus tanpa ritual pemakaman. Mereka hanya berdoa pada Tuhan agar jiwa Yelda dapat bahagia di alam barunya. Mereka berdoa agar alam mengembalikan jasadnya.


Tanpa ada orasi apapun upacara itu selesai, para bangsawan dan anggota kerajaan berjalan meninggalkan kuil dengan diiringi barisan prajurit berseragam lengkap.


“Raja Faramis, aku benar-benar berduka atas kepergian Yelda,” ucap Dominic, dia mengikuti barisan prajurit untuk kembali ke istana kerajaan Shandor.


“Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Pangeran Dominic.” Raja Faramis pergi begitu saja setelah menjawab. Dia tahu, Texan pasti bakal menarik semua dana yang telah diberikan kepada kerajaannya.


...


“Anda benar, Lord Lotta. Dia itu seperti api bagi kita, dia mengobarkan semangat pada kita, dan juga hanya dia yang berani menentang raja,” sahut Hazard dengan berbisik.


“Aku benar-benar putus asa, Lord Lotta,” ujar Lod Roin dan menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi.


...

__ADS_1


Rowan masuk dengan tiga orang Mores yang juga berniat utuk menyampaikan duka menreka pada Raja, tapi hal itu justru memicu suhu panas di kubah istana. Mereka tidak hanya menyampaikan duka mereka, tapi mereka juga berhasil memengaruhi Raja Faramis.


“Kami menyampaikan duka mendalam bagi apa yang terjadi di Shandor, Yang Mulia,” kata salah satu Morian itu.


“Faramis, mereka mengira bahwa kematian putri Yelda ada hubungannya dengan naga Galantris, dan menurutku itu masuk akal,” kata Rowan.


Diam-diam Lord Lotta dan dua temannya menguping dari balik pintu ruang tamu.


“Kami sebagai orang Mores sadar akan apa yang terjadi antara negara ini dengan negara kami, Yang Mulia. Tapi itu semua dikarenakan perdebatan akan Galantris, kalian sangat mendukung Galantris, sedangkan kami benar-benar tidak suka dengan Galantris.” Orang Mores itu mulai menyemburkan apa maksud kedatangannya ke Shandor. “Dan sekarang Galantris sudah musnah, tidak – lebih tepatnya Galantris berubah menjadi liar. Kalau kita terus membiarkan Galantris hidup dalam kegilaan, tidak mustahil jika lambat laun Galantris bakal menggerogoti Shandor juga, Yang Mulia.”


Faramis mengangguk seakan ia mulai menangkap yang di maksudkan oleh Morian itu. “Lalu apa yang ingin kalian rencanakan?”


“Jika Anda berkenan, Yang Mulia, kami ingin mengajak Shandor unuk bekerja sama memusnahkan Galantris, kita bakal kota itu sehingga tidak ada yang tersisa, jadi tidak ada lagi ancaman dai sihir gila maupun bahaya dari Galantris,” balas orang berkulit hitam itu. “Anda tentu tidak ingin Galantris memakan korban lagi, Yang Mulia,” lanjut Morian itu.


“Menurutku apa yang mereka katakan itu tidak ada salahnya, Faramis. Kamu tahu sendirri bukan? Galantris sudah merenggut putrimu, Galantris bahkan tidak mengembalikan jasadnya padamu,” bisik Rowan di telinga Raja Faramis, nadanya dalam dan penuh ketertarikan.

__ADS_1


Faramis mengepalkan tangannya, “kalian benar!”


__ADS_2