Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 47


__ADS_3

Sepanjang hari, tidak sedetikpun Yelda beranjak dari kamarnya. Bahkan piring-piring yang diantar oleh dayangnya juga tak ia sentuh sama sekali. Hanya gelas air saja yang ia sentuh, itu pun hanya disentuh, Yelda tidak tertarik untuk meneguknya walau hanya satu tegukan.


"Aku tahu siapa dalang di balik semua ini," gumam Yelda. Bibirnya kering dan pucat, tapi ia tak peduli.


"Lihat saja nanti!" geram Yelda.


Saat dia berdiri dan hendak pergi, tiba-tiba Dominic sudah ada di belakangnya. Pintu kamar memang tidak menimbulkan bunyi sama sekali, jadi Yelda tak sadar jika Dominic masuk ke kamarnya.


"Kamu belum makan?" ucap Dominic.


Yelda bisa melihat raut simpatik dan khawatir di permukaan wajah pria yang kini adalah suaminya.


"Aku tidak kepingin," balas Yelda. Lalu ia berkata, "ngomong-ngomong, apa kamu bisa membantuku, Dominic?"


"Tentu saja, Yelda. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" balas Dominic dengan senang hati karena Yelda meminta bantuan padanya untuk yang pertama kali.


"Bisakah kamu mencari Prajurit Han dan tabib istana untuk datang ke ruanganku, dan tolong tinggalkan aku sendiri, Dominic," kata Yelda dengan penuh penekanan. "Aku menghargai rasa simpatimu, tapi kali ini aku tidak ingin diganggu, ada hal penting yang harus aku selesaikan,"


Dominic mengangguk dengan bisu, lalu dia pergi.


Apakah Aku terlalu kasar padanya? batin Yelda yang melihat kepergian Dominic.


Yelda membuang pikiran itu jauh-jauh dan kembali duduk di sofa dengan tangan bersedekap dan kaki yang menyilang. Satu kaki yang menopang tidak bisa diam sampai seseorang masuk ke kamarnya.


"Hormat, Tuan Putri,"


Yelda bangkit dan menoleh. Han ada di samping sofa dengan penampilan seperti layaknya seorang prajurit kerajaan.


"Apakah benar Anda meminta saya menemui Anda, Tuan Putri?" lanjut Han dengan sopan.


"Benar, Han. Terima kasih sudah datang,"


Han membalas dengan menundukkan setengah badannya.


"Silakan duduk, Han," kata Yelda, nadanya tenang walaupun dalam hatinya gundah.


"Terima kasih, Putri Yelda,"


Yelda mengangguk.


Tak lama kemudian kedatangan Pak Tabib berhasil memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Selamat siang, Tuan Putri. Apakah Anda membutuhkan bantuan saya?"


Yelda bisa menarik kesimpulan bahwa tabib tua itu memiliki ketakutan yang mendalam.


"Benar, Pak tabib," kata Yelda. "Tapi kali ini aku tidak membutuhkan resep obat apapun dari Anda. Melainkan aku membutuhkan kesaksian Anda."


Wajah tabib itu memucat, butir-butir keringat mulai muncul di balik rambut-rambut halusnya yang putih. Jelas sekali bahwa tabib itu ketakutan.


"Santai saja, Pak tabib, silakan duduk ... ,"


Yelda bangkit untuk mengambil beberapa botol air dari lemari di pojok ruangannya.

__ADS_1


"Sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan pada Anda berdua," kata Yelda.


"Namun yang pertama, aku ingin bertanya pada Pak Tabib," lanjut Yelda seraya memandang lekat wajah tabib tua. "Apakah ayahku meminta obat pada Anda kemarin malam?"


Tabib itu berpikir sejenak, sambil meremas jari-jarinya tabib itu lalu berkata, "Saya rasa tidak, Putri,"


Yelda mengamati mata tabib itu, lelah, ketakutan semakin lebar dan jelas.


"Tapi," lanjut tabib.


Yelda memiringkan kepalanya.


"Tapi di siang hari setelah upacara pernikahan Anda, Lord Rowan mengatakan bahwa Raja membutuhkan obat untuk rasa pusingnya,"


"Lalu apa yang terjadi, Pak?"


"Saya hendak pergi ke ruang kerja Raja Faramis, tapi Lord Rowan menghentikan saya, dia bilang— biar dia saja yang mengantarkan ramuan itu pada Raja." Tabib berhenti. "Dan saya memberikan botol ramuan itu padanya,"


"Pada siapa?" tanya Yelda untuk meyakinkan.


"Lord Rowan, Putri."


Yelda mengangguk kecil. Ia teringat bahwa kemarin saat dia ingin menemui ayahnya di ruang kerja, para penjaga di depan pintu ruangan itu menghentikannya dan menahannya agar tidak masuk ke ruang itu.


"Begini, Pak tabib— aku harus terus terang pada Anda. Apakah Anda tidak curiga dengan keadaan jasad ayahku saat ditemukan tewas? Maksudku, Anda kan ahli kesehatan, jadi aku yakin Anda tahu,"


Yelda menatap tabib, segelintir keringat terlihat meluncur dari pelipis tabib itu.


"Aku tidak mengatakan bahwa Anda membunuhnya, Pak ... ," kata Yelda.


"... Aku yakin Anda tidak akan melakukan kejahatan itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa dugaanku benar, Anda tidak perlu khawatir ataupun merasa takut," ujar Yelda.


Yelda menatap tabib itu lebih dalam, lalu melanjutkan kalimatnya, "jangan katakan pertemuan kita pada siapapun— siapapun! Jangan. Termasuk pelayan, ataupun Dominic! Jangan!"


Han hanya diam mematung, di samping tabib itu.


"Sekarang Anda boleh kembali bekerja," kata Yelda. "Percayalah, aku tidak mencurigai Anda, Pak. Jadi bekerjalah dengan baik,"


Setelah tabib itu keluar dari ruangannya Yelda beralih menatap Han, prajurit muda yang malam itu menemaninya jalan-jalan hingga memergoki Rowan yang bersekongkol dengan Morian.


"Kamu paham sekarang?" kata Yelda.


Han menggeleng dengan luwes.


"Astaga! Jelas sekali ini perbuatan pamanku! Aku tidak akan mengampuninya, Han— tidak akan!"


"Putri Yelda, Anda harus tenang, jangan sampai bertindak bodoh dengan memvonis begitu saja,"


"Semua sudah jelas, Han. Dia ingin menguasai Shandor, kamu juga mendengarnya sendiri, kan?" kata Yelda.


Beberapa detik suasana hening. "Han, aku percaya padamu. Aku hanya percaya padamu untuk saat ini," lanjut Yelda.


"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Putri Yelda," balas Han, wajahnya memerah karena malu.

__ADS_1


Yelda bangkit dan berjalan menuju jendela kamarnya. "Berhati-hatilah pada Rowan, dia bisa melakukan apapun, Han, aku ingin kamu awasi dia,"


Yelda memicingkan mata saat ia melihat barisan militer asing yang mencoba menembus gerbang istananya. "Han? Kita kedatangan tamu,"


Han bangkit dan langsung berlari menuju tempat Yelda berdiri, dan melongok ke jendela.


"Tentara Mores!" seru Han.


"Apa!" seru Yelda yang jantungnyabterasa hampir pecah.


"Saya harus pergi, Putri," kata Han yang segera berlari keluar dari kamar itu.


Baru saja tertutup, pintu terbuka lagi. Kali ini Dominic muncul di hadapan Yelda dengan wajah tegang. "Mores menyerang kita, Yelda!"


"Mereka membantai beberapa warga, dan sekarang mereka memaksa masuk ke istana!" lanjut Dominic.


Yelda beralih menatap ke jendela lagi. Bukan barisan tentara asing yang dilihatnya, tapi perang! Kekacauan ada di mana-mana. Prajurit Shandor kewalahan, dia juga melihat Han yang sudah bergabung dengan pasukan militer Shandor.


"Ya Tuhan! Apa yang terjadi!" Yelda hampir membuka pintu balkon ketika Dominic meneriakinya.


"Jangan! Kamu bisa terkena bidikan anak panah nanti!"


"Aku tidak bisa diam saja, Dominic!" seru Yelda. "Ternyata Haaland benar, Mores akan menyerang Shandor ... astaga apa yang aku lakukan ... ." Yelda segera memakai pakaian bertempurnya.


"Apa yang kamu lakukan! Yelda!"


"Aku harus bertindak, Dominic. Kali ini jangan hentikan aku!"


Yelda menyambar bilah pedangnya dan keluar dengan tegas, tanpa ada ketakutan sedikitpun. Tapi tekadnya menciut saat ia melihat penjaga yang sudah saling berjatuhan di koridor, darah membanjir di mana-mana.


Dua prajurit Mores yang serba hitam menghadangnya di ujung koridor.


"Mengapa kalian menyerang kami? Bukankah kami tidak menyatakan perang pada kalian?" seru Yelda,.dia merasa tenggorokannya gemetar saat itu.


"Itu semua karena Anda menghalangi kami untuk memusnahkan Galantris!" balas salah satu musuh.


Yelda menegakkan kepalanya. "Benar! Aku memang tidak akan membiarkan kalian menghancurkan Galantris!"


"Baiklah kalau begitu, kami rasa kami harus menyingkirkam Anda, Putri Yelda— " kata salah satu prajurit Mores yang kemudian mengayunkan pedangnya ke arah Yelda. "Aku berikan kesempatan bagi Anda untuk memberikan kata-kata terakhir Anda ... ,"


Yelda segera menangkis serangan itu dengan bilah pedang kesayangannya. Denting bilah yang saling beradu memenuhi lorong.


"Dua pria melawan satu wanita. Benar-benar pengecut!" kata Yelda sesaat sebelum dirinya tersungkur.


Bahunya terluka, darah mengucur deras hingga rasa perih tidak dapat terasa. Lututnya pegal karena menghantam lantai begitu keras.


"Selamat tinggal, Putri Yelda ... ," kata musuh sambil mengangkat pedang ke atas tubuh Yelda.


Deng ...


Denting kuat tiba-tiba muncul menyingkirkan ujung pedang yang nyaris menusuk Yelda.


"Jangan berani menyentuh istriku!"

__ADS_1


__ADS_2