Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 26


__ADS_3

Gadis itu membuka lipatan surat dengan sangat hati-hati. Ternyata benar stampel itu berasal dari kerajaannya, Shandor dengan tertanda Rowan.


"Haaland! Lihat ini!"


Setelah membuka penuh surat itu, Yelda segera membaca perlahan dengan suara yang jelas.


...° •—————• °...


Temanku Charlos yang aku hormati,


...Aku merasa aku membutuhkan bantuan darimu, kamu tahu dari kecil aku sudah mengenalmu. Kamu itu sangat hebat dalam membuat ramuan obat-obatan....


...Aku ingin mmesan seuatu padamu, sesuatu yang bisa membuat hewan menjadi penyakitan dan mati, karena aku perlu mengusir seekor tikus penganggu di istana ini....


...Tolong kabari aku secepatnya jika kamu bersedia membantuku. Aku bersedia membayar berapapun jumlah yang kamu minta....


^^^—Rowan, teman lamamu^^^


...° •—————• °...


"Rowan?" Haaland mengernyit. "Bukankah itu nama pamanmu, Yelda?"


"Ya, kamu benar, Haaland." Yelda membolak-balikkan surat itu dengan penuh kebingungan yang menggema.


"Siapa Charlos ini?" Yelda mengarahkan surat kepada Haaland.


"Yang pasti dia ini pemilik pondok ini, entah siapapun dia," balas Haaland


"Tapi apa hubungannya dengan pamanku?"


"Di situ sudah tertulis jelas bahwa pamanmu memesan sebuah racun tikus, Yelda." Haaland menatap Yelda dengan mata birunya yang sayu.


"Aku tidak jika tahu di istanaku ada tikus," heran Yelda.


"Mungkin saja tikus-tikus itu berasal dari penjara bawah tanah, pasalnya di bawah sana sangat cocok untuk para tikus membangun sarang," ujar Haaland.


Yelda mengangkat bahunya, "ya, mungkin saja,"


"Yelda, mungkin kita bakal menemukan sesuatu yang lebih besar di sini!"


"Sesuatu yang besar?" Yelda terkekeh sambil melihat sekeliling pondok sempit itu, seakan Yelda tengah berkata, pondok ini terlalu kecil untuk sesuatu yang besar.


"Tidak ada salahnya kita mencoba bukan?" Haaland tersenyum seperti biasanya.


"Aku heran denganmu, Haaland," ucap Yelda. "Kamu sendiri yang bilang tindakan kita ini melanggar etika, tapi kamu malah yang bersemangat kali ini."


"Yah— bagaimanapun aku sudah terlanjur penasaran, Yelda."


Yelda memasang wajah konyol, mengejek Haaland. Tapi dia juga merasa penasaran, apalagi pondok itu menurutnya agak mencurigakan.


Yelda dan Haaland segera bergerak untuk menggeledah pondok itu dengan hati-hati, jangan sampai ada sesuatu yang berubah tempat, maupun posisi.


Yelda menelusuri bagian dinding belakang yang terdapat sebuah lemari kecil, namun tidak ada apapun di setiap lacinya. Hanya ada sebuah buku kuno bersampul kulit hewan.

__ADS_1


"Batu Hitam?" gumam Yelda membaca tulisan buram yang ada di sampul depan buku itu.


Namun Yelda tidak merasa tertarik dengan buku kecil itu, ia hanya membaca sampulnya dan kembali menutup laci.


Lalu matanya memandang seikat bunga lavender kering yang tergantung di dinding sebelah lemari. Tangannya menyentuh lavender itu dan menelusuri dinding tanpa sengaja yelda menemukan celah tipis di dinding itu.


Gadis Shandor itu baru saja sadar jika paku yang digunakan untuk menggantungkan lavender kering adalah sebuah tuas dari pintu rahasia itu.


"Haaland!" seru Yelda. "Lihat ini!"


Yelda menyingkirkan ikatan lavender kering dan menarik dan mendorong paku itu. Tetapi tidak terjadi apapun.


"Pintu rahasia," heran Haaland.


Haaland yang sudah berada di samping Yelda mencoba menarik pintu itu ke samping, betapa terkejutnya mereka ketika dinding lapis itu ternyata sebuah pintu geser rahasia.


"Rupanya pintu geser," kata Yelda yang melongo tidak percaya.


Sebuah ruangan gelap menyapa di hadapan mereka berdua. Tapi sebuah cahaya samar bisa mereka lihat di kegelapan itu. Cahaya itu hanya bergerak melingkar-lingkar seperti tertahan sesuatu.


"Apa itu, Haaland?"


"Aku juga tidak tahu, Yelda." Haaland mengulurkan tangannya pada Yelda, memasang semua perasaan waspada. "Ayo kita masuk dan lihat benda apa itu."


Mereka melangkahkan kaki ke dalam garis kegelapan. Semua tampak hitam, hanya cahaya redup yang terus bergerak itu saja yang dapat mereka lihat.


Setelah Yelda merasa matanya bisa menyesuaikan di kegelapan dia bisa melihat bahwa ruang itu ternyata sangatlah sempit, mungkin luasnya hanya 4 meter persegi saja.


Sebuah meja berbentuk aneh terpasang di bawah cahaya yang bergerak-gerak. Ternyata saat dilihat dari dekat cahaya redup itu terkunci oleh asap-asap hitam yang juga melingkar di sekitarnya, seperti menjadi jeruji bagi cahaya itu.


"Apa?" Yelda melompat terkejut ketika suara Haaland tiba-tiba menusuk rongga telinganya.


"Ini!" Haaland menengadahkan tangannya seakan ingin sekali mengambil cahaya itu. "Ini batu keseimbangan Galantris, Yelda!"


"Batu keseimbangan?" Tentu saja Yelda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Haaland. Pelajaran yang ia dapat tidak pernah sakalipun menyinggung tentang batu keseimbangan.


"Jadi ini penyebabnya!" geram Haaland. "Siapa yang berani melakukan ini!"


Yelda bisa melihat rahang pemuda itu mengeras, mata pemuda itu terlihat garang dengan kedua alis yang bertemu.


Haaland mengepalkan tangannya, sepertinya pemuda itu benar-benar marah. "Siapa yang berani melakukan ini!"


"Haaland?"


Tanpa menjawab Haaland mengarahkan tangannya dengan hati-hati untuk mengambil batu keseimbangan yang meliuk-liuk.


Bugh ...


Brakk ...


Tiba-tiba Haaland terpental jauh ke belakang hingga tubuhnya menghantam dinding kayu dengan keras.


"Haaland!" Yelda menghampiri Haaland yang wajahnya masih memendam amarah.

__ADS_1


Namun Haaland hanya menggumam geram. "Kristal kegelapan!"


"Haaland," ucap Yelda, dia mengusap kepala Haaland hingga ke leher pemuda itu untuk menenangkannya. "Kendalikan dirimu,"


Yelda bisa merasakan nafas pemuda itu yang berhembus cepat. Haaland masih menggeram. Yelda sebenarnya benar-benar takut dengan keadaan Haaland saat ini, tapi ia harus menenangkan dirinya agar bisa menenangkan Haaland.


Yelda mengusap wajah Haaland dengan lembut, "ada apa?" bisiknya.


Haaland terlihat menarik nafasnya dalam-dalam dan memejamkan mata. Ia menjatuhkan kepalanya di bahu Yelda, membiarkan dirinya terjatuh dalam dekapan hangat putri itu.


Yelda merasa jantungnya berdegup kencang, dia berhasil menenangkan Haaland, tapi dia sendiri tidak bisa menenangkan denyut jantung yang menggebu dalam dadanya saat Haaland menjatuhkan kepala ke bahunya. Ya Tuhan ...


"Apa kamu sudah merasa tenang sekarang?" Yelda mengangkat tubuh Haaland dari dekapannya.


Haaland mengangguk kecil, wajahnya masih menyimpan kegeraman tapi sekarang sudah bisa terkontrol.


"Coba ceritakan padaku, mungkin saja aku bisa membantumu, Haaland."


"Yelda," kata Haaland, pemuda itu menggeleng tipis. "Itu batu keseimbangan Galantris,"


Yelda mengangguk.


"Batu itu benar-benar berpengaruh dengan semua yang ada di Galantris."


"Apakah kamu ingatbketika aku bilang kita harus menemukan cawan suci?"


Sekali lagi Yelda mengangguk.


"Cawan itulah yang menopang dua batu keseimbangan. Satu untuk keseimbangan sihir, dan satu lagi untuk keseimbangan alam."


"Jika salah satu dari batu itu hilang, atau sampai jatuh ke tangan yang salah, akibatnya bakal fatal!"


"Jika salah satu dari batu keseimbangan hilang, maka fungsi batu yang lain juga bakal melemah, bahkan bisa saja musnah!"


Yelda mengerutkan keningnya.


"Seperti sekarang ini! Yelda, apa kamu sadar? Itu batu keseimbangan alam Galantris!" Haaland mengguncangkan tubuh Yelda.


"Jadi? Maksudmu batu itu telah dicuri dari Galantris?" Yelda mengalihkan pandangannya, menengok ke belakang dan melihat cahaya yang masih berputar-putar seperti ingin melepaskan diri dari jeratan asap-asap hitam.


"Seseorang mencuri batu itu sehingga batu sihir kehilangan fungsinya dengan baik. Dan itu menyebabkan semua sihir Galantris dan alamnya rapuh!"


"Tapi kenapa saat kamu ingin mengambil batu itu kamu malah terpental?" tanya Yelda.


"Batu kristal kegelapan, mereka mengunci batu itu! Kekuatannya sangat besar Yelda! Apalagi sihirku lemah saat ini!"


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Haaland? Apa kita bisa mengembalikan kejayaan Galantris jika batu itu berhasil kita rebut kembali?"


Haaland mengangguk, "memang itu yang harus kita lakukan, Yelda."


"Tapi bagaimana cara kita mengalahkan batu kristal kegelapan itu?" tanya Yelda.


"Entahlah, disini tidak ada petunjuk apapun, entah itu lembaran atau buku."

__ADS_1


"Buku?" Yelda samar-samar mengingat sebuah buku yang tadi ia lihat di laci, 'Batu Hitam' Apakah buku itu mengandung petunjuk?


__ADS_2