Mencintai Naga Terakhir

Mencintai Naga Terakhir
BAGIAN 31


__ADS_3

"Ayo, Haaland, kita harus segera pergi," ucap Yelda. "Mumpung langit masih petang,"


Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 3 dini hari, langit Aoka masih dihiasi oleh gemerlap bintang-bintang yang berkerumun di sekitar bulatan kecil bercahaya.


Haaland beranjak dari kursi yang didudukinya. "Baiklah, Yelda, aku rasa kamu benar,"


"Apa kalian tidak ingin istirahat lebih lama lagi?" tanya istri Lord Lotta.


"Sebenarnya aku ingin sekali bisa tidur dengan tenang, Bu. Tapi ketenangan itu tidak mungkin terjadi jika rencana kami belum terselesaikan," balas Yelda dengan nada lembutnya.


"Lord Lotta, sebelumnya kami mohon maaf telah menganggu waktu istirahat kalian semua," ujar Haaland.


"Oh, Nak, tidak perlu meminta maaf, aku akan selalu mendukung kalian," balas Lord Lotta, mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Haaland.


"Pak Dolken, terima kasih sudah membantu kami, informasi dari Anda akan sangat berguna," tambah Yelda.


"Sudahlah, Nak. Tapi kalian harus hati-hati, Morian pasti selalu mengintai pergerakan yang sekiranya mencurigakan." Tetua itu berbicara sambil mengusap-usap jenggot putihnya.


Tatapan Duke Lotta agak mengandung belas kasih pada dua muda-mudi itu. "Apa kalian yakin akan langsung pergi sekarang?"


"Iya, Lord Lotta," balas Yelda dan Haaland kompak. Mereka lalu saling berpandangan dan saling melempar senyum.


"Baiklah, kalian membawa kuda kemari?" tanya Lotta.


"Tidak, Lord Lotta, kami berjalan kaki," sahut Haaland dan memandang Yelda dengan sesutu yang tidak dapat Yelda siratkan.


"Kalau begitu, ambilah kuda milikku, dengan begitu kalian akan cepat sampai ke Galantris."


"Tentu saja, Lord Lotta." Dengan girang Yelda menjawab tawaran itu. Ia sudah lama jatuh cinta dengan kuda-kuda milik Duke Lotta.


Kemudian Yelda dan Haaland turun ke bawah, disongsong oleh tiga orang itu, Lord Lotta dan istrinya, serta Pak Dolken.


Sebuah pondok kandang kuda terletak di halaman belakang rumah itu. Suara pintu yang terbuka membuat kuda-kuda yang tenang agak gelisah, tapi kegelisahan mereka sepertinya tidak berlangsung lama.


"Ini, Putri Yelda, kamu suka sekali dengan Yeta bukan?" Lord Lotta menuntun seekor kuda berbulu coklat mengkilap. Tubuh kuda itu terlihat segar dengan otot-otot yang menonjol.


Yelda yang melihat Yeta datang padanya tidak bisa berkata apapun, mulutnya menganga kagum, matanya berbinar, dan dalam hatinya ia sungguh bahagia.


"Aku sudah tahu dari dulu, kamu selalu bertanya-tanya tentang Yeta, dan saat kamu masuk ke sini, kamu selalu memandang Yeta dengan kekaguman, aku tahu itu, aku selalu memperhatikanmu," ujar Lotta.


Saat itu juga Yelda tersipu malu. Karena merasa tidak enak, Yelda menolaknya. "Aku sangat kagum dengan Yeta, Lord Lotta. Tapi aku rasa jangan berikan dia padaku, aku takut tidak bisa menjaganya," ucap Yelda. "Lebih baik berikan saja aku kuda yang lain,"


"Tidak, Yelda, anggak saja ini sebagai hadiah dariku karena kamu masih hidup dan tidak meninggalkan kami semua,"

__ADS_1


Yerda tersenyum haru lalu ia memeluk hangat Lord Lotta, kemudian pelukannya beralih ke Dutchess Aoka.


"Aku sangat berhutang kepada kalian, entah bagaimana caraku membalasnya," ujar Yelda.


"Oh, jangan berkata seperti itu, kamu ini putri kami juga, dan kami sangat menyenangimu, Nak."


Yemda dan Haaland memakai jubah hangat milik Lord Lotta, mereka sudah berada di atas punggung kuda masing-masing dan bersiap untuk pergi.


Kuda yang ditunggangi oleh Haaland berwarna hitam pekat dan pernah menjuarai kontes ketampanan kuda dari benua Qwertis.


"Hati-hati, Nak!" seru Lord Lotta pada keduanya yang mulai memacu kuda dengan perlahan.


Langkah demi langkah kedua kuda itu menghilang sudut jalan, menuju sebuah hutan yang tadi mereka lewati.


"Haaland, bagaimana ini?"


"Apanya yang bagaimana, Yelda?"


Yelda mendecak. "bukankah Galantris itu cukup jauh dari sini? Lalu kita juga masih perlu menyebrangi sungai, bagaimana jika matahari menyusul kita? Kita bisa saja berada dalam bahaya, orang-orang bakal melihat kita."


Yelda memacu kudanya agak cepat di dalam hutan, lalu berhenti.


"Kita tinggalkan kuda ini di sini, aku akan berubah menjadi naga, kamu tenang saja, kita bakal sampai di Galantris sebelum matahari terbit," kata Haaland sambil turun dari kuda hitamnya.


"Aku yakin Lord Lotta bakal bisa mengatasi semuanya." Haaland mengulurkan tangannya pada Yelda, berniat memberi bantuan pada putri itu untuk turun.


Namun Yekda lebih memilih untuk turun tanpa bantuan Haaland, ia mengabaikan begitu saja uluran itu.


"Ck ... ," decak Haaland. "Sombong sekali,"


Yelda mengusap-usap wajah Yeta dan berkata, "Yeta, maafkan aku, tetapi kamu akan lebih aman jika tidak ikut ke Galantris. Ayku yakin kamu bisa menemukan jalan untuk kembali ke rumahmu,"


Kemudian Yekda mengangguk pada Haaland.


Kedua kuda itu meringkik dan panik ketika melihat Haaland berubah menjadi seekor naga.


"Astaga, Haaland, bagaimana ini?"


"Ayo cepat, Yelda! Naiklah ke punggungku sebelum kuda-kuda itu membangunkan warga!"


Yelda segera naik ke atas tubuh naga putih, melingkarkan lengannya erat-erat saat naga itu bergegas terbang dengan kecepatan yang tidak biasa.


Haaland mengepakkan sayapnya dan terbang lurus ke arah timur.

__ADS_1


"Haaland, aku takut jika ada yang melihat kita!" seru Yelda memecah angin di langit Shandor.


"Tenang saja, Yelda."


"Kamu juga pasti takut kan, Haaland?" tanya Yelda.


"Tentu saja, aku bahkan sangat takut, tapi ketakutanku tidak akan menghalangi nyaliku!"


Beberapa saat kemudian, Haaland sudah mendarat di kubah bangunan Galantris, wujudnya segera berubah menjadi manusia pada umumnya, namun cahaya dari tubuh Haaland berhasil menyilaukan mata Yelda.


"Haaland, di mana pusat kekuatan Galantris dulu?" tanya Helda yang seakan tidak merasakan letih.


"Aku tidak tahu, Yelda, tapi kita ada di atas bangunan perpustakaan, aku ingin mencari tahu, apakah ada sebuah petunjuk di dalam bangunan ini," kata Haaland.


"Baiklah, aku rasa kamu benar, pasti ada informasi di perpustakaan. Tapi kamu tahu huruf-huruf Galantris kan?"


"Hal itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, Yelda." Haaland mengedipkan mata pada Yelda sambil mengembangkan senyumnya yang menyihir Yelda.


Namun Yelda mengelak nuraninya sendiri. Dia tidak ingin terlihat terpana dengan pemuda itu, sehingga Yelda memasang wajah kesal dan membuang muka.


"Baiklah, bagus!" ucap Yelda. "Sekarang bagaimana kita masuk ke perpustakaan?"


"Ayo kita turun, sepertinya tangga ini masih kokoh," ajak Haaland.


Yelda mengamati tangga berbahan besi itu dengan curiga, ia ingat ketika ia hampir saja mati saat tergelincir dari tangga yang tiba-tiba runtuh, untunglah saat itu Haaland menarik lengannya.


"Ayo! Atau kamu ingin aku gendong?" ucap Haaland menggoda Yelda.


"Tidak perlu!"


Dengan hati-hati Yelda menuruni tangga itu. Dan syukur saja dia berhasil selamat sampai ke bawah.


Dia langsung berada di sebuah ruangan yang luas, tidak ada apapun di ruangan itu, lantainya tertutup debuh yang datangnya entah dari mana.


"Sebelah sini," ucap Haaland sambil berjalan menuju lubang pintu berukir di sebuah dinding ruangan.


Yelda mengikuti pemuda berpendar itu, ruangan terasa lebih terang ketika Haaland masuk.


Rak-rak buku berjejer rapi, lantainya terlihat lebih bersih walaupun ada debu, tapi tidak sebanyak yang ada di ruang sebelumnya.


Yelda berjalan mengitari rak-rak buku dan mengintip dengan seksama huruf-huruf yang tertutup debu tipis dari rentetan buku-buku itu.


"Huh! Aku sama sekali tidak mengerti huruf Galantris, Haaland." Yelda menjatuhkan tubuhnya dan bersandar di sebuah rak paling samping. Untuk pertama kalinya, wajah Yelda terlihat lesu dan lelah.

__ADS_1


"Biar aku saja yang mencarinya, Yelda," ujar Haaland.


__ADS_2