
Di Shandor, keadaan semakin memanas. Apalagi Raja Faramis terpengaruh dengan kata-kata kebencian Rowan terhadap Galantris.
Beberapa rakyat berdatangan ke balairung istana. Mereka membawa kesaksian mengejutkan bagi seluruh rakyat Shandor.
"Aku bersaksi melihat seekor naga putih, Yang Mulia." ucap salah seorang pria paruh baya dengan pakaian berlapis tanah dan lumpur kering, sepertinya dia baru saja bekerja dari kebunnya.
Kesaksian itu tidak bisa dibilang remeh dan bohong, pasalnya beberapa rakyat juga memberikan kesaksian yang sama. Mereka semua memasang tampang ketakutan di bawah mencoloknya rambut merah mereka.
"Sudah aku katakan padamu, Faramis, Galantris bakal mengambil alih alam Qwertis, dan mereka bakal menyuntikkan virus kegilaan pada semua rakyat!"
Faramis tidak terlihat geram saat mendengar itu, raja itu justru terlihat pening. Ia menundukkan kepalanya dan terlihat memijat pelipisnya.
Drama apa lagi yang menimpanya sekarang? Baru saja ia melakukan penghormatan terakhir untuk putrinya. Tapi masalah baru langsung muncul tanpa memberinya jeda untuk beristirahat. Bahkan bunga-bunga di sepanjang jalan ke istana masih terlihat segar dibawah teriknya matahari.
Rowan memandang tiga pria Mores dengan mata yang memancarkan kebahagiaan.
Faramis menghela nafasnya, "baiklah jika begitu,"
"Rowan, tolong persiapan semua prajurit dan katakan pada mereka untuk bersiap-siap!"
Rowan berbinar-binar. "Kapan kiranya Anda ingin membakar Galantris, Raja Faramis?"
"Aku tidak bisa memutuskan sekarang, Rowan. Persiapkan saja mereka. Kita juga perlu persetujuan rakyat. Kamu tahu sendiri bukan? Masih banyak dari rakyat kita yang percaya dengan Galantris."
Rowan mengangguk.
"Kalian semua pergilah dulu dari sini," kata Faramis pada rakyat yang ada di balairung itu. "Dan kalian juga!" Tangannya menunjuk lada tiga orang Mores yang berdiri bagai noda di putihnya lantai balairung.
...
"Naga?" bisik Hazard yang masih menguping bersama dua rekannya.
"Itu tidak mungkin bukan?" sahut Duke Roin.
"Tidak mungkin," kata Duke Lotta.
"Menurutku kita harus kembali, mungkin saja ada informasi dari kota kita!" ucap Duke Lotta.
"Anda benar, Lord Lotta," balas Duke muda Roin.
Mereka segera berpamitan dengan pihak istana dan termasuk pada Raja Faramis. Lalu melakukan perjalanan ke kota mereka masing-masing. Duke Lotta dan Hazard, kembali ke Aoka, sedang Duke Roin dan pengawalnya kembali ke Renee.
...
Orang-orang Mores itu langsung kembali ke pondok milik Rowan yang digunakan sebagai tempat tinggal mereka. Pondok megah yang tidak terlalu besar, tetapi memiliki taman yang luas.
Rowan yang juga memiliki kepentingan pribadi, dia ikut bersama mereka ke pondoknya.
Tepat di saat kereta kuda istana yang mereka berempat tumpangi pergi, sebuah kereta kuda umum tiba.
Tiga ireang Mores dengan penuh penasaran mengerutkan dahi mereka, siapakah gerangan yang datang ke pondok itu?
Rowan dengan segera tersenyum, dia sudah tahu siapa yang akan datang hari ini.
__ADS_1
Seorang pria berjubah hitam dan bersorban tertutup turun dari kereta itu. Wajahnya tidak terlihat sedikitpun karena tertutup sorban.
Sebuah tas selempang yang terbuat dari anyaman pelepah pisang menggantung di bahu pria itu.
"Selamat datang, kawan," sapa Rowan. "Mari masuklah terlebih dahulu!"
Rowan menyongsong sosok baru itu memasuki pintu pondoknya yang unik, ukiran seorang seniman dari Renee membuat pintu itu mahal.
Tiga orang Mores lainnya hanya mengikuti dari belakang tanpa sepatah kata keluar dari mulut mereka.
"Silakan duduk, Charlos," ucap Rowan ketika mereka sudah berada di dalam ruang tamu yang tertata rapi, tapi masih terlihat kosong.
Pria itu membuka sorbannya, menampakkan sebuah wajah yang tidak asing bagi ketiga orang Mores yang berdiri di samping sofa tamu.
Wajah berkulit hitam dengan hidung rungcing seperti paruh burung membuat orang itu agak menyeramkan. Rambut pria itu dikepang seperti gimbal.
"Ngomong-ngomong, ini Charlos!" ujar Rowan mengenalkan sosok hitam itu pada mereka. "Dan Charlos, mereka ini adalah Morian juga, sama seperti kita," lanjut Rowan.
Mereka saling bercerita sembari mengakrabkan diri dengan lainnya.
"Jadi, apa pesananku sudah siap, Charlos temanku?" tanya Rowan.
Charlos menaikan kedua alis hitam yang serasi dengan warna kulitnya. "Tentu saja sudah, Rowan. Kamu ini sahabatku, tentu saja akau akan lebih mengutamakanmu."
Rowan tertawa, "ahβ terima kasih, kawan!"
Charlos terlihat merogoh tas kecil yang ia kenakan. Tangannya yang hitam seperti berusaha mencari sesuatu.
"Ini dia pesananmu, Rowan." Charlos menyodorkan sebuah botol ramuan kecil berwarna gelap.
"Berhati-hatilah dalam menggunakan racun tikus ini, kawan. Ramuannya sangat kuat, bisa-bisa jika kamu teledor bakal ada nyawa seseorang yang hilang," kata Charlos memberi peringatan.
Rowan mengubah senyumannya menjadi senyuman maut. "Tentu saja, Charlos, aku akan sangat berhati-hati."
Seorang Morian mengomentari. "Aku baru tahu jika di istana Shandor yang megah ada tikus-tikus yang berkeliaran."
Rowan dan Charlos terkekeh.
Lalu Rowan segera menyimpan dengan hati-hati ramuan itu ke dalam sebuah laci yang ada di meja kecil dekat dengan jendela ruang tamu.
"Hei, ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan di Shandor?" tanya Charlos pada kawan satu sukunya.
"Memburu naga, kawan!" balas Rowan.
Charlos terdiam sesaat sebelum dia mengeluarkan seluruh tawanya. "Haha! Apa yang kamu bicarakan, Rowan?"
"Mereka mengaku melihat sosok naga di langit Shandor dari arah Danau Root, Charlos," ujar Rowan.
"Itu tidak mungkin, Rowan. Galantris kan sudah lenyap!" Charlos menunjukkan wajah terkejut yang kaku. "Mungkin yang kalian lihat itu hanyalah seekor burung rajawali."
"Tidak, Tuan Charlos. Kita benar-benar melihat dengan jelas penampakan naga itu," timpal seorang Morian yang berambut lebat.
"Apa kamu tidak melihatnya, Charlos? Bukankah kamu tinggal di dekat danau?" tanya Rowan.
__ADS_1
"Ya, kamu benar, tapi tidak ada kejadian apapun di sana, kecuali para prajurit Shandor yang menenggelamkan karung bergerak-gerak ke Danau Root."
Rowan menyunggingkan bibirnya, "huh! Itu pasti si Haaland! Syukurlah jika dia sudah ditenggelamkan!" gumamnya.
"Kamu bilang apa, Rowan?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun, hanya persoalan tidak penting saja," balas Rowan. "Apa kamu benar-benar tidak melihat naga itu, Charlos?"
"Mengapa aku harus mengarang?" kesal Charlos.
"Tapi tadi juga banyak sekali warga Shandor yang bersaksi melihat naga putih sepulang mereka dari upacara penghormatan Yelda."
Charlos terlihat kecut, wajahnya menjadi lebih kaku. "Apa? Penghormatan terakhir untuk Yelda? Bukankah itu adalah nama Putri kerajaan Shandor?"
"Ya, kamu benar, Charlos."
"Dia sudah mati?" Wajah hitamnya terlihat pucat dan hampir menuju ke abu-abu gelap.
Rowan membalas dengan nada dalamnya. "Dia terseret arus Sungai Gao, orang-orang telah mencarinya kemanapun, tapi mayatnya tidak juga ditemukan."
Tiba-tiba salah satu Morian menyela. "Mungkin alam yang berhubungan dengan Sihir Gao itu juga telah bersifat jahat dan mengambil jasad Yelda! Putri itu mungkin saja tenggelam."
"Jadi, kalian ke Shandor untuk memengaruhi orang-orang Shandor agar berpihak pada kalian dan membenci Galantris?"
"Hal itu tidak salah bukan?" balas salah satu Morian.
"Memang itu tindakan yang tepat, dari dulu bangsankita tidak setuju dan tidak suka dengan Galantris, syukurlah jika kota itu sekarang runtuh!" ucap Charlos dan mengendipkan mata pada Rowan.
Mereka terus berbincang sampai tak sadar jika waktu semakin sore.
"Tidak ku sangka matahari hampir terbenam." Charlos melihat ke jendela besar pondok mewah itu.
"Ku sarankan agar kamu menginap saja di sini, Charlos, dan kembalilah besok pagi," kata Rowan.
"Ya, tuan, sebaiknya Anda menginao saja, di sini masih ada dua kamar yang tidak terpakai," kata orang Mores.
"Tidak bisa, teman-teman. Aku harus tetap menjaga alat-alat yang aku tinggal sendirian di pondok kecilku," balas Charlos. "Lagi pula kalian bilang, kalian melihat naga di sekitar Danu Root, itu berarti pondokku tidak aman!"
"Sayang sekali," ujar Rowan. "Baiklah aku akan meminta mengantarmu, kawan, sangat sulit mencari kereta umum di sore seperti ini."
"Baiklah, terserah kamu saja Rowan."
Rowan segera mengenakan jubah bertudungnya, lalu ia pergi ke halaman belakang rumahnya, beberapa kuda yang tampak sehat terkurung dalam kandang luas yang agak kotor.
Rowan menuntun seekor kuda dan mengaitkannya pada badan kereta yang tergeletak di samping kandang.
"Mari, Charlos!" seru Rowan.
Charlos segera menutup wajah dan permukaan kulitnya agar tidak terlihat oleh orang-orang Shandor jika dia ini adalah Morian.
"Tolong, kalian jaga pondokku sebaik-baiknya, dan jangan berbuat ulah sebelum aku kembali! Apa kalian mengerti?" ucap Rowan yang sudah siap memacu keretanya pada tiga orang Mores yang berdiri di ambang pintu.
"Anda tenang saja, Tuan Rowan."
__ADS_1
Pcu ...
Rowan memacu kudanya dan membawa dia serta Charlos menyusuri jalanan Shandor menuju Danau Root.