Mendadak Menikah Muda

Mendadak Menikah Muda
Bab 10


__ADS_3

Sepulang sekolah Alana menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk kamar barunya.


"Gercep juga nih mertua gue, nyiapin nih kamar." Ucap Alana takjub sembari pandangannya menyusuri seluruh sisi ruangan yang sudah tertata rapi dengan barang-barang miliknya, serta juga ada barang-barang baru yang mungkin disiapkan untuk dirinya.


Tok..tok..tok


"Alana sayang, turun yuk. Sudah waktunya makan siang," ucap mama Sandra dari balik pintu.


" Iya mah sebentar, Alana ganti baju dulu." Ucap Alana dari dalam kamar sembari ia bangun dari kasur.


Alana segera mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos oversize dan celana hotpants nya. Alana melakukannya dengan cepat, agar mama Sandra tidak terlalu lama menunggu dirinya.


"Loh Vanessa nggak makan bareng mah?" Tanya Alana saat sampai di ruang makan. 


Mama Sandra menggelengkan kepalanya  "Vanessa nggak suka makan bareng sayang, dia sukanya makan sendirian di dalam kamarnya."


" Paling juga bentar lagi pasti teriak-teriak minta makan." Lanjut ucap mama Sandra dengan mimik wajah yang sedih.


"Sudah nggak papa mah, kan sekarang udah ada Alana. Alana janji bakal usahain buat makan bareng terus sama mama." Ucap Alana dengan senyum manisnya. Jika ia berada di posisi Vanessa, ia tidak akan pernah mau menyia-nyiakan ibu sebaik mama Sandra ini.


Apalagi Alana sudah tidak pernah merasakan kasih sayang orangtuanya semenjak mereka meninggal dalam kecelakaan.


"Makasih ya sayang, mama sebenarnya selalu kesepian sebelumnya. Vanessa kalau nggak di kamar terus ya palingan main sampai nggak ingat waktu, Papa sama Aldi juga kerja sampai malam. Untungnya sekarang mamah udah nggak kesepian lagi, karena ada kamu yang selalu mau menemani mama."  Ucap mama Sandra sembari menyendokkan nasi untuk Alana dan juga untuk dirinya.


Alana hanya tersenyum menanggapinya, ia juga merasakan hal yang sama. Ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari mama sandra, kasih sayang yang selama ini ia rindukan.


"Kamu suka nggak sayang sama kamarnya?" Tanya mama Sandra di sela-sela makannya.

__ADS_1


Alana menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang. " Suka, suka banget malah mah. Alana baru minta izin tadi pagi, eh malah siang nya pas pulang sekolah udah disiapkan aja. Padahal Kan alana bisa pindahin sendiri mah." 


"Makasih ya mah," lanjut ucap Alana.


Mama Sandra mengangguk, "bukan mama yang mindahin barang kamu. Mama cuman minta tolong sama bi Nunik dan yang lainnya buat urusin."


" Pasti mamah juga yang suruh mereka masukin banyak baju, tas, makeup, skincare dan juga barang barang mahal lainnya kan?" Ucap Alana yang membuat senyum mama Sandra yang sebagai jawaban.


"Dipakai loh ya sayang, mama belikan bukan cuman buat pajangan aja Lo." Kata mama Sandra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Alana.


Setelah selesai makan siang, Alana tidak kembali ke kamar. Gadis mungil itu lebih memilih membantu mama mertuanya untuk mencuci piring lalu mengobrol di ruang keluarga. Memang benar sekali, rasanya rumah semewah ini terasa sepi padahal ada anak perempuan yang Alana kenal sangat cerewet saat di sekolah.


Sedangkan Aldi kini sedang berada di ruang kerjanya di lantai paling atas gedung 50 lantai itu. Aldi tetap fokus pada laptop, meskipun ia mendengar seseorang tengah membuka pintu ruangannya. Sudah bisa Aldi tebak siapa yang berani membuka pintunya tanpa permisi.


"Apa kabar bro?" Tanya kevan, sahabat Aldi sedari sekolah dasar.


"Bacot banget loh,"


Kevan tertawa lalu melempar tubuhnya ke sofa yang tersedia di ruangan Aldi. "Nggak libur loh di? Pergi bulan madu ke."


"Nggak butuh gue," jawab Aldi singkat.


"Lah iya yah, kan masih bocil ya? Belum boleh di anu-anu dulu. Hehe yang sabar ya," ledek kevan yang membuat Aldi menatap tajam sahabatnya itu.


" Yaelah canda doang Al," memang kemarin kevan datang ke pernikahan Aldi dan Alana.


" Lo nggak ada niatan pulang gitu? Gue kira meeting kita udah selesai dari tadi lo," ucap Aldi.

__ADS_1


Bukannya peka dan pamit pulang, kevan malah melepas jas yang ia kenakan karena merasa gerah. "Bentar, numpang sebentar."


"Oh iya, ngomong-ngomong istri Lo itu cantik banget ya. Bodynya itu loh uhh cakep bener." Ucap kevan yang membuat Aldi melempar buku ke arah kevan.


"Lah bener kan? Emangnya Lo kuat gitu nunggu dia sampai lulus sekolah, bisa-bisa karatan punya Lo." Ledek kevan yang tidak ada kapok-kapoknya.


Aldi yang memang sudah kepalang kesal, bangkit dari duduknya lalu mengambil jas milik kevan. Satu tangannya menarik kerah kevan agar berdiri ke arahnya.


"Pergi sana Lo, urusin tuh pacar-pacar Lo." Ucap Aldi sambil mendorong tubuh kevan hingga keluar dari ruangannya. Aldi menutup pintu dengan keras saat kevan sudah berhasil diusir.


" Masa iya punya gue bakal karatan sih," gumam Aldi sembari melirik ke bagian bawah tubuhnya. Aldi dengan cepat bergidik lalu melanjutkan pekerjaannya.


°


°


Ceklek


Aldi membuka pintu kamarnya, setelahnya ia melonggarkan dasi dan melepas dua kancing kemeja paling atas. Aldi merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Aldi merasa lelah sekali karena pekerjaan hari ini begitu menumpuk, bahkan pekerjaannya ada yang ia bawa pulang untuk ia kerjakan nanti.


"Perasaan punya istri sama nggak punya istri nggak ada bedanya deh," gumam Aldi sembari menatap langit-langit kamarnya. Dirinya belum merasakan perbedaan itu, atau mungkin karena masih baru beberapa hari kali ya.


" Apa mungkin karena gue nikahin bocil ya? Harusnya kan ada yang pijitin gue nih atau paling nggak bikinin teh kek." dumel Aldi seorang diri. Setidaknya itu yang sering mamanya lakukan saat sang papanya  pulang dari kantor.


Tok…tok..tok


"Siapa?" Teriak Aldi. Tidak biasanya ada yang mengetuk pintu kamarnya malam malam begini, kalau misalnya sang mama pasti langsung masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Jurig om," jawab teriak orang yang berada diluar. Suara itu sudah bisa Aldi tebak siapa pemiliknya, hanya satu orang yang berani memanggilnya dengan sebutan om itu.


__ADS_2