Mendadak Menikah Muda

Mendadak Menikah Muda
Bab 6


__ADS_3

"Nggak papa," balas Alana.


Viona salah satu sahabat Alana mengernyitkan alisnya saat mendengar nada bicara Alana yang sangat ketus.


Alana yang akan meletakkan tasnya dibangku miliknya pun tidak jadi, "gue pindah tempat duduk."


"Loh kenapa pindah? Kia ada salah ya sama Alana?" Tanya Zaskia atau panggil saja kia. Ia adalah gadis imut dan paling polos di antara mereka.


"Pikir aja sendiri!" Ucap ketus Alana lalu berjalan kebangku pojok belakang yang memang tidak berpenghuni .


Viona, Anita dan Zaskia melihat Alana dengan tatapan bingung. Kenapa gadis itu tiba-tiba menjadi sangat ketus terhadap mereka, perasaan mereka tidak mempunyai masalah apapun.


"Aneh banget sih," ucap Anita bingung. Tapi tidak dengan Kia, perempuan itu malah takut akan sikap Alana.


Skip istirahat


Sikap Alana tidak hanya berlaku pada pagi hari saja, bahkan sampai sekarang pun Alana masih jutek dan sangat terkesan enggan berkumpul bersama mereka lagi.


" Yuk kantin Na," ajak Anita mendekati meja Alana dibagian belakang. Alana tidak menjawabnya, gadis itu malah langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan Anita.


Viona dan Zaskia menghampiri Anita yang masih tercengang dengan perubahan sikap Alana.


Sedangkan di sisi lain, Alana sedang mengatur nafasnya yang memburu. Alana baru saja berlari menuju kamar mandi, sungguh rasanya ia tidak nyaman sekali berlaku seperti ini pada sahabatnya. Alana merasa seperti sudah melakukan sebuah kejahatan, padahal Alana hanya ingin melindungi dirinya agar rencananya tidak terhambat.


Setelah dirasa dirinya tenang, Alan mulai beranjak pergi dari toilet, ia memutuskan tidak jadi pergi ke kantin. Ia kemudian langsung pergi ke dalam kelasnya.


Sepulang sekolah

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Alana saat Viona dan Anita yang mencegahnya ketika ia ingin keluar dari kelas. Dan tentunya dengan nada bicara Alana yang masih ketus.


" Lo yang ada apa?" Tanya balik viona yang memang sudah tidak tahan dengan sikap ketus Alana.


Alana hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa Lo udah putus sama Satria?" Tanya Anita yang membuat mata Alana berkaca-kaca.


Anita langsung saja menarik tubuh Alana kedalam pelukannya, beruntungnya sekolah sudah sepi. Dapat dipastikan juga Vanessa sudah pulang.


Mereka sangat tahu bagaimana Alana mencintai Satria, tidak heran juga karena mereka sudah berpacaran semenjak SMP. Satria lah orang yang menemani Alana disaat Alana sedang terpuruk akibat meninggalnya kedua orangtuanya. Dan tentu saja itu bukan waktu yang singkat untuk bisa melupakan nya.


Alan merasa tempat yang paling nyaman, ia menangis di dalam pelukan Anita. Sebenarnya Alana sangat membutuhkan sahabat nya di masa-masa seperti ini, yang ia kehilangan Abang dan bersamaan pula ia kehilangan sang pacar. Tapi mau bagaimana lagi, keadaannya yang memaksa. Alana segera melepas pelukannya, ketika ia melihat Vanessa sedang melintas di depan kelasnya dengan tersenyum miring. Alana kira Vanessa sudah pulang, ternyata belum.


Dengan cepat Alana menghapus air matanya, lalu ia berlari keluar kelas. Viona dan juga Anita hanya menatap kepergian Alana dengan tatapan sendunya, mungkin menurut mereka Alana hanya sedang butuh waktu untuk menenangkan diri pasca kehilangan sang Abang dan juga sang pacar.


" Saya terima nikah dan kawinnya Alana Rachelle Erlangga binti Dimas Erlangga dengan mas kawin emas seberat dua ratus gram, uang tunai senilai lima ratus juta, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Dengan satu tarikan nafas berhasil mengucapkan ijab kabul dengan tegas.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"SAH"


Seruan dari para saksi yang diikuti oleh semua orang yang hadir, menandakan berubahnya status dan hubungan sepasang manusia itu.


Aldi tampak sangat gagah dan tampan memakai tuxedo berwarna hitam, yang tampak serasi dengan gaun yang dikenakan Alana.


Aldi melihat kesamping dan ia mendapati Alana yang sedang menunduk sambil menangis. Aldi secara spontan mengusap bahu istri kecilnya itu, ia merasa kasihan sekali melihatnya.

__ADS_1


Tangisan Alana menandakan kesedihan, karena di hari yang sangat sakral dan istimewa ini ia sendiri. Tidak ada satupun keluarganya yang hadir. Nasib yang cukup menyedihkan bagi seorang remaja yang berumur tujuh belas tahun ini. Bahkan mbak Thea pun tidak hadir, karena takut menimbulkan kecurigaan Alex.


" Jangan menangis bocil, tuh ingus kamu kemana mana," ujar Aldi yang berusaha menghibur Alana. Alana dengan segera mengusap air matanya, lalu ia mulai mencium tangan Aldi sesuai dengan apa arahan dari pak penghulu. Begitu dengan sebaliknya, Aldi mencium kening Alana.


" Untuk sekarang kening dulu, nanti malam pas di kamar saya minta cium di bibir." Bisik Aldi yang refleks membuat Alana menginjak kaki Aldi dibawah sana. Aldi terkekeh ketika melihat wajah kesal Alana yang tertahan.


Aldi mengedipkan satu matanya menggoda Alana, " dan juga jatah saya jangan lupa."


Kini Alana yang tersenyum meledek, kemudian berbisik. "Mohon maaf, saya masih dibawah umur."


Lagian pun Alana sedang datang bulan, Ya Alana tadi pagi baru saja datang bulan. Dan juga tidak mungkin Aldi memaksanya.


" Sudah bahas rencana malam pertamanya?" Tanya mama Sandra yang mengundang tawa para tamu yang mendengarnya. Alana menunduk malu, sungguh ia merasa malu karena ulah om Aldi.


Ceklek


Alana memasuki kamar Aldi dengan pandangan yang menyusuri seluruh sudut ruangan. Kamar ini tampak berbeda dengan terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya disini.


Dua hari yang lalu kamar ini tampak terang dan rapi, tetapi sekarang terlihat remang-remang dan banyak sekali kelopak bunga mawar yang berada dilantai dan di kasur. Persis seperti kamar pengantin pada umumnya.


"Saya tidur dikamar sebelah aja om," ucap Alana seraya berbalik badan. Belum sempat Alana berlari, Aldi sudah lebih dahulu mencekal gaun bagian belakang Alana yang membuat langkah Alana terhambat.


"Eits.. mau kabur ya kamu," ucap Aldi yang sudah atau akal pikiran Alana. Tangan Aldi menarik gaun yang Alana kenakan yang otomatis membuat Alana memundurkan langkahnya.


"Emm.. gini ya om, om kan laki laki jadi kita ga boleh satu kamar om. Nanti jadinya malah fitnah." Ucap Alana mencari alibi.


" Lah kan kita udah sah tadi, jadinya bukan fitnah tapi malah Sunnah." Ujar Aldi sambil menaik turunkan alisnya. Sungguh Aldi merasa senang ketika menggoda Alana

__ADS_1


__ADS_2