Mendadak Menikah Muda

Mendadak Menikah Muda
Bab 17


__ADS_3

Drrttt


Drrttt


Drrttt


Suara telpon dari ponsel Alana yang berbunyi pagi-pagi buta tiada henti hentinya membuat Alana kesal. Sebenarnya sekarang sudah jam lima pagi, tapi menurut Alana yang baru saja bisa tertidur pukul dua dini hari menurutnya masih sangatlah pagi. 


Dering terus berbunyi berulang kali, akhirnya dengan terpaksa Alana meraba meja di sebelah tempat tidur nya dengan mata yang masih sedikit terpejam.


"Hallo," ucap Alana dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Ini waktunya na," ucap seseorang di seberang sana.


"Waktunya apaan?" Tanya Alana yang belum terlalu konek, karena ia masih sangat mengantuk.


"Waktunya Niko ngejalanin rencananya," ucap seseorang di seberang sana yang ternyata Glen.


Alana yang mendengar itu sontak saja membuka matanya lebar, ia yang tadi mengantuk kini sudah tidak mengantuk lagi. Malah sekarang ia merasa sangat fresh kembali.


"Seriusan?"


"Iya serius, apalagi sekarang temen lu lagi muntah muntah dan lemas jadinya mantan lo nyuruh sahabat lu buat nggak sekolah hari ini. Dan ini adalah kesempatan untuk Niko menculiknya," jelas Glen.


"Dia beraksi jam berapa bang?" Tanya Alana.


" Pas Mantan Lo berangkat sekolah," jawab Glen. Glen mendapatkan informasi itu karena ia menyuruh salah satu bawahannya untuk menjadi mata-mata Niko.

__ADS_1


"Yaudah bang, kalau gitu gue mau siap-siap dulu." Ucap pamit Alana kemudian ia mematikan sambungan teleponnya sepihak tanpa mau menunggu balasan dari Glen.


Alana langsung saja bangun dari tidurnya dan segera memulai bersiap-siap. Sebenarnya Alana masih mempunyai waktu yang sangat banyak, akan tetapi ketika ia kembali mengingat kalau sang sahabat tengah hamil itu membuatnya panik seketika. Apalagi tadi kata Glen saat ini Zaskia tengah muntah muntah. Alana khawatir itu akan mempengaruhi mental dan fisik Zaskia terluka, namun sebisa mungkin Alana harus bisa mencegah itu terjadi.


Kini Alana sudah memakai seragam sekolahnya dan ia saat ini sedang memasukkan pakaian ganti untuknya nanti, Alana tidak mungkin keluar tidak memakai seragam. Sedangkan dia ingin keluar, itu akan menyusahkan dirinya untuk keluar dari mansion ini.


Dengan langkah yang tergesa-gesa gadis manis dan cantik itu mulai menuruni anak tangga, kini wajah Alana tengah menyiratkan sebuah kepanikan.


"Loh kamu kenapa buru-buru begini sayang?" Tanya mama Sandra yang baru saja keluar dari kamarnya, Alana menghentikan langkahnya.


"MMM… ini mah Alana lupa belum ngerjain tugas mah, jadinya Alana mau cepat-cepat sampai sekolah buat ngerjain tugasnya bareng teman teman mah." Ucap Alana memberikan alasan kepada sang mertua, tentu itu semua hanyalah kebohongan. Tapi biarlah sekali sekali ia berbohong, toh juga untuk kebaikan kan.


"Oh ya udah kalau gitu kamu mau dianter sama Aldi atau sama supir sayang?" Tanya mama Sandra.


"Alana berangkat sendiri aja mah, kebetulan tadi aku udah pesen taksi. Kalau gitu Alana berangkat dulu ya mah, assalamualaikum." Pamit Alana sambil mencium tangan sang mama mertua.


Mama Sandra menatap heran terhadap kepergian Alana yang sedang terburu-buru, tapi ia juga merasa heran kenapa Alana membawa tas sebesar itu. Sepertinya Alana mengasal mengambil tasnya.


"Loh berarti ini Alana tidak sarapan dong,"ucap mama Sandra setelah ia sadar kalau Alana belum sarapan.


"Kalau gitu mending suruh Aldi buat anterin bekal aja buat Alana nanti," ucap mama Sandra. Kemudian mama Sandra mulai memasak dibantu dengan beberapa maid.


Sedangkan ditempat lain tepatnya di mansion mewah milik keluarga Erlangga, kini mbak Thea dan juga Alana yang ternyata sudah sampai di mansion miliknya tengah membahas suatu hal.


Alana memberikan sebuah kertas yang sudah dilipat menjadi kecil kepada mbak Thea. Tadi mbak Thea dihubungi oleh Alana untuk ia segera bertemu dengan Alana di mansion. Mbak Thea yang dihubungi pun langsung melesat menuju rumah Alana dengan terburu-buru.


"Mbak ternyata Niko mulai ngejalanin rencananya hari ini mbak, dia mengambil kesempatan disaat Zaskia tidak bisa masuk sekolah karena mungkin efek ia sedang hamil."  Jelas Alana.

__ADS_1


"Jadi tugas mbak cuman menyerahkan ini aja kan?" Tanya mbak Thea sembari menunjukkan sebuah surat kecil dihadapan Alana.


Alana mengangguk, " iya mbak."


"Berdoa ya mbak, semoga kita berhasil." Ucap Alana.


" Iya na, harus nya kamu yang banyak banyak berdoa na. Kamu harus hati-hati ya na." Ucap mbak Thea yang mengkhawatirkan Alana.


" Iyaba insyaallah aku hati-hati kok, mbak tenang aja. " Ucap Alana.


Hari ini Alana sudah memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah, karena hari ini tepat dimana Niko akan menjalankan rencananya. Alana panik dan sekaligus khawatir jika sampai terjadi apa-apa kepada sahabat nya yang polos, apalagi sekarang sahabatnya itu sedang mengandung. 


"Mbak usahakan jangan sampai gagal ya mbak, pastikan Viona paham sama kodenya ya mbak." Ucap Alana.


Mbak Thea mengangguk di sela-sela langkah mereka. Mereka berjalan keluar dari mansion mewah milik keluarga Erlangga untuk pergi menuju ke tujuan masing masing.


"Kamu kok pake baju kaya gitu sih Na, udah kaya mau ngelayat aja." Ucap mbak Thea mencoba untuk mencairkan suasana yang tegang ini.


 "Dih kaya mau ngelayat gimana sih mba, orang ini outfit kaya istri mafia juga. Udah keren gini juga," ucap Alana sekenanya.


"Diih masih aja ngarep buat jadi istri mafia, heh sadar dong kamu tuh sekarang udah jadi istri dari CEO terkenal." Ujar mbak Thea.


Mereka berdua terus bercanda dan tertawa bersama sampai akhirnya mereka harus berpisah menuju kendaraan masing-masing.


"Kamu hati-hati Na," ucap mbak Thea sesaat sebelum ia memasuki mobil angkot. Jangan harap mbak Thea pergi ke sekolah menggunakan mobil mewah seperti biasanya, karena mbak Thea sekarang masih menyamar menjadi gadis cupu dan juga miskin.


Alana hanya mampu menghela nafas setelah melihat mbak Thea kini sudah berangkat ke sekolah. Kini ganti Alana yang bersiap-siap untuk melakukan yang sudah menjadi tugasnya.

__ADS_1


Alana mulai menjalankan mobilnya, tujuannya kali ini adalah ke lokasi tempat ia akan bertemu dengan Niko.


__ADS_2