
Di sebuah ruangan VVIP rumah sakit Erlangga, Alana tengah terbaring dengan lemah. Ternyata luka di lengannya cukup lebar dan dalam hingga memerlukan tindakan operasi untuk penjahitan lukanya.
Alana kini sudah mulai sadar dan dengan perlahan Alana mengerjapkan matanya, hal yang pertama kali Alana lihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih. Alana sudah dapat menebak dimana ia sekarang berada.
"Alana udah bangun kamu? Sebentar mbak panggilan dokter dulu." Ujar mbak Thea dengan segera memencet tombol yang berada di samping nakas tempat tidur. Sedangkan Alana hanya memperhatikan apa yang sedang mbak Thea lakukan.
Kemudian tak lama dari itu dokter sudah datang dan mulai memeriksa Alana yang ternyata kondisinya sudah lumayan membaik. Setelah itu dokter pun langsung pamit dan mbak Thea mengucapkan terimakasih.
Kemudian mbak Thea duduk di sebelah ranjang Alana. Alana mencoba untuk duduk tapi dia tidak bisa, karena masih merasa nyeri di bagian lengannya.
"Mbak gimana Zaskia?nggak apa-apa kan dia?" Tanya Alana ketika ia mengingat tentang sahabat polosnya itu.
Mbak Thea mengedikkan bahu tanda kalau ia tidak tahu, bagaimana ia tau. Orang tadi pas pulang sekolah aja dia langsung pergi ke rumah sakit.
"Tolong mbak liat, aku khawatir banget sama dia karena tadi di foto lukanya lumayan parah." Pinta Alana. Sungguh ia merasa sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya.
"Loh nanti kamu sendirian dong kalau mbak liat Zaskia?" Tanya mbak Thea.
"Nggak apa-apa mbak, mbak tenang aja. Aku pasti aman kok ada disini," ucap Alana membujuk.
"Ayolah mbak please, kayaknya Zaskia juga dirawat di rumah sakit ini deh mbak." Lanjut Alana.
"Ya udah kalau gitu mbak cari dulu," ucap mbak Thea bangun dari duduknya dan memakai kembali kacamata bulatnya untuk mengantisipasi jika ia bertemu dengan para sahabatnya Alana.
Alana mengangguk, kemudian setelah sepeninggalnya mbak Thea dari ruangan dirinya dirawat. ponsel Alana berbunyi, dengan susah payah Alana mencoba mengambil ponselnya yang ternyata berada di atas nakas. Tak lama ponselnya sudah berada di genggaman tangannya Alana mencoba untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya. Alana terdiam begitu ia melihat nama siapa yang menelepon dirinya, ternyata yang menelepon dirinya adalah suaminya yaitu Aldi.
Alana kini tengah bingung akan apa yang ia katakan pada suaminya. Haruskah ia jujur atau menutupinya, tapi yang pasti ia tidak akan bisa menutupi luka di tangannya yang sebesar ini.
Alana memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon dari sang suami.
"Udah selesai mainnya? Bolos kemana kamu?" Ucap Aldi dari seberang sana.
Alana yang mendengar apa yang diucapkan oleh Aldi membulatkan matanya terkejut, bagaimana Aldi bisa tau kalau dirinya sedang tidak ada di sekolah.
"Kok om bisa tau?"
"Ya jelaslah saya tau, orang saya pemilik sekolah nya." Ucap Aldi sungguh membuat Alana kaget. Ia tak menyangka kalau sang suami ternyata pemilik dari sekolah Nusantara.
"Sekarang kamu ada dimana?" Tanya Aldi.
"Rumah sakit om," jawab Alana dengan santainya. Alana berharap ia tidak akan salah mengambil keputusan dengan ia yang memberitahukan keadaan dirinya.
__ADS_1
" Kamu ngapain bolos pergi ke rumah sakit, kaya nggak ada tempat lain aja." Ucap Aldi dengan nada mengejek, sementara Alana hanya menghela nafasnya.
" Ya sudah kalau gitu sekarang kamu pulang, saya akan berikan kamu hukuman karena sudah berbohong dan bolos dari sekolah." Lanjut ucapan aldi.
"Aku ga bisa pulang sekarang om," ujar Alana.
"Kenapa?"
Mendengar pertanyaan dari Aldi membuat Alana bingung untuk menjelaskannya.
"Lebih baik om kesini aja deh, nanti aku jelasin." Setelah itu Alana mematikan sambungan teleponnya sepihak dan juga ia tidak lupa mengirimkan alamat rumah sakit tempatnya ia dirawat.
Tidak lama kemudian, Aldi telah sampai di ruangan tempat Alana dirawat. Aldi masih mengenakan pakaian kerjanya karena ia tak sempat untuk pulang terlebih dahulu.
" Loh kamu kenapa Na? Kenapa nggak bilang kalau kamu lagi sakit?" Tanya Aldi yang baru saja ia membuka pintu ruangan kamar Alana dirawat. Aldi begitu panik, bagaimana bisa sang istri sakit dan dia tidak mengetahuinya.
"Aku nggak apa-apa om, tadi nggak sengaja jatuh." Jawab Alana dengan tenang.
"Masa iya jatuh bisa sampai kaya gini lukanya?" Tanya heran Aldi dengan menyentuh sedikit lengan Alana yang diperban.
"Dijahit kah?" Tanya Aldi lagi, sedangkan Alana hanya mengangguk karena ia sedang menyusun kalimat di otaknya untuk jujur atau tidak kepada Aldi.
"Kamu sih pake bandel segala, kan jadinya kaya gini. Ini akibatnya kamu bohong tadi." Aldi mulai mengomel, sedangkan Alana hanya diam sambil mendengarkan apa yang Aldi katakan.
"Gratis kok om," jawab Alana dengan seadanya.
Aldi tidak percaya dengan jawaban sang istri, ini rumah sakit elit. Mana mungkin menggratiskan biaya rawat. Jujur saja Aldi menyadari ingin sekali membangun rumah sakit seperti ini, namun ia sadar ia belum mampu untuk membuat rumah sakit seperti ini.
"Sudah kamu nggak usah ngaco, mana ada yang gratis." Ucap Aldi.
"Yaudah kalau om nggak percaya, mending tolong om ambilkan aku makanan itu. Soalnya aku laper om," ujar Alana seraya menunjuk makanan yang telah disiapkan untuk dirinya.
"Manja banget kamu segala nyuruh nyuruh lagi," ujar aldi. Namun ia tetap mengambilkan apa yang tadi Alana minta.
Aldi juga menyiapkan meja kecil yang bisa diletakkan untuk makanan para pasien.
"Bisa?" Tanya Aldi setelah mengatur posisi ranjang Alana menjadi tegak supaya Alana bisa makan.
"Bisa om, makasih ya." Ucap Alana dan ia memulai makannya. Di sela-sela makannya Alana sedang memikirkan apakah ia harus jujur sekarang.
"Om, aku mau jujur kenapa bisa aku ada dirumah sakit." Ucap Alana membuat Aldi mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke arah Alana.
__ADS_1
"Silahkan," suruh Aldi. Ia mematikan ponselnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
Alana mulai menjelaskan dengan panjang lebar kepada aldi mulai dari awal kejadian, ia menjelaskan siapa itu Niko, apa dendam Niko terhadap dirinya, Zaskia yang diculik, dan sampai ia membuat rencana penyelamatan Zaskia yang berakhir ia berada disini.
"Kamu mau jadi sok pahlawan gitu, liat sekarang mana tuh temen temen kamu yang peduli sama kamu? Mereka aja bahkan nggak tau kalau kamu yang bantuin mereka," ucap Aldi setelah mendengar penjelasan dari Alana.
"Ya tapi setidaknya aku aku berguna buat mereka om, lagi pula mereka sudah juga karena aku." Ucap Alana.
Aldi tidak menyangka kalau gadis menyebalkan dihadapannya ini bisa mempunyai masalah yang begitu rumit menurutnya.
"Tapi teman kamu selamatkan?" Tanya Aldi kemudian, Alana mengangkat bahunya acuh tanda ia tidak mengetahui nya.
"Semoga saja om."
Sedangkan di ruang rawat lainnya, Zaskia masih terbaring dengan lemah. Tangannya sudah dijahit setengah jam yang lalu.
Semua sahabatnya belum ada yang pulang bahkan mereka semua belum mengganti pakaiannya.
Zaskia mengerjapkan matanya yang membuat Satria yang duduk di sebelahnya langsung berdiri dan mengusap kepala Zaskia dengan lembut, yang lainnya pun ikut mendekat saat mengetahui Zaskia sudah sadar.
"Dimana ini?" Tanya Zaskia dengan suara lirih.
"Di Rumah sakit," jawab satria dengan tersenyum tipis.
Zaskia ingin menyentuh perutnya namun tidak jadi karena ia merasakan tangannya yang susah digerakkan dan merasakan sakit. Zaskia menatap wajah Satria dengan mata yang berkaca-kaca karena ia merasa khawatir dengan janinnya.
"Dia nggak apa-apa kan?" Tanya Zaskia.
"Dia baik baik aja, Lo pinter ngelindungi nya." Jawab Satria yang membuat Zaskia bernafas lega, ia ingat betul bagaimana orang tadi yang ingin mencelakai perutnya.
Zean mendekat kearah Zaskia, kemudian ia memeluk Zaskia yang masih dalam keadaan tiduran. Sungguh ia merasa khawatir dengan Zaskia.
"Jangan buat kakak khawatir lagi ya," Zaskia hanya menganggukkan kepalanya saja. Akhirnya setelah itu mereka melanjutkan dengan banyak mengobrol, mereka menanyakan tentang bagaimana kejadian yang sesungguhnya hingga sampai Zaskia diculik.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang mengintip dan mendengar pembicaraan mereka semua. Orang yang sedari tadi mengintip adalah mbak Thea yang sedari tadi mencari celah agar ia bisa mengetahui bagaimana kondisi Zaskia. Sebenarnya bisa aja mbak Thea langsung menanyakan gimana kondisi Zaskia pada dokter, namun mau bagaimana lagi demi memastikan sendiri bahwa Zaskia sudah baik baik saja keadaannya.
Sampai beberapa saat kemudian mbak Thea terkejut karena pundaknya ditepuk dari belakang.
"Lo ngapain disini?" Tanya Viona kepada gadis cupu dihadapannya.
Mbak Thea gelagapan, pandangannya memandang tak tentu arah. Padahal tadi mbak Thea sudah memastikan kalau tidak ada siapa-siapa, tapi kenapa ia bisa ketahuan oleh Viona.
__ADS_1
"Mending Lo ikut gue sekarang," ucap Viona lagi karena ia belum mendapatkan jawaban dari gadis dihadapannya sekarang.
Mbak Thea menggelengkan kepalanya, kemudian ia berlari dari hadapan viona. Ia lebih baik kabur sekarang daripada ia harus dicecar oleh banyaknya pertanyaan. Keenan yang memang juga berada disana, ia ingin mengejarnya namun ditahan oleh Viona.