Mendadak Menikah Muda

Mendadak Menikah Muda
Bab 8


__ADS_3

Pagi ini dirumah keluarga Graham terdapat pemandangan yang indah. Dimana ada sang mertua dan menantu yang tengah asik memasak dengan saling bertukar cerita, sebenarnya mama Sandra yang lebih mendominasi obrolan sih.


" ALANA RACHELLE ERLANGGA"


Alana dan mama Sandra menghentikan kegiatan memasak mereka ketika mendengar teriakan dari Aldi.


"Kenapa coba tuh anak, gih sana coba kamu samperin. Nggak biasa biasanya itu anak teriak kaya gini." Ucap perintah mama Sandra kepada Alana, sedangkan Alana hanya mengangguk saja. Sebenarnya Alana tau apa yang menyebabkan tuh om-om pagi pagi gini berteriak.


Alana tadi dengan sengaja menggambar muka Aldi menggunakan lipstik milik dirinya yang ia ambil di tas makeup miliknya.


Sudah Alana tebak, om-om itu sekarang pasti sedang sangat marah banget. Alana membayangkan wajah Aldi yang sedang marah itu, uhh pasti sangat lucu.


"Ada apa sih om? masih pagi kok udah teriak teriak kaya di hutan aja sih." Tanya Alana ketika ia telah sampai di dalam kamar. Alana menahan tawanya ketika melihat wajah Aldi yang lucu pada saat marah dan juga jangan lupakan ada gambar di wajah tampan Aldi.


" Kamu nanya ada apa? Kamu kan yang ngelakuin ini?" Tuding Aldi didepan wajah Alana.


"Sebenarnya aku kan lagi latihan makeup, jadi aku coba make up diwajah om dulu. Eh ternyata bagus juga ya hasilnya" ucap Alana dengan wajah polosnya.


"Kamu kan bisa make up in orang lain, jangan muka saya juga dong." Ujar Aldi dengan kesal.


Aldi dengan kesal pergi dari hadapan Alana untuk segera membersihkan diri. Ada ada saja tingkah istri kecilnya, masa iya wajahnya yang tampan di makeup in kayak gini.


Sedangkan Alana hanya terkekeh geli mendengar Aldi yang menggerutu karena dirinya. Setelah selesai ia menertawakan Aldi, Alana langsung bersiap siap untuk berangkat ke sekolah.


Setelah selesai bersiap siap, Alana memutuskan untuk turun terlebih dahulu meninggalkan Aldi yang masih di kamar mandi setelah ia menyiapkan setelan pakaian untuk Aldi bekerja.


Begitu ia sampai di bawah, Alana langsung menuju ke meja makan, yang ternyata semuanya sudah berkumpul. Tinggal dirinya dan Aldi lah yang belum ada.

__ADS_1


" Kok lama banget sih sayang di atasnya?"


" Iya nih mah, masih siap siap tadi. Terus juga aku beresin buku juga, jadinya lama." Jawab Alana.


" Loh aldinya mana sayang?" Tanya mama Sandra lagi.


" Masih mandi tadi mah, paling sebentar lagi juga turun." Jawab Alana, dan benar saja tak lama Alana berbicara. Aldi datang dengan pakaian kantornya.


Akhirnya mereka semua makan pagi bersama. Hari ini Alex tidak ikut sarapan bersama, entah kemana dia mungkin sudah berangkat kerja. Vanessa yang kebetulan sudah ada dari tadi pun melihat ke arah Alana, untuk memastikan penampilan Alana.


" Kamu udah mau mulai masuk sekolah lagi Alana?" tanya mama Sandra saat melihat penampilan Alana yang menggunakan seragam sekolah.


" Iya mah," jawab Alana sambil menganggukkan kepalanya.


" Loh kenapa nggak izin dulu sayang, kan habis menikah." Ucap mama Sandra.


" Yaudah kalau gitu," ucap mama Sandra pasrah.


Setelah itu mereka melanjutkan kembali acara sarapan bersama nya dengan hening dan hikmat.


"Kamu berangkat bareng Aldi kan sayang?" tanya mama Sandra membuat Alana mengalihkan perhatiannya ke sang mama mertua.


" Alana berangkat sama aku mah, soalnya kan kita satu sekolah jadi barengan aja." Ucap Vanessa dengan cepat, sebelum Alana menjawabnya.


Sedangkan Alana hanya menanggapi dengan tersenyum paksa. Aldi sendiri merasa heran tumben sekali adiknya ini dengan suka rela membawa orang lain ke dalam mobilnya.


"Kamu nggak mau macam-macam kan?" tanya Aldi.

__ADS_1


"Ya mana ada sih kak, lah wong Alana kakak ipar aku, masa iya aku apa-apain sih." Ujar Vanessa dengan kesal kepada sang kakak.


"Awas aja kamu, kalau sampe Alana kenapa-kenapa." Ancam mama Sandra yang tau banget bagaimana kelakuannya sang anak bungsu.


" Iya mah, percaya deh sama aku. Alana pasti bakal sampai dengan selamat di sekolah tanpa ada lecet sedikitpun." Ucap Vanessa dengan nada meyakinkan.


" Yaudah kalau gitu, mama percaya sama kamu." Ucap mama Sandra kemudian.


" Mah, boleh nggak aku selama masih sekolah tidurnya di kamar tamu aja?" Setelah lama berdiam, Alana memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat itu. Menurutnya berada dalam satu kamar yang sama dengan Aldi, membuat gerak gerik Alana tidak leluasa. Alana merasa jadi kesulitan untuk mengumpulkan bukti bukti untuk mengalahkan Alex.


"Sudah kalian rundingkan?" Tanya mama Sandra, ia harus bisa memikirkan mengenai hal yang seharusnya ini adalah keputusan dari sepasang suami istri.


"Sudah mah, om Aldi juga sudah mengizinkan. Katanya biar aku bisa sekolah dengan fokus dulu." Ucap Alana berbohong, sedangkan Aldi mengernyitkan alisnya dan mencoba berpikir keras. Perasaan kapan ia mengizinkan Alana.


" Lah kapan say-" ucapan Aldi terpotong.


"Boleh ya mah? Kalau misalnya aku sekamar terus sama om Aldi, bisa-bisa aku hamil pas masih sekolah dong." Ucap Alana memotong ucapan Aldi.


' lagian siapa juga sih yang mau menghamili bocil kaya dia sih.' batin Aldi. Lagi pula kenapa Alana berbohong, Aldi ingat betul mereka belum mempunyai kesepakatan apapun tadi malam.


" Kalau itu memang yang terbaik buat kalian, mama setuju. Alana bisa pakai kamar yang di sebelah kamarnya Aldi." Ucap mama Sandra yang membuat Aldi sedikit keberatan.


"Lah kalau gitu ngapain Aldi cepet cepat dinikahi kalau misalnya nggak boleh diapa-apain," gumam Aldi tapi masih bisa kedengaran oleh semuanya.


Mama Sandra hanya diam menanggapi, Sandra bukanlah seorang ibu yang hanya memikirkan gengsinya. Sebenarnya ia menikahkan Aldi bukan hanya karena malu pada teman-temannya, karena ia takut tak pernah melihat sang anak dekat dengan seorang perempuan.


Hingga pas disaat waktu itu di taman ia mempunyai kesempatan yang tepat, ia memutuskan mengambil keputusan ini demi kebaikan untuk sang putra sulungnya.

__ADS_1


Mama Sandra juga bukan ibu yang bodoh, ia tahu betul bagaimana pada saat itu Aldi dan Alana tidak melakukan apapun. Sebuah keberuntungan itu yang yang membantu mama Sandra untuk mendapatkan seorang menantu, walaupun ia harus menunggu sedikit lama untuk memiliki seorang cucu. Mengingat sang menantu yang masih pelajar.


__ADS_2