Mendadak Menikah Muda

Mendadak Menikah Muda
Bab 7


__ADS_3

Alana memutar otaknya lagi, agar ia tidak tidur sekamar dengan Aldi.


"Emm om.. oh iya saya mau ngerjain tugas tugas dulu yang besok mau dikumpulkan."


"Beneran? Bukannya untuk seminggu kedepan nggak ada tugas ya." Ujar Aldi yang membuat Alana mengernyitkan alisnya bingung. Bagaimana bisa Aldi mengetahui nya.


Memang untuk seminggu kedepan semua murid dibebaskan dari tugas, dan itu membuat semua murid sangat senang. Entah ada apa, kok tumben sekali seperti ini.


Sedangkan Aldi menyeringai. Sebenarnya itu semua ulah dirinya. Alana memang belum mengetahui kalau sebenarnya sekolah Nusantara itu sekolah miliknya. Aldi memang sengaja meminta untuk tidak memberikan tugas kepada para murid agar Alana tidak memiliki alasan lagi.


" Eh…em itu-"


" Saya tidak menerima alasan dan penolakan lagi Alana." Ucap Aldi dengan tegas seraya membuka jasnya, ia merasa gerah sekali.


Aldi melipat kemeja bagian lengannya kemudian ia mendorong dan menjatuhkan tubuh Alana ke atas kasur yang sekarang dipenuhi oleh kelopak bunga mawar yang aromanya sangat semerbak.


" Om jangan kaya gini," ucap Alana sembari menggulingkan tubuhnya sampai jatuh ke lantai. Tidak apa-apa tubuhnya sakit, yang penting sekarang ia bebas dari Aldi si tukang mesum ini.


Alana kemudian berlari ke arah pintu yang ternyata sudah dikunci. Entah sejak kapan Aldi mengunci pintunya? Oh tentunya itu bukan ulah dari Aldi, ini pasti ulah dari mamah mertuanya.


Alana kemudian menghela nafasnya, lalu ia berhenti dari usahanya. Alana membalikkan badannya dan terpampang wajah menyebalkan dari Aldi yang kini sedang menatapnya sambil bersedekah di tepi ranjang.


"Kenapa? Nggak bisa ya?" tanya Aldi dengan nada meledek saat melihat Alana kembali berjalan menghampiri dirinya.


"Om…" panggil Alana sembari duduk perlahan disebelah Aldi.

__ADS_1


"Om mau ya tidurnya di sana," tunjuk Alana ke sofa yang ada di dalam kamar.


Aldi membulatkan matanya. What? Dirinya disuruh tidur di sofa, padahal kan dia yang punya kamar. Bagaimana bisa malah dirinya yang disuruh tidur di sofa, sedangkan Alana malah tidur di kasurnya.


"No!! Enak aja kamu. Kalau kamu nggak mau satu ranjang dengan saya, yaudah sana kamu aja yang tidur di sofa." Ucap Aldi sembari dirinya mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Alana dengan cepat menarik selimut, bantal dan guling untuk dibawa ke sofa. Aldi yang melihat itu melongo .


" Kenapa? Impas kan. Om dapat kasurnya, sedangkan saya dapat selimut, bantal dan guling ya." Ucap Alana.


Aldi membuang nafasnya kasar, ia lebih memilih untuk mengambil selimut yang baru yang berada di dalam lemari. Untungnya saja masih ada selimut yang baru, hanya saja tidak ada bantal dan guling ya. Sedangkan kedua bantalnya diambil oleh Alana semua.


Mereka masih saja saling menatap dengan rasa penuh permusuhan, hingga akhirnya Alana mengantuk dan membalikkan badannya agar ia tidak melihat wajah menyebalkan milik Aldi.


Keesokan harinya, Alana terbangun lebih dahulu. Gadis muda itu segera bangun dan membersihkan di dalam kamar mandi, niat awalnya sih ia hanya ingin cuci muka dan gosok gigi. Namun ia merasa tubuhnya sangat lengket, akhirnya ia memutuskan untuk mandi dan keramas. Alana baru ingat kalau semalam ia tidak mandi dan hanya membersihkan makeup.


Selesai mandi, Alana mencoba untuk membuka pintu kamar. Alana bisa bernafas lega saat ternyata pintunya sudah tidak terkunci lagi.


Alana berjalan menuruni tangga dengan kaki kecilnya. Langkah kakinya membawa gadis itu berjalan menuju dapur.


" Pagi bi," sapa Alana pada bi Nunik yang tengah berada di dapur bersama dengan dua rekan kerjanya.


" Pagi juga non, ada yang bisa bibi bantu nob?" Tanya bi Nunik.


"Nggak ada bi, cuman Alana pengen bantu bibi masak aja." Ujar Alana sembari mulai membantu bi Nunik dengan mulai mencuci sayuran.

__ADS_1


"Eh jangan non! Biar bibi aja, nanti saya malah diomelin sama nyonya non." Larang bi Nunik dengan mengambil sayuran yang berada di tangan Alana.


" Oh nggak papa bi. Bibi tenang aja, nanti kalau mama Sandra marahin bibi. Biar aku yang jelasin ke mama Sandra bi." Ucap Alana.


"Beneran nih non? Saya masih takut loh ini," ucap bi Nunik. Bagaimana ia tidak takut, anak bungsu di keluarga ini saja tidak pernah menyentuh dapur. Jadi apakah menantu keluarga ini boleh? Kan bi Nunik jadi was was.


Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Alana diperbolehkan untuk memasak. Walaupun Alana tidak terlalu jago memasak, namun ia bisa sedikit memasak beberapa menit yang lumayan gampang.


Saat sedang asyik asyiknya memasak bareng, mereka dikejutkan dengan kedatangan sang nyonya rumah.


" Kamu lagi ngapain sayang?"


Alana langsung membalikan badannya terkejut.


" Maaf nyonya, tadi saya sudah melarang nona muda untuk membantu memasak. Tapi nona muda bilang -" ucap bi Nunik terhenti ketika sang nyonya rumah malah ikut terjun ke dapur untuk memasak bareng.


" Sudah bi nggak usah takut, kan saya cuman tanya aja." Ucap mama Sandra mulai menyalakan kompor.


"Kamu kok jam segini udah keramas aja sayang?" Tanya mama Sandra dengan nada meledek Alana.


Alana mulai menyadari sesuatu hal yang tidak beres sekarang, ternyata keramas bisa jadi bahan ledekan bagi pengantin baru. Matilah Alana sekarang, bisa-bisanya dia keramas sekarang yang bisa menandakan ia dan om Aldi telah melakukan sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh pengantin baru.


"Ini gerah mah tadi, lagi pula tadi malam nggak sempat buat mandi." Ujar Alana yang kelewat jujur, kan sekarang jadinya mama Sandra jadi berpikir kemana mana.


Dan sekarang lihatlah, mama Sandra jadi senyum senyum sendiri sembari membalikkan makanan yang tengah ia masak. Setelah itu mereka melanjutkan dengan saling berbicara tentang membahas apapun itu.

__ADS_1


__ADS_2