
Hari ini Aldi sudah kembali bekerja seperti biasanya. Padahal baru tiga hari ia tinggal, tapi pekerjaannya sudah sangat menumpuk. Padahal sudah ia sambi kerjakan sedikit sedikit waktu ia di rumah sakit kemarin.
Tok....
Tok....
Tok....
"Masuk," ucap Aldi. Kemudian orang yang mengetuk pintu tadi langsung membuka dan masuk ke dalam setelah mendengar jawaban Aldi. Terlihat sang asisten yang berada dibalik pintu tadi.
"Kenapa?" Tanya Aldi tanpa melihatnya dan ia sembari membaca dokumen yang harus ditandatangani.
"Begini tuan, hari ini ada sekitar empat meeting yang sudah ditunda dari tiga hari yang lalu tuan." Ucap sang asisten menjelaskan agenda untuk hari ini. Sang asisten yang bernama Leon, seorang asisten dan sekaligus sahabat dari Aldi. Leon yang menemani Aldi membangun perusahaan ini dari nol.
"Bacain jadwalnya," ucap Aldi sembari menganggukan kepalanya.
"Jam setengah sembilan dengan perusahaan tuan kevan yang lokasinya disini tuan, jam set sebelas dengan perusahaan Corporindo di cafetaria dan bla..bla..bla…" ucap Leon menyebutkan agenda Aldi hari ini.
Aldi mengangguk lalu ia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan jam delapan lewat dua puluh menit.
"Siapkan berkas-berkasnya, kita siap-siap sekarang." Ucap Aldi.
"Baik tuan," ujar Leon kemudian ia pamit keluar untuk menyiapkan meeting pertama di hari ini.
Sepeninggalnya leon, Aldi menghela nafas lelah. Hari ini ia bisa dipastikan akan sampai malam di perusahaan. Belum lagi tumpukan berkas yang ada di atas mejanya, sungguh ini membuat mood Aldi hancur seketika.
Pukul 20.00 WIB
Drrt…
__ADS_1
Drrtt..
Drrtt…
Ponsel Aldi berbunyi yang ternyata sang mama yang menelepon dirinya.
"Halo mah," ucap Aldi mengangkat telpon dari sang mama.
"Kok kamu belum pulang?" Tanya sang mama dari seberang sana.
"Aldi lembur mah," jawab Aldi. Lalu ia meletakkan ponselnya di atas meja setelah mengaktifkan loudspeaker.
"Oh gitu…. Tapi kamu udah bilang ke Alana belum kalau hari ini kamu lembur?" Tanya mama Sandra lagi.
"Belum mah," ucap Aldi sambil ia menandatangani berkas yang sudah ia baca terlebih dahulu.
'kayak Alana bakalan khawatir aja tuh bocah,' ucap batin Aldi.
"Iya mah nanti Aldi telepon dia mah," ucap Aldi.
"Sekarang aja Aldi, kalau misalnya nanti-nanti kamu bakalan lupa karena keasikan baca berkasnya Di." Perintah mama Sandra, karena ia sangat mengetahui bagaimana sang anak ketika ia sudah fokus pada berkasnya.
"Yaudah iya mah, Aldi telepon Alana sekarang." Ucap Aldi menuruti perintah sang mamah, padahal sebenarnya bisa saja mamanya yang bilang ke Alana kalau hari ini ia lembur.
"Yaudah gih buruan," ujar mama Sandra setelah itu mengakhiri panggilan telepon nya. Aldi pun segera mencari nomor Alana lalu mulai menelpon nya.
" Halo om, ada apa?" Tanya Alana dari seberang sana.
"Saya lembur hari ini," ucap Aldi.
__ADS_1
"Oh oke," balas Alana. Sedangkan Aldi membulatkan matanya mendengar jawaban Alana yang begitu singkatnya.
"Saya ini lembur Lo, harusnya kamu semangatin saya kek. Saya lembur juga karena saya temenin kamu kemarin di rumah sakit," ucap Aldi.
"Oh jadi nggak ikhlas nih ceritanya jagain istrinya sendiri nih?" Tanya Alana.
" Ikhlas saya Na, ikhlas lahir batin malah," jawab Aldi lalu ia mengubah panggilan telepon nya menjadi Video call.
Aldi menunggu beberapa saat hingga akhirnya terlihatlah sang istri yang mengenakan baju tidur berwarna biru muda dan tengah duduk di tepi kasur.
"Ini kenapa Vc sih om?" Tanya Alana.
"Nggak apa-apa, saya cuman mau liat muka istri saya saja " jawab Aldi lalu ia kembali membuka berkas nya lagi.
" Oh aku tau nih, pasti om kangen kan sama aku? Emang iya sih kan aku orangnya emang ngangenin sih." Ucap Alana yang sangat pede sekali.
"Iya saya kangen sama kamu, saking kangennya kamu pengen saya buang ke rawa-rawa tau nggak." Ucap Aldi.
"Dih jahat banget, masa istrinya sendiri mau dibuang." Ucap Alana dengan cemberut.
"Hehehe saya bercanda Na, saya mau kamu temani saya lembur hari ini." Ucap Aldi yang meminta Alana untuk menemaninya lembur, karena jujur saja Aldi merasa kesepian di kantor.
"Iihh aku dah ngantuk om," ucap Alana lalu ia mengubah posisinya menjadi berbaring miring dan meletakkan ponselnya di sebelahnya.
"Uhh emang dasar bocil, baru juga jam delapan tapi dah ngantuk." Ucap Aldi meledek.
"Biarin aja sih om, suka suka aku lah." Ucap Alana dengan kesal.
Mereka berdua terus saja berdebat sambil Aldi memeriksa dan menandatangani berkas-berkasnya. Alana yang sudah sangat mengantuk pun menganggap suara Aldi sebagai penghantar tidurnya, biarkan saja sang suami berbicara sendiri. hingga Aldi mengakhiri sambungan teleponnya saat ia sudah tidak mendengar suara Alana lagi, yang ternyata sudah tertidur pulas.
__ADS_1