
"Gue mau ke toilet dulu, mending Lo duluan pergi ke kantin ya." Ucap viona saat Anita mengajak dirinya ke kantin.
"Bareng deh, gue ikut Lo." Ujar Anita yang diangguki oleh Viona.
Akhirnya mereka berdua berjalan ke arah toilet, dan saat di lorong yang sepi mereka bertemu dengan adik kelas yang mereka tolong dari Vanessa waktu itu.
Gadis cupu itu berjalan ke arah Viona dan juga Anita. Saat ia sampai di samping kedua orang itu, gadis itu menarik tangan viona yang membuat Viona menghentikan langkahnya.
"Kak Kia, sekarang, tolong." Ucap berbisik gadis itu kepada viona, kemudian ia berlari meninggalkan Viona dengan terburu-buru.
Sedangkan Viona terdiam cukup lama, ia mencoba untuk mencerna apa yang diucapkan oleh adik kelasnya itu.
"Vio kenapa?" Tanya Alana saat melihat Viona terdiam dan tidak menanggapi dirinya sama sekali.
Viona langsung berlari begitu aja menuju ke arah kantin, saat ia sudah mulai mengerti akan maksud ucapan gadis tadi. Sedangkan Anita yang sedang bingung hanya mengikuti Viona saja.
BRAK!
Viona menggebrak meja yang ditempati oleh inti Regalius membuat para inti terkejut.
"Wesss santai kali Bu bos," ucap Gio kaget karena mejanya digebrak hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
"Ada apa?" Tanya Keenan yang melihat wajah panik Viona.
"Kia… kita harus selamatkan Zaskia sekarang," ucap Viona dengan panik. Sedangkan Satria dan juga Zean langsung bangkit diikuti oleh Keenan, Gio dan juga laskar.
"Kia kenapa Vi?" Tanya Satria ikutan panik, ia merasa jantungnya langsung berdetak dengan cepat saat Viona menyebut nama Zaskia.
Viona menggelengkan kepalanya, "gue nggak tau. Tapi tadi ada yang kasih kode ke gue kalo kia lagi kenapa-kenapa."
"Yaudah kita ke kontrakan kan Kia sekarang," ucap Keenan kemudian pergi menuju ke arah parkiran diikuti oleh inti Regalius dan Viona dan Anita.
Keenan berbicara dengan pak satpam sebentar, lalu mereka dibukakan pintu gerbang, dan langsung mulai menjalankan motornya masing masing dengan kecepatan penuh.
Setelah mereka semua pergi, tak lama dari itu terlihat mobil Aldi memasuki gerbang sekolah. Ia terpaksa karena paksaan dari sang mama harus mengantarkan bekal untuk sarapan istri kecilnya itu. Walaupun ia mengantarkan nya lewat jam sarapan, karena ia tadi harus menghadiri acara rapat penting dulu.
Aldi menutup pintu mobilnya sembari membawa kotak bekalnya dengan langkah gagahnya, Aldi mulai menyusuri koridor menuju kelas Alana. Memang sebelumnya Aldi sudah mencari tahu terlebih dahulu dimana letaknya kelas sang istri.
Tok…tok..tok..
Aldi menunggu beberapa saat setelah ia mengetuk pintu ruang kelas Alana.
"Loh pak Aldi, ada perlu apa ya pak?" Tanya seorang guru yang sedang mengajar di kelas Alana.
"Saya mencari siswi yang bernama Alana, apakah dia ada di dalam?" Tanya Aldi.
"Mohon maaf pak, Alana sedang tidak masuk sekolah hari ini. Begitu juga dengan teman-temannya." Jawab guru perempuan itu.
__ADS_1
Aldi mengernyitkan alisnya, kata sang Mama tadi pagi-pagi sekali Alana sudah berangkat sekolah. Lantas kalau tidak ada di sekolah, kemana perginya sang istri? Apakah ia sedang bermain dengan temannya atau mungkin sudah berencana untuk membolos hari ini.
"Oh ya sudah kalau gitu, saya permisi dulu Bu." Pamit Aldi kemudian ia berbalik untuk kembali ke mobilnya. istri kecilnya memang suka sekali mengerjai dirinya, padahal ia sudah meluangkan waktunya untuk mengantarkan bekal ini namun malah sang istri tidak masuk sekolah.
"Awas saja kamu ya nanti," gumam Aldi sambil melajukan mobilnya keluar dari SMA Nusantara.
Sedangkan di sisi lain, Alana kini bisa bernafas dengan sedikit lega saat setelah menerima pesan dari mbak Thea kalau para sahabatnya sudah keluar dari sekolah.
Alana kemudian menundukkan kepalanya saat beberapa mobil melintas di hadapan mobilnya. Sampai saat ini Alana belum melihat Niko pergi juga, ia berharap para sahabatnya bergerak dengan cepat dan Alana mencoba untuk mengalihkan perhatian dari para penculiknya.
***
Kini rombongan Satria dkk sudah sampai di kontrakan tempat tinggalnya dengan Zaskia.
Satria langsung berlari masuk saat melihat pintu rumah terbuka lebar, dan sekarang tujuan satria adalah masuk ke dalam kamar. Setelah sampai di dalam kamar ia melihat keadaan kamarnya yang begitu berantakan, bahkan makanan tadi pagi yang ia siapkan juga berantakan. Dan juga Satria melihat ada noda darah yang terdapat di kasur dan lantai samping tempat tidur langsung membuat Satria kalut. Satria terlihat berjongkok untuk memeriksa darah tersebut dan ternyata masih basah, itu artinya darahnya belum lama.
Yang lainnya juga ikut memeriksa masuk ke dalam kamar ikut terkejut melihat ada noda darah di sana. Keenan menghampiri satria dan membantu Satria untuk berdiri.
"Lo tenang dulu, lebih baik sekarang kita duduk dulu." Ucap Keenan yang langsung mendapat gelengan kepala dari Satria.
Anita kini sudah menangis di pelukan Zean, sedangkan Viona mematung menatap darah tersebut. Gio dan Laskar sedang meneliti kamar, barangkali mereka menemukan sebuah petunjuk yang tertinggal disana.
Viona melangkah dan duduk di kasur, ia mencoba berfikir keras dan mencoba mencocokkan petunjuk yang ia punya.
"Coba kalian tutup pintu sama jendelanya sekarang," ucap perintah viona yang langsung dilaksanakan oleh gio dan laskar. Mereka mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Viona.
"Jl. Merpati no.8," gumam Viona yang dapat didengar oleh mereka semua membuat Satria dan juga Zean ingin langsung beranjak.
"Plis jangan gegabah, berhenti sekarang!" Perintah Keenan yang membuat langkah mereka berdua berhenti dan mereka kembali duduk lemas di atas lantai bersama dengan yang lainnya.
"Dari mana kamu dapat alamat itu Vi?" Tanya Keenan dengan nada pelan, karena ia takut ada yang mengawasi rumah ini.
" Dari adik kelas yang waktu itu aku dan Anita tolongin," ucap Viona. Anita berpikir kemudian mengangguk setelah ia mengingat itu.
"Apa ada petunjuk yang lain?" Tanya laskar yang diangguki oleh yang lainnya, karena petunjuk yang tadi diberitahu sama viona belum cukup untuk mereka.
"Sebentar," kemudian viona mulai merogoh kantong saku bajunya. Ia merasa tadi adik kelas memberikan dirinya sebuah kertas, dan ternyata benar.
"Jam 12 sampai jam satu Kia sendirian,"ucap viona sesaat setelah ia membaca isi kertas tersebut.
Semuanya mulai melihat jam mereka di tangan masing-masing, yang ternyata sekarang pukul 11.25.
"Berarti kalau menurut ini, berarti sekitar tiga puluh lima menit lagi dari sekarang Kia lagi ditinggal sendirian." Ucap Keenan yang sudah berhasil menyimpulkan kode itu.
"Berarti kalau gitu caranya kita bisa mulai amankan Kia di waktu ini. Ada yang tau itu di daerah sana?" Tanya Keenan dengan menatap anggota intinya.
"Gue paham, itu lokasinya Deket sama tempat kost gue. Disana kawasan perumahan elit dan yang penghuninya semua tertutup, untuk detailnya hanya itu yang gue tau." Ujar laskar mencoba mengingat nama jalan yang ternyata yang ada di dekat kostnya.
__ADS_1
Keenan mulai mengatur strategi dan yang lainnya sangat percaya dengan Keenan, karena Keenan merupakan seorang pemimpin yang bisa diandalkan. Mereka semua mulai terlihat mencerna dengan ucapan Keenan tanpa ada yang terlewat.
Setelah dirasa rencananya telah tersusun bagus mereka semua mengangguk, "baik kalau gitu kita nyamar."
Mereka mulai memakai pakaian nyamar yang telah diberikan oleh Viona dan Anita. Mereka semua tidak peduli dengan penampilan dan bau tidak enaknya yang berasal dari pakaian yang baru mereka kenakan. Setelah selesai mereka langsung menuju ke motor masing-masing dan langsung menuju ke lokasi dimana Zaskia sedang di sekap.
.
.
.
Alana kini sedang harap-harap cemas karena ia tidak tau apakah para sahabatnya sudah bertindak atau belum. Kini sepertinya Niko terlihat seperti sudah akan pergi menuju ke lokasi Zaskia.
Alana yang melihat itu dengan segera keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menemui Niko.
"Oh hai bang?" Sapa Alana.
Niko yang baru saja akan memasuki mobil pun sontak menutup pintu mobilnya.
"Oh wow… Bernai juga ya Lo datang kesini, mau mati Lo? Atau mungkin Lo udah kangen pengen bertemu dengan Abang tercinta Lo itu?" Ucap tanya Niko dengan tangan yang bersedekap kedepan dada dan dengan nada yang mengejeknya.
"Lo kalau misalnya mau nyiksa gue silahkan, atau perlu Lo mau bunuh gue juga silahkan. Tapi jangan pake orang-orang yang ada disekitar gue dong Lo sakiti juga." Ucap Alana dengan tangan yang terkepal erat.
"Loh nggak asik dong kalau langsung bunuh Lo," ujar Niko dengan perlahan mendekat ke arah Alana.
Alana tidak takut, gadis itu malah tersenyum miring saat melihat itu.
Bugh
Alana menendang Niko sebelum Niko melayangkan pukulan ke arah dirinya.
"Sial, makin jago aja Lo." Umpat Niko sembari memegang dadanya. Niko yang memang dasarnya pengecut pun akhirnya menyuruh para bawahan nya untuk mulai menyerang Alana. Alana sudah terlihat mulai kewalahan saat harus menghadapi empat orang sekaligus.
Akkhhh!
Alana berteriak cukup kencang saat merasakan perih di lengannya. ****! Mereka pakai senjata lagi. Bahkan sampai ada yang ingin hampir saja menusuk punggung Alana dari belakang. Namun sebelum itu,
Bug!
Alana bernafas lega saat ada yang menolong dirinya yang ternyata adalah para sahabat sang Abang lah yang membantu dirinya. Orang yang akan menusuk dirinya sekarang sudah terkapar di tanah.
"Kamu kenapa sih bandel banget kalau di bilangin, kenapa nggak minta bantuan sih." Ucap Glen dengan mengomel, kini ia sedang berkelahi di samping Alana yang berhadapan dengan Niko.
Alana hanya menyengir saja, kemudian ia kembali fokus untuk melawan para bawahan Niko. Alana merasa dirinya berhasil menarik orang-orang yang sedang menjaga Zaskia, karena ia melihat semakin banyak saja bawahan Niko yang datang.
"Lengan Lo Alana, balik ke mobil sekarang." Ucap Glen yang menarik Alana yang masih berusaha untuk melawan musuhnya. Belum sampai ke dalam mobil, Alana sudah pingsan dan untungnya segera Glen tangkap.
__ADS_1
"****! Darahnya." Ucap Glen panik ketika melihat darah yang semakin banyak keluar dari lengan Alana.