Menejerku Mantanku

Menejerku Mantanku
Pembohong


__ADS_3

"Kamu?" ucap Andri kaget.


" Kenapa?" tanya Adi dingin.


" Kenapa kamu kembali lagi, apa gak cukup pelajaran yang aku berikan kemarin?" tanya Andri kesal melihat Adi.


" Pelajaran apa? justru aku yang akan memberi pelajaran buatmu." jelas Adi berjalan ke kursi pemilik perusahaan.


" Kenapa kamu duduk di sana?" tanya Adi penuh amarah.


" Kenapa? aku pemiliknya." jawab Adi duduk dengan santai.


" Bukannya pak Antoni?".


" Iya ... aku hanya menitipkan pada ayahku yang ternyata ada tikus di dalamnya." jelas Adi menatap tajam padanya.


" Maksudmu?" tanya Andri tajam.


" Kamu merasa?" selidik Adi intens, Saat mereka sedang berdebat datang Johan.


" Bos ini dokumennya." ucap Adi menyerahkan berkas laporan keuangan.


" Apa ini? kamu mau merugikan perusahaan, hah! " ucap Adi marah melemparkan berkas ke pangkuan Andri.


" Kenapa dia mengetahuinya." batin Andri kesal.


" Mulai hari ini kamu saya pecat, bereskan semua barang-barangmu." ucapnya tegas dan dingin duduk di kursi menatapi layar monitornya.


" Baik." ucap Andri bangkit berjalan menuju keluar dari ruangan Adi.


" Awas kau," gerutu Andri mengepalkan tangannya. Saat akan masuk ke ruangannya tiba-tiba Andri melihat Sinta berjalan.


" Kamu sedang apa di sini? " tanya Andri penasaran.


" Justru aku yang harus tanya, kamu sedang apa di sini?" Tanya balik Sinta cuek.


" Aku bekerja di sini, tapi sekarang aku dipecat."


" Hah kamu bekerja di kantormu dulu, kamu ga salah." ucapnya Sinta meledek.

__ADS_1


" Ini semua gara-gara kamu mengambil semuanya dariku tanpa tersisa hingga Maharani berbaik hati memperkerjaku sebagai menejer di sini." ucap Andri kesal.


" Tunggu dulu, kamu bilang siapa? Maharani? jadi yang membeli perusahaanmu dulu Maharani, hebat juga dia. Tapi kenapa kantor ini juga punya Adi calonku." tanya Sinta


" Karena Maharani menjual setengah dari perusahaan, dan yang membeli si Adi brengsek itu." ucap Andri yang masih kesal.


" Ooh ... ya sudah aku mau masuk ke ruangan Adi." Ucap Sinta cuek berlalu meninggalkan Andri. Andri pun masuk setelah melihat Sinta masuk.


" Hai sayang," ucap Sinta manja berjalan menghampiri Adi yang sedang menatap layar monitor.


" Mau apa kamu ke sini?" tanya Adi yang menatapnya tajam.


" Aku mau ketemu kamu." ucapnya yang masih manja dan tangannya mulai memeluk bahu Adi.


" Jaga sikapmu, dan keluar dari ruanganku." titah Adi yang akqn menghubungi satpam.


" kenapa kamu susah dingin seperti ini, ayahmu juga sudah merestui kita." ucap Sinta kesal.


" Tersarah, tapi aku tidak akan pernah menerimamu." ucap Adi dingin menatap kembali layar monitornya. " Kamu keluar atau aku panggilkan satpam."


" Ga usah aku keluar sendiri." ucap Sinta membalikan badannya berjalan menuju pintu dan keluar.


Saat Sinta melewati ruangan Andri, " Setelah ini kamu mau kemana?" tanyanya duduk di sofa.


" Temani aku ke club, aku terus ditolaknya." ucap Sinta.


" Pergi duluan aku membereskan barang-barangku." ucap Andri yang masih sibuk merapikan barangnya.


" Kita bersama aja, aku tunggu kamu." ucapnya yang masih duduk di sofa sambil bermain ponselnya dan Andri tetap membereskan barangnya.


Beberapa menit kemudian, Andri selesai dan nembawanya keluar ruangan yang diikuti oleh Sinta menuju lif dan turun ke lantai dasar. Mereka menuju mobil Sinta dan melajukannya ke tempat yang di tuju.


Tak lama kemudian mereka sampai ke Club, mereka masuk dan duduk di meja lalu memesannya.


" Kenapa kamu bisa dipecat?" tanya Sinta.


" Aku ketahuan menggelapkan uang perusahaan." jawabnya santai.


" Kamu sekarang kere ya, sampai mengambil uang perusahaan." tanya lagi dengan penuh selidik.

__ADS_1


" Uh ...." Andri meghembuskan nafasnya dan menegukkan win yang ada di tangannya.


" Kamu tau kenapa Adi bersikap seperti itu?" Tanya Sinta yang juga meneguk minumannya.


"Heem.." jawabnya dengan anggukan. " Dia sedang dekat Maharani mantanku juga temanmu." jawabnya lagi menatap Sinta.


" Hem kenapa dia selalu beruntung,." ucap Sinta dengan kesalnya. Mereka terus meminum minuman yang mereka pesan, sedangkan di tempat lain Maharani sedang menunggu pemilik kedua perusahaan Mutiara Arta di sebuah restoran.


" Rik ... jam berapa kita meeting?" tanya Maharani.


" Sekitar jam satu bos,." jawab Rika yang sedang mengecek jadwal Maharani.


" Ok ..." jawab Maharani yang menyeruput kopinya.


Selang beberapa menit datanglah pemuda yang tak asing oleh Maharani.


" Selamat siang nyonya." Sapa Johan


" Perkenalkan ini bos kami Adi Guna Pratama pemimpin perusahaan PT. Adi Karya sekaligus pemimpin kedua dari perusahaan Mutiara Arta." ucap Johan memperkenalkan Adi.


" Selamat siang." ucap Adi mengulurkan tangannya, Maharani terdiam karena terkejut.


" Siang." jawab Maharani membalas uluran tangan Adi. " Silahkan duduk." ucapnya lagi sambil mendudukkan diri. Tak berselang lama, Maharani memulai meetingnya. Dan Adi hanya memperhatikan Maharani mempersentasikan gaun yang akan dijadikan kontes fashion.


Satu jam berlalu, meeting mereka selesai dengan cepat karena keduanya tidak saling sapa.


" Persentasi persiapan lomba sudah selesai, kami pamit undur diri." ucap Maharani dengan formal.


" Baik, jika begitu apakah saya bisa bicara dengan anda?" tanya Adi menatap Maharani.


" Maaf tuan, saya tidak bisa." jawabnya bangkit dari tempat duduk.


" Ayo rika kita ke butik!" Maharani mengajak Rika.


" Baik bos." jawab Rika yang mengikuti Maharani.


" Kenapa kamu membohongiku." batin Maharani kesal tanpa menoleh ke belakang.


" Huff ... " Adi meghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


" Kenapa bos?"tanya Johan


" Dia pasti marah." ucapnya kesal.


__ADS_2