
" Huff ... " Adi meghembuskan nafas kasar.
" Kenapa bos?"tanya Johan
" Dia pasti marah." ucapnya kesal.
" Ayo kita ke butiknya!" ajak Adi beranjak dari tempat duduknya berjalan keluar dari restoran menuju mobil.
Mobil mereka melaju ke butik Maharani dan beberapa saat tibalah di tempat tujuan. Adi turun dan bergegas masuk ke butik dengan raut wajah cemas.
Adi membuka pintu, dan terdapat Maharani yang sedang menatap layar monitor.
" Sayang, maafkan aku." ucap Adi mendekati Maharani.
" Ada apa?" tanyanya datar dan masih menatap monitornya.
" Maafkan aku, aku ... "
" Kenapa kamu bohong sama aku?" tanya Maharani menatap tajam Adi.
" Anu ... anu .." jawab Adi yang tak sanggup melihat tatapannya.
" Anu ... anu ... mau menjelaskan apa sama aku?" tanya Maharani yang menatap intens dan beranjak dari kursi kerjanya berjalan duduk di sofa menyilangkan kedua tangannya.
" Begini ... aku melakukan ini karna di perusahaan kita ada yang tidak beres." jelas Adi duduk disamping Maharani.
" Maksudmu?"
Adi menjelaskan semuanya hingga pemecatan Andri beberapa jam lalu.
" Kenapa Andri melakukan ini?" tanya Maharani yang dari dulu mempercayakan perusahaan kepadanya, dan Adi hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengetahuinya.
" Kamu masih marah?" tanya Adi menatapnya.
" Tidak," jawabnya singkat memajukan bibirnya.
Cup .... " Aih gemesnya." ucap Adi yang mengecupnya bibirnya sekilas.
" Kebiasaan." ucap Maharani melotot pada Adi.
" Maaf ya..." ucap Adi membenarkan badannya agar menghadap ke arahnya. " aku rindu ..." Adi memeluknya dan mencium ujung rambutnya.
" Aku akan segera menikahimu setelah ini, " ucap Adi.
" Benarkah?" tanggap Maharani dengan senang dan memeluknya lebih erat.
" Hem ..." Adi mengangguk tanda mengiyakan. "aku akan mengajakmu bertemu ayahku." ucap Adi tersenyum senang dan Maharani mengangguk tersenyum tanpa hitungan detik Adi mencium bibir ranumnya dan **********, tanpa ragu Maharani membalas dengan lebih lembut.
Sore hari yang disambut oleh sepasang kekasih dengan cumbuan mesranya, berbeda di tempat lainnya.
" Aku punya rencana." ucap Sinta dengan semangat.
" Apa?" tanya Andri yang masih meneguk minumannya.
Sinta membisikan rencananya, dan Andri hanya mengangguk mengerti.
" Aku pulang." pamit Sinta beranjak meninggalkan Andri yang masih ingin minum.
Andri tidak peduli dan meminum kembali minumannya.
__ADS_1
" Aku harus dapatkan kamu Adi." ucap Sinta melajukan mobilnya untuk menjalankan rencananya.
Sedangkan di butik yang masih mencurahkan rindunya berhenti untuk menghela nafasnya yang hampir habis.
" Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Adi yang masih memeluknya.
" Tinggal sedikit lagi. kenapa?" Maharani tanya balik meregangkan pelukannya.
" Kita pulang ke rumahku dan bertemu Ayah." ucap Adi.
" Apa tidak terlalu cepat?" tanya Maharani.
" Tidak." jawab Adi singkat.
" Boleh, tapi aku menyelesaikan pekerjaanku." ucapnya berdiri menuju meja kerjanya yang diikuti Adi.
" Kalau begitu aku keluar dulu." ucap Adi keluar mencari asistennya johan.
" Kunci mobil?" Adi meminta.
" Ini bos, " Johan memberi kuncinya dengan bingung.
" Kamu naik taksi," perintah Adi meninggalkan Johan yang masih bengong.
Waduh batin johan.
Adi berjalan masuk butik dan menuju ruang kerja.
Ceklek ... Adi membuka pintu dan melihat Maharani merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
" Sudah selesai sayang?" tanya Adi menghampirinya.
Mereka keluar butik dan menuju mobil, masuk kedalam dan Adi siap meluncur ke rumahnya.
Setengah jam berlalu mobil mereka telah sampai di halaman rumah Adi. Mereka keluar dari mobil, sekilas Adi melihat mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
" Aku gugup." ucap Maharani menggenggam tangan Adi.
" Tidak apa-apa, ayo masuk!" ajak Adi menggandeng tangan Maharani masuk ke dalam dan tidak disangka ada seorang perempuan yang dia kenal.
" Sayang kamu sudah datang." ucapnya.
" Ngapain kamu ke sini?" Tanya Adi datar dan dingin.
" Ayah lihatlah sikap Adi selalu begitu kepadaku." adunya kepada Antoni ayah Adi.
kenapa harus dia lagi, batin Maharani menatap Sinta yang sedang merajuk pada Adi.
" Kalau begitu selesaikan urusanmu dulu." ucap Maharani melepaskan tangannya dan pergi keluar meninggalkan Adi yang masih mematung.
" Rani, tunggu ini tidak seperti yang kau pikirkan." ucap Adi mengejar Maharani dan mencekal tangannya.
" aku benar-benar kecewa, kebohongan apalagi yang kau sembunyikan dariku." bentaknya yang tidak terasa air matanya jatuh.
" Tidak ada kebohongan lagi sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Sebaiknya kita masuk dan aku selesaikan semuanya." ucap Adi hati-hati membujuk Maharani.
" Tidak, sebaiknya kau selesai urusanmu. Jangan hubungi aku lagi." ucapnya dengan rasa kecewa dan pergi meninggalkan Adi keluar rumah yang saat itu langsung ada taksi.
Sedangkan Adi menatap Maharani pergi darinya dengan rasa sesal, dan membalikan badannya masuk ke dalam rumah yang ada Sinta dan Antoni yangn sedang duduk di sofa.
__ADS_1
" Apa maumu?" tanya Adi menatap tajam Sinta
" Aku ingin menikah denganmu." jawab Sinta yang menghampirinya.
" Aku sudah bilang jauhi aku dan jangan sentuh!" bentak Adi yang masih kesal padanya.
" Ayah .." Sinta merajuk lagi.
" Sudahlah Adi menikahlah dengannya, Maharani dari keluarga yang tidak benar. Dan ayah tidak akan merestuinya." ucap Antoni membela Sinta.
" Tau apa ayah tentangnya, sekali dia tetap dia yah." ucap Adi marah dan meninggalkan mereka berdua berjalan keluar rumah menuju mobilnya dan melajukan ke apartemennya.
yes, berhasil, batin Sinta.
" Ayah, kalau begitu saya pamit dulu." ucap Sinta pamit keluar rumah Antoni dan menaiki mobilnya.
Sedangkan di apartemen Maharani.
" Kenapa harus dia lagi yang muncul." ucap Maharani membenamkan badannya di bathup dengan merilekskannya.
Satu jam berlalu
Maharani beranjak menyudahinya dan keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandinya menuju lemari mengambil piyama.
Usai memakai pakaian, Maharani merebahkan badannya di atas ranjang. Dan tak berselang lama akhirnya terpejam sudah matanya menuju alam mimpi.
Di apartemen Adi.
" Aargh .... " teriak Adi meluapkan kekesalannya.
" Aku tidak akan melepaskanmu Sinta, kau berurusan denganku.".
Suasana malam yang seharusnya indah berganti dengan pagi yang cerah meskipun tidak secerah hati Adi.
Adi terbangun dari tidurnya di sofa dan melihat sekelilingnya sangat berantakan beranjak berjalan menuju kamar mandi hanya sekedar gosok gigi dan membersihkan wajahnya yang kusut.
Selesai dengan ritual singkatnya, Adi berganti pakaian dengan rapi dan berjalan keluar apartemenya menuju lif turun ke lantai bawah dimana mobilnya terparkir di sana.
Adi langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju butik Maharani.
Dua puluh menit mobil yang dikendarai Adi tiba di halaman butik Maharani. Adi turun dan masuk ke butik menuju ruang kerja Maharani.
Saat akan membuka pintu, terdengar suara laki-laki setengah baya.
" Paman, apa tidak cukup dengan harta ayah ibu yang paman ambil dariku." ucapnya menangis.
" Tidak, kamu harus menikah dengannya karena aku terlibat hutang dengannya." ucap ferdi santai.
" Cukup paman, aku tidak mau menurutimu." katanya dengan marah.
" Kamu harus mau, besok akan ada yang menjemputmu." ucap ferdi beranjak dari kursi berjalan keluar ruangan. Sedangkan Adi bersembunyi.
Setelah ferdi paman Maharani pergi, barulah Adi masuk dan melihat Maharani menangis sesegukan.
" Kenapa sayang? tadi itu siapa?" tanya Adi memeluk Maharani akan tetapi langsung ditepis olehnya.
" Ngapain kamu ke sini?" bentak Maharani menatap tajam padanya.
" Pergi kau dari sini, tinggalkan aku sendiri." ucapnya lagi.
__ADS_1
Bersambung 😯😯