
" Bolehkah aku bertemu dengan orangtuamu?" tanya Maharani.
Adi langsung diam tak berkata, beberapa detik kemudian ," boleh" ucap Adi tersenyum dan mengajaknya pulang karena sudah larut malam.
Selang beberapa menit, motor Adi sampai di depan apartemen Maharani.
" Sudah sampai." ucap Adi berhenti tanpa mematikannya. Maharani turun dan Adi langsung melajukan motornya.
Setelah kepergian Adi, Maharani mendapat pesan dan berjalan menuju mobil kemudian melajukannya ke tempat yang dijanjikan.
Di tempat lain.
Andri yang masih trus ke club malam karena Ia benar-benar kesal mengetahui hubungan Maharani dan Adi.
" Kenapa harus OB itu yang jelas-jelas bukan levelmu." gurutu Andri yang masih dalam keadaan mabuk.
" Kenapa?" tanya seorang perempuan di sampingnya.
" Aku benar-benar kesal." racau Andri yang terlihat mabuk berat tanpa menoleh,.
" kesal kenapa?" tanyanya sambil meminum pesanannya.
Andri penasaran kenapa wanita ini twrus saja bertanya, Dengan terpaksa Andri menengok ke arah wanita yang sedari tadi bertanya.
" Maharani, kau datang ke sini?" tanya Adi memeluknya dan wanita itu kaget karena langsung dipeluknya dengan menyebutkan nama wanita yang dia amat benci. Ia menompang badannya Andri membantunya berdiri berjalan ke luar Club.
" Penjaga, tolong bawa orang ini ke mobil saya." ucap wanita itu memapah Andri ke mobilnya.
" Baik nona." jawab penjaga Club dan membantunya memasukkan ke mobil wanita. Andri sudah masuk, dan wanita itu masuk mobil dan melajukan ke apartemennya.
Setengah jam kemudian mobil sudah terparkir di lantai paling bawah apartemen. Wanita itu turun dan memapah Andri menuju lif naik ke apartemennya membuka pintu dan membaringkan di atas ranjang milik wanita itu.
" Sayang, kemari temani aku." Andi menarik tangan wanita itu yang dia kira masih Maharani, sehingga tubuhnya menindih tubuh Andri, " Kau harus menjadi milikku, dulu kau pernah menolaknya tapi sekarang aku akan melakukannya." ucap Andri mencumbu tanpa ada penolakan darinya sehingga terjadilah kegiatan panas pada malam itu.
Sedangkan Andri pulang ke rumah ayahnya setelah mengantarkan Maharani ke apartemennya.
" Ayah ... besok aku harus datang ke perusahaan Mutiara Arta, ada tikus di sana yah." ucap Adi duduk di sofa ruang kerja ayahnya.
" Kenapa kamu harus ijin kepada ayahmu, bukannya kamu sudah kerja di sana?" tanya Antoni Ayahnya yang sedang mengecek laporan.
" Sekarang jadi pengangguran, dipecat tanpa ada kesalahannya." jawab Adi kesal.
" Kok bisa?" tanya Antoni lagi.
" Gak tau yah." jawab Adi mengangkat bahunya.
" Baiklah, aku dengar kamu sedang dekat dengan pemilik kedua perusahaan itu?" tanya Antoni yang masih mengecek laporannya.
" Iya Ayah dan aku akan menikahinya." jawab Adi santai sambil melihat foto dirinya dengan Maharani saat di Taman Mini.
__ADS_1
" Kamu ga suka dengan pilihan ayah? aku rasa dia anak yang baik." ucap Antoni.
" Sinta maksudnya yah."
" Tidak, dia sudah barang bekas. Aku ga mau." ucap tegas Adi.
" Terserah kamu, dia selalu menelpon ayah agar bisa dekat denganmu."
" Sudah lupakan yah, Maharani lebih manis." ucapnya tersenyum bangkit dan berjalan keluar ruang kerja ayahnya. Antoni hanya melihat dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Adi berjalan menuju kamarnya yang sudah lama Ia tinggal, berbaring menghadap atas dan membayangkan hal romantis yang tadi Ia lakukan. " Hem benar-benar manis." ucapnya tersenyum sendiri sehingga tidak rasa memejamkan mata.
Malam berganti pagi, Adi beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi membersihkan diri.
Tidak lama kemudian Adi keluar dari kamar mandi menuju tempat pakaian yang masih ada di rumahnya.
Selang beberapa menit, Adi turun untuk sarapan bersama ayahnya. Ia memakai kemeja putih dan jas hitam.
" Sudah siap kamu mulai bekerja di kantor ayah?" tanya Antoni ayahnya.
" Siap dong yah, demi calon istri." jawabnya terkekeh.
" Ya kalau memang serius, ajaklah dia ke rumah." Ucap Antoni yang menyuap makanannya.
" Oya Di, nanti ada agenda kamu harus bertemu dengan Maharani karena projek pameran busana international." ucapnya lagi.
" Emangnya harus Adi ya yah?"tanya Adi heran.
" Baiklah." ucapnya Adi menghampiri ayahnya untuk berangkat.
" Ayah aku berangkat dulu." ucap Adi mencium tangan ayahnya.
" Iya ... kamu tinggallah di sini, temani ayah yang sudah tua ini." Pinta Antoni.
" Ya, nanti aku pikir-pikir dulu." ucap Adi membalikkan badannya berjalan keluar rumah bersiap berangkat ke kantor ayahnya yang ditemani asistennya.
" Bagaimana Johan?" tanya Adi datar tentang berkas yang harus diteliti oleh asistennya Johan.
" Sudah saya cek dan benar adanya kalau ada tikus." jawab Johan membenarkan.
" Baiklah kalau begitu kita langsung ke Mutiara Arta." perintah Adi masuk mobil.
" Baik bos" jawab patuh dan melajukan mobilnya.
Setengah jam berlalu, mobil yang ditumpangi Adi tiba di depan kantor Mutiara Arta. Adi dan asistennya turun dari mobil dengan wajah yang dingin dan datar berlenggang masuk ke kantor melewati beberapa karyawan.
" Eh itu bukannya Adi OB diperusahaan ini, kenapa dia datang ke sini lagi dengan tampilan berbeda." ucap salah satu OB menyenggol tangan caca yang sedang membersihkan kaca.
" Apa?" Caca melihat ke arah yang ditujukan temannya. " Eh iya." ucap Caca langsung meninggalkan temannya.
__ADS_1
" Adi, " teriak Caca menghampiri Adi.
Adi menoleh dan kembali berjalan menuju lif mengabaikan Caca.
" Siapa sebenarnya dia?" ucap Caca kesal kembali ke temannya.
Adi dan Johan sampai di lantai paling atas, keluar dari lif dan berjalan ke arah ruangannya. Saat melewati ruangan menejer, Adi membuka pintu ruangannya dan belum terlihat menejer di ruangannya.
" Kenapa jam segini belum datang? hubungi dia sekarang dan harus ke kantor dalam waktu satu jam." perintah Adi pada asistennya.
" Baik bos." patuh Johan mengambil ponselnya.
Sedangkan di tempat lain.
Kring ... kring .... kring .... ponsel Andri berdering membangunkannya. Andri bangun merasakan tangannya tertindih benda berat, Andri membuka matanya dan terlihat kepala seorang wanita yang membelakanginya. Andri mengingat kejadian semalam, dia mabuk berat dan ada seorang wanita yang dirasanya Maharani.
Andri melepaskan tangannya perlahan mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
" Halo,." jawab Andri yang mengetahui siapa yang menghubunginya.
" Cepat ke kantor, bos mau bertemu. Aku beri waktu satu jam." ucap disebrang sana yang langsung menutup ponselnya.
Andri langsung bangun akan tetapi Ia menyadari kalau ini bukan apartemennya maupun apartemen Maharani.
"Lantas ini siapa?" batinnya dan membalikan badan polos perempuan yang ada disampingnya.
"Kamu" ucap Andri yang kaget membangunkan Sinta mantan istrinya.
" Ada apa?" tanya Sinta mengerjapkan matanya.
" Kenapa kamu membawaku ke sini dan kenapa kamu .... " tanya Andri kesal.
" Alah kamu juga memintanya sampai dua kali, dan dengan kesalnya kamu trus memanggil maharani. Meskipun begitu, aku menikmatiny
trimakasih ya sayang. " Sungut Sinta yang langsung bangun menuju kamar mandi meninggalkan Andri yang masih medengus kesal.
" Hai, aku dulu. Aku sudah terlambat." Ucap Adi.
" Kalau begitu ayo kita mandi berdua.." ajak Sinta masuk ke kamar mandi, Andri pun terpaksa menerima ajakannya karna akan bekerja.
Beberapa menit kemudian, Andri lebih dulu keluar dari kamar mandi memakai handuk kecil yang melilit di pinggangnya memakai pakaiannya yang semalam Ia pakai. Andri keluar dari kamar Sinta tanpa pamit padanya menuju lif ke lantai dasar memesan taxi online karena mobilnya masih berada di club.
Beberapa menit kemudian Andri sampai ke kantor dan langsung menuju ke ruangan dimana Johan menunggunya.
" kamu terlambat setengah jam, mau aku pecat." ucap Johan tegas.
" Maaf tuan, saya semalam terlalu mabuk." jelas Andri gugup.
" Bukan urusan saya, sekarang silahkan duduk. Karena Bos sedang ada urusan sebentar. " perintah Johan menatap tajam Andri, lalu keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Tak berselang lama, datanglah seseorang membuka pintu ruangan.
" Kamu.!" ucap Andri kaget.