Menejerku Mantanku

Menejerku Mantanku
Kesedihan Romi


__ADS_3

Di kediaman Antoni, semua panik karena Maharani menghilang. " Ayah ini bagaimana? " tanya Adi kepada Antoni.


" Tenang ini sudah ada tanda dimana Maharani berada lewat handphone nya. "


"Tapi yah, aku takut istriku kenapa-kenapa. "


" Sudah kamu berdoa saja, semoga dia baik-baik saja. " ucap Antoni menenangkan Adi.


" Nah.. sudah ketemu. Ayo kita ke lokasi. " ucap Antoni yang mendapat lokasi dari orang suruhannya.


*


*


*


"Lepaskan aku.. " ucap Maharani memohon dengan air mata yang jatuh.

__ADS_1


" Jangan menangis sayang, aku tidak tega melihatmu seperti ini. " ucapnya Romi mengusap air mata Maharani.


" kamu lapar sayang? " tanya Romi membenarkan posisi Maharani agar duduk.


" Tidak, aku ingin pulang. " pintanya yang masih menangis.


" Kamu belum bisa pulang, kamu harus menemaniku disini untuk beberapa waktu. " ucap Romi naik ke atas ranjang dan duduk disampingnya yang diikuti Maharani duduk dengan menangkup kedua kakinya.


" Sebenarnya apa yang akan kamu lakukan? " tanya Maharani yang masih mengeluarkan air mata.


" Dulu aku dan Adi berteman sejak masuk sekolah, kita saling melengkapi satu sama lain. " jawab Romi tanpa menjawab pertanyaan Maharani.


" Semua yang ada di mobil susah keluar, aku 0un ikut keluar. Didalam hanya tersisa Adi dan ibuku yang saat itu tak sadarkan diri, tak lama kemudian Adi bangun. Aku melihat ada tetesan bahan bakar yang artinya mobil itu kemungkinan akan meledak. "


" Aku panggil Adi untuk segera keluar dan menyuruhnya untuk membangunkan ibuku, Adi pun sudah berusaha untuk membangunkannya. Tapi ibuku tidak kunjung sadar, sampai akhirnya Antoni ayahnya dan ayahku menolong Adi untuk keluar terlebih dahulu dan berada disampingku. Setelah menolong Adi, saat mereka akan menghampiri mobil yang hanya ibuku. dwuar .... dwuar.. suara ledakan mobil itu terdengar. Aku berteriak dan berlari menghampiri ibuku., tapi langkahku terhenti karena ditahan oleh ayahku. Aku menangis ... " cerita Romi yang mulai mengeluarkan air matanya dan Maharani pun ikut merasa iba.


" Tangisanku mereda, dan aku menghampiri Adi yang juga menangis. Aku langsung menghampiri, memukulnya berkali-kali. Aku menyalahkannya karena dia tidak menolong ibuku sampai aku pun masih menyalahkannya

__ADS_1


" ucap Romi yang mengusap air matanya dan melihat Maharani.


" Itu sudah takdir yang sudah ditentukan, kamu tidak boleh menyalahkan Adi. " ucap Maharani yang masih menangis.


" Kalau dia bisa membangunkan ibuku, mungkin aku akan memaafkannya. " ucapnya emosi.


"Sudahlah...aku tidak akan menyakitimu. Kamu hanya duduk dan patuh disini. " ucap Romi beranjak dari ranjang tersebut.


Romi pun berjalan menuju pintu kamar untuk keluar, saat membuka pintu. Bugh ... bugh.... bugh... sebuah pukulan mendarat di pipi Romi hingga terjungkal ke belakang, saat itu pun Maharani melihat dan ternyata Adi yang datang. Adi pun langsung menghampiri Maharani yang masih duduk diatas ranjang dengan menangkup kedua kakinya.


" Sayang.... kamu tidak apa-apa? " tanya Adi


" Tidak apa-apa. " ucap Maharani yang langsung memelil Adi menangis.


" Sudah... sekarang kamu sudah aman. " ucap Adi tersenyum dan menggendongnya.


Adi pun berjalan melewati Romi yang masih terbaring kesakitan karena dipukul oleh Adi.

__ADS_1


" Setelah ini kamu akan mendekam di penjara. " ucap Adi lalu berjalan keluar...


__ADS_2