
" Ngapain kamu ke sini?" bentak Maharani menatap tajam padanya.
" Pergi kau dari sini, tinggalkan aku sendiri." ucapnya lagi. Adi tidak menghiraukannya dan tetap mendekap walaupun memberontak. Maharani menangis di dekapan Adi, rasa nyaman yang dirasa membuatnya menumpahkan semua yang ada di hatinya.
Setengah jam akhirnya tangisan Maharani mereda dan meregangkan pelukannya.
" Kamu mau apa datang kesini?" tanya Maharani yang sedang mencari berkas.
" Desain yang kubuat sudah selesai, kalau tidak ada apa-apa lagi silahkan keluar." ucap Maharani menyerahkan berkas desainnya kepada Adi dan langsung fokus menatap layar monitornya seakan tidak terjadi apa-apa.
" Ni, itu siapa? dan kenapa orang itu memaksamu untuk nikah?" tanya Adi lembut.
" Bukan urusanmu, silahkan keluar!" perintah Maharani tanpa melihat Adi.
Adi hanya pasrah tanpa ditunggu lagi, Ia keluar dari ruangannya berjalan menuju pintu depan. Saat hendak melangkah keluar. " Pak Adi." panggil seseorang yang ternyata Rika asistennya Maharani.
" Iya ada apa?" tanya Adi menghentikan langkahnya menoleh ke arahnya.
" Boleh saya bicara sebentar." tanyanya.
" Boleh." jawab Adi.
" Kalau begitu mari ikut saya." ucapnya berjalan ke ruang kerjanya yang diikuti Adi.
" Silahkan duduk pak," ucap Rika mempersilahkan Adi duduk.
" Iya terimakasih."
" Tadi itu pak Ferdi pamannya bos yang dulu selalu ingin merebut semua hartanya, setelah harta ayah ibunya bos habis dipakai dia untuk judi dan main perempuan." ucapnya mengawali pembicaraan.
" Sungguh malang nasib bos, dia merintis butik ini dari nol dan sekarang disuruh nikah dengan pimpinan perusahaan PT Maju Jaya yang terkenal pemain wanita karena Ferdi berhutang padanya. Jadi tolong bos ya pak, saya tau bagaimana perjalanannya." jelasnya.
" Ok ... Sudah cukup informasinya, saya undur diri." pamit Adi bangkit dan berjalan keluar ruangannya.
Ternyata . batin Adi menahan rasa marahnya.
Adi masuk mobil dan melajukan ke kantor Adi karya.
Setengah jam perjalanan Adi tiba dan turun dari mobil dengan perasaan kesal.
" Johan, selidiki siapa pemimpin PT Maju Jaya." perintah Adi melewati ruangan Johan menuju ruangannya.
__ADS_1
" Baik bos." patuh Johan membungkuk.
Adi masuk duduk di kursinya menatap monitornya dengan kesal.
Sedangkan di tempat lain.
" Gimana rencanamu?" tanya Andri yang sedang menyerutup minuman yang dipesannya.
" Berhasil" jawab Sinta tersenyum.
" Aku akan segera menikah dengannya karena Antoni ayahnya sudah merestuiku." jawabnya lagi santai.
" Heem." Andri menjawab dengan deheman.
" Kamu punya rencana apa?" tanya Sinta menoleh pada Andri.
" Kamu tidak perlu tahu, jalankan saja rencanamu." ucap Andri yang enggan menjawab.
" Huf ... ya sudah aku pergi dulu.'" pamit Sinta meninggalkan Andri.
Sinta keluar dari restoran menuju mobilnya, saat akan masuk mobil. Ponselnya berbunyi " Iya ada apa?" jawab Sinta.
" Iya ... kalau begitu kita lanjutkan rencana berikutnya." Sinta mematikan ponselnya dan melajukan mobilnya ke suatu tempat.
Sampai di ruangan tersebut, cleklek Sinta membuka pintu dan melihat seseorang yang sedang melihat monitornya dengan serius.
" Hai sayang, " sapa Sinta menghampirinya dan duduk di pangkuannya.
" Kenapa kamu datang ke sini?" tanyanya menyambutnya senang.
Cup "aku kangen." Sinta mengecup bibirnya dengan ******* yang lembut tanpa banyak kata Ia membalas ******* Sinta dengan rakus dan tanganya meraba diatas pahanya sehingga masuk ke dalam dresnya dan menaikannya ke atas sehingga terlihat dua gundukan tertutup yang membuatnya ingin memakannya,.
Ia membuka penutup benda dan membuangnya sembarang tempat dan tanpa diminta Ia langsung melahapnya seperti bayi kehausan sedangkan tangan satunya meremas benda yang sangat kenyal.
" Sayang jangan di sini." ucap Sinta yang tidak bisa lagi menahan hasratnya menatapnya dengan sayu.
Tanpa ba bi bu lagi, Sinta digendong menuju kamar yang ada di sebelahnya dengan bibir yang masih bertautan. Dibaringkannya dengan kasar dan menindihnya karena ingin disatukan sehingga terjadilah pergulatan panas di siang hari.
Satu jam lebih kegiatan mereka telah usai.
" Sayang." panggil Sinta yang masih memeluknya.
__ADS_1
" Heem." jawab dengan deheman.
" kapan kamu nikahin aku?'" tanyanya manja.
" Lakukan saja tugasmu dengan baik, " jawabnya dengan mata terpejam.
" Tapi Rom, aku sudah melakukannya. Tapi dia selalu dingin kepadaku bahkan menatap saja tidak." sungutnya.
" Pokoknya aku tidak mau tau, kamu harus segera menemukan kelemahan perusahaan Adi. Kalau tidak semua fasilitas yang kamu nikmati akan aku cabut." ucapnya Romi berdiri menuju kamar mandi.
" Trus status kita apa Rom?" tanya Sinta berteriak berjalan mengikuti ke kamar mandi yang juga sama-sama membersihkan diri.
" Jangan pernah minta status kepadaku karena kamu hanya patner ranjangku, paham kamu!" ucapnya datar dan dingin.
" Tapi ..." Sinta kaget karena selama ini dia hanya patner pemuas nafsunya.
" Sudah, keluar atau kamu mau melayaniku di sini." ancamnya.
" Ya sudah, aku akan melayanimu sebagai penutupnya dengan bayaran kau tidak akan membuangku." ucap Sinta memeluknya.
persetan dengan status, yang penting dia tidak mencabut fasilitas untukku. batinya menatap Romi yang sedang berdiri.
Tak berselang lama akhirnya, mereka berdua keluar dengan rambut basah. Romi menuju lemarinya dan memakai pakaiannya, sedangkan Sinta memngambil dresnya yang ada di ruang kerja Romi.
" Sayang apakah kamu lapar?" tanya Sinta karena perutnya merasa lapar.
" Kalau begitu ayo kita makan, servismu memuaskan membuatku menjadi lapar." ucap Romi
" Aah kamu, ya sudah ayo sayang" ajak Sinta memggandeng tangan Romi keluar dari ruangannya berjalan menuju lif dan turun ke lantai dasar. Pintu lif terbuka dan berjalan menuju mobil, mereka masuk dan Romi melajukan ke sebuah restoran.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di restoran. Mereka turun berjalan dengan tangan Sinta menggandeng Romi menuju restoran, mereka masuk dan memesan ruang VVIP tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengamatinya.
" Bener dugaanku." ucapnya Adi lirih sambil menyantap makananya yang kebetulan makan siangnya bersama Johan.
Di tempat lain.
" Rik ... aku balik awal, karena kepalaku pusing." ucapnya pada Rika yang sudah keluar dari ruangannya.
" Baik bos, apa perlu saya antar?" tanyanya.
" Tidak perlu." jawabnya langsung berjalan keluar butik.
__ADS_1
Sebelum masuk mobil, tiba-tiba ada yang memeluk dari belakang. Maharani terkaget siapa? batinnya.
Siapa ya 🤔🤔