
Saat Maharani berjalan ke ujung Catwalk, tiba-tiba bruk Maharani turun ke bawah.
Maharani merasakan sakit di pergelangan kakinya dan pinggangnya dan kepala nya terbentur lantai yang akhirnya pingsan.
Maharani langsung dibawa oleh pihak penyelenggara ke rumah sakit ditemani salah satu crew.
*
*
*
Sesampainya di Rumah sakit, Maharani langsung mendapat penanganan.
Beberapa menit kemudian, Maharani sudah dipindahkan ke ruang inap.
" Eeh ... Dimana aku?" ucap Maharani saat tersadar dari pingsannya dan memegang kepalanya.
" Kamu sekarang ada ruang inap." ucap salah seorang perempuan disebelahnya.
" Heem ... kamu siapa?" tanya Maharani kepada seorang di depannya.
" Perkenalkan nama saya Rika penggemar anda." jawab Rika salah satu crew yang ikut menemani ke Rumah sakit.
" Aww ... " Maharani meringis merasakan ada yang sakit di bagian kaki kirinya.
" Ada apa dengan kakiku?" tanyanya.
" Kaki anda patah di bagian pergelangan." jawab Rika.
" Apa?" ucap Maharani kaget tidak percaya.
" Kenapa jadi begini, bagaimana dengan pekerjaanku." ucapnya menangis tersedu.
Rika tidak tega melihat Maharani menangis, lalu berinisiatif untuk memeluknya.
Saat itu juga datanglah Romi dengan menggandeng seorang wanita.
" Bagaimana keadaanmu?" tanya Romi menghampirinya, dan Maharani hanya diam tidak menjawab.
" Perkenalkan ini Sinta pemenang kontes yang kamu ikuti. Dan dia menjadi penggatimu, dan kerja sama kita sudah berakhir." ucap Romi memperkenalkan Sinta yang sekarang menjadi modelnya.
" Silahkan, aku akan berdiri sendiri." ucap Maharani menahan air matanya agar tidak turun.
" Bagaimana bisa kamu berdiri sendiri sedangkan pergelangan kakimu sudah patah, dan tidak akan ada lagi yang mau menerimamu sebagai model." ucap Romi meledek.
" Pergi dari sini?" bentak Maharani yang tidak kuasa menahan rasa sesak yang ada di dada.
" Aku akan pergi, karena urusanku dan kamu sudah selesai." ucapnya santai dan berjalan menuju pintu kamar pasien.
" Oya ... aku memang sengaja membuatmu celaka, itu hukumanmu yang tidak mau menuruti apa yang aku katakan."
" Dan satu lagi, aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya memanfaatkanmu." ucap Romi sebelum keluar dengan tersenyum puas.
" Apa ... dasar bajingan." teriak maharani tidak percaya dengan ucapan Romi.
" Kenapa dia tega kepadaku. Apa salahku sehingga dia membuatku begini." isak Maharani yang masih ada dipelukan Rika.
__ADS_1
" Anda harus sabar, setelah ini pasti ada jalannya." ucap Rika mengelus punggung Maharani.
Tiga hari berlalu Maharani diperbolehkan untuk pulang selama itu pula Rika menemaninya.
" Kenapa kamu mau temani aku, sedangkan keluargaku saja tidak sama sekali menjenguk." tanya Maharani heran.
" Karena aku penggemarmu." jawab Rika tersenyum.
" Tapi sekarang aku tidak bisa apa-apa."
" Tidak apa-apa, " Rika tersenyum.
*
*
*
On back.
" Tidakkah kamu ingat tujuh taun yang lalu. Kamu ysng merusak semuanya." ucap Maharani menahan sesak di dada.
" Itu karna kamu tidak menurutiku, " ucap Romi santai.
" Sampai kamu tega mencelakaiku dan menghancurkan semua impianku." bentak Maharani yang air matanya tidak bisa terbendung lagi.
" Maaf, tapi aku rasa kamu masih bisa menjadi model dan aku menawari kerjasama denganmu." ucapnya Romi mendekati Maharani.
" Maaf, aku menolak." tolak Maharani dengan tatapan tajam.
" Yakin, " tanya mengelus pipi Maharani yang basah dan mencengkram wajah Maharani.
" Kamu berani menolakku?" ancam Romi.
" Aku tidak takut." menatap tajam.
" Kau ... " tangan Romi terhenti saat tangannya dicekal oleh seseorang.
" Lepaskan tanganmu." ucap Adi tegas.
Tangan Romi yang mencengkraman Maharani lepas dan tangan satunya menepis kasar yang dicekal oleh Adi.
" Kenapa kau mengganggu istriku?" ucap Adi tajam.
" Istrimu harusnya menjadi istriku." ucapnya santai duduk.
" Kau merebutnya dariku, kau tidak merebut semua yang aku punya." ucapnya lagi Romi dengan tatapan benci.
" Aku tidak pernah merebut apa pun dari kamu." ucap Adi datar dan menarik Maharani keluar dari ruangan Rias.
Maharani berjalan mengikuti Adi dengan tergesa menuju mobil. Mereka masuk mobil dan melaju kembali ke hotel.
Sesampainya di hotel.
" Sayang, .." panggil Maharani saat Adi membuka pintu kamar hotel. Adi hanya diam tidak menjawab masuk ke dalam dan mendudukan diri di sofa, Maharani menghampiri Adi dan duduk di sebelahnya.
" Sayang ... maaf." ucap Maharani lirih.
__ADS_1
" Tidak apa-apa.. aku sudah mendengar semuanya." ucap Adi menatap Maharani.
Maharani merebahkan badannya yang kepalanya ada di pangkuan Adi, Maharani mengambil tangannya untuk memeluknya.
" Apa kamu marah?" tanya Maharani menatap Adi mengadahkan kepalanya.
" Aku gak marah sayang, hanya saja sedikit terkejut." ucap Adi menatap Maharani dan mengecup bibirnya sekilas.
" Dia yang membuat mimpianku hancur, membuatku mengalami trauma yang akhirnya aku tidak berani menampakkan di publik." ucapnya Maharani dengan nada sedih.
" Tidak apa, jangan sedih kamu masih bisa mewujudkannya." ucap Adi memberi semangat mengecup bibir Maharani dan me**matnya dengan lembut.
Beberapa detik kemudian Maharani melepas ciumannya " Aku mau mandi." ucap Maharani bangun dari pangkuannya Adi dan duduk disampingnya.
" Tolong bukakan resleting gaunnya, " ucap Maharani membelakangi Adi.
Adi pun menurut dan membuka gaun istrinya, mata Adi terpana saat melihat punggung istrinya yang putih dan mulus.
cup ... cup ... cup ... Adi mengecup punggung Maharani dengan sensual.
" Ah ... Adi." ucap Maharani geli karena merasakan kecupan dari suaminya.
" Mau mandi? Ayo kita mandi bersama." ajak Adi sambil meloloskan gaun yang dikenakan Maharani membuat sekarang hanya memakai br* dan penutup daerah sensitifnya.
" Ah sayang, aku malu." ucap Maharani menutupi barang pribadinya.
" Kita kan sudah nikah, kenapa kamu malu?." Jawab Adi menuntun istrinya ke kamar mandi.
Di kamar mandi.
"Aah sayang ... aku geli, ga apa-apa. aku hanya ingin memandikanmu saja." ucap Adi menggosok punggung Maharani.
Maharani pun patuh dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya.
Setengah jam di kamar mandi sudah selesai, mereka pun berganti pakaian agar dan siap keluar untuk makan siang.
Mereka telah sampai di restoran dan masuk ke ruang VVIP yang sudah dipesan Adi lewat aplikasi.
" Mau makan apa sayang?" tanya Adi
" Terserah aja, " jawab Maharani.
Adi memesan makanan pada pelayan, dan beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Mereka menikmatinya karena perutnya terasa lapar.
*
*
*
Sedangkan di tempat lain di hotel xxx
" Kenapa kamu begitu bego? yang seharusnya mendapat kontrak dari prancis itu kita bukan perusahaan Adi Karya."
" Aku sudah bilangkan, cari kelemahannya." ucap Romi yang begitu geram.
" Tapi sayang aku juga sudah berusaha menggagalkannya sampai model utama mereka pun sudah kita ambil." jawab Sinta
__ADS_1
Romi hanya menghela nafas kasar dan mendudukan di kursi kebesarannya.
" Kalau begitu kita harus hancurkan. Aku mempunyai rencana." ucap Romi tersenyum licik.