
" Iya, " ucap Maharani yang tangannya langsung melingkar ke pinggang Adi.
Serasa sudah siap Adi melajukan kendaraannya keluar area kantor. Tanpa mereka ketahui ada yang memperhatikan mereka berdua.
Dalam perjalanan mereka hanya saling diam, bicara dalam pikirannya dan perasaan masing-masing.
" Alamatnya dimana bu?" Tanya Adi mencairkan suasana.
" Eh .... Jalan Melati." jawab Maharani yang tangannya masih melingkar ke tubuh Adi.
" Baik, bu" ucapnya.
" Kenapa aku merasa nyaman dengannya?padahal aku baru kenal dengannya." batin Maharani semakin merekatkan tangannya.
" kenapa jantungnya berdebar kencang." batinnya lagi karena merasakan debaran Adi.
Pov. Adi
" Jantung oh jantung, berhenti berdetak kencang." batin Adi yang dari terus merasakan debaran sendiri dan merasakan hangatnya dipeluk oleh Maharani dari belakang. Dan "NGANUKU" Batinnya menggelengkan kepala pelan.
" Kenapa?" tanya Maharani ketika melihat dia geleng - geleng kepala.
" Tidak apa - apa." jawabnya menahan malu.
*
*
Tak berselang lama, tibalah di apartemen Maharani. Motor yang dikendarai Adi berhenti di depan gedung apartemennya, Maharani turun dan disaat mau melepaskan helmnya. Dia kesulitan lagi membukanya " Aduh ... kenapa susah sekali sih?" ucap batinnya sambil berusaha membuka helmnya.
" Kenapa bu, susah lagi ya?"ucap Adi turun dari motor dan membukakan helmnya.
" Eh ... tadi bisa, sekarang kenapa susah." batin Adi yang sama kesulitan membuka melepaskannya.
" Maaf bu ini tumben susah, padahal tadi bisa." ucap Adi masih berusaha.
" Iya ga apa - apa." jawabnya tersenyum.
Tanpa sengaja Adi melihat senyumannya yang membuat terpesona dan hatinya berdebar kencang sehingga tak terasa wajah dirinya sangat dekat dengan wajahnya. Adi sekuat tenaga menahannya, akan tetapi bibir pink milik Maharani menggodanya. Sehingga tak kuasa menahan perasaannya, tiba - tiba "Cup" bibir Adi mengecup bibirnya . Maharani kaget dan membelalakan matanya, tapi ia tidak menolak.
Merasa nyaman dan baru pertama kalinya ia dapatkan dari seorang laki-laki karena saat bersama Andri, Maharani selalu menolaknya.
Adi mengecup bibirnya agak lama dan Maharani diam tidak ada penolakan. Adi tidak puas, lalu mengecupnya sampai dalam dan mereka pun larut dalam kegiatan sore hari, hingga helm yang masih terpakai Maharani jatuh mengagetkan aktifitas mereka.
" Maaf " keduanya berucap dan Maharani memalingkan kepalanya, sedangkan Adi mengambil helm yang jatuh.
" Maaf, saya sudah lancang." ucap Adi tanpa penyesalan. " Karena saya sudah melakukannya, saya akan bertanggung jawab." ucap Adi serius menaiki motornya dan berlalu meninggalkan Maharani yang masih menjadi patung.
" Ah manis sekali." ucap Adi tersenyum melajukan motornya ke apartemennya yang tidak jauh dari tempat Maharani.
__ADS_1
" Sepertinya aku jatuh cinta." ucap Adi melempar tas sembarang dan merebahkan diri membayangkan bibir manisnya lagi.
*
*
Pov. Maharani.
" Apa yang aku lakukan tadi, kenapa aku tidak menolaknya." ucapnya senyum - senyum sendiri.
" Tapi, tadi dia bilang akan bertanggung jawab. Hais ... ada - ada saja." ucapnya berjalan masuk ke apartemennya.
Di dalam mobil, Andri mengumpat.
" Sial, kenapa dia tidak menolaknya? sedang dulu aku harus menahannya karena dia menolaknya." gerutu Andri melihat adegan live Adi dan Maharani di sore hari.
" Awas kamu ya, lihat saja apa yang akan ku perbuat." ucap Andri kesal melajukan mobilnya pergi menjauh dari apartemen Maharani.
Sore berganti malam, dan sang fajar pun datang. Maharani yang terbangun dari tidurnya, tersenyum bahagia menyambut pagi yang cerah. Maharani pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya, tidak terlalu lama kegiatan ritualnya. Karena hari ini dia akan ke butik pagi sekali, Maharani berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil susu untuk diminum. Maharani merasa terlambat, akhirnya Maharani keluar menuju lif dan turun ke lantai dasar.
Setelah sampai lantai dasar, Ia keluar apartemen menunggu Rika. " kok Rika belum datang, " batin Maharani melihat jam di tangannya. Lalu mengambil benda pipih di tas hitamnya.
" Halo Rik, kamu dimana? kok belum datang." tanya Maharani.
" Aduh bos, saya terjebak macet." jawab Rika di sebrabang sana.
" Ya sudah, aku tunggu." Ucap Maharani menutup ponselnya.
" Ayo bu, saya antar." ucap Adi yang turun berjalan dan memakaikan helmya.
" Tenang saja bu, ini saya beli baru agar mudah dibukanya." ucap Adi lagi yang melihat Maharani terbengong.
" Eh ... kenapa kamu di sini?" tanya Maharani heran.
" Saya sudah bilang, saya akan bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan kemarin." jawab Adi yang langsung menaiki motornya.
" Saya akan mengantar jemput anda bu, supaya tidak ada yang mengganggu ibu." ucapnya lagi.
" Baiklah, karena ini mendesak. Aku ikut kamu, tapi sebentar aku akan menghubungi Rika." ucap Maharani. Adi mengangguk dan menunggu, selesai menghubungi Adi langsung mengambil ponselnya dan mengetik nomornya.
" Sudah, ini." ucap Adi mengembalikan ponselnya.
Tanpa bertanya apa pun, Maharani langsung naik dan memeluknya tanpa dipinta.
" Ayo jalan, sudah terlambat. Tidak ke kantor, tapi ke butik." ucap Maharani mengeratkan pelukannya.
" Siap bu,." ucap Adi menyalakan motornya.
" Ibu ... ibu ...., emangnya aku ibumu." gerutunya yang terdengar oleh Adi.
__ADS_1
" Apa bu?" tanya Adi yang sudah melajukan motornya.
" Ga pa - pa, lain kali jangan panggil ibu kalau di luar kantor. Panggil aja aku Rani, sepertinya umur kita tidak beda jauh. Dan aku rasa kamu paling tua daripada aku." ucap Maharani kesal karena sejak kejadian kemarin, dia tidak mau dipanggil "bu" lagi olehnya dan Adi mengiyakan dengan mengacungkan jempol kirinya.
Dua puluh menit perjalanan, tibalah di halaman butik milik Maharani.
Maharani turun, saat mau membuka helmnya. Adi langsung membantu melepaskannya. " Biar saya aja yang melepaskannya bu."
" Huuf ... ibu lagi, "
" Oh ya, pokoknya mau kemana pun kamu harus aku antar. Titik." ucapnya tegas.
" Kamu kok, jadi gitu." protes Maharani tidak terima.
" Karena kamu sudah jadi milikku, aku akan bekerja keras agar kamu tidak malu denganku. Sudah, jangan protes patuhlah." perintah Adi.
" Baik, " jawabnya yang masih bingung.
" Aku berangkat, nanti aku jemput." ucap Adi menyalakan dan melajukan motornya ke perusahaan Mutiara Arta dengan hati berbunga - bunga.
Setelah Adi pergi, mobil Rika masuk ke halaman. Dia turun dan menghampiri bosnya, " Bos sudah dari tadi." sapa Rika berjalan menghampirinya.
" Tidak baru saja, ayo!." ajaknya berjalan masuk ke butiknya dan menaiki lif ke lantai atas.
Sampai di lantai atas, terbukalah lif dan berjalan menuju ruang kerjanya.
" Bos, pemilik dari PT. Adi karya mau bertemu." ucap Rika.
" Untuk apa?" tanyanya.
" Sepertinya akan ada proyek besar yang akan di bahas." jawab Rika.
" Aku ga bisa, kamu saja." ucap Maharani menolaknya.
" Maaf bos, katanya anda juga harus tau dengan proyek ini. Dan mungkin akan melibatkan butik juga bos." ucap Rika
" Baiklah kalau begitu, kapan?" tanya Maharani.
" Besok pagi bos." jawab Rika.
" Ok ... kamu urus." perintahnya
" Siap bos. kalau begitu saya undur diri." ucap Rika, Maharani hanya mengangguk.
"Ting" sebuah pesan masuk ke ponselnya.
" Nanti aku jemput." Maharani membaca pesan dari nomor yang diberi nama " My driver ", dia hanya senyum - senyum sendiri.
Hayo senyum - senyumπππ
__ADS_1
Beri like, votenya ya πππ