Mengejar Cinta Halalmu

Mengejar Cinta Halalmu
Perjanjian nikah?


__ADS_3

Adnan Pov


Sudah satu minggu ini aku berada di Jakarta.Aku ditugaskan oleh Papaku untuk mengurus cabang perusahaan Papa yang sedang bermasalah.Selain itu aku juga ikut Hadrah dipesantren milik kedua orang tuaku.Aku termasuk vokal disana.


Sekitar pukul 23.00 aku baru saja pulang dari kantor.Kurebahkan tubuhku dikasur king sizeku.Untuk sementara ini aku tinggal diapartemen yang dahulu adalah kado dari kedua orang tuaku saat aku berumur 17 th.Tak butuh waktu lama hembusan angin malam mulai membuatku terlelap melupakan kelelahan.


...***...


Perusahaan sudah semakin membaik namun aku masih berada di jakarta.Bahkan Papa melarangku untuk balik ke bandung karena kata Papa sih supaya lebih dekat sama Rara.Bicara tentang gadis itu kini ia sudah mulai berubah dari cara berbicaranya padaku meski kadang ia balik lagi dengan sikap awalnya.


Meski begitu aku tetap sabar menghadapi moodnya.Akibat insiden waktu itu kami sepakat dinikahkan.Jika ditanya mengapa aku setuju jelas karena ini permintaan kedua orang tuaku.Rasanya aku tak ingin mematahkan harapan mereka untuk melihatku bahagia meski menikah dengan Rara bukan suatu kebahagiaan.


Aku masih saja berkutat dengan laptopku.Kulirik sejenak jarum jam dipergelanganku.Akupun segera mengemasi barang-barangku dan bergegas untuk menjemput Rara.Sebelumnya aku mampir ke Apartemen untuk mengambil baju dan perlengkapan lainnya.


Mobilku sudah terparkir didepan gerbang sekolah Rara.Setelah stay dimobil aku melihat muda mudi sedang asyik bercengkrama.Aku memutuskan untuk segera keluar dari mobil dan menghentikan pria itu yang hendak mencium pipi Rara.


"Ra ayok kita pulang."ujarku dingin sembari menatap pria itu


"Dia siapa sih Ra dari kemarin kok lo bareng terus sama dia?"ujar lelaki itu


"Dia itu.."ujar Rara yang kemudian kupotong pembicaraannya


"Saya calon suami Rara."ujarku lalu menjabat tangan lelaki itu


Jika ditanya tentang mengapa aku tak berterus terang tentu saja karena Rara yang meminta kita untuk merahasiakan semua ini.Lagi pula dia juga masih sekolah jadi begitu tak pantas jika aku mengucapkan yang sebenarnya.


Seusai perkenalan itu aku memilih untuk cepat-cepat mengajak pulang Rara.Dimobil hanya ada keheningan diantara kita berdua.Akupun segera melepas jasku dan memberikannya ke Rara yang duduk disampingku.


"Pakai."ujarku lalu memberikan jasku


"Kamu udah makan?"ujarku memecah keheningan


"Gak laper."ujar Rara ketus

__ADS_1


"Maafin saya ya tadi saya sengaja bilang gitu supaya lelaki itu gak macam-macam sama kamu.Lagipula saya gak mau kalo istri saya disentuh dan dilihat oleh lelaki lain."ujar Adnan sembari fokus ke kemudi


"Udah tau,lagian ngapain sih lo mesti bilang kalo gue itu calon istri lo.Gue gak suka."ujar Rara pelan


"Emangnya kamu berharap kalo saya mengatakan bahwa kamu istri saya?"ujarku yang membuat Rara diam memandang jalanan sedangkan aku memilih menghentikan mobilku diseberang jalan.


Aku memilih keluar untuk membeli ice cream agar mood Rara membaik.Seusai membeli akupun segera masuk kedalam mobil.Disana Rara masih diam dan memainkan handponenya.


"Nih makan,saya tau kalo mood kamu lagi buruk."ujarku sembari menyodorkan 1 cup ice cream dan sebatang coklat.


"Gak usah sok tau jadi orang."Ujarnya sembari merampas kedua makanan yang kubawa,yang membuatku menahan kekehan saat melihat kelakuan Rara yang begitu menggemaskan.Aku pun hanya tersenyum singkat.


...***...


"Mas Adnan dipanggil Bapak diruangan kerjanya."Ujar Bi Imah


"Iya Bi,saya kesana sekarang."ujarku menutup laptop lalu berjalan menemui Ayah.


"Masuk."ujar Ayah lalu aku segera masuk menemuinya


Aku duduk di sofa ruang kerja Ayah.Dia tersenyum ketika melihatku,memilih untuk menutup laptopnya dan menghampiriku di sofa.


"Adnan ayah setuju dengan kemauan kamu.Bagaimana pun kamu adalah imam dari Rara kamu berhak atas dia.Itu semua Ayah lakukan agar Rara jera tapi semisal kamu setuju dengan Ayah,Ayah ingin sekali melihat Rara berubah.Bimbing Rara kejalan surga ya Nak."ujar Ayah


"Saya akan selalu membimbing Rara Yah.Jika Ayah setuju saya ingin mengajak Rara dipesantren milik Papa."ujarku dengan sopan


"Saya sama sekali tidak keberatan Nak.Mulai kapan Rara akan pindah kesana?Jujur melihat pergaulan Rara membuatku kecewa karena aku merasa gagal mendidik anak Perempuanku itu."ujar Ayah dengan antusias


"Ayah tidak gagal.Mungkin lusa saya akan mengajak Rara pindah ke Bandung."ujarku yang diangguki semangat oleh Ayah


Kami pun mengobrol hingga larut malam.Dan akhirnya memilih untuk beristirahat karena hari sudah malam.Akupun masuk kedalam kamar.Ku lihat Rara yang nampak sibuk mengetik di laptopnya.


"Belum tidur?Ini udah malam loh."ujarku lalu duduk disofa

__ADS_1


"Bentar masih sibuk."ujarnya yang masih terfokus pada layar laptopnya


"Yaudah saya tidur dulu.Jangan lupa nanti lampunya dimatikan."ujarku yang bersiap merebahkan tubuh disofa


"Lah kenapa Lo yang ngatur gue.Kamar juga kamar gue."ujarnya yang tak kutanggapi


Ku lihat dia berjalan menuju meja belajarnya lalu mengambil kertas yang baru saja keluar dari mesin printing.


"Bangun dulu,Lo harus tanda tangan ini."ujarnya yang membuatku mengernyitkan kening.


"Apa ini?"ujarku sembari menerima secarik kertas yang tadi ia ketik itu


"Surat perjanjian pra nikah.Lo bisa baca dulu dan jangan lupa tanda tangan."ujarnya lalu duduk diam disebelahku


Perlahan akupun membaca surat perjanjian yang isinya cukup mengejutkan.Yang pertama aku selaku pihak kedua tidak boleh menyentuhnya.Kedua tidak ada nafkah batin.Ketiga tidak boleh ikut campur urusan satu sama lain.Ke empat setelah waktu yang ditentukan yakni selama 6 bulan menikah aku wajib melakukan perceraian.


"Astagfirullah ini perjanjian macam apa sih Ra?Oke opsi pertama sampai ketiga saya setuju tapi jika opsi yang ke empat saya gak setuju.Pernikahan ini sakral Ra gak bisa dibuat main-main."ujarku sedikit kesal dengan kelakuan gadis ini


"Kenapa mesti gak setuju?Emang sakral sih tapi kalau gak ada kecocokan kenapa mesti dipaksa.Perceraian adalah jalan terbaik Nan."ujar Rara dengan santainya


"Gak ada kata ketidakcocokan selama kita belum mencoba.Kita menikah baru seminggu dan kita nikah dengan dijodohkan saya tau kamu masih begitu asing dengan saya tapi saya mohon jalani saja dulu.Kita lakukan pendekatan terlebih dahulu dan semisal dalam waktu setahun kamu belum bisa menerima saya dihati kamu,kamu bebas menentukan hidupmu."ujarku


"Okelah kali ini gue nurut sama Lo.Dan lagian gue gak yakin bisa suka sama Lo bahkan Lo gak termasuk kedalam kriteria gue.Oh iya dan satu lagi bagaimana perihal Ayah,Apakah dia masih Keukeh mau pindahin aku ke pesantren?"ujar Rara


"Maaf saya gak bisa bujuk Ayah kamu.Ini sudah menjadi keputusan Ayah kamu.Lusa kita akan pindah ke Bandung.Kamu akan mondok dipesantren milik keluargaku."ujarku


"Lah kenapa mesti gitu sih."ujarnya dengan raut wajah kecewa


"Ikhlas dan jalani saja terlebih dahulu.Tidurlah ini sudah malam besok kamu mesti ke sekolah untuk berpamitan dengan teman-temanmu."ujarku lalu merebahkan tubuhku dan memejamkan mataku


Ku lihat sekilas Rara pergi merebahkan tubuhnya dikasur Kingsizenya.Dia berjalan dengan kecewa.Didalam hati sungguh aku kasihan saat melihatnya namun ini sudah menjadi keputusan agar ia menjadi lebih baik lagi.


Sebelumnya aku telah membaca doa lalu kembali memejamkan mataku.

__ADS_1


__ADS_2