
Beberapa kali bersama Raka membuat kita semakin dekat.Tak heran banyak orang yang mengira aku memiliki hubungan dengan lelaki itu.Seperti saat ini lagi-lagi kami dikelompok yang sama.
Kami sedang duduk dicafe depan kampus.Disana ramai dan banyak dihuni oleh anak-anak kampus.Sedikit risih namun bagaimana lagi aku hanya mampu menunduk.
"Ngapain lihatin gue kayak gitu?"ujarku
"Gapapa.Ternyata bidadari itu nyata ya."ujarnya lalu tersenyum manis
Raka memang salah satu makhluk Tuhan yang bisa dibilang mendekati kata sempurna.Dia dianugrahi wajah tampan,rahang tegas,bibir merah meskipun ia perokok serta senyumnya terlihat manis seperti gula.
"Maksutnya?"ujarku
"Ya Lo.Habis ini mau kemana?"ujarnya
"Pulang emang mau kemana lagi?"ujarku dengan nada risih karena dia memandangku sedetail itu.
Dia semakin memandangku lalu menarik tanganku digenggamanya.Jangan tanya aku?Aku hanya pasrah karena memang dia menggenggam tanganku dengan erat.
"Gue suka sama Lo,apa Lo mau jadi pacar gue?"ujarnya yang lagi-lagi membuatku terkejut
"Ra,pulang sekarang!"ujar laki-laki bertubuh tegap dengan suara nyaring itu
Siapa lagi kalau bukan Bara.Lelaki itu datang lalu menarik tangan kiriku dengan melayangkan tatapan sinis ke arah Raka.Tangan Raka pun masih menggenggam tangan kananku.
"Lepasin tangan dia dari tangan kotor lo itu."ujar Bara namun tak dihiraukannya
"Gue gak bakal ngelepasin tangan dia sebelum dia jawab pertanyaan gue."ujar Raka tak kalah sinisnya
"Udahlah gak perlu dijawab Lo juga pasti tau jawabannya daripada entar sakit hati.Cepat lepasin tangan dia kalau Lo gak mau wajah mulus Lo itu tergores tangan gue."ujar Bara penuh penekanan namun dibalas senyuman sinis oleh Raka
"Gimana Ra?"ujar Raka menatapku
"Sorry gue gak bisa Rak."ujarku
"Lo dengar sendiri kan cepat lepasin tangan Rara."ujar Bara yang kemudian menarikku keluar dari cafe.
Kamipun segera keluar lalu duduk dijok belakang motor Bara.Tanpa babibu ia pun segera memberikan helmnya untukku.
Perjalanan kali ini dijalankan dengan sangat hening.Bara begitu fokus dengan kemudinya.Tak lama kemudian motor berhenti disebuah rumah makan Padang.
"Gue kan udah makan Bar.Ngapain kita kesini?"ujarku yang membuat Bara menoleh
"Emang siapa yang mau ajak Lo makan?"ujarnya yang semakin membuatku gelabakan
__ADS_1
Memang benar sih dari tadi Bara memang tak menawariku makan bahkan tak ada ajakan untuk makan bersama.Akupun segera bangkit dari tempat dudukku berniat untuk meninggalkan lelaki itu.
"Ehh mau kemana Ra."ujarnya
"pulanglah kan Lo gak ajak gue disini."ujarku tertunduk lesu
"Cepat duduk,temenin gue makan!Ini perintah bukan tawaran."ujarnya lagi yang membuatku kembali terduduk
Bara pun segera memesan makanan lalu kembali memainkan ponselnya.Akupun juga sama memainkan ponsel karena merasa diabaikan oleh lelaki itu.
Pesananpun datang,Ia memberi ku segelas es jeruk sedangkan ia mulai menyantap makanannya dengan diam.
"Bar."ujarku yang membuat ia menoleh ke arahku
"Lo marah sama gue?"ujarku yang membuat Bara menaikkan satu alisnya
"Menurut lo?."ujarnya yang masih saja menyuapkan nasi dimulutnya
"kenapa?Apa gara-gara Raka nembak gue?"ujarku
"Pikir aja sendiri."ujar Bara cuek
"Maksut lo gimana sih Bar?gue masih gak paham kenapa tiba-tiba Lo ngediemin gue."ujarku merasa kesal karena Bara bersikap cuek
"Apasih yang bikin yakin Lo kalau dia gak baik buat gue?"ujarku dengan sedikit nada tinggi
"Karena dia cuma manfaatin Lo,dia gak gak bener-bener tulus suka sama Lo.Dan cukup kemarin aja gue lihat Lo sedih gue gak mau semua terulang kembali."ujar Bara meninggalkanku ke meja kasir
Aku masih saja duduk sembari menunduk sampai tak terasa Bara sudah selesai membayar.Dia sudah duduk dijok motornya.
Tinn..Tinnn
Akupun terkejut dan menoleh ternyata lelaki itu sudah siap untuk pulang.
"Lo mau pulang atau masih mau galau-galauan disini?"ujar Bara dengan sedikit berteriak
Akupun segera menghampiri lelaki bertubuh tegap itu.Aku bukan galau karena tak mau kehilangan Raka tetapi mencermati ucapan Bara.Apa benar yang lelaki itu ucapkan?tapi mengapa dia tega berbuat seperti itu kepadaku padahal aku saja baru mengenalnya.
Dan seketika aku mulai ingat dengan lelaki misterius yang dulu pernah mengikutiku.Dimana perginya lelaki itu kenapa tepat saat adanya Raka dia sudah tak pernah menguntitku?Apakah ini ada hubungannya dengan Raka?
"Maafin gue ya Ra."ujar Bara yang sesekali melirikku dari spion.
"Buat apa?Lo kan gak salah Bar."ujarku
__ADS_1
"Karena tadi gue pakai nada tinggi,Habisnya Lo dari kemarin udah gue bilangin tapi gak nurut sih jadi orang."ujar Bara
"Hehehe yaudah gue juga minta maaf.Makasih ya udah selalu ngingetin dan berusaha jaga gue."ujarku lalu memeluk tubuh lelaki itu
Bara pun hanya tersenyum lalu menggenggam tanganku yang memeluk tubuhnya dari belakang.Tak terasa sudah 5 tahun aku bersahabat dengan Bara.Lelaki itu sudah ku anggap seperti Kakakku sendiri.
Tak terasa kami sudah sampai didepan rumah.Akupun segera turun,Bara pun juga ikut menyalami Nenek.
"Sore Nek."ujar Bara lalu mencium tangan Nenek
"Sore Nak Bara.Tumben kok baru kelihatan,pasti sibuk ya."ujar Nenek
"Hehehe sibuknya sih enggak ya Nek cuma lagi uber-uberan tugas."ujar Bara yang dibalas senyuman oleh Nenek
"Ada-ada saja kamu.Mampir dulu biar Nenek bikinin Kopi."ujar Nenek lalu masuk ke dalam
"Gue ganti baju bentar ya."Ujarku lalu ikut masuk ke dalam rumah sedangkan Bara duduk di teras menikmati udara disore hari.
Aku sudah selesai mengganti baju lalu kembali menghampiri Bara yang duduk santai sembari memandangi taman bunga milik Nenek.Kami pun hanya duduk diam tanpa mengobrol sedikitpun.Sepertinya kami berdua begitu larut dalam perasaan masing-masing.
"Ini diminum dulu kopinya,ini juga ada kue buatan Nenek.Ayo silahkan dimakan kuenya."ujar Nenek lalu kembali melanjutkan berkebunnya.
"Makasih Nenek,ini benar-benar kue terenak yang pernah aku makan."ujar Bara sembari memakan kue buatan Nenek
"Kamu bisa saja Bar,selalu saja bisa menyenangkan hati Nenek.Habiskan saja kuenya kalau kurang jangan sungkan-sungkan untuk nambah biar Nenek ambilin."ujar Nenek tak henti-hentinya tersenyum
Kami bertiga pun sama-sama tersenyum.Bara memang begitu asik menikmati kuenya.Sedangkan aku memilih untuk memainkan game yang ada di ponselku.
"Jangan kebanyakan ngegame nanti sakit loh matanya."Ujar Bara
"Iya-iya cerewet banget sih jadi cowok."ujarku
"Itu bukan cerewet Nduk melainkan perhatian sama kamu.Beruntung sekali kamu bisa mengenal lelaki seperhatian Bara.Sikap Bara jadi mengingatkan Kakek kamu pas masih muda."ujar Nenek lalu tersenyum mengingat mendiang Kakek
Aku memang sama sekali tak mengenal seorang Kakek karena memang ia meninggal saat aku belum dilahirkan bahkan saat ibu berusia 17 tahun jadi wajar saja tak ada yang tau soal Kakek.
"Gue pulang dulu ya,inget jaga kondisi."ujarnya lalu menghampiri Nenek
"Nek,Bara pamit ya udah hampir magrib nih."ujar Bara lalu mencium punggung tangan Nenek
"Iya hati-hati Nak."ujar Nenek
Aku dan Nenek pun menunggu Bara melajukan motornya.Dia tersenyum menghadap kami berdua.Dirasa sudah jauh akupun memilih untuk menutup gerbang sedangkan Nenek memilih untuk membereskan sisa kopi dan kue yang ia suguhkan.
__ADS_1