
Adnan pov
"Itu anuu nan tolong beliin gue anu dong."ujar Rara yang membuatku mengernyitkan dahi
"Maksudnya?"ujarku yang semakin bingung dengan omongan Rara
"Beliin gue roti yang buat cewek.Gue minta tolong ya."ujar Rara memelas
"Roti apa Ra,roti tawar kah?"ujarku yang semakin bingung sedangkan Rara hanya tepok jidat melihat kelakuanku
"Beliin gue pembalut sekarang."ujar Rara dengan setengah teriak lalu masuk kedalam kamar mandi
Mendengar ucapan Rara tadi membuatku cengoh.Entahlah tapi ini pertama kalinya aku berada diposisi seperti ini.Akupun segera menuruti perintah Rara sebelum Rara marah besar kepadaku.
Tak butuh waktu lama akupun sudah berada didalam supermarket.Mataku meneliti dari atas ke bawah sampai aku menemukan pesanan Rara.Akupun berjalan menuju kasir.Yang disana hanya ada seorang kasir yang tersenyum kepadaku namun hanya kutanggapi dengan senyum tipis.
"Buat pacarnya ya mas?"ujar mbk-mbk kasir itu
"Bukan mbk tapi buat istri saya."ujarku yang membuat mbk-mbk indomaret semakin melebarkan senyumnya
"Haduh beruntung banget sih istri mas,Udah ganteng,sholeh, baik lagi.Idaman banget deh."ujar mbk-mbk itu lalu menyerahkan struk pembayaran serta barang belanjaan yang hanya ku tanggapi dengan senyuman.
...****...
Akupun segera masuk dan menyerahkan kresek bertuliskan Indoapril itu kepada Rara.Setelah itu akupun melanjutkan kembali tugasku.
"Nan."ujar Rara yang duduk disebelahku
"Iya kenapa Ra?"ujarku yang masih fokus ke laptop
"Makasih ya buat yang tadi."ujar Rara
"iya sama-sama."ujarku
"Lo udah makan?"ujar Rara
"Belum Ra.Haduh aku lupa kalo kamu belum makan.Yaudah kita cari makan sekarang."ujarku buru-buru mematikan laptopku lalu menarik tangan Rara
"Gak usah Nan.Lo tunggu disini aja biar gue masakin.Itung-itung buat ucapan terimakasih tadi."ujar Rara lalu berjalan pergi menuju dapur namun kucekal tangannya
Rara pun menolehkan wajahnya hingga mata kita berdua bertemu cukup lama namun Rara yang terlebih dahulu memalingkan wajahnya.
"Aku bantuin.Kita masak sama-sama."ujar Adnan yang hanya diangguki oleh Rara.
__ADS_1
Rara pov
Setelah Ia menandatangani surat perjanjian ini kami memilih untuk tinggal sendiri.Kini aku tinggal disebuah apartemen milik Adnan.Lambat laun aku juga mulai menuruti apa maunya itung-itung membalas kebaikan lelaki yang menjabat sebagai suamiku ini.
Apalagi dia banyak sekali membantuku selama ini.Dia yang membujuk kedua orangtuaku agar membatalkan rencananya untuk mengirimku ke pesantren.
Entah kenapa rasanya jantungku berdetak begitu cepat.Apa aku memliki riwayat penyakit jantung?Ah tapi sepertinya tidak namun kenapa setiap bersama Adnan aku selalu merasakannya.
Apalagi saat mata kami berdua tak sengaja bertemu rasanya jantung ini sudah melompat-lompat dari tempatnya.Seperti sekarang ini saat Adnan membantuku untuk mengiris bawang.Nafasnya terdengar merdu ditelingaku.Deru nafasnya menyapu leherku membuat jantung dan leherku meremang.
Tak butuh waktu lama akhirnya kami berdua sudah duduk dimeja makan menyantap makanan yang sudah tersaji dimeja.
"Kok gak dihabisin makanannya?"ujar Adnan sembari melihatku
"Nasi gorengnya keasinan Nan.Maaf ya gue gak bisa masak."ujarku lesu
"Enggak kok Ra masakan kamu enak."ujar Adnan yang masih lahab dengan makanannya
"Tapi rasanya asin banget.Udah gak usah dihabisin."ujarku menyuruh Adnan untuk berhenti menipu dirinya sendiri
"Enggak apa-apa Ra.Lagian kan ini masakan kamu.Kamu kan istri aku jadi harus ngehargai kamu sebagai istri.Terimakasih udah mau masakin aku hari ini."ujar Adnan lalu menumpuk piringnya
Satu jawaban yang semakin membuatku merasa bersalah.Lelaki itu terlalu sabar dalam menghadapi ku.
"Enggakpapa Ra lagian semua itu juga butuh proses.Aku seneng banget kamu udah berubah dan aku bersyukur banget punya istri kayak kamu.Cantik."ujar Adnan yang membuat pipiku bersemu merah.
...***...
Aku membaringkan tubuhku dikasur kingsizeku yang disana sudah ada Adnan yang tertidur pulas.Kupandangi wajahnya yang begitu polos,Damai.Wajahnya mampu membuatku terpesona kutatap kulit putihnya dengan bibir tipis dengan warna merah serta tahi lalat diatas bibirnya membuatku menelan ludah.
Hanya satu kata yang mampu kukatakan TAMPAN.Yap jantungku berdetak saat Adnan membuka matanya dan lagi-lagi tatapan kami berdua bertemu.Lalu dia pun tersenyum sangat manis.
"Kok belum tidur?"ujar Adnan dengan suara serak khas bangun tidur
"Gue gak bisa tidur."ujar Rara dengan wajah merah karena malu bertatapan dengan Adnan
"Kamu sakit?"ujar Adnan yang melihat wajah Rara yang memerah
"En..enggak Nan gue gak kenapa-kenapa kok."ujar Rara
"Kok wajah kamu merah gitu sih."ujar Adnan lalu memegang kening Rara
"Njirr begoo gue itu blushing goblok bukan sakit.Dasar gak peka."ujarku dalam hati
__ADS_1
"Kok malah bengong sih Ra."ujar Adnan lalu menepuk pipiku
"E..eh Enggak kok Nan.Udah gue ngantuk mau tidur.bey."ujarku lalu memunggungi Adnan karena malu
"Ya udah selamat tidur jangan lupa baca doa."ujar Adnan lalu mengelus rambutku yang semakin membuat jantungku berdetak dan wajahku memanas seketika
"Baper boleh gak sih sama suami sendiri?Ahh kayaknya gue udah jatuh cinta deh sama Adnan."ujarku dalam hati lalu memejamkan mataku dengan hati berbunga-bunga.
Lambat laun akupun menyusul Adnan yang sudah ke alam mimpinya.
...***...
Sudah menjadi rutinitas seusai sholat subuh aku memilih untuk mengerjakan pekerjaan rumah.Seusai mencuci pakaian aku memilih untuk menyapu dan menyiapkan baju kerja milik Adnan serta perlengkapan sekolahku.
Setelah Adnan memilih untuk berolahraga seperti biasa serta mencari sarapan untuk kami berdua.Rasanya beruntung sekali kelak wanita yang memiliki Adnan.Lelaki itu begitu sabar dan baik.Dia sama sekali tak menuntut kekuranganku bahkan ia selalu membanggakan kelebihanku.
Seketika muncul rasa kecewa dengan perjanjian nikah yang pernah ku buat sendiri.Mengapa dengan bodohnya aku terjebak dengan perasaanku sendiri.
"Selamat pagi Ra."ujar Lelaki itu menghampiriku yang baru saja mandi
"Pagi Nan.Tumben jam segini udah balik."ujarku
"Iya soalnya nanti masuk pagi.Aku tadi beli nasi uduk diwarung sebelah kita sarapan bareng ya."ujar lelaki itu lalu beranjak menuju kamar mandi
Kami berdua sudah duduk diruang makan kecil sembari menikmati nasi uduk.Bukan untuk pertama kalinya aku makan bersama lelaki didepanku ini melainkan untuk pertama kalinya aku melihat ia dengan tatapan kagum.
Aku berusaha fokus menghabiskan sepiring nasi di depanku.Sesekali melirik lelaki didepanku ini.Wajahnya terlihat sangat tampan jika dilihat secara detail.Alis tebal,hidung mancung serta bibir merah tipisnya itu mampu membuatnya seperti opah-opah Korea.
Akupun kembali menyendokkan nasi kedalam mulutku.Ku lihat Adnan sedang fokus dengan makanannya.Baru saja hendak melancarkan aksi untuk mengamati wajah tampannya dia pun menyadarinya.
Tatapan mata kami pun bertemu,rasanya aku seperti terhipnotis sesaat.Mata kecoklatan itu mampu membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.Seperti tertampar kenyataan bahwa aku memang benar-benar mulai menyukainya.
"Kenapa lihatin saya dari tadi,Apa ada yang aneh diwajah saya?"ujarnya
"Engg..enggak kok.Kamu perfect hari ini."ujarku dengan pelan saat mengucap kata perfect
"Apa Ra?Gak kedengaran tadi."ujarnya lagi
"Hehehe gapapa Nan,Ayok berangkat sekarang nanti kita kesiangan."ujarku mengalihkan pembicaraan
"Yasudah ayok."ujar Adnan lalu merapikan bungkus makanan dan membuangnya ketempat sampah.
Sedangkan aku memilih diam menutupi rasa kegelisahan hatiku.Rasanya begitu gengsi kala tau bahwa perasaanku memang jatuh untuk Adnan lelaki yang dulu selalu ku benci.
__ADS_1
Apakah ini yang dinamakan karma?Atau seperti kata pepatah bahwa benci bisa jadi cinta.Tapi rasanya begitu malu untuk mengakuinya padahal lelaki itu sudah resmi menjabat sebagai suami ku.