Mengejar Cinta Halalmu

Mengejar Cinta Halalmu
Terbongkar


__ADS_3

Raka POV


Seperti biasa sepulang dari kampus kami selalu berkumpul di basecamp tempat yang selalu digunakan untuk nongkrong.


"Rakaa."ujar gadis berwajah babyface itu berteriak kencang yang membuat semua orang menatap gadis itu


"Siapa sih gadis itu berani sekali teriak-teriak dibasecamp kita."ujar salah seorang lelaki berahang tegas


"Tau tuh cari mati kali ya."ujar lelaki berambut gondrong lalu menghampiri gadis itu


"JANGAN SENTUH DIA LEOO."ujarku keras sedangkan sang empu hanya menatapku kebingungan


Aku berjalan menghampiri gadis berjilbab tosca itu.Aku berjalan sembari menyunggingkan senyum namun ia hanya diam menatapku datar.


PLAKK..


"Ini buat Lo yang udah nyelakain sahabat gue."ujarnya


PLAKKK


"Dan ini buat Lo yang udah nipu gue."ujar Gadis itu


Tak ada yang mampu ku katakan karena memang benar aku yang sudah menyuruh anak buahnya untuk mengeroyok Bara.Iya gadis itu adalah Rara.Keira Azria gadis pembully yang mampu membuatku jatuh sejatuh jatuhnya.


Banyak tatapan nyalang yang ditujukan teman-temanku.Tak ada ucapan sama sekali di mulutku,aku hanya diam sembari menyunggingkan senyum ku.


"Maksut lo apa?Gue ada salah apa sama Lo sampai Lo tega berbuat gitu sama gue?"ujar Rara dengan air mata yang bercucuran


"Maaf."ujarku lirih


Bahkan ini pertama kalinya aku mengucap kata maaf kepada seseorang meskipun dengan lirih.Entah mengapa ada sedikit rasa sesak dihatiku padahal seharusnya aku bersikap biasa saja bahkan aku harus senang karena targetku sudah merasa sedih dan hancur.


"Semudah itu Lo bilang kata maaf,Lo gak pernah tau rasanya ditinggal sama orang yang Lo sayang.Lo gak pernah tau rasanya disalahin semua orang.Lo.."ujar gadis itu namun segera ku putus ucapannya

__ADS_1


"Gue pernah ngerasain dan itu gara-gara Lo."ujarku dengan rahang mengeras kala mengingat kematian Adekku


"Maksutnya?"ujar Rara


"Lo tau Sinta?Gadis polos berkacamata yang selalu dibully sama cewek berhati setan sampai pada akhirnya dia mengalami depresi lalu memilih bunuh diri."ujarku dengan tatapan datar


"Si..si..Sinta?"ujar Rara dengan terbata


"Iya dia,Lo kenal kan?Dia adek gue.Kalau tadi Lo bilang gue gak pernah ditinggal seseorang yang gue sayang Lo salah.Gue udah ngerasain semuanya.Bahkan Lo gak pernah tau gimana rasanya ditinggal seseorang untuk selama-lamanya.Dia satu-satunya orang yang gue punya ketika kedua orang tua lebih milih karirnya ketimbang kehidupan anaknya.Sedangkan Lo?kehidupan Lo begitu sempurna,Lo punya keluarga yang begitu menyayangi Lo sepenuh hati tapi hati Lo udah mati sehingga dengan teganya Lo bully gadis broken home.Awalnya gue memang mau balas dendam ke elo dengan nyakiti perasaan Lo tapi semua itu diluar kehendak gue.Niat gue bener-bener hilang terganti dengan perasaan sayang ke Lo.Jika takdir bisa diubah gue gak mau mencintai cewek pembunuh adik gue sendiri tapi nyatanya hati gue gak bisa dibohongin."ujar ku mengucapkan semuanya yang semakin membuatnya menangis histeris


"Sorry Rak,gue benar-benar gak tau kalau dia adek Lo.Gue tau kalau gue pernah jahat tapi itu dulu.Gue minta maaf sebesar-besarnya gue gak ada niat buat bunuh Sinta.Bahkan gue kaget tiba-tiba dengar kabar kalo Sinta meninggal."ujar Rara


"Percuma Lo bilang maaf ke gue,semua udah gak ada artinya toh dia udah gak ada.Sekarang gue minta Lo pergi dari sini."ujarku lalu meninggalkan gadis itu sendiri


Aku berjalan menghampiri teman-temanku.Mereka menatapku dengan sorot mata yang tak dapat diartikan.Mereka semua hanya diam tanpa berani menegurku.


Ku lihat gadis itu masih menangis dengan posisi terduduk.Akupun segera menyambar jaket serta helm.Entah mau kemana rasanya aku ingin segera pergi dari tempat ini.


Flashback On


Dentuman musik begitu keras di telinga namun tak menyurutkan niatku untuk menghentikan aktivitasku menghabiskan beberapa botol minuman keras.Tak ada kegiatan lain selain menghabiskan waktuku diclub malam.


Derrtt..Derttt


Ponselku terus saja bergetar namun sama sekali tak ku sentuh.Banyak rentetan pesan dari kedua orangtuaku.Aku tau pasti mereka ingin menyuruhku pulang seperti biasanya maka dari itu aku sama sekali tak berniat untuk membuka ponsel tersebut.


Cukup lama tetapi masih saja ponselku berdering dengan kesal akupun mengangkat telfon dari sang empu dengan perasaan kesal.


Bokap calling..


"Hallo apasih ganggu orang aja Lo itu."ujar ku dengan suara gontai karena memang aku sedang mabuk berat


"Raka kemana aja kamu?Cepat pulang sekarang!"ujar Lelaki paruh baya

__ADS_1


"Gak mau.Gue udah nyaman ditempat ini!"ujarku


"Dasar anak tak tau diri.Gak pernah diajari sopan santun apa sama mama kamu?"ujar Papa


"Sudahlah mas dikeadaan segenting ini kamu masih saja menyudutkan aku.Sini biar aku yang bicara sama anak kamu."ujar Mama yang terdengar dengan nada sendu


Ini satu hal yang paling ku benci.Mereka saling menyalahkan tak pernah intropeksi diri.Selalu saja ada pertengkaran mereka berdua apalagi mereka sudah resmi bercerai jadi dengan mudahnya menyalahkan satu sama lain.


"Hallo Kak,Kamu pulang sekarang ya.Adek kamu lagi dalam bahaya.Mama mohon pulang sekarang nak."ujar Mama lalu menangis tersedu-sedu


"Ada apa dengan Sinta Ma?"ujarku


"Sudahlah pulanglah sekarang."ujar Mama


Dengan segera akupun segera mematikan panggilan lalu beranjak meninggalkan tempat ini.Mendengar Sinta sedang dalam bahaya membuatku mempercepat langkahku.Jika menyangkut gadis kecil itu entah mengapa hatiku langsung tersentuh.Selama ini tak ada yang mampu membujukku selain gadis itu.


Motorku melaju kencang membelah jalanan malam.Baru saja aku hendak memasuki gerbang namun aku sudah melihat banyak orang berlalu lalang,ada juga mobil jenazah terparkir didepan rumah.


Ku lihat disana sudah ada bendera kuning.Akupun masih berusaha untuk berpikir positif.Dengan langkah berlari akupun segera masuk kedalam rumah.Disana sudah ada Mama Papa yang menangis disamping jenazah seseorang.


Aku mendekat dengan perasaan gundah.Bahkan rasa mabuk ditubuhku sudah hilang efeknya karena tadi aku meminum air kelapa agar kuat mengendarai motor.Kedua orang tuaku menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.


Tanpa Babibu akupun mendekat kearah jenazah dan memberanikan diri untuk membukanya.Tanganku sudah gemetar kala menyingkap kain penutup kepala jenazah itu.


Dan alangkah terkejutnya aku bahwa Sintalah yang terbujur kaku dengan penutup kain itu.Air mataku luruh seketika.Tak henti-hentinya aku memeluk jasad gadis disampingku itu.


Wajah yang biasanya terlihat manis kala tersenyum kini berubah menjadi pucat.


Dia adalah adik kandungku yang begitu ku sayangi.Bahkan dia satu-satunya orang yang selalu ku prioritaskan.Dia adalah gadis pendiam dan penutup.Bahkan aku sama sekali tak tau kehidupan diluarnya.


Yang aku tau dia adalah gadis kecilku yang masih polos.Tak ada habisnya air mata ini,ia terus saja keluar bahkan hari ini aku bukan lagi Raka sang ketua geng motor namun Raka yang begitu lemah.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2