
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 tepat.Sesuai acara hari ini ia berada di gedung sekolah untuk mengikuti acara kelulusan.Gadis berkulit putih itu tampak cantik dengan memakai kebaya berwarna maron.Kebaya itu adalah kebaya couple hadiah dari sepupu Adnan pas acara pernikahannya.
Dia dengan ditemani oleh ke 2 orangtua dan Abangnya datang keacara wisuda tersebut.Suasana tampak ganjil karena kurang Adnan lelaki tampan yang sudah menjabat sebagai suaminya
.Acara kelulusan pun segera dimulai dengan penyematan topi.Tak seperti dulu seoarang Rara si tukang bully,selalu ceria,memiliki senyum devil kini berubah menjadi sosok pendiam bahkan rasanya begitu beda.
"Ra,lo kenapa sih kayaknya beda banget gitu.Lo gak kayak biasanya."ujar Diva yang masih hanya ditanggapi diam oleh sang empunya.
"Ra,lo masih anggap kita sahabat kan jadi please kalo misal lo ada masalah lo bisa cerita ke kita.Kita pasti bakal dengerin lo.Bahu kita selalu tersedia untuk lo."ujar Dilla lagi lalu memeluk tubuhnya
"Makasih kalian semua udah baik sama gue.Kalian emang sahabat terbaik gue."ujarnya membalas pelukan mereka berdua layaknya teletabis.Dering handphone pun menyadarkanku.
Derrtt...derrtttt...derrrrrtttttttttttt
Kak fasha calling📞
"Assalamualaikum,Ada apa kak?"ujarnya lalu keluar dari gedung
"Waalaikumsalam.Kamu bisa kerumah sakit sekarang?Adnan kondisinya melemah."ujar Kak Fasha dengan suara serak
"Apa?Oke kak aku kesana sekarang."ujarku lalu kututup telfonnya
Mendengar ucapan dari sambungan telefon Kakak iparnya itu membuatnya segera berlari menyambar tasnya yang ada di dalam gedung.Kedua sahabatnya pun mengernyitkan kening melihat kelakuan gadis berwajah manis itu.
"Mau kemana lo kan acaranya belum selesai."ujar Dilla
"Maaf gue mau kerumah sakit suami gue kondisinya melemah."ujarnya lalu berlari keluar dari gedung
Banyak tatapan mata keheranan dari orang-orang yang melihatnya.Ini hari kebahagiaan para Siswa.Hari kelulusan setelah sekian lama menempuh pendidikan selama 3 tahun namun tidak untuk Rara yang mengalami kesedihan begitu mendalam.
Sementara kedua sahabatnya menatapnya dengan tatapan cengoh.Apa maksud dari gadis itu?ujar Dilla dan Diva bertanya-tanya.
Sudah lama sejak 30 menit yang lalu masih belum juga ada taxi yang lewat.Rara menunggu dengan perasaan campur aduk,sesekali melihat ponsel yang sedang digenggamnya itu.
"Ra lo mau kemana?terus kenapa lo nangis?"ujar seseorang dengan suara baritonnya
__ADS_1
"Gue mau kerumah sakit Bar,Hikss..suami gue kondisinya melemah."ujarnya sembari menangis tersedu sedu
Bara tak heran karena dia memang sudah tau bahwa ia sudah menikah tepatnya saat Bara mengungkapkan perasaannya.Masih ingat kan?kalo gak ingat ada dipart sebelumnya😉
"Lo tungguin sini gue anterin.Gue mau ambil motor sebentar."ujar Bara lalu berlari menuju parkiran
Pikirannya terasa kacau hingga membuatnya mengingat mimpi kemarin.Akankah mimpi itu menjadi kenyataan?Atau ini hanyalah sebuah mimpi?Tapi kalaupun dikatakan mimpi itupun tidak benar.Dia sudah duduk dimotor Bara dengan derai air mata.
"Lo yang sabar ya Ra tenangin diri lo."ujar Bara sembari membelah jalanan dengan kecepatan diatas rata-rata.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka berdua sampai dirumah sakit tersebut.Mereka pun berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit sampai disana sudah ada kedua orangtuaku dan orang tua Adnan,serta Kak Fasha dan kedua Abangku.
Diapun segera berlari menghampiri Bunda yang sudah menangis.Sementara Mama menangis dipelukan Papa.Ruangan Adnan masih tertutup yang tandanya dia masih ditangani oleh Dokter.Tak lama kemudian keluarlah laki-laki paruh baya dengan jas putihnya datang dengan raut wajah yang sulit ditebak.
"Maaf saudara Adnan tak bisa kami selamatkan."ujar sang dokter
Bagai tersambar petir disiang hari mendengar suara sang Dokter.Semua orang yang berada disana tampak sedih dan menangis sejadi-jadinya.
"Dokter gak bohongkan?Anak saya masih hidup kan dok?"ujar Mama sembari menangis tersedu-sedu
"Mas bangun mas.Aku yakin kamu masih hidup.Ayo bangun mas."ujarnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Adnan yang terbaring kaku
"Kamu yang sabar dek.Iklasin Adnan."ujar Abang Zou
"Ra kamu yang tenang.Adnan udah tenang dialam sana kamu yang iklas ya."ujar Bang Ano sembari mengelus elus punggungnya
"Gimana aku bisa tenang bang,suami aku meninggal.Suami aku ninggalin aku untuk selamanya."ujar Rara yang masih menangis dipelukan Adnan
"Ra lepasin Adnan.Adnan udah tenang dialam sana.Jangan sampai air mata kamu netes ditubuh Adnan nanti dia ikut sedih."ujar Bara lalu menarik gadis yang memeluk lelaki terbujur kaku diranjang itu dalam pelukannya
Suara tangisan pun menggema diruangan Adnan.Aku masih menangis dipelukan Bara.Sementara kedua abangku juga tampak sedih apalagi saat melihatku menangis meraung raung.Hingga suara Bang Ano pun menyadarkanku.
"Ra,tangan Adnan bergerak."ujarnya yang kemudian kedua orangtuaku dan Adnan masuk kedalam ruangan
Tak lama kemudian Adnan pun membuka matanya.Matanya menyusuri ruangan.Mata kami sempat bertemu aku membalasnya dengan senyuman kala Adnan memandangku namun tak lama dia memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ma,Aku ada dimana?"ujar Adnan dengan suara lemah
"Kamu ada dirumah sakit."ujar Mama sembari tersenyum dan menghapus air matanya
"Kak,Pa,Kalian kenapa nangis?"ujar Adnan lalu menatap Mamanya yang basah air mata
"Mama gapapa nak.Mama cuma terharu akhirnya kamu sudah sadar."ujar sang Mama lalu memeluk anaknya sayang
"Mas aku kangen banget sama kamu."ujar Rara yang hendak memeluk Adnan namun ditepis
"Dia siapa Ma?Dan kamu jangan berani peluk saya,kita bukan muhrim."ujarnya yang membuatnya tertampar kenyataan
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Adnan?Apakah Adnan membencinya karena kejadian yang menimpanya?Bahkan apapun yang ia mau pasti akan dia wujudkan asalkan dia mau memaafkan Rara.
Akupun terdiam lesu meratapi kesalahanku.Kecerobohanku yang merubah keadaan menjadi seperti ini.Jujur aku begitu merindukan lelaki yang terbaring didepanku ini
"Dia is..."ujar Mama namun tertunda karena dokter sudah datang untuk memeriksa keadaan Adnan
Tak lama kemudian dokter keluar dengan diikuti Mama,Papa dan Aku.
Aku duduk bersama mereka berempat mendengarkan ucapan sang dokter.
"Jadi kenapa anak saya tidak mengingat istrinya ya dok?"ujar Papa
"Jadi gini pak saudara Adnan mengalami amnesia.Separuh ingatannya hilang sementara separuhnya lagi masih.Ia hanya bisa mengingat kejadian lampau misalnya masa kecilnya sementara kejadian yang baru beberapa tahun lalu terhapus karena benturan kepalanya yang begitu kuat."ujar snag dokter
"Apa Adnan masih bisa ingat saya dok?"ujar Rara penasaran
"Kemungkinan besar bisa tapi waktunya cukup lama dan jangan terlalu memaksakan ingatan pasien karena itu dapat menyebabkan ia lupa semuanya.Lambat laun ingatan dia akan pulih sendiri."ujar sang dokter yang tentu membuatku harus menelan saliva
Sakit itulah yang saat ini kurasakan.Mama dan Papa pun meminta maaf kepadanya.Ia pun memelukku memberi gadis itu ketenangan agar ia bersabar.
Gadis itupun berjalan gontai menuju arah pulang.Rasanya lemas mengingat kenyataan tadi.Sepertinya dia harus memulai dari nol lagi dalam memperjuangkan sang kekasih.
Sudah tak ada lagi air mata yang harus ia keluarkan.Ada rasa senang bercampur kecewa menjadi satu.Tetapi ini semua demi Adnan sang suami ia harus ikhlas menghadapinya.
__ADS_1