Mengejar Cinta Halalmu

Mengejar Cinta Halalmu
Mas?


__ADS_3

Gadis dengan baju tidur gambar kodok itu tampak grasak grusuk dengan tidurnya.Karena terganggu sang suami pun bertanya keadaannya.


"Kamu kenapa Ra?"ujar Adnan dengan suara khas bangun tidur


"Gue gak bisa tidur Nan,perut gue sakit banget."ujar gadis itu sembari memegang perutnya


"Kok bisa?Kamu punya sakit magh atau sakit karena diare?"ujar lelaki itu lalu bangkit dari tidurnya


"Gue sakit karena Asam lambung gue naik bukan diare.Aww nyeri banget."ujar Rara sembari guling-guling memegang perutnya


"Yaudah kamu tunggu sebentar aku cariin obat."ujar Adnan lalu keluar dari kamar


Adnan yang gelagapan pun memilih untuk membangunkan Sang Mama.Dengan tergesa gesa dia menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya.


"Ada apa Nan malem-malem kok gedor-gedor?"ujar Wanita tengah baya


"Itu Ma Rara lagi sakit perut ad.."belum saja adnan melanjutkan perkataannya sudah dipotong oleh uminya


"Apa sakit perut?Kok bisa sih?sudah kamu obatin belum."ujar Umi sembari berjalan menuju kamar Adnan


"Dengerin penjelasan Adnan dulu Ma.Jadi Rara itu sakit perut gara-gara asam lambungnya naik


dan Adnan gak tau obatnya apa maka dari itu Adnan tanya ke Mama."ujar lelaki itu kesal


"Mama kirain kenapa Nan.Ya udah kamu ambil dilemari dapur ada satu botol jamu pereda nyeri cepet diambil kasian Raranya."ujar Mam kemudian menghampiri Rara


Tanpa babibu Adnan pun mencari jamu tersebut.Matanya berkelana mencari letak jamu itu dan akhirnya dia menemukannya.Jamu dengan botol kaca berwarna kuning itu tampak masih tersegel.


"Ini Ra diminum."ujar Adnan lalu menyodorkan jamu itu


"Thanks."ujar Rara lalu menengguk satu botol jamu itu.


"Yaudah Rara istirahat ya udah malem kalo ada apa-apa langsung panggil Mama."ujar Mama Adnan lalu mengecup kening Rara


"Iya Ma maaf ya lagi-lagi Rara ngerepotin Mama."ujar Rara yang dibalas gelengan oleh sang Mertua


"Enggak kok sayang enggak ngerepotin sama sekali.Yaudah Mama pergi dulu."ujar Mama lalu keluar kamar


Adnan dan Rara masih terjaga dalam tidurnya.Tak ada percakapan diantara mereka berdua.Hening itulah suasana dikamar mereka saat ini.Karena bosan Adnan pun yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Gimana Ra udah mendingan?"ujar Adnan

__ADS_1


"Iya udah."ujar Rara ketus


"Ra aku tidur dulu ya.Kamu jangan tidur malem-malem."ujar Adnan lalu naik keatas kasur dan memakai selimutnya


"Kalau mau tidur yaudah tidur aja kenapa mesti bilang gue?"ujar Rara yang masih bergeming sementara Adnan tak menghiraukannya


Selang beberapa menit kemudian Rara pun bergeming membangunkan Adnan.Adnan yang hanya pura-pura tidur langsung membuka matanya.


"Nan gue takut gelap."ujar Rara sembari meraba raba mencari keberadaan Adnan


Memang kebetulan sedang ada mati lampu karena hujan disertai petir yang begitu deras.Adnan pun menghadap ke arah Rara lalu memeluk Rara.


"Udah gak usah takut kan ada aku disini."Ujar Adnan menenangkan Rara


Rarapun membalas pelukan Adnan.Damai itulah yang dirasakan mereka berdua.Tanpa mereka sadari mereka pun sudah terlelap dengan posisi berpelukan seperti kartun teletabis.


Rara pov


Aku terbangun dari tidur karena ingin kekamar mandi.Namun pergerakan ku seakan sulit karena ada yang menindihku.Betapa kagetnya diriku kala tangan Adnan memeluk tubuhku.Wajahnya begitu dekat dengan wajahku bahkan deru nafasnya sangat terasa.


Dengan pelan akupun bangun dan melangkah ke kamar mandi.Jarum jam masih menujukkan pukul 2 dini hari.Seusai dari kamar mandi akupun kembali tidur.Rasanya begitu nyaman berada dipelukan Adnan.Aku memberanikan diri untuk memeluknya.


"Ah peduli setan toh udah sah juga."ujarku lalu memeluk tubuh Adnan yang sebelumnya kucium bibir merahnya yang begitu menggoda.


"Ra bangun udah subuh."ujar Adnan yang mengguncang tubuhku


Sayup-sayup akupun membuka mata melihat wajah tampan Adnan yang sudah tersenyum kepadaku.


"Jangan senyum Nan."ujarku yang membuat Adnan mengerutkan keningnya


"Kenapa emangnya?"ujar Adnan bingung


"Senyum lo terlalu manis bikin gue diabetes."ujarku yang membuat pipi Adnan memerah


Entah ada setan apa yang merasuki ku sekarang hingga aku berani menggoda lelaki berwajah manis itu.Wajahnnya pun seketika memerah.Mungkin dia malu karena ulahku.


"Cie blushing ciee."ujarku sembari tekekeh lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu


Tak butuh waktu lama,Kini aku sudah berdiri dengan mukena navy sedangkan Adnan sudah berdiri menjadi imamku.Kami pun sholat dengan khusyu.


Seperti biasanya seusai sholat aku selalu mencium tangan Adnan namun kali ini beda.Seusai mencium tangan Adnan,Adnan pun tak tinggal diam diapun mencium keningku cukup lama hingga membuatku mematung.

__ADS_1


"Maaf kalo aku udah lancang cium kening kamu."ujar Adnan lalu menunduk


"Kenapa mesti minta maaf wajar lah lo kan suami gue."Ujarku sembari menutupi raut wajahku yang tampak gugup


"Apa kamu bahagia hidup sama aku?"ujar Adnan yang membuat kening Rara mengkerut


"Kenapa lo tanya kayak gitu?"ujarku yang penasaran dengan sikap Adnan yang mulai berubah akhir-akhir ini


"Hah?Engg..enggak papa abaikan aja tadi aku salah ngomong."ujarnya lalu melipat sajadahnya dan meninggalkan ku dengan tatapan bertanya-tanya.


Hari ini libur namun tak seperti biasanya kali ini aku memilih membantu Mama mertua memasak.Aku memang tak pandai memasak dan berniat ingin belajar masak bersamanya.


Mama begitu telaten mengajariku.Banyak hal yang belum pernah ku lakukan seperti mengiris bawang,mengiris wortel dan belajar mengenai bumbu-bumbu masak.


"Perut kamu gimana Ra,Apa masih sakit?"ujar Mama mertua yang sibuk dengan krengsengan bumbunya


"Enggak Ma udah enakan."ujarku sesekali mengusap air mataku


"Alhamdulillah kalau gitu.Oh ya habis makan mending kamu istirahat aja Ra,kata Adnan kemarin kamu kan habis lomba marching pasti badan kamu pegel-pegel."Ujar Mama mertua


"Enggak kok Ma Rara udah enakan.Oh ya Ma wortelnya ini mau diapakan?"Ujarku lalu memerikan semangkuk wortel yang telah kupotong kecil-kecil


"Taruh sini aja Nak.Oh ya gimana nanti kalau kamu ikut Mama ke pesantren.Jalan-jalan sekaligus Mama perkenalkan suasana pesantren."ujar Mama sesekali mengaduk sup didalam panci


"Iya Ma nanti Rara ikut."Ujarku lalu melanjutkan mengiris bawang.


Banyak hal yang kami obrolkan.Mama begitu baik dan tutur katanya pun lemah lembut.Bisa dibilang wanita paruh baya itu adalah sosok istri Sholehah.Beliau begitu pandai dalam segala hal berbeda jauh denganku.


Ahh lalu mengapa aku memiliki pikiran seperti itu.Bukannya aku sendiri yang menolak Adnan untuk menjadi suamiku?namun mengapa sekarang aku seakan-akan berharap lelaki itu menjadi suamiku.


"Pagi istri kecilku."ujar Lelaki yang menghampiri dan mencubit pipiku


Sikapnya begitu manis hingga membuatku hampir salah tingkah.Namun dengan segera aku mengalihkan sikap seolah tak terjadi apa-apa.Bahkan aku selalu mengingatkan diriku bahwa sikap Adnan hanyalah sandiwara didepan keluarganya.Akupun membalasnya dengan tersenyum namun wajah laki-laki itu berubah seketika kala melihatku mendongakkan kepala.


"Kamu kenapa nangis?Ma,ini kenapa Rara kok bisa nangis?"ujar lelaki dengan kaos polos dan trening panjangnya itu


"Aku gapapa Nan."ujarku yang masih meneruskan mengiris bawang sembari menyeka air mataku yang terus menetes


"Ra kamu kenapa sih?Apa ada yang salah sama sikapku?"ujarnya yang membuatku tertawa kencang lalu menutup mulut seketika


"Aku gapapa Nan ini itu bukan nangis tapi karena aku habis ngiris bawang."ujarku

__ADS_1


"Nak dibiasakan kalo manggil Adnan dengan embel-embel Mas.Dia itu suami kamu rasanya tidak sopan jika kamu memanggilnya hanya dengan nama."Ujar Mama lalu mengambil potongan bawang dan segera memasukkannya kedalam wajan


"Ehh iya Ma."ujarku lalu tersenyum kikuk


__ADS_2