
Acara gladi bersih pun sudah dimulai.Seluruh siswa kelas 12 sedang berkumpul di Aula ada juga kelas yang bergiliran mengambil toga dan termasuk kelasku.Selesai pengambilan toga aku bersama ketiga temanku memilih untuk berada dikantin karena jam istirahat.
"Ra lo ada masalah?"ujar Dilla yang hanya kubalas dengan gelengan.
"Terus kenapa lo pakai kacamata?Lo habis nangis?"ujar Diva dengan mata memicing sementara aku hanya menatapnya datar
Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.Akupun memilih untuk meninggalkan sekolah tak peduli dengan kedua temanku yang berteriak-teriak.
"Gue pulang dulu entar kalo Andre nyariin bilang kalo gue ada urusan."ujarku lalu melenggang pergi
Tak butuh waktu lama akupun sudah sampai di rumah sakit dengan ojol.Akupun segera masuk ke ruangan Adnan.
Sudah 3 hari ini Adnan tak sadarkan diri.Disana hanya ada aku yang menunggu karena Papa yang kebetulan pulang karena ada urusan.
"Mas,kamu gak capek tidur terus.Kamu gak kangen sama aku ya."ujarku sembari menggenggam tangan Adnan
"Ternyata bener ya kata Dilan rindu itu berat apalagi rindunya ke kamu mas berat banget.Kamu bangun ya aku rindu."ujarku yang masih setia memeluk tubuh lemasnya
"Mas besok hari kelulusan aku,kamu bangun ya!Aku pengen banget disaat wisuda kamu juga hadir bersamaku.Mas tau gak sekarang aku jadi cengeng banget kayak anak kecil."ujarku terkekeh lalu kembali sendu
Rasanya aku sudah seperti anak kecil yang ditinggal dengan kedua orang tuanya.Bingung itulah yang saat ini kurasakan.Aku bingung dengan siapa aku bersandar sedangkan sandaranku sedang tidak baik-baik saja.
Sesekali aku menyesali perbuatanku saat itu.Andai saja waktu bisa diputar kembali aku ingin mengulang saat pertama kali dipertemukan.Bukan untuk kembali membencinya namun dengan mencintainya.
Dan benar aku memang sedang berada difase jatuh sejatuh-jatuhnya.
...***...
Tepat hari ini adalah hari kelulusanku dan ternyata aku lulus dengan nilai yang memuaskan.Bahagia pasti iya.Dengan segera akupun berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Dengan baju toga serta kebaya yang kukenakan hingga membuat para pengunjung rumah sakit menatapku heran.Kulihat disana tepatnya didepan ruangan rawat Adnan ada kedua orangtuaku,kedua orang tua Adnan serta kak fasha dan kedua abangku berada disana.
__ADS_1
Kulihat dari kejauhan Mama yang menangis dipelukan Kak Fasha,Papa yang berdiam sembari menundukkan kepalanya sementara kedua orangtuaku tampak terlihat sedih yang membuatku semakin bingung.Semakin dekat hingga aku menghampiri mereka semua.
"Ini ada apa?kenapa semua pada nangis?"ujarku yang mereka semua hanya menatapku dengan tatapan sulit diartikan
"Ma,Bun,Yah,Pa ini ada apa kenapa semua pada nangis?"ujarku bertanya-tanya
"Kak,bang ini semua ada apa?jangan buat aku bertanya tanya?Ada apa sebenarnya?"ujarku dengan tegas karena tak ada jawaban akupun memilih untuk masuk ke dalam ruangan.
Degg..
Jantungku terasa berhenti mendadak.Tubuhku terasa lemah namun kedua abangku segera memeluk dan menenangkanku.Air mataku sudah luruh.Aku berjalan dengan lemas menuju seseorang yang terbungkus kain putih.
"Mas Adnan bangun,jangan ninggalin aku bangun mas."ujarku dengan air mata yang berjatuhan
"Ayo mas bangun.Kamu jangan bercanda."ujarku yang menepuk nepuk pipi adnan lalu kugenggam tangan Adnan namun tak ada kehangatan disana hanya telapak tangan yang dingin serta mata terpejam
"Kamu tenang dek.Yang sabar."ujar Abang Zou yang membawaku kepelukannya
"Enggak kalian semua bohong.Adnan masih hidup suami aku masih hidup.Iya kan Bun?Adnan masih hidup kan?"ujarku dengan setengah berteriak lalu memeluk kembali tubuh Adnan yang terbujur kaku namun dengan cepat Bang Ano menarikku dan memelukku
"Istigfar Ra.Kamu jangan peluk Adnan kayak gitu.Kamu boleh sedih kamu boleh nangis tapi kamu jangan jatohin air mata kamu ditubuh Adnan.Kamu jangan berlebihan kayak gitu."ujar Bang Ano yang membuatku menatap sinis kearahnya
"Abang bilang apa?Rara berlebihan?apa salah Rara nangisin suami Rara?Rara ditinggal pergi bang dan ini bukan perkara ditinggal sekejap tapi ini selamanya.Wajar kalo Rara bersikap kayak gini.Abang bilang kalo Rara berlebihan karena Abang belum pernah ngerasain ditinggal orang yang abang cintai."ujarku sembari menangis sesenggukan
"Ma..maafin abang Ra."ujar Bang Ano lalu kembali memelukku
Sementara Adnan dibawa para perawat menuju mobil ambulance.Kami semua pun mengikuti dari belakang.Aku dengan ditemani Bang Zou memasuki mobil ambulance.
Aku sengaja menaiki mobil ambulance untuk menunggu Adnan.Sesekali aku berharap bahwa Adnan akan kembali bangun dari tidur panjangnya.Aku masih saja menangis dipelukan abangku itu sesekali ia mengelus rambutku.
Kita sudah sampai dipekarangan rumah orang tua Adnan yang disana sudah terdapat bendera kuning serta orang yang sedang bertakziyah.Kedua sahabatku lalu memelukku.
__ADS_1
Mereka menangis dan menenangkanku.Sementara tak jauh dari sana sudah ada Bara yang berada disampingku.Ia juga ikut serta menenangkanku dan sekedar mengucapkan bela sungkawa.
Air mataku tak bisa kubendung lagi kala proses pemakaman Adnan.Aku menangis sesenggukan.Rasanya baju Bang zou sudah basah dengan air mataku.
Lambat laun semua orang sudah meninggalkan area pemakaman dan tinggal Aku yang masih berada disana tepatnya ditemani oleh Abangku.
Akupun berjalan dan berjongkok menuju pusaran Adnan.Air mata masih berderai.Aku sudah tak peduli dengan diriku sendiri rasanya sedih,lelah,rindu menyerbu hatiku.
"Mas Adnan kenapa kamu pergi secepat ini?Mana janji kamu yang dulu.Kamu bahagia ya disana,sampai-sampai kamu ninggalin aku.Aku sayang kamu mas,aku pasti bakalan rindu kamu.Aku pergi dulu ya mas lihat noh Abang Zou pasti mau ngomelin aku kalau kelamaan.Aku pamit ya kalo kamu takut sendirian kamu ajak aku aja."ujarku kemudian tersenyum namun kemudian kembali menangis.
Aku masih duduk jongkok dipusaran Adnan sembari memeluk nisannya.Rasanya berat untuk ku meninggalkannya.
Bang zou sudah meninggalkanku karena kesal melihatku yang terus-terusan menangis dipusaran Adnan.Cukup lama ku memeluk nisan Adnan hingga sebuah tangan kekar menyadarkanku.
"Ra bangun nak."ujar seseorang dengan suara berat yang menyadarkanku
Akupun mendongakkan kepalaku dan menatap orang itu.Lalu kulihat seseorang yang terbaring disampingku.Ada rasa bahagia dihatiku setelah itu kucubit tanganku dan terasa sakit.
"Fyuhh akhirnya cuma mimpi."ujarku dalam hati
"Ra,kamu kenapa kok malah ngelamun."ujar Lelaki paruh baya itu
"Ee..eh gapapa Pa.Maaf tadi Rara ketiduran jadinya gak tau kalo Papa udah ada disini."Ujarku sembari tersenyum
"Oh gapapa Ra.Itu kamu kenapa nangis?"ujar Papa
"Hah?enggak kok Pa,Rara gak nangis mungkin tadi kelilipan."ujarku lalu mengusap sisa air mata itu.
"Oalah iya.Ini Papa bawain nasi uduk kamu makan ya."ujar Papa lalu menyerahkan nasi itu didepanku lalu kumakan karena tega menolak perintah Papa
Akupun memakan makanan yang diberikan oleh Papa.Sementara Papa duduk disamping ranjang Adnan dengan membacakan ayat suci Al-Quran.Pikiranku masih terganggu dengan mimpi tadi.Sekelebat ada rasa takut untuk kehilangan Adnan.
__ADS_1