
"Gak ada cewek baik yang tidur sama cowok yang baru dikenalnya kalau bukan pelacur."ujarku lalu keluar meninggalkan dia didalam kamar.
Akupun segera berjalan menuju parkiran.Pikiranku semakin kacau mengingat kejadian tadi.
"Arghhh bodoh banget sih gue.Ini gue yang bangsat atau dia yang emang bangsat."ujarku sembari memukul mukul stir mobil
Jujur ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini.Memang benar kata orang bahwa cinta itu pembodohan.Aku memang jatuh cinta pada orang yang tak tepat hingga membuatku bodoh sampai melampiaskan ke orang lain.
Wajahku tampak lesu,akupun segera masuk kedalam rumah yang ternyata telah disambut hangat oleh kedua orangtuaku.
"Bara,tumben pulang pagi.Ayo sini sarapan bareng."ujar wanita paruh baya dengan baju glamournya yang biasa kupanggil Mama
"Habis darimana aja kamu?Lusuh banget penampilan kamu kayak habis Ngawinin anak orang."ujar lelaki paruh baya yang tak lain ialah Papaku
Degg..
Aku terkejut mendengar ucapan Papa.Apa jangan-jangan Papa bisa melihatku?Akupun mencoba menyembunyikan raut wajahku agar terlihat biasa saja.
"Husstt mulut Papa ya,gak mungkin anak Mama satu-satunya berbuat kayak gitu.Apalagi Bara ini anak baik-baik dan gak pernah ngecewain kita.Ayo sarapan dulu."ujar Mama yang membuatku sedikit lega
"Hehee maaf Ma.Yasudah ayo Bar kita sarapan bareng."ujar Papa
"Enggak deh Pa,Ma,Aku keatas dulu aja bersih-bersih baru turun.Papa Mama duluan aja."ujarku lalu melenggang menuju kamar
Tak ada hal yang dapat disesali selain berada dibawah guyuran air shower.Sudah sekitar satu jam aku berada didalam kamar mandi.Rasa bersalah serta dosa besar yang kulakukan itu akankah bisa ku tebus?
...***...
Tiga bulan telah berlalu,lambat laun aku sudah bisa melupakan kejadian kelam malam itu.Seperti biasa hari ini adalah jadwalku untuk piket menjaga UKS.
Hari Senin adalah hari yang melelahkan.Bagaimana tidak pada hari itu banyak sekali siswa yang pingsan hanya karena terkena sinar matahari.Namun sungguh mengejutkan kala aku melihat gadis yang ku kenal dibopong didalam UKS.
Entah mengapa melihat wajahnya membuatku benci karena teringat kejadian naas itu.Aku memilih membiarkannya ditangani oleh temanku lainnya.
Upacara telah selesai sedangkan semua siswa sudah pergi menuju kelas masing-masing.Ku lihat sekilas gadis itu masih terbaring dibrankar dengan wajah pucat.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu sering pingsan?apa ada yang sedang kamu pikirkan?"ujar Dokter Shanti sedangkan sang empu hanya menggelengkan kepala sembari menghapus air matanya.
"Apa karena kedua orang tua kamu?Sudahlah Sin kamu bisa cerita ke saya daripada kamu pendam sendiri dan buat kamu sakit."ujar Dokter Shanti namun lagi-lagi hanya dibalas gelengan kepala
__ADS_1
"Kamu sudah sarapan?"ujar Dokter Shanti
"Belum Dok.Akhir-akhir ini aku sering muntah jadi males makan."ujar Shinta
"Mungkin magh kamu kambuh,Yasudah kita sarapan Bareng nanti."ujar Dokter Shanti lalu keluar menghampiriku
"Bara tolong kamu beli sarapan ya,kita sarapan bareng.Ini sekalian beli teh anget satu ya."ujar Dokter Shinta lalu memainkan ponselnya
"Ehh Beli dua aja buat kamu sama Sinta,saya mau kerumah sakit anak saya kecelakaan.Ohh iya saya titip Sinta ya sekalian bujuk dia makan."ujar Dokter Shanti sembari memberikan selembar uang warna merah
Akupun mau tak mau menuruti perintahnya.Kebetulan memang jam segini UKS sedang sepi-sepinya.Dengan cepat akupun berjalan menuju kantin.
Tak butuh waktu lama kini aku sudah berada didalam UKS.Ku beranikan diriku untuk menghampirinya dengan wajah datar.
"Ba..ba..Bara ngapain kamu disini?"ujar Sinta menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan
"Cepat makan gak usah banyak bacod."ujarku kesal lalu menaruhnya dimeja samping brankar lalu meninggalkannya duduk didepan
"Gak mau kecuali kalau kamu yang suapin aku."ujar Sinta datar
"Lo gila ya?Ogah gue gak mau."ujarku lalu meninggalkannya sendiri
Kesal sekali yang seenaknya menyuruhku.Akupun memilih untuk mengisi buku jurnal.Tak butuh waktu lama pekerjaanku sudah selesai akupun memilih untuk membaca buku perihal kesehatan.
Uekkk
Degg
Tepat dengan suara Sinta yang hendak muntah tepat pula jantungku berdegup kencang.Apakah benar Sinta hamil?Mengingat sikap Sinta yang sangat pendiam namun saat bersamaku tadi dia terlihat lebih berani.
Dan jika dipikir-pikir tepat dua bulan setelah tragedi naas itu.Ku baca kembali ciri-ciri orang yang sedang hamil.Akupun bergegas menghampiri wanita yang terbaring lemah diranjang UKS.
Ku tatap matanya yang berkaca-kaca serta kulit putih pucat pasi itu.Dia tampak memijat pelipisnya.Tak henti-henti aku menatapnya bahkan aku menatap perutnya yang agak membuncit.Apa benar Sinta hamil?Pikiranku semakin berkelana kemana-mana.
"Ayo ikut gue sekarang."ujarku
"Kemana?"ujar Sinta
"Pulang,wajah Lo udah pucet kek gitu.Biar gue urus semuanya."ujarku
__ADS_1
Kini kami berdua sudah berada didalam mobil.Tujuan pertama ialah pergi ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan.
"Badan Lo udah enakan?"ujarku sembari sesekali melihat Sinta yang terduduk dimobil
"Udah.Tapi kenapa setiap aku lihat kamu tubuh aku kerasa enak dan gak mual."ujar gadis berkacamata bulat itu
"Udah gak usah banyak omong gue gak suka."ujarku lalu menepikan mobil
Tanpa babibu akupun segera masuk kedalam apotek.Mataku berkeliling mencari beberapa produk yang bisa digunakan untuk mengecek kehamilan.
"Masnya yakin beli ini?"ujar mbak-mbak kasir sembari menatapku heran
"Buat mama saya."ujarku ketus karena memang aku lupa bahwa masih memakai seragam sekolah.
Setelah selesai bertransaksi akupun pergi menuju mobil.Akupun kembali melajukan mobil dan berhenti menuju apartemen milikku.Menurutku ini tempat teraman untuk diriku berbicara soal semua ini.
"Kita ngapain disini?"ujar Sinta
"Gak usah banyak omong bisa gak?"ujarku kesal lalu masuk kedalam apartemen.
Kulihat dia pun berjalan mengikutiku.Kami berdua pun segera masuk.
"nih buat loh.Cepat pakai sekarang!"ujarku lalu menyerahkan kantong kresek berisi testpack
"Ini buat apa?"ujarnya kebingungan
"Lo gak bisa baca ini alat apa namanya?"ujarku semakin kesal
Diapun menuruti kemauanku lalu berjalan menuju kamar mandi yang telah ku tunjukkan.Cukup lama aku menunggunya.Jujur ada rasa khawatir mengingat statusku yang masih pelajar.
"Bar."ujar Sinta memanggilku pelan
"Gimana hasilnya?"ujarku penasaran
"Ini gimana cara pakainya?aku gak paham."ujar Sinta yang membuat darahku semakin mendidih
Kesal melihat gadis didepanku ini.Pantas saja ia selalu dibully semua orang termasuk Rara karena memang ia begitu polos atau bisa dikategorikan oon.
Akupun mengajarinya pelan sembari menonton YouTube.Jujur akupun juga sama sekali tak tau cara pemakaian alat ini.
__ADS_1
Hanya menunggu beberapa menit saja namun hatiku terasa penasaran.Kami berdua pun menutup mata.Pelan-pelan ku buka mata ini dan benar tampak garis dua dialat itu.
Sinta pun tampak menangis sesenggukan.Sedangkan aku memilih menjambak rambutku kasar karena merasa frustasi.