
"Raff!" panggil Dinda.
Raffa hanya menoleh dan langsung melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
Raffa. Orang yang selama ini Dinda sayang dan Cintai. Dan selama itu pula Raffa mengabaikannya.
"Raff, tunggu! gue mau ngomong." Dinda berusaha mendekat ke arah Raffa yang terus berjalan menjauh darinya.
Raffa tak merespon, dia tetap melanjutkan jalannya tanpa menoleh.
"Din!" panggil seseorang.
Dengan terpaksa Dinda menoleh dan mendapati seseorang yang memanggilnya tadi.
"Lo dipanggil tuh sama ketua OSIS," ucapnya.
"Buat?" tanya Dinda.
"Gak tau, lo ke sana aja deh." Orang itu pergi meninggalkan Dinda yang masih mematung menatap punggung orang itu yang semakin menjauh.
Dinda menarik nafasnya dalam-dalam. Semoga saja ini bukan masalah, batin Dinda.
Tok ... tok ... tok ....
Dinda mengetuk pintu ruang OSIS dan membuka pintunya berlahan.
"Permisi!"
"Iya, silahkan masuk, Dinda." Salah satu dari mereka menjawab.
Dinda masuk dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
Dalam ruangan itu hanya ada beberapa orang.
Lala, Bu Dian, Vivi, dan dua Kakak kelas yang Dinda tidak kenal namanya.
"Ada apa? kenapa Bu Dian manggil?" tanya Dinda.
"Jadi gini, berhubungan ketua OSIS kemarin baru saja meninggal karena kecelakaan, kami akan melakukan pemilihan ketua OSIS lagi. Ibu minta tolong yah, tolong kamu siapkan semuanya," jelas Bu Dian.
"Iya Din, lo mau kan?" tanya seseorang.
"Kenapa harus gue La?"
"Karena ibu percaya sama kamu Din," jawab Bu Dian cepat.
"Kalo wakilnya gimana? apa perlu ganti juga?" tanya Dinda.
"Ganti juga gak papa kok Bu," sahut Vivi yang merupakan wakil ketua OSIS.
"Beneran Vi? kan baru kemarin pemilihan ketua sama wakil OSIS, masa mau di ganti?" tanya Dinda pada Vivi.
"Iya Din, gue mau fokus belajar."
"Gimana Din? mau kan?" Bu Dian memastikan.
"Mm ... gimana ya? saya sendiri Bu?"
"Gak! nanti Bu Dian carikan wakilnya buat bantu kamu."
"Ya udah Bu, kalo saya gak mau juga Bu Dian maksa!?" Dengan percaya Dinda mengatakannya.
"Kamu bisa aja."
***
__ADS_1
"Din! gimana?" tanya seseorang yang tak lain adalah sahabat Dinda.
"Masih sama, Raffa masih gak mau ngobrol sama gue semenjak kejadian waktu itu."
"Kan gue udah bilang, jangan melakukan hal yang konyol, udah tau Raffa orangnya cuek and galak."
"Mau gimana lagi Sin, gue udah lama suka sama dia, gue gak mau cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan," ucap Dinda.
"Lo harus sabar Din, Raffa itu gak mudah."
"Sinta!"
Sinta yang merasa terpanggil menoleh dan mendapati Vivi sedang berjalan ke arahnya.
"Vi? ngapain manggil gue?" tanya Sinta—sahabat Dinda.
"Gue cariin kemana-mana taunya lo di kantin sama Dinda. Lagian tumben banget ke kantin? biasanya ke warung belakang sekolah?" Vivi balik bertanya.
"Dinda pengin di sini."
"Ou iya, lo mau kan jadi wakil pemilihan ketua OSIS? sama Dinda."
"Gak! gue gak mau, ribet tau." Sinta dengan cepat menolak.
"Ayo lah Sin, buat temen gue?" Mohon Dinda.
"Gak! gue gak mau."
"Ya udah lah, gak bisa dipaksa juga, lo kan keras kepala," cibir Vivi.
"Nah lo tau, ya udah jangan pilih gue," sergah Sinta.
***
Sampai di depan kelas, Dinda mengedarkan pandangannya mencari apa yang dia cari.
Cukup lama Dinda melihat-melihat hingga di sekitar Dinda yang tadinya rame kini menjadi sepi.
Hanya ada Dinda dan Sinta yang masih setia menunggu Raffa.
"Pulang aja yuk! lagian Raffa juga gak mungkin mau ngomong sama lo," ajak Sinta yang sudah merasa bosan.
"Bentar Sin, gue harus bisa ngomong sama Raffa."
Dinda dengan kepala batunya menolak ajakan Sinta. Dia tetap bersikeras untuk menunggu Raffa.
"Ya udah, kalo 15 menit lagi dia belum dateng, kota pulang!" ucap Sinta dengan sedikit memaksa.
"Iya iya." Dinda masih mengedarkan pandangannya, sampai matanya bertemu dengan sosok yang dia cari.
"Nah itu dia." Dinda dengan terburu-buru menghampiri Raffa.
"Eh? Din tunggu." Sinta mengejar Dinda yang sudah menjauh meninggalkannya.
Karena terburu-buru Dinda tidak sengaja tersandung tali sepatunya sendiri yang dari tadi sudah lepas.
Alhasil ... Dinda jatuh tersungkur di hadapan Raffa.
Tepat di bawah Raffa Dinda jatuh dan mukanya sangat dekat dengan kaki Raffa yang dibalut dengan sepatu.
Teman Raffa yang kebetulan bersamanya tertawa. Dengan puas mereka Menertawakan Dinda.
Dinda yang malu langsung berdiri dan pergi dari tempat.
"Maaf Kak." Sinta yang ikut malu juga mengekori Dinda.
__ADS_1
"Raff ... Raff, kenapa lo gak terima dia sih? dia kan cantik terus juga tipe lo kan?" tanya teman Raffa—Iqbal.
Raffa tak menjawab. Dia malah meninggalkan sahabatnya pergi.
Iqbal juga hanya diam melihat tingkah sahabatnya itu.
"Gimana temen lo?" celetuk Evan—salah satu sahabatnya Raffa.
***
"Din ... Dinda tunggu!" Sinta berusaha mengejar Dinda.
Dinda yang merasa dari tadi dipanggil akhirnya berhenti dan menoleh.
Dengan malas Dinda menunggu Sinta sampai di dekatnya.
"Kenapa lo lari? tadi Kak Raffa itu ...."
"Udah, gak usah bahas dia dulu." Dengan rasa kesal Dinda kembali berjalan menuju parkiran sekolah.
"Eh? Din itu tadi kesempatan lo," teriak Sinta karena jarak mereka sudah cukup jauh.
Dinda menoleh dan berhenti mencerna kata-kata Sinta barusan.
Sinta memanfaatkan situasi ini, dia dengan cepat menyusul Dinda.
"Maksud lo?" tanya Dinda.
"Ya ... tadi Kak Raffa cuman diem."
"Ya ampun Sinta, gimana gue mau ngomong, gue aja malu banget jatuh di depan dia," sahut Dinda.
Sinta yang melihat wajah merah Dinda itu tertawa. Terlihat puas saat tertawa dan itu justru membuat Dinda semakin kesal.
Dinda yang semakin kesal meninggalkan Sinta untuk mengambil motornya.
Dinda tak memperdulikan lagi sahabatnya itu. Dia benar-benar kesal hari ini.
Menurutnya hari ini adalah hari yang s*al baginya.
Pertama dia gagal menjelaskan sesuatu pada Raffa, kedua—dia di pilih menjadi ketua pemilihan ketua OSIS. Menurutnya itu adalah hal yang ribet dan menyusahkan.
Yang ketiga, dia malah jatuh di hadapan Raffa saat dia sudah ada kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
"Din ... Dinda ...!" teriak Sinta yang sudah di tinggal Dinda.
"Yah ... ditinggal, lah gue pulang pake apa?" gumam Sinta.
Setiap hari Dinda akan menjemput dan mengantar Sinta pulang.
Dinda melakukannya dengan senang hati.
Tidak ada keterpaksaan.
Tapi sekarang? Dia malah di tinggal.
"Gue ikut s*al."
Selamat membaca
semoga suka ❣️
jangan lupa like dan komen
karena itu adalah penyemangat author
__ADS_1