
Tak lama setelah kepergian Raffa dan Dinda, Kevin datang bersama mobilnya.
Dia langsung menghampiri Sinta saat sudah diizinkan masuk oleh pak satpam.
"Dinda mana?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
"Pergi!" jawab Sinta.
"Kemana?"
"Gak tau, tadi pergi sama Raffa!"
"Yasmin?"
"Ada di kamar gue," jawab Sinta dengan cuek.
"Mana? kamar lo dimana?"
"Mau ngapain?" tanya Sinta kaget.
Evan hanya diam menyaksikan drama yang ada didepannya.
"Mau ambil Yasmin lah." Ketus Kevin.
"Gak, biar gue aja yang ngambil! masa lo masuk kamar gue." Sinta bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil Yasmin yang masih tertidur pulas.
"Nih!" Sinta menyerahkan Yasmin dengan hati-hati pada Kevin.
"Gue langsung ya!?" pamitnya setelah menerima Yasmin.
"Hem!"
"Sayang, Kevin cuma pacarnya Dinda kan? kok Dinda percaya banget sama kevin? sampe nitipin adeknya sama dia?" tanya Evan yang sudah sangat penasaran.
"Jalan-jalan yuk, aku laper!" ajak Sinta mengalihkan pembicaraan karena dia sudah sangat kesal dengan Kevin yang telat menjemput Dinda yang akhirnya Dinda malah pergi dengan Raffa.
***
"Mau kemana Raff?" Dinda mengulang kembali pertanyaannya yang sudah dia tanyakan untuk ke sekian kalinya.
"Din, lo udah tanya itu berapa kali coba?"
"Lagian lo gak jawab dari tadi, sekalinya jawab gak jelas." Kesel Dinda.
Raffa tak merespon lagi, dia terus melajukan mobilnya sampai mobilnya masuk ke dalam salah satu rumah yang cukup megah.
"Raff, ini rumah siapa?" tanya Dinda yang sepertinya dia tidak asing dengan rumah yang ada didepannya itu.
"Ayo, masuk aja dulu." ajak Raffa.
__ADS_1
"Jawab dulu! ini rumah siapa?" tanya Dinda lagi, masih keukeh pada pendiriannya.
"Gue!"
"Ngapain lo bawa gue ke sini?" tanya Dinda.
"Udah, ikut dulu!" Raffa membuka pintu mobilnya.
"Eh, tunggu Raff!" Dinda mengejar Raffa yang sudah berjalan mendahuluinya.
Dinda berjalan mengikuti Raffa pergi. Dia merasa tidak asing dengan rumah ini.
Sampai mereka tepat di ruang tamu, Dinda disuruh duduk lebih dahulu dan Raffa naik ke atas, entah untuk melakukan apa.
Sembari menunggu Raffa, Dinda melihat-lihat foto yang ada di rumah itu.
Tanpa sengaja dia melihat foto seseorang yang dia kenal.
"Dika?" gumam Dinda terus memperhatikan foto yang menggantung di dinding ruang tamu.
"Gimana Din? apa lo udah tau ini rumah siapa?" tanya Raffa yang tiba-tiba muncul.
Dinda yang kaget, membetulkan posisi duduknya.
"Iya, dari halaman rumah, gue tau kalo ini rumah lo." jawab Dinda seadanya.
"Gue dulu juga pernah ke sini, sama Evan, Iqbal dan juga Monic, tapi gue gak masuk cuma sampe depan." tambahnya.
"Raffa, gue mau tanya sama lo deh." ujar Dinda serius.
"Itu foto siapa?" Tunjuk Dinda pada foto yang sedari tadi Dinda perhatikan.
"Ou, itu foto keluarga gue, itu Bokap nyokap gue, itu Kakak gue, dan itu gue." Raffa memperkenalkan satu persatu.
"Itu Kakak lo?" tanya Dinda memastikan.
"Iya, sekarang dia ikut bokap angkatnya." Jawab Raffa.
"Ayah angkat?"
"Iya, jadi dulu itu, keluarga gue hampir bangkrut terus keluarga yang mengangkat Kakak gue jadi anak itu yang udah nolongin keluarga gue." Raffa menjelaskan apa yang memang terjadi. Tidak ada yang dia tutupi dari Dinda tentang kelurganya.
Baginya Dinda yang telah mengajarkannya kejujuran, jadi dia merasa dia juga harus bisa jujur pada Dinda tentang keadaanya.
"Sekarang tinggal dimana?" tanya Dinda lagi yang masih penasaran.
"Terakhir sih, kabarnya di luar negeri buat urus bisnis di sana."
"Heh!" Dinda menghentakkan nafasnya dalam sekali hentakan.
__ADS_1
"Kenapa? kok lo kaya kepo banget?" tanya Raffa yang baru menyadari atas apa yang Dinda tanyakan.
"Gak papa, gue cuma penasaran aja!" Jawab Dinda beralasan.
"Bentar ya, gue ambil minum dulu." Raffa kembali ke dapur untuk mengambil minum.
***
Kevin membaringkan Yasmin yang masih tertidur pulas.
Dia sudah diomeli oleh Ibunya karena membawa pulang Yasmin tidak tepat waktu dan membuatnya cemas.
"Dinda mana?" tanya sang Ibu saat sedang memarahi Kevin.
"Dinda pergi sama temennya."
"Kenapa Yasmin ditinggal? terus kenapa pulangnya bisa telat? Mamah telpon dari tadi juga gak diangkat?"
"Maaf Mah, ini salah aku, aku yang udah nyuruh Dinda buat nunggu aku pulangnya, terus mendadak aku dipanggil sama guru sekolah, terpaksa aku harus ke ruang guru dulu sebelum jemput Dinda, aku pikir gak bakal lama, ternyata lama." ucapnya penuh dengan penyesalan.
Andai saja tadi Kevin tidak menyuruh Dinda untuk menunggunya, mungkin Mamahnya tidak akan se'marah ini, pikir Kevin.
"Dinda juga gak salah tentang Yasmin yang ditinggal di rumah Sinta, itu juga yang nyuruh aku." Bohong Kevin.
"Semua salah aku Mah."
"Udah, yang penting Yasmin sama kamu gak papa, tapi Dinda gimana? Mamah takut Dinda kenapa-napa?" ucapnya mulai gelisah dengan keadaan Dinda.
"Mamah tenang ya, dinda perginya sama temennya kok, Mamah kenal kan sama yang namanya Raffa?"
"Iya, Mamah kenal, syukur deh kalo dia perginya sama dia, Mamah liat dia itu orangnya baik." ucapnya merasa lega saat mendengar Dinda pergi bersama Raffa.
Safira—Mamah Dinda memang belum mengetahui penyebab Dinda kecelakaan beberapa tahun lalu. Dia hanya mengerti Dinda kecelakaan karena dia ceroboh dan tidak hati-hati saat menyebrang jalan.
Dia tak memperdulikan siapa yang menyebabkan Dinda jadi seperti itu beberapa tahun lalu, yang ada dipikirannya hanya keselamatan Dinda. Melihat Dinda baik-baik saja, dia sangat bersyukur.
Hampir saja Kevin mengumpat saat Mamahnya memuji Raffa didepannya.
Untungnya Kevin bisa mengontrol diri, dia tau bukan saatnya dia memberi tahu Ibunya tentang semuanya.
"Ya udah Mah, aku mau langsung ke kantor ya, mungkin pulangnya larut malem lagi." Pamit Kevin.
"Lebih baik kamu gak usah kerja ya? Mamah kan udah kerja!" larang Mamahnya yang sudah berpuluhan kali dia melarangnya.
"Gak Mah, aku suka sama pekerjaan ini, jadi aku harap Mamah gak maksa aku buat berhenti ya?" mohonnya pada sang Ibu.
"Ya udah, tapi Mamah pengin kamu harus tetep jaga kesehatan ya?" Pesannya.
"Iya Mah, Kevin berangkat ya? takutnya telat."
__ADS_1
💦💦💦💦💦
like dan komennya ...