Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 22


__ADS_3

"Belum pulang?" tanyanya mengangetkan Dinda.


Seseorang yang baru saja keluar gedung menghampirinya.


Dinda yang tidak sadar akan kedatangannya, membuatnya terkejut.


"Eh, iya Raff, belum."


"Gue anter ya?" tawar Raffa.


"Gak usah, lagian taxi nya udah mau nyampe." Dinda menolak karena dia memang tidak ingin berurusan dengan Raffa lebih jauh lagi


"Kok lo tau, ada taman di belakang gedung ini?" tanya Dinda penasaran.


"Ya tau, kan gue yang buat tempat itu jadi taman," jawab Raffa.


Tin!


Sebuah mobil berwarna putih datang.


Menandakan taxi yang di pesan Dinda telah sampai.


"Dengan Dinda Sanjaya?" tanya supir setelah sekolah mental ponselnya.


Dinda memang menamai aplikasinya dengan nama DINDA SANJAYA.


"Iya."


"Raff, gue duluan ya,"pamit Dinda.


"Hem."


Dinda yang menyadari ketidaksukaan pada diri Raffa hanya cuek.


Sekarang dia sudah benar-benar hafal sifat Raffa setelah putus dengan Monic.


"Jalan pak!" perintah Dinda.


Tanpa di suruh dua kali, supir itu langsung menancapkan gasnya menuju tempat tujuan.


Setelah sampai tujuan, Dinda tak lupa membayar ongkosnya.


Dia segera menemui Kevin yang sekarang berada di kantornya.


Tak lupa, dia mengucapkan terima kasih pada supir.


Dinda memasuki lift menuju lantai sepuluh, dimana kembarannya berada di sana.


Ting!


Lift berbunyi, menandakan Dinda telah sampai di lantai sepuluh.


Dinda bergegas menemui Kevin di ruangannya.


Tok tok tok!


Dinda mengetuk pintunya terlebih dahulu, walau dia sudah tau, dia dalam ruangan itu hanya ada Kevin.


"Masuk!"


Dinda masuk dan duduk di sofa Panjang yang ada di sana.


Dia melepas rasa penatnya setelah berhadapan dengan makhluk paling susah di dunia, menurutnya.


"Kenapa? kok mukanya lecek gitu?" tanya Kevin yang mengerti keadaan Dinda saat ini.


"Gak papa, cuman capek aja kalo udah berhadapan sama Raffa, dia suka berubah-ubah soalnya."


"Berubah-ubah?" Kevin menautkan kedua alisnya.


"Iya, dia tuh kaya bunglon, selalu berubah-ubah semaunya. Sifatnya kadang baik, galak, jutek, cuek, bahkan kadang bisa lembut." Jelas Dinda.


"Kok ada ya, manusia kaya dia?" gumam Kevin terkekeh.


"Btw, kamu ngapain manggil aku ke sini? katanya ada yang penting, apa?" tanya Dinda saat ingat tujuan awalnya ke sini.


"Ou iya, aku tuh mau tanya sama kamu."


"Tanya apa?"


"Itu, yang kemarin di toko buku, kamu inget gak, waktu aku gak sengaja nabrak perempuan?"


"Perempuan?" Dinda berusaha mengingat kejadian kemarin saat dirinya di toko buku bersama Kevin.


"Iya, aku inget, emang kenapa?" tanya Dinda.


"Waktu aku gak sengaja nabrak dia, kalung dia jatuh, pas mau aku balikin dianya udah pergi."


"Ada namanya juga di kalungnya." Tambahnya.


"Nama? siapa?"


"Nih!" Kevin memberikan kalung itu pada Dinda.


"Meliana?" Dinda membaca nama yang tertera di kalung itu.

__ADS_1


"Ya udah, nanti kita cari di toko itu lagi, biar kalungnya bisa balik." usul Dinda yang tak meu mengambil ribet dalam menghadapi masalah ini.


"Emang kamu yakin, dia ke sana lagi?" tanya Kevin yang masih ragu.


"Udah, aku ada rencana buat ini, kamu tinggal ikutin aja, semoga aja berhasil."


"Ok lah, aku serahin sama kamu." Kevin pasrah karena dia tak tahu harus berbuat apa.


***


Satu bulan berlalu.


Kalung yang bertuliskan nama 'Meliana' belum juga bisa di kembalikan karena orang itu tidak pernah datang lagi di toko buku itu.


Dinda juga sudah menggunakan rencananya, untuk menaruh informasi pada pelayan toko.


Dia menyebarkan brosur untuk mencari pemilik kalung itu.


"Pak, kalo ada yang ngaku ini kalungan-nya, minta aja KTP-nya terus liat nama aslinya, dan kalo memang benar dia namanya Meliana, kabari saya, saya masih ingat wajahnya." Tutur Dinda pada salah satu pelayan toko pada saat dia memberikan lembaran brosur.


"Dan kalungan-nya saya simpen dulu, cepat kabari saya Pak, kalo udah ada orangnya." Tambahnya.


"Baik Mba." Pelayang itu mengangguk paham.


.


.


.


Selepas pulang sekolah Dinda dan Kevin kembali lagi ke toko buku itu untuk menanyakan kabar tentang kalung tersebut.


Dan hasilnya sama, tak ada kabar apapun.


"Kalung ini gimana? udah satu bulan lho." tanya Dinda yang sudah mulai menyerah untuk menemukan siapa orang pemilik kalung tersebut.


"Sabar Din, aku yakin, dia bakal balik ke sini lagi."


"Kapan Vin? capek tau, setiap satu Minggu kita harus ke sini cuma buat tanya info tentang nih kalung." Dinda menatap lekat kalung itu.


"Sabar Din, kita harus bisa menemukan siapa pemilik kalung ini." Kevin terlihat memaksa.


"Kok kamu ngebet banget? kenapa sih? apa kamu suka sama dia?" Selidik Dinda.


"Eh? apaan sih? aku suka sama dia? mana mungkin." Elak Kevin sebisa mungkin.


"Kenapa gak mungkin? kan bisa aja kayak di film-film, apa itu namanya?" Kekeh Dinda.


"Ah iya, CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!" ejek Dinda.


"Pulang yuk, aku capek, lagian udah mau malem." Ajak Dinda.


Dinda mengangguk dan mengikuti Kevin menuju mobil di parkiran.


Kevin membukakan pintu untuk Dinda.


Akhir-akhir ini Kevin selalu terlihat romantis pada Dinda, contohnya yang satu ini, dia selalu membukakan pintu mobil untuk Dinda.


Baru saja Kevin mau masuk mobil, dia menangkap sosok perempuan yang selama ini dia cari.


Tanpa pamit pada Dinda, dia langsung berlari mengejar cewek itu.


"Eh, Vin, mau kemana?" tanya Dinda teriak.


Dinda yang bingung ikut mengejar Kevin yang entah kemana tujuannya.


"Tunggu!" teriak Kevin saat mobil perempuan yang ia kejar keluar dari area parkiran.


"Yah ... gue harus kejar!" Kevin balik arah menuju mobilnya.


"Vin, mau kemana?" tanya Dinda dengan nafas tersengal.


"Ayo, cepet!" Hanya itu yang Kevin ucapkan membuat Dinda mau tak mau mengikutinya lagi walau nafasku sudah tak menentu.


"Ayo Din, cepet!" ujar Kevin setelah berhasil mengambil mobilnya.


Dinda dengan cepat masuk ke dalam mobil.


Baru saja dia mau menutup pintu mobil, Kevin sudah menjalankan mobilnya.


"Eh, buset kaget, pelan-pelan 'napa Vin." Teriak Dinda.


"Gak ada waktu, kita harus cepet!"


"Cepet kemana? kamu ngejar siapa sih?" tanya Dinda kepo.


Kevin tak merespon, dia fokus pada mobil di depannya yang sedang dia ikuti.


Ting!


Dinda membuka handphone untuk melihat pesan.


[Gue, tunggu lo, lima belas menit dari sekarang, di taman kemarin!]


'Ngapain sih?' batin Dinda.

__ADS_1


[Gak bisa Raff, gue ada urusan.] Balas Dinda.


"Heh!" Dinda menghela nafas saat dia mengingat kejadian satu bulan lalu.


Saat Kevin menyatakan cintanya pada Nazwa.


Dia benar-benar kecewa saat itu.


Tapi, dia berhasil merelakan Raffa dengan wanita pilihannya.


Hanya itu yang bisa Dinda lakukan, untuk bisa selalu melihat senyum Raffa.


Cittt ....


Kevin mengerem mendadak. Membuat tubuh Dinda yang kaget terdorong ke depan dan kepalanya terbentur bagian mobil.


"Aw ...." pekik Dinda berusaha menahan sakit.


"Maaf Din, gak sengaja, mobil tadi ngerem mendadak." Kevin langsung meminta maaf.


"Eh, kamu berdarah." Kevin dengan cekatan mengambil P3K yang sudah selalu tersedia di mobilnya.


"Biar aku obatin dulu." Kevin pelan-pelan mengobati luka Dinda.


Setelah memberi memberi obat pada kening Dinda, dia kembali fokus ke depan.


"Kamu ngikutin siapa sih? serius banget." tanya Dinda.


"Itu, aku liat orang yang punya kalung itu." Tunjuk Kevin pada kalung yang di pegang Dinda Sedati tadi.


"Mana?"


"Itu, mobilnya masuk rumah itu." Kevin menunjuk rumah yang ada di depan mereka.


"Ya udah kita ke sana aja." Usul Dinda.


Mereka berdua turun dari mobil dan mulai menghampiri rumah yang di duga pemilik kalung tersebut.


Kevin memencet tombol bel yang ada di depan pagar.


Tak lama, gerbang itu terbuka dan menampakkan seorang perempuan yang selama ini dia cari.


Wanita itu mengerutkan keningnya.


Dia tidak tau maksud kedatangan Kevin begitu juga Dinda yang baginya terasa asing.


"Kalian siapa? mau ketemu siapa?" tanyanya.


'Masa dia lupa sih? emang dia gak liat muka gue waktu gak sengaja tabrakan?' batin Kevin.


"Gue Kevin, ini kembaran gue Dinda namanya." Kevin memperkenalkan diri.


Dinda tersenyum ramah sebagai kata sapaan karena dia sudah di perkenalkan dulu oleh Kevin.


"Ada apa?" tanyanya terlihat angkuh.


"Kita mau ngembaliin kalung, yang waktu itu gak sengaja jatuh saat kita gak sengaja tabrakan." Kevin menjelaskan tujuannya datang kemari.


"Jadi, kalian yang ngikutin gue?"


"Iya, maaf ya, tadi di panggil-panggil gak denger kayanya." Kevin tak enak hati.


"Eh, ini kalungnya." Dinda menyerahkan kalung itu.


"Makasih ya." Ucapnya dengan menghela nafas, seperti merasa lega menemukan kembali kalung tersebut.


Dinda dan Kevin masih di sana. Mereka bingung harus melakukan apa, jadi cara terbaiknya hanya diam, menurut mereka.


"Kalian ngapain masih disini?"


"Eh? kita gak disuruh masuk?" celetuk Kevin.


"Vin!" Dinda memukul bahu Kevin pelan.


"Kalo gitu, kita pamit." Dinda menarik Kevin agar pulang dari tempat itu.


***


"Gila, dingin and cuek banget?" Oceh Dinda.


"Iya, masa kita gak disuruh masuk dulu?" sahut Kevin.


"Tatapannya aja bisa bunuh lawan." celetuk Dinda.


"Hahaha, bisa aja nih."


Kevin dan Dinda larut dalam gosip mereka. Mereka terus membahas tentang gadis yang baru saja mereka temui.


Memang apa yang di katakan mereka berdua, ada benarnya.


Tatapannya bagai ingin melawan musuh.


Itu tatapan tak suka atau memang memiliki mata yang seperti itu? pikir Dinda.


💦💦💦💦💦

__ADS_1


like dan komennya wajib!


__ADS_2