Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 11


__ADS_3

"De, Kakak kenapa?" tanya Mamah Dinda saat melihat putri sulungnya masuk kamar dengan raut wajah sedih.


"Ade, da tau, tadi Kakak nangis," jawab Yasmin dengan khas anak kecil.


"Ade main sini dulu ya, Mamah mau ke kamar Kakak," pamitnya pada Yasmin.


"Jangan kemana-mana ya," tambahnya dan di angguki Yasmin.


Tok tok tok ....


Mamah Dinda mengetuk pintu kamar Dinda.


"Kak, boleh Mamah masuk?" ucapnya.


"Iya, masuk aja Mah, gak dikunci," sahut Dinda dari dalam kamar.


Sang Mamah duduk di tepi ranjang Dinda, menatap anak sulungnya.


"Kak, Kakak kenapa? kata Ade Kakak tadi nangis?" tanyanya.


"Gak Mah, Ade salah liat kali," elak Dinda.


"Kalo Kakak ada apa-apa bilang aja, jangan dipendam sendiri," ujar sang Mamah.


"Biasa Mah, urusan hati," jawab Dinda singkat tapi jelas.


"Saran Mamah, kalo Kakak suka sama seseorang jangan terlalu berlebihan ya," saran sang Mamah.


"Iya Mah, Kakak cuma pengin nangis aja kok, Mamah gak perlu khawatir."


"Mah ... Mamah ...." teriak Yasmin dari ruang tamu.


"Tuh, Ade udah manggil, Mamah ke sana dulu ya, inget pesan Mamah."


"Iya Mamah Safira ...." Jawab Dinda dengan gemas karena Mamahnya yang selalu mengulang kalimatnya berkali-kali.


Safira—Mamah Dinda keluar kamar menghampiri Yasmin yang kini menangis entah kenapa.


"Huh ... apa mungkin ini saatnya gue lupain Raffa?" gumam Dinda.


***


Seminggu telah berlalu.


Hubungan Dinda dan Raffa juga masih berjalan ditempat.


Tak ada kemajuan atau kemunduran sedikitpun.


Dinda masih mempertimbangkan keputusannya.


Apakah keputusannya untuk melupakan cintanya pada Raffa adalah keputusan yang tepat? Pikir Dinda.


Hari ini sekolah di gemparkan dengan Raffa dan Nazwa.


Tepat di hari ini Dinda menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Dia menyaksikan sendiri saat Raffa menyatakan cintanya pada Nazwa di aula sekolah.


Raffa terlihat sangat percaya diri saat menyatakan cintanya pada Nazwa.


Mungkin mereka selama ini dekat dan mempunyai perasaan yang sama, pikir Dinda.


Dinda berlari tak tentu arah.


Andai saja Dinda tau kalau tadi adalah momen dimana Raffa menyatakan cintanya pada Nazwa, mungkin Dinda tak akan melihat.


Awalnya Dinda berpikir Nazwa dan Raffa akan mengumumkan hal yang penting atau serius, tapi kini harapan Dinda pada Raffa sudah tak ada lagi, sudah pupus.


"Din ... Dinda ... tunggu ...." teriak Sinta yang masih terus mengejar Dinda yang entah kemana arah tujuannya.


Dinda telah mengabaikan semuanya.


Dia meninggalkan motornya yang masih di parkiran sekolah.


Mengabaikan panggilan Sinta yang masih mengejarnya sampai detik ini.


Dan mengabaikan kendaraan yang berlalu lalang di jalan.


Dinda tak memikirkan keselamatannya, sudah berkali-kali dia hampir di tabrak oleh motor, mobil bahkan truk yang sedang berlalu lalang.


Dia benar-benar tidak memikirkan apapun selain kejadian yang membuatnya menangis saat ini.


"Ya ampun Dinda," Sinta menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya untuk mengejar Dinda.


Tin!


Suara klakson berbunyi mengagetkan Sinta yang kini tengah kelelahan.


"Ayo naik, kalo lari pasti capek." Kaca mobil terbuka dan menampakkan Evan yang kini duduk di kursi supir.


"Oke." Sinta masuk duduk di sebelah Evan.


"Cepet ya, gue takut Dinda kenapa-napa." tambahnya.


Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengalahkan mobil lain yang masih berlalu lalang di jalan yang sama.


"Kita ikutin Dinda aja ya, kalo kita turun Dinda pasti bakal kabur tambah jauh," saran Sinta yang sudah sangat hafal dengan sifat Dinda walau mereka baru kenal beberapa bulan lalu.


Evan mengangguk dan mulai mengikuti perintah yang diarahkan Sinta.


Sampai akhirnya Dinda berhenti di suatu taman yang benar-benar sepi, tak ada satupun orang di sana kecuali Dinda.


Dinda menangis sejadi-jadinya, dia mulai teringat akan perjuangannya untuk Raffa.


Saat dia menyelamatkannya, saat dimaki-maki, saat di tolak cintanya, saat dia menyatakan cintanya dan membuang harga dirinya sebagai cewek.


Rasanya sia-sia perjuangannya selama ini.


Evan dan Sinta masih memperhatikan Dinda dari balik pohon.


Sinta menyarankan untuk menemui Dinda saat keadaannya sudah membaik dan sudah bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


"Tuhan ... apa aku salah mencintai seseorang? apa aku terlalu berlebihan saat mencintainya? apa aku tak pantas untuknya?" teriak Dinda.


Dia benar-benar hancur saat ini, bahkan dia tidak menyangka Raffa akan menjalin hubungan dengan Nazwa yang kini telah menjadi teman dekatnya.


"Aku cuma pengen satu, cuma dia ... apa salah jika aku memilikinya? apa salah?" gumam Dinda dengan penuh penekan.


Dinda masih meraung-raung meratapi nasibnya.


Kalo saja dia tidak memikirkan keluarganya yang masih membutuhkannya, mungkin dia sudah kabur jauh atau bahkan bisa bunuh diri.


Saat ini yang Dinda ingin hanya melupakan Raffa.


Bukannya hanya cintanya yang ingin dia lupakan, namun Dinda juga ingin meluapkan sosok Raffa yang kini masih setia di hatinya.


***


Beberapa saat Dinda mulai bisa mengontrol diri.


Dia mulai tenang dengan keadaan ini.


Sinta yang sudah mengerti mengajak Evan untuk menemui Dinda dan memberikan kekuatan untuk sahabatnya.


"Din!" panggil Sinta.


Dinda menoleh dan langsung memeluk Sinta dan menangis dalam pelukan.


Sinta yang dipeluk Dinda mengusap punggung Dinda memberi kekuatan pada sahabatnya itu.


"Din ... gue tau lo sakit hati, tapi inget cowok di dunia ini masih banyak gak cuman Raffa. Lo bisa pelan-pelan melupakan Raffa dan bisa menemukan cinta sejati lo, gue yakin ada banyak cowok yang suka sama lo, ada banyak cowok yang baik sama lo, gue yakin itu Din." Sinta juga ikut merasakan sedih.


Dinda mengurangi pelukannya dan kini menatap Evan yang sedari tadi hanya diam.


"Van ... apa lo tau kalo Raffa akan nembak Nazwa?" tanya Dinda.


"Mm ... gue tau Din, tapi gue gak mau lo sakit hati ...." Dinda memotong perkataan Evan.


"Raff, gue lebih sakit hati saat gue tau Raffa memilih orang lain dibanding gue Van, harusnya lo ngomong sama gue biar gue bisa usahain supaya Raffa gak nembak Nazwa." Dinda kini malah menyalahkan Evan yang kini tak sepenuhnya bersalah.


"Udah Din, lo gak perlu menyalahkan orang lain dalam masalah ini, ini masalah hati." Sinta menenangkan Dinda yang kini kembali emosi.


"Apa Nazwa tau kalo gue suka sama Raffa?" tanya Dinda lagi.


"Nazwa gak tau apa-apa soal lo sama Raffa, Raffa gak pernah cerita itu ke dia, Nazwa juga cuma mau berbaur dengan Raffa, gak mau sama gue, Iqbal ataupun yang lain." Evan menjelaskan agar Dinda tak memiliki dendam pada Nazwa yang menurut Evan Nazwa tak mengetahui tentang Raffa dan Dinda.


"Kita pulang aja ya," bujuk Sinta.


"Lo duluan aja, gue masih pengin di sini," tolak Dinda.


"Udah mau malem Din, nanti lo kenapa-napa, lo bisa sakit Din." Sinta mengingatkan Dinda.


"Gue bisa pulang sendiri," ucap Dinda tanpa melihat kearah Sinta.


Sinta yang tau maksud Dinda tak lagi memaksa karena dengan sorot mata Dinda dia tau Dinda sedang tidak ingin di ganggu ataupun dipaksa.


Sinta mengajak Evan pergi dari tempat dan kembali bersembunyi dibalik pohon karena dia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Dinda.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲


jangan lupa like dan komen.....


__ADS_2