Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 20


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Kevin mulai kerja seperti hari biasa dia kerja.


Setiap pulang sekolah, dia akan berangkat ke kantor menggunakan kereta besinya yang dia dapat dari hasil kerjanya sendiri.


Dia akan pulang larut malam.


Kebiasaan itu dia lakukan saat tinggal bersama sang Ayah.


"Emang Papah gak kasih uang?" tanya Dinda saat mendengar cerita dari Kevin.


"Gak! awalnya aku bingung harus gimana, Papah suka pergi dan gak ada kabar sampai berhari-hari."


"Karena itu, kamu benci Papah?"


"Udah lah, gak usah bahas itu, sekarang hidup kita udah jauh lebih baik setelah Papah gak ada." Kevin mengalihkan pembicaraan.


"Vin! aku harap kamu gak se-benci itu sama Papah ya!?" mohon Dinda yang melihat Kevin sangat membenci Ayah kandungnya sendiri.


"Semua sudah terjadi Din, gak ada yang bisa merubah apa yang sudah menjadi keputusan aku."


Dinda menarik nafasnya dalam-dalam.


Dia sangat tau perasaan Kevin saat ini, dia pun merasakan hal yang sama.


Tapi Dinda tak bisa membenci Ayahnya sendiri yang selama ini telah merawatnya.


"Aku hargai keputusan kamu, tapi jangan sampai kamu dendam sama Papah," ucap Dinda pelan.


Kevin diam.


Dia tak menanggapi Dinda yang kini terlihat sedih atas perkataannya barusan.


Kevin hanya kecewa pada Ayahnya yang selalu bermain cewek, judi dan meminum minuman keras.


Kevin sengaja tak bercerita pada Dinda, dia takut Dinda akan kecewa juga saat mendengarnya.


***


Pagi ini tiba-tiba Raffa mengajak Dinda pergi.


Dinda menolak dengan berbagai alasan, tapi alasan itu selalu dibantah oleh Raffa.


Dia terus memaksa Dinda agar mau ikut dengannya.


"Gue mau pergi sama keluarga gue." Dinda menolak untuk kesekian kalinya dengan alasan yang menurutnya masuk akal.


"Jam berapa?" tanya Raffa.


"Nanti jam tiga."


"Hari ini kita pulang lebih cepet, jadi masih ada waktu buat kita." Raffa terus mendesak Dinda agar ikut dengannya.


"Nanti gue kabarin lagi deh," sahut Dinda akhirnya.


"Gak ada penolakan, nanti jam satu gue jemput ke rumah lo." Raffa memaksa.


"Raff!" Raffa kini telah meninggalkan Dinda yang masih mematung memikirkan apa yang akan Raffa lakukan nanti.


.

__ADS_1


.


.


Bel pulang sekolah berbunyi tepat pada pukul 10.00 WIB.


Sebagian murid terlihat senang karena pulang lebih awal dan sebagian lagi ada yang merasa kesal.


Guru-guru akan mengadakan rapat, entah apa rapat yang akan mereka adakan sehingga murid di pulangkan lebih awal.


"Vin!" panggil Dinda saat melihat Kevin sedang berbicara dengan salah satu temannya.


Kevin menoleh dan memberi kode agar Dinda menunggunya.


Dinda dengan cepat menangkap maksud Kevin.


"Sin, lo pulang sama gue kan? udah lama kita gak pulang bareng." tanya Dinda.


"Iya, Dinda ku sayang," jawab Sinta gemas


"Kita ke sana yuk!"


"Yuk, sekalian gue mau ngomong sama Evan."


Dinda menunggu Kevin yang sedang berbicara pada temannya dengan serius.


Sinta memilih untuk menemui Evan lebih dulu sebelum dia ikut dengan Dinda.


Setelah beberapa saat Dinda menunggu akhirnya Kevin selesai dengan urusannya.


"Udah?" tanya Dinda kesal.


"Kok dia duluan? kenapa gak langsung diselesaikan?" tanya Dinda bingung.


"Mau di selesai gimana kalo muka kamu ditekuk gitu?" ejek Kevin.


"Ish, apaan sih." Dinda menghentak kakinya pelan saat mendapat ejekan dari kembarannya.


"Gemes banget sih kalo lagi ngambek!?" Kevin mencubit hidung Dinda dengan gemas membuat Dinda sulit bernafas.


"Lepas!" Oceh Dinda dengan suara khas orang yang sedang ditutup lubang hidungnya.


Kevin yang melihat kembarannya susah bernafas, dia melepaskan tangannya dari hidung Dinda.


"Hah ... bisa mati mendadak aku," cibir Dinda.


"Jangan dong, nanti aku jomblo." Kevin bercanda.


Kata-kata itu tak sengaja Raffa dengar saat dirinya hendak keluar kelas.


Dia yang mendengarnya terkejut. Berarti benar dugaannya, Kevin itu pacar Dinda, pikir Raffa.


Raffa salah saat mengartikan ucapan Kevin barusan.


Raffa berusaha bersikap biasa. Dia menghampiri Dinda yang kini masih bercanda dengan Kevin.


"Din, kita perginya sekarang!" ucapnya tegas.


"Raff, kamu mau pergi kemana sama Dinda?" tanya Nazwa yang baru saja keluar dari kelas.

__ADS_1


"Aku ada urusan sama dia," jawab Raffa.


"Aku ikut ya?" mohon Nazwa.


"Gak! urusan gue cuma sama dia," tolak Raffa.


"Raff, Nazwa ikut aja, kan dia pacar lo." Dinda berusaha membujuk Raffa.


"Kali ini, biar gue sama dia aja yang pergi, yang lain gak boleh." Tegas Raffa.


"Gue boleh dong." Goda Kevin.


"Gak!" ketus Raffa.


"Sayang, masa aku gak boleh ikut." Adunya pada Dinda.


Kevin sengaja memanggil Dinda dengan sebutan 'sayang' karena dia ingin membalas apa yang sudah Raffa perbuat pada Dinda.


"Ih, najis," cibir Raffa.


"Iri?" sindir Kevin.


"Udah, kenapa kalian ribut sih? kita mau kemana sih Raff?" Dinda menengahi.


"Ikut aja, lo juga bakal ngerti nanti."


"Gue bilang Sinta dulu ya, nanti dia nyariin."


"Gak usah!" Raffa langsung menarik Dinda untuk mengikuti maunya.


"Vin, tolong bilangin ke Sinta ya ...." teriak Dinda sambil terus berjalan mengikuti Raffa.


"Raff ...." Nazwa kini menatapi Raffa yang sedang jalan bersama Dinda.


Pandangan Nazwa beralih pada Kevin yang masih menatap Dinda dan Raffa.


"Vin, lo pulang sendiri?" tanya Nazwa.


"Iya," jawab Kevin singkat.


"Mending bareng gue, gue juga kebetulan gak bawa kendaraan."


"Lo naik taxi aja ya, atau naik kendaraan lain, soalnya gue masih ada urusan." Tolak Kevin.


"Gue temenin ya?" bujuk Nazwa.


"Gak deh, ini urusan cowok." Lagi-lagi Kevin menolaknya.


"Sin, gue duluan ya, lo pulang sama pacar lo, Dinda pergi sama Raffa tadi." Kevin langsung meninggalkan tempat.


Sinta menatap bingung. Dia tidak apa yang baru saja terjadi tapi, dia mengiyakan apa yang Kevin katakan.


"Vin!" teriak Nazwa.


'Nasib-nasib, mending gue pulang,' batin Nazwa.


💦💦💦💦💦💦


jangan lupa like dan komen 💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2