Mengejar Cinta Raffa

Mengejar Cinta Raffa
BAB 8


__ADS_3

"Raff, kelas lo ada murid baru?" tanya Dinda.


"Hem."


"Nazwa?"


"Hem."


"Ish, di tanya malah gitu," sebel Dinda.


"Terus lo maunya gimana?"


"Ya ... 'Iya Dinda, emang kenapa?' gitu kek," omel Dinda.


"Napa jadi lo yang sewot?" tanya Raffa.


"Abisnya lo gitu."


"Gitu gimana sih, gak jelas banget," cibir Raffa.


"Tau ah, gue mau pulang." Dinda berdiri dan pergi meninggalkan raffa di tepi danau.


Baru beberapa langkah, tiba-tiba Dinda tersandung sesuatu.


Dinda terjatuh menabrak pohon yang ada di depannya.


"Aw ...." Pekik Dinda.


Kepala Dinda terbentur pohon yang ia tabrak. Tak lama setelah itu Dinda jatuh pingsan.


"Kenapa lo?" Raffa yang mendapati Dinda pingsan langsung menghampirinya.


"Din ... Dinda ... lo kenapa?" Raffa menepuk-nepuk pipi Dinda.


"Aduh, pake pingsan segala lagi," gumam Raffa.


"Terpaksa harus gue gendong." Tambahnya.


Raffa menggendong Dinda mencari tempat untuk membaringkan Dinda.


Dia tidak langsung membawanya ke rumah sakit karena dia tau Dinda hanya menabrak pohon.


Raffa meletakkan Dinda salah satu kursi yang ada didekat danau.


"Din ... Dinda ... bangun, ngerepotin aja sih," omel Raffa.


Raffa masih berusaha membangunkan Dinda yang sampai saat ini belum.


"Aduh, gue harus cari bantuan siapa? gue gak bawa hp," gumamnya sambil melihat di sekitarnya.


Dinda yang terbangun melihat Raffa kini cemas sedang mencari bantuan.


Tiba-tiba terlintas dipikirannya untuk menjaili Raffa.

__ADS_1


"Din, bangun dong," Raffa menepuk pipi Dinda.


Dinda yang sekarang sudah tersadar masih pura-pura pingsan.


Dia ingin melihat apa yang akan di lakukan Raffa dalam situasi ini.


"Apa bawa pulang aja? tapi rumahnya kan katanya udah pindah, gue gak tau," gumamnya lagi.


"Gue bawa pulang ke rumah gue aja deh." Raffa memutuskan membawanya pulang ke rumahnya.


Raffa kembali menggendong Dinda lagi. Dia mulai membawanya ke mobil dan membawanya pulang.


Sesampainya di rumah dia membawa Dinda ke dalam rumahnya.


Raffa menyadari ada yang tidak beres dengan Dinda, dia memperhatikannya dengan seksama.


Dinda yang tak menyadari itu, dia mengintip lewat ekor matanya melihat Raffa sedang menatapnya kini menjadi baper.


'Ini sih pura-pura,' batin Raffa.


"Bangun lo, gak usah pura-pura," ucap Raffa.


'Kok dia tau?' batin Dinda.


Dia mulai membuka matanya perlahan-lahan.


Belum sepenuhnya Dinda membuka mata, Raffa menjatuhkannya dengan sengaja.


Bugh!


"Aw ... sakit ... tega banget lo," omel Dinda.


"Ngapain lo pura-pura pingsan?" tanya Raffa.


"Siapa yang pura-pura?"


"Udah sana lo pulang," usir Raffa.


"Gak bisa pulang." Rengek Dinda.


"Bi ... Bibi ...." teriak Raffa.


"Iya den, ada apa?" tanya ART Raffa.


"Tolong Bibi urus dia," perintahnya.


"Maaf den, Bibi lagi masak gak bisa ditinggal lama-lama."


"Aduh ... matiin dulu dong Bi."


"Nanti rasanya beda kalo dimatikan den," Bibi lagi-lagi menolaknya dengan halus.


"Ya udah, Bibi lanjut masak aja," ujar Raffa.

__ADS_1


"Terpaksa gue yang harus bantuin lo," tambahnya.


Raffa memapah Dinda menuju sofa yang ada di ruang tamu.


Dinda duduk dengan rasa nyeri yang ada pada bagian p*ntatnya.


"Gak dikasih minum?" tanya Dinda.


"Sopan banget ya, udah bohongin gue sekarang malah minta minum."


"Haus Raff, masa lo pelit sih? lo kan kaya," protes Dinda.


"Nyusain amat sih," gerutu Raffa.


Dengan sangat terpaksa dia mengambilkan minum untuk Dinda.


"Nih, habis ini lo pulang," usirnya.


"Iya, habis ini gue pulang, btw makasih ya."


"Hem."


Setelah beberapa saat Dinda izin pulang.


Dinda hendak berdiri tapi tiba-tiba p*ntatnya terasa perih dan cenat-cenut.


"Aw ...." Pekik Dinda untuk yang kesekian kalinya.


Dinda kembali duduk, "aw ...." Lagi-lagi Dinda memekik.


"Kenapa sih lo?" tanya Raffa.


"Sakit," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa?" tanya Raffa yang belum mengerti.


"Raff, kayanya gue gak bisa pulang sendiri, p*antat gue sakit kalo berdiri, kalo duduk juga nyeri," rengeknya.


Raffa mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak di tempat.


"Kalo mau ketawa, ketawa aja jangan di tahan," kesel Dinda.


"Lagian lo bohongin gue, salah sendiri," sahut Raffa. "Gue gak mau anter lo pulang, sana pulang sendiri."


"Raff, lo tega?" Dinda kini menangis.


"Kok lo nangis? cengeng amat," cibir Raffa.


"Ya udah, gue pulang sendiri." Dengan rasa kesal Dinda pergi dari rumah Raffa sambil menahan nyeri dibagian p*ntatnya.


Raffa yang melihat itu ingin tertawa, tapi juga merasa kasian.


"Ya udah, gue anterin." Raffa mengambil kunci mobilnya dan menggendong Dinda untuk masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2