
Hari pemilihan ketua OSIS berjalan lancar.
Semua yang terbaik sudah di usahakan oleh Dinda dan Raffa
Rencana Evan dan Iqbal untuk mendekatkan Raffa dan Dinda gagal.
Raffa dan Dinda hanya mengerjakan tugasnya yang diberikan oleh Bu Dian selebihnya Raffa masih tetap sama.
"Lo pulang duluan aja deh Din, gue masih ada urusan," ujar Sinta.
"Urusan apa?"
"Pokoknya lo pulang duluan deh, nanti gue cerita pas kita ketemu." Sinta memberi kode pada sahabatnya itu.
"Beneran ya, lo harus kasih tau gue, lo ngapain aja sama dia," goda Dinda yang sudah mengetahui maksud Sinta.
"Ish, apaan sih? gue gak ngapa-ngapain," sahutnya malu-malu.
"Gue duluan ya," Dinda menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan Sinta.
Ting!
Pesan masuk ke handphone Sinta.
Dia segera membuka dan membaca isi pesan itu.
[Gue tunggu lo di taman,] pesan singkat yang mampu membuat Sinta tersenyum.
[Gue otw,] balas Sinta cepat.
***
Hubungan Raffa dan Nazwa kini semakin dekat dan romantis.
Nazwa yang manja pada Raffa membuat Raffa gemas akan tingkahnya.
"Raff, apa kamu memang cinta sama aku?" Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dibenak Nazwa.
"Kok ngomong gitu? jelas aku sayang kamu dong, ngapain kalo gak sayang aku pacaran sama kamu?"
"Tapi, aku ngerasa beda aja."
"Beda gimana?" tanya Raffa.
"Ya ... Beda aja, waktu aku sama mantan aku rasanya gak gini," jawab Nazwa seadanya.
"Naz, kamu jangan pernah bandingin aku sama mantan-mantan kamu, aku jelas beda sama mereka," ucap Raffa yang sedikit emosi.
"Gak gitu sayang, bukannya aku bandingin kamu sama mantan aku, maaf ya."
__ADS_1
Raffa diam tak menanggapi.
Dia masih kesal dengan pertanyaan Nazwa barusan.
Masa lalunya kembali dalam pikirannya, saat Monic membanding-bandingkan dirinya dengan selingkuhannya.
Masa lalu itu terus berputar dibenak Raffa sampai Raffa tidak bisa mengontrol emosinya dan meluapkannya Ada Nazwa.
"Sekali lagi gue denger lo ngomong kaya tadi, kita putus!" Dengan emosi dan nada penuh tekanan Raffa meluapkannya pada Nazwa.
"Raff, aku kan cuma nanya, kenapa kamu malah ngancem putus?" tanya Nazwa tak terima.
"Gue gak suka lo nanya-nanya." Hanya itu jawaban Raffa, dia pergi meninggalkan Nazwa dalam keadaan emosi.
"Raffa kenapa sih? gue kan cuma ngomong gitu?" gumam Nazwa.
'Tapi emang bener, Raffa itu kaya gimana gitu? gue juga gak tau, apa Raffa gak serius sama gue?' batin Nazwa.
Nazwa yang sedang dilema atas sikap Raffa barusan memilih pulang.
***
Dinda yang masih malas untuk pulang memilih untuk ke danau kesukaannya.
Dia membelokkan motornya menuju jalan kearah danau.
"Apa gue gak bisa milikin Raffa selamanya?" ucapnya sambil menatap danau.
Dinda larut dalam diamnya, dia masih ingat kejadian saat Raffa menyatakan cintanya pada Nazwa.
Kejadian itu terus berputar di otaknya.
"Ngapain sendiri di sini?" tanya seseorang.
"Raffa?" Dinda yang kaget akan kehadiran Raffa hanya menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Iya gue, kenapa?"
"Ngapain lo di sini?" tanya Dinda.
"Kan gue udah bilang sama lo, ini tempat favorit gue," jawab Raffa.
"Iya gue tau, tapi kan lo bilang, lo kesini kalo lagi ada masalah, terus sekarang lo kesini berarti lo lagi ada masalah?"
"Heh ... iya," jawab Raffa singkat.
"Kenapa?"
"Gak papa, lagian lo kepo banget sih?" Kini Raffa mengomeli Dinda.
__ADS_1
"Raff, jangan pernah menyimpan semuanya sendiri, kalo bisa berbagi kenapa gak?"
"Lo anggap gue temen biasa aja, jangan lo anggap gue temen yang ada rasa sama lo," tambahnya.
Raffa mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sekali hentakan.
"Nazwa." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Raffa.
"Nazwa? lo ada masalah sama Nazwa?" tanya Dinda memastikan dan di iyakan Raffa.
"Kalo ada masalah jangan ditinggal, tapi diselesaikan." Saran Dinda.
"Gue tau, tapi gue selalu gak bisa ngontrol emosi gue."
"Kalo lo emosi jangan di luapkan, lo tarik nafas dalam-dalam terus buang perlahan-lahan, ulang kaya gitu sampai lo merasa tenang dan gak emosi lagi."
Raffa diam tak menanggapi Dinda lagi.
Ada rasa aneh saat dirinya berada di dekat Dinda.
Dia merasa nyaman dan aman saat di dekatnya.
'Gak boleh, masa gue suka sama nih orang,' batinnya sambil melirik Dinda.
Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
Sampai tiba-tiba Raffa berdiri dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
"Raff, lo mau kemana?" tanya Dinda.
"Berisik lo, gue mau kemana terserah gue lah," omel Raffa.
Dinda yang melihat perubahan Raffa hanya diam.
Entah kenapa Raffa tadi malah curhat padanya dan Dinda malah meresponnya.
Dan sekarang Raffa kembali lagi pada Raffa yang selalu cuek dan galak pada Dinda.
Plin-plan, pikir Dinda.
💦💦💦💦💦
Jangan lupa like dan komen..
Semoga gak ngebosenin ya ....
Love you all ❣️
Teng yu 🥰
__ADS_1